walau ingatan tak lagi jemu mengenang sawah-sawah kuning tadah hujan
dan banjir cahaya gemerlap di diskotik murahan warisan Tesla
walau hantumu bergentayangan diantara virus-virus komputer dan novel-novel abdullah harahap
walau ranselku tak lagi mampu memuat setengah hidupku dan kekeringan macam apa itu
walau dendang radiohead tak perlu promosi di mtv atau mc cartney yang gemar minum kopi di starbucks
walau kompas tak lagi menyajikan berita tentang nenek kita yang melebur ingatannya bersama tank-tank dan serdadu bayaran dari india
walau gito tak lagi telanjang dan menutup kematiannya dengan ingatan remy silado
walau kecaman hingar bingar megapon lusuh bernostalgia pada jalan-jalan rubuh di cipularang
walau maya nyaris mati karena ketiaknya memancarkan bau alumunium dan paraben
walau tumpukan buku makin melusuh pada kekejaman sejarah dan sekaratnya guttenberg
walau satelit tak lagi bisa disalahkan ketika telepon genggamnya mati terus dan tengah malam jadi basi
walau batangan rokok lelet membuat panas hidungku dan membuatku bersin sepuluh kali lebih banyak dari biasanya
walau multiply di banned di Singapore atau para Negara sialan anti glodok atau kota kembang
walau kita tak lagi terbiasa memimpikan sungai laut dan gunung-gunung tua yang beterbangan seperti anai-anai
aku takkan pernah lagi mencintaimu
itu yang selalu ku istilahkan dengan “kapok”, sayangku…
and you believe in fate, don’t you Mallory?
but so fuckin' sorry, i dont believe it!
that's so boring conversation...