Catatan Pendongeng Keliling

Yang Gw Temukan di Result Google Search

ReviewReviewReviewReviewDari BandungMagazine.comFeb 15, '08 4:06 AM
for everyone
Category:Other

Chairil adalah Tokoh Kita dalam Merahnya Merah-nya Iwan Simatupang


Back to Index September 2007
______________________________


Cerpen Ervin Ruhlelana - Dari File Komputer seorang teman bernama Rizha Herlambang dalam folder SAMPAH berjudul Chairil bertanggal 19 Juli 1999

Sekitar pertengahan 1999 saya dan Bessy, sahabat saya, membaca sebuah artikel dalam sebuah situs koran lokal bernama Pikiran Masyarakat tertanggal 5 Mei 1999 berjudul Iwan Simatupang Menghasilkan Karya Lebih Banyak Dari Yang Dikira Orang ketika kami mengetik Iwan Simatupang pada kolom Google Search.

Terus terang awalnya saya membaca Iwan Simatupang karena pacar saya waktu itu. Dia Iwan Simatupang freak. Hampir semua novel Iwan dilahapnya, belum lagi essay-essay-nya. Pokoknya apapun yang berkaitan dengan Iwan dia habiskan hingga kadang-kadang dia membacanya hingga lima kali. Mulai saat itu saya menjadi penasaran sekaligus ingin membuatnya senang sebab selama ini dia ingin sekali mendiskusikan karya-karya Iwan dengan saya. OK, akhirnya saya pilih Merahnya Merah, sebab karya itu yang sering saya dengar waktu SD di pelajaran Bahasa Indonesia, selain Atheis-nya Achdiat K. dan Layar Terkembang-nya Sutan Takdir.

Begitu senangnya dia waktu itu, apalagi saat saya sedang membacanya bila pagi tiba, saat dia masih terbaring lembut di ranjang, saya menghirup udara pagi dan kopi serta suara berita radio pagi dari KL CBS. Begitu cepatnya dia bangun pagi itu, dan selalu menjadi spoiler setia dengan membocorkan setiap adegan satu bab lebih awal karena saya membaca buku itu lama sekali hingga hampir dua minggu sampe dia kesel dan begitulah.

Ya, akhirnya diskusi terjadi setiap pagi setelah saya benar-benar menamatkan satu-satunya buku Iwan yang pernah saya baca bahkan hingga sekarang, maksud saya bukunya.

Dari hasil diskusi itulah pacar saya menulis artikel di Koran itu. Dari paragraf awal artikel itu pacar saya menulis: Saya dan Icha, seorang teman lama, pada suatu pagi membicarakan Merahnya Merah, novel karya Iwan Simatupang…

Saya masih ingat momen diskusi pagi itu yang membuat pacar saya terhenyak kaget ketika saya menjelaskan mengapa saya begitu lama membaca buku setipis itu.

Saat saya membaca buku itu, kira-kira pada halaman 27 saya mulai menemukan sesuatu yang mengingatkan saya pada sebuah karya Novel karangan seorang penulis yang namanya tidak begitu dikenal. Sayapun waktu itu hanya memfotokopi karya itu. Novel itu berjudul Se-Merah Merah. Waktu membacanya saya menemukan seperti ada sesuatu yang hilang dari novel Se-Merah Merah. Seperti ada sebuah benang yang putus yang membuat cerita tampak menggantung. Di halaman 27 hingga seterusnya itulah saya pikir penyambung benang tadi. Sebuah kebetulan yang aneh, sebab penulis novel Se-Merah Merah yang bernama Rizha Herlambang itu lahir pada tahun 1985.

Dan ketika akhirnya saya dan pacar saya melacak Penulis bernama Herman Laksmana ini ke penerbit buku Se-Merah Merah di Bandung, kami tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Penerbit pun tidak tahu- menahu tentang keberadaan Rizha Herlambang itu. Mereka hanya menerima karya-karyanya lewat e-mail.

Ah, tai itupun sudah cukup, kami pikir. Kami meminta alamat e-mail nya. Dan kami mengirim pesan padanya dengan mengenalkan diri kami lebih dulu lewat e-mail. Hingga seminggu kami tak mendapatkan balasannya. Akhirnya kami menemui penerbit itu lagi dan menanyakan apakah ada karya-karya lain dari Rizha Herlambang. Dengan terbahak salah satu staff penerbit itu menjawab, banyak. Kalian bisa dapetin di kios-kios majalah di pinggir jalan. Dia menulis novel serial silat. Masa sih kalian tidak kenal pendekar mata satu dari puncak cakrabhuwana? Nah dia pengarangnya.

Ya, kami sering mendengar tentang kehebatan novel silat itu, tapi mungkin karena nama si pendekar sangat terkenal hingga nama penulisnya tak sering disebut hingga akhirnya dilupakan dan lambat-laun penerbit mengecilkan font nama pengarang di bagian cover, hingga lama-lama sampe sekarang, penerbit benar-benar menghilangkan nama pengarang di cover bukunya, dan hanya menyebutkan nama pengarang pada halaman 3 dengan Times New Roman 12.

Hampir setiap tukang becak, supir angkot, pedagang kios dan tukang parkir memuja pendekar mata satu dari puncak cakrabhuwana, tapi saya yakin mereka tidak mengingat Rizha Herlambang.

Dengan semangat kami memborong semua episode serial silat itu, ada kira-kira 23 jilid dengan setiap 5 episode dibundel jadi satu hingga jilid ke 15, jadi 3 bundel plus 8 jilid. Setiap jilidnya kira-kira antara 200-270 halaman.

Kami membacanya tiap hari, tak ada yang menarik ternyata, sama saja dengan serial-serial silat lainnya. Maksud saya bukan tidak menarik dalam arti itu tapi maksudnya tak ada yang berbeda, tak ada yang istimewa. Saya sangat suka ceritanya hingga penasaran ingin segera membaca jilid ke 24-nya bulan depan saat terbit, tapi bukan berarti saya akan bilang serial ini istimewa, tidak, serial ini memang sedikit agak tidak biasa, tapi terlalu umum.

e-mail dari kami tak pernah dibalas juga. Kami hanya baru menemukan 2 fakta dan itupun masih aneh. Pertama, ada keterkaitan aneh antara novel merahnya merah dan se-merah merah. Kedua, pengarang semerah-merah adalah juga pengarang salah satu novel serial silat yang paling dikenal di Indonesia.

Buntu, beku!

Hingga kami berdua tak lagi berpacaran. Saat itu saya langsung berhenti menelusuri hal ini. Dan saya pikir pacar sayapun tidak. Ternyata saya salah, di melanjutkan risetnya hingga dua tahun dan pengenalan hasil risetnya dia tulis dalam sebuah artikel yang saya dan bessy baca. Di bagian akhir artikel dia bilang bahwa buku tentang proses dan hasil risetnya akan segera diterbitkan. Serta buku Iwan Simatupang yang selama ini hilang atau tidak pernah disangka orang bahwa itu adalah karya Iwan Simatupang akan diterbitkan ulang dengan nama Iwan Simatupang menggantikan nama Rizha Herlambang pada nama pengarang, mengganti judul dari Semerah Merah menjadi Merahnya Merah buku satu serta tetap mempertahankan nama tokohnya, Chairil.

Dan akan menerbitkan ulang Merahnya Merah yang selama ini kita kenal dengan mengganti judul menjadi Merahnya Merah buku dua serta mengganti semua nama Tokoh Kita menjadi Chairil, disesuaikan dengan buku pertamanya yang selama ini hilang dan kabur.

Setelah kami putus, pacar saya melanjutkan risetnya, dan secara cepat dia mendapatkan fakta-fakta baru yang mengejutkan hingga akhirnya dia mengambil kesimpulan yang tercantum dalam artikel ini.

Bessy hanya memanggut-manggutkan kepalanya saat membaca artikel ini lalu dia tersenyum pada saya, mantan pacarmu ini melupakan satu hal, katanya, nama lengkapmu.



ReviewReviewReviewReviewDari The Jakarta PostFeb 15, '08 4:00 AM
for everyone
Category:Other
Love wins UWRF grand (poetry) slam
Features - October 15, 2006


Kadek Krishna Adhidarma, Contributor, Ubud

Expats often jibe that "Balinese never sweat when they work; only when they're eating".

But this must hold true for other cultures as well -- that is, food as one of the great universal loves -- and Vietnam-born poet Mong Lan tantalized the third Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) Poetry Slam with her odes to caf‚ au lait, green tea, red chili peppers, spinach and shiitake mushrooms.

Lucky last, her poetry seduced the audience and the judges to award her first prize, the first time pure poetry won the coveted title normally taken over by loud performance antics and comedy.

African-American rapper Kamau won the top prize two years in a row with rhythmic Bush-bashing hip-hop, always using at least 2 minutes and 58 seconds of the 3 minutes allowed. And what a punch-packed performance he always delivers!

Sydney writer-performer Jan Cornall won the people's choice award at the inaugural poetry slam with her hypothetical longing for a Bali she was yet to leave, titled When I Go Home.

This year's slam at Casa Pasta on Monkey Forest Road in Ubud, Bali, was hosted by Sydney hip-hop artist Morganics, kicking off the evening with a tour of the world in rhythm, rhyme and sound effects.

First up was the very brave Sandra Thibodeaux of Darwin with her tongue-in-cheek tribute to Steve Irwin, parodying the Australian obsession with the late crocodile hunter: He caged our culture/protected our endangered language/even the Americans/couldn't have made a better Aussie bloke.

The poem went on to refer to a great Australian writer, Colin Thiele, who had died in the same week as Irwin, but did not make the headlines.

She was followed by fellow Darwinian Richard Creswick, who preferred his "poetry in the classical style/iambic pentameter and lines that rhyme".

His barrage of classical first-line quotes playfully degenerated into "that annoying rhymer, Dr. Seuss", which had the audience in stitches.

Battling for the home team, Cianjur-born Ervin Ruhlelana mesmerized the audience with his dramatic performance of Pseudo-intersexuality of Consciousness: We do not want to be worshiped as Gods/Because Gods no longer incarnate...

Utilizing the metaphor of male-female relations, the 27-year-old traveling bard from Bandung expressed his ardent desire for the divine and tumultuous journey to God.

Established Balinese poet Ikranegara recounted his favorite childhood memories of treks to mountain temples through his poem Hening (Stillness), combining poetry with meditative sounds.

From such lofty heights, depths were dredged as an aspiring Balinese poet (namely, this contributor) chose to underline a recent ludicrous bill debated in the legislature with a poem that upped the ante in anti-pornography: Deem thy own body unworthy of sight/let alone touch!

Then descended still further, exposing the darker side of self-repression: Time to punish/the stirring offending member/rising for the occasion of carnal guilt/Spank the monkey!

Though most in the audience caught the joke, the shock for the prudish was softened by a Balinese beauty true to her name, Ayu, who sang a poem on the purity of love, followed by a lullaby by Cornall singing Sitok Srengenge's Lover of the Sky: He falls in love with the sky/the unfathomable width height wherein mysteries dwell, telling of a boy's longing to be reunited with his mother who has gone to heaven.

There were many more contestants, and the judges -- volunteers selected from the audience by host Morganics -- had a tough time selecting the winners. By chance, all three judges were tourists visiting Ubud.

Nevertheless, they took their job very seriously and requested interpretations of poetry delivered in Bahasa Indonesia, and each explained how they were won over before presenting an award to the three winning poets.

It was perhaps no surprise that love was the winner for the evening: Ervin in third place with his not-so-platonic love for the Divine, Ikranegara with his love for the Bali of his childhood, and Mong Lan with her obsessive serial affairs with food, even spinach: Your large/dark-green juicy/edible leaves are beacons/sending tremors through my body.

Mothers having trouble getting their children to eat their greens may visit www.monglan.com for inspiration on falling in love with the elegant "Spinacia oleracea, of the goosefoot family".

Ethnic and fusion foods from around the world can be found in Ubud to satisfy the most worldly traveler, but the Balinese stay true to their spices. If perspiration isn't pouring from the top of one's crown, it's not yet a meal for a Balinese -- for the faithful lover of their palate is the red hot chili pepper.

Thanks to Mong Lan, this phenomenon is finally beginning to be understood.


Category:Other
Sinema Banyumas, Sinema Berau, dll...
MINGGU pertama Januari 2002, ada shooting film di Desa Karangklesem, Banyumas, Jateng. Beberapa pemain sempat ngambek, mengancam akan mogok, kalau honor tak segera
dibayar. Beberapa saat kemudian, mereka serta-merta bersorak mengungkapkan kegembiraan, dengan bersemangat bersedia
melanjutkan shooting lagi, karena honor sudah dibayar: semua
pemain figuran mendapat Rp 1.000 plus nasi bungkus. Inilah suasana pembuatan film yang kini merebak di mana-mana,
dari Banyumas di Jateng, Payakumbuh (Sumbar), Berau (Kaltim), dan lain-lain. Tengah terjadi "revolusi" di dunia sinema. Sebentar-sebentar kat. Baru beberapa saat dimulai sudah di-kat lagi. Kat-kat-kat terus... Kan bosan dan capek..." gerutu seorang ibu yang ikut main dalam pengambilan gambar film berjudul Surat Pukul 00 di "kota mendoan" Banyumas itu. "Kat" yang disebut ibu tadi maksudnya cut (yang memang ucapannya "kat")-istilah dalam pembuatan film yang artinya pengambilan gambar oleh kamera dihentikan.
"Maaf ya ibu-ibu, karena ada yang salah, pengambilan gambar terpaksa harus diulang," kata Dimas Jayasrana, pemuda setempat yang menjadi sutradara sekaligus produser dengan sabar. Dimas (namanya mirip sutradara video klip Dimas Jayadiningrat) tidak hanya harus menyabarkan ibu-ibu yang tidak sabar karena terus di-"kat", tetapi juga harus menghadapi belasan figuran lain yang terus mengikutinya kemana saja dia bergerak. Dimas kemudian merogoh saku celana, membagi-bagikan uang masing-masing Rp 1.000 per orang sebagai honor. Baru para figuran tadi bersorak-sorak dan berhenti mengikutinya.
"Honor mereka lebih tinggi dari pemain lainnya. Pemain utama saja ha-nya mendapat honor nasi bungkus," ucapnya sambil tertawa.
***
"HISTERIA" pembuatan film tengah merebak di mana-mana. Faktor pertama yang memicunya tentu teknologi pembuatan film secara digital oleh kamera video, yang bisa dilakukan oleh sembarang orang dengan mudah. Teknologi ini diakrabi banyak orang. Di pesta-pesta perkawinan atau ulang tahun misalnya, dengan gampang kita akan menjumpai orang mengoperasikan handycam. Soal editing, tak kalah sepele, karena bisa dilakukan dengan komputer personal di mana perangkat lunaknya mudah didapat di pasaran.
Faktor kedua setelah itu, tentu "demam" pembikinan film itu sendiri, dengan cerita sukses yang didengar banyak orang, taruh kata sukses film Jelangkung (sutradara Rizal Manthovani) yang pernah meledak di mana-mana. Belum lagi cerita "militansi" anak-anak kota besar, taruhlah dengan film Beth (sutradara Aria Kusumadewa) yang bintangnya seperti Lola Amaria bersedia berkeliling dari gelanggang remaja ke gelanggang remaja untuk mengampanyekan dan memutar filmnya. Bukankah selalu ada hubungan erat antara invensi teknologi dengan perkembangan "gaya hidup"? Kali ini, gaya hidup "membikin film" itu?
***
SENDA-gurau, suara tawa lepas remaja dan anak muda, mengiringi ketika mereka menceritakan pengalaman ikut membintangi produk "sinema lokal" berjudul Misteri Kampung Bunian. Sinetron yang kemudian ditayangkan oleh jaringan televisi lokal, TV Berau, itu bikinan Lara Record Production, sebuah "production house" di Berau, sebuah kota di pedalaman Kaltim. Film ini diputar dalam dua kali penayangan.
"Pokoknya seru deh. Di sekolah kami dipanggil hantu dan disuruh menghilang kemudian muncul sepertio yang dilihat di TV oleh teman-teman," kata Supriyani, pelajar sekolah menengah yang menjadi pemeran utama di film itu. Dalam cerita film tadi, Supriyani berperan sebagai Ani, hantu cantik dari Kampung Bunian yang dipercaya masyarakat Berau sebagai pemukimam "mahluk halus". Untuk konteks lokal, Supriyani-peraih gelar Ulai Berau 2000 (semacam None Jakarte untuk Kabupaten Berau)-barangkali tiba-tiba menjadi seperti Diah Permatasari yang membintangi Si Manis Jembatan Ancol dulu.
Dia ceritakan betapa "seru"-nya pembuatan film itu. Katanya kakinya dihinggapi lintah ketika shooting di hutan. Menata rias atau make up dilakukan sendiri. Karena keterbatasan perlengkapan, para gadis yang ikut ambil bagian dalam film itu harus berebut lipstick, bedak, kaca rias, dan perlengkapan lainnya. "Karena dananya terbatas, sampai kaca rias pun harus dipakai bergantian. Belum lagi kosmetik pun rebutan mema-kainya di dalam mobil pengantar yang sekaligus dijadikan kamar rias," kata gadis lain, Dewi Shirley, sambil tertawa geli.
Ketika film itu kemudian ditayangkan di TV Berau, kata mereka, "Banyak komentar tentang akting kami. Kata mereka masih kaku." Yang jelas, para remaja yang ambil bagian dalam film ini baik Supriyani, Shirley, ataupun yang lain seperti Fitriyani, Hussein, Agus, Dewi, kerap disapa penduduk Kota Tanjung Redeb. Mereka adalah "selebriti" Berau.
***
SAMBUTAN terhadap film-film yang dibikin oleh komunitas-komunitas lokal ini barangkali tidak ada yang menandingi dari apa yang terjadi di Makassar, Sulsel. Ketika hari Minggu, 19 Mei 2002, di auditorium Baruga Pangerang Andi Pettarani Universitas Hasanuddin dilakukan pemutaran sepuluh film hasil karya murid-murid SLTP di Makassar, kapasitas 1.500 tempat duduk di Baruga terisi penuh. "Belum pernah dalam sejarahnya Baruga disesaki penonton untuk urusan pertunjukan seperti ini," komentar Asdar Muis, seniman Makassar, menyaksikan keramaian itu.
Pemutaran film itu merupakan kelanjutan dari proyek pembikinan film oleh anak-anak sekolah yang diprakarsai oleh Program Bimbingan Anak Sampoerna (PBAS) bekerja sama dengan Pop Corner. Program ini, sebagaimana diutarakan oleh Niken Rachmad dari PBAS, dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada peserta untuk tidak hanya belajar membuat film, tetapi juga agar mereka belajar bekerja sama dalam sebuah tim dengan solid. Kompas sendiri ikut kiprah bersama anak-anak SLTP di Makassar itu selama satu setengah bulan, mulai dari workshop sampai ke penayangan hasil produksi mereka di Baruga tadi.
Selama kegiatan itu, untuk masing-masing kelompok pembuat film disediakan mentor-umumnya mahasiswa penggiat film. Tugas utama mentor hanya membimbing, bukan "mengajari".
Banyak pengalaman menarik sekaligus lucu di tengah kegiatan ini. Pada pemutaran perdana di Baruga misalnya (mungkin lebih tepat disebut premiere et derniere alias pertama dan terakhir), ketika di layar dipertontonkan akhir adegan tragis dari sebuah film, seorang gadis mati di jalan karena tabrak lari-dan sebelum mati gadis itu sempat menelepon pacarnya dengan handphone-nya-para penonton bertepuk tangan sekaligus tertawa geli.
Selama proses pembuatan film, para siswa juga dilarang pacaran dengan mentor ataupun dengan teman-teman lainnya (mungkin ini untuk menghindari apa yang sering diistilahkan sebagai "cinta lokasi"). Hanya saja namanya juga remaja, atau namanya juga cinta, siapa bisa melarang? Seorang peserta naksir berat kepada mentornya, dan mengirim pesan lewat SMS, bilang "I love you". Celakanya, pesan itu masuk ke handphone orang lain, maka jadi ramailah suasana.
"Meski dilarang, tetap saja ada yang saling naksir, bahkan jatuh cinta," kata Vira Madjid, salah satu panitia yang memuluskan kegiatan PBAS sambil tertawa.
***
DI Sumbar, pembikinan film ini merebak sampai mana-mana, menusuk sampai ke daerah yang permai, Payakumbuh. Di daerah yang antusiasmenya terhadap sastra sangat tinggi ini, puisi kini diangkat ke film, seperti film Musim Kematian Bunga produksi Komunitas Seni Intro Payakumbuh. Film ini didukung para seniman/ penyair seperti Iyut Fitra, Dian Prima Warta, Adek Roro Wulan Rastika, Topan Dewi Gugat, Fira Susanti, dan lain-lain. Musim Kematian Bunga yang disutradarai Yusril SS hanya salah satu, dari karya-karya lain seperti Malin Kundang Milenium (Alwi Karmena), Mendayung Biduk Tiris (Drs M Yusuf H Mum), Surau (Syahindra Buana), Teror (Yanuar GN), dan masih banyak lagi.
Mereka terhitung serius. Berbagai diskusi atas karya-karya tersebut digelar, antara lain di Taman Budaya Provinsi Sumbar, di kampus Universitas Bung Hatta, dan di Universitas Andalas. Aktivitas ikutannya, berupa dibentuknya Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Artis Sinetron Indonesia (Parsi) bulan Juni lalu. Kepengurusan itu dilantik oleh artis Anwar Fuady yang setia memakai baju merk Versace.
Atau di Batam, ketika dua anak muda yang juga dikenal sebagai wartawan harian Lantang, Moch Ryan Djatnika dan Tarmizi hendak membikin film yang berkisah tentang tenggelamnya nasib nelayan dalam judul Tenggelam, ternyata dukungan masyarakat setempat begitu besar. Katanya, dari sumbangan masyarakat terkumpul Rp 25 juta untuk membikin film ini.
"Kami tak mengira, respons dari pemerintah maupun masyarakat begitu kuat mendorong kami untuk berkarya. Bagi kami, dukungan dari masyarakat jauh lebih penting ketimbang film yang kami buat. Uang itu kami gunakan untuk membiayai film termasuk honor dan uang transportasi para pemain," ungkap Tarmizi.
Segala keterbatasan prasarana agaknya diharapkan melahirkan "keajaiban". Tiga mahasiswa Jurusan Komunikasi FISIP Universitas Sumatera Utara, Aap, Cici, Ida, ingin mengkonkretkan cita-cita mereka membuat film. Maka, mereka pun membuat film bertema psikologis, Jiwa Terpasung.
"Waktu ngambil adegan berangkat ke luar negeri, diam-diam kita masuk ke Bandara Polonia di terminal keberangkatan luar negeri. Untuk mengambil suara pesawatnya dan merekam gambar pesawat saat take off, terpaksa aku harus berdiri di atas kap mobil Cici yang panasnya minta ampun. Hasilnya lumayan. Selain kaki terbakar, suaranya juga bisa terekam..." kata Firman, yang bertugas sebagai juru kamera.
Di Bandung, sekelompok anak muda yang menyebut diri mereka Safers (singkatan Sarekat Felem Mekers) berencana membuat film berjudul Episode IV yang akan mereka produksi tahun depan. "Kalian tahu enggak apa yang kudu kita cari? Orang paling gendut se-Bandung," kata Ervin, salah satu dari kelompok itu. Mereka membikin film, tambahnya, "Sebelum kami mencapai hidup yang mapan, menjadi pegawai negeri yang tiap hari naik vespa ke kantor dan punya keluarga yang menunggu di rumah mungil dengan kebun bunga."

ReviewReviewReviewReviewKOMPETISI DESAIN FASHION EKSPERIMENTALAug 24, '06 8:50 AM
for everyone
Category:Other
KOMPETISI DESAIN FASHION EKSPERIMENTAL
About
Kompetisi Desain Fashion Eksperimental IKETERU HARAJUKU -distro/clothing se-Bandung dan Jakarta adalah proyek yang dibuat oleh Herra Pahlasari untuk The Japan Foundation, Jakarta. Ia adalah peserta magang nusantara dalam bidang manajemen seni di Yayasan Kelola untuk tahun 2006, selama 3 bulan ( 26 Juni - 26 September 2006 ).
Di pertengahan tahun 2005, bergabung bersama temannya dari Samantha School, Apenk ( Ervin Ruhlelana ) membuat sebuah pameran ” C on C, Local Clothing Design Exhibition ” di CCF Bandung. Ia bertanggung jawab atas opening exhibition dengan membuat Fashion Performance bekerja sama dengan para model sukarelawan berbakat, juga DJ untuk membuat musik pengiring dan ia pun membuat video dokumentasi tentang Distro/clothing di Bandung. Secara keseluruhan, acara pameran tersebut cukup mendapatkan sambutan baik dari partisipan dan publik.
Melalui link dan jaringan yang sudah terjalin sebelumnya, ia berusaha untuk memperluas jaringannya ke Jakarta untuk membuat acara yang serupa dengan bentuk yang sedikit berbeda.
dengan mengundang pelaku distro/clothing untuk membuat desain fashion eksperimental dengan tema Iketeru Harajuku.
Desainer dictro/clothing yang terbiasa dengan rancang desain grafis, kali ini di undang untuk membuat rancang busana yang tidak lepas dari kebiasaan rancang grafis yang biasa mereka buat. Sebagai hasil akhir, karya para partisipan yang terpilih menjadi 20 finalis akan di pamerkan di ruang Galeri Mini dan Hall The Japan Foundation, Jakarta pada 16 - 29 September 2006.
Kompetisi ini pun bertujuan untuk menjaring desainer muda berbakat untuk dicalonkan menjadi salah satu kandidat ” Visit Japan Program for South East Asia Young Designers, 2006/2007 ” yang ada dalam program The Japan Foundation, Jakarta untuk memberangkatkan 1 orang wakil dari Indonesia.

© Copyright 2006 KOMPETISI DESAIN FASHION EKSPERIMENTAL. All rights reserved

ReviewReviewReviewReviewFrom Gatra About C On CAug 24, '06 8:48 AM
for everyone
Category:Other
GAYA
Estetika Pesan Oblong

Distro merebak di Bandung. Busana ekspresi gaya hidup sekelas impor. Khas dan bercitra. Rawan penjiplakan

KOTA distro! Bisa jadi, itulah julukan baru buat Bandung. Hingga kini, tak kurang dari 900 distribution store (distro) dan clothing tersebar di ibu kota Jawa Barat itu. Sejumlah distro yang terbilang besar dapat ditemui di pusat kota. Tengok saja Jalan Trunojoyo, Jalan Sunda, atau Jalan Sultan Agung yang selalu sesak.

Clothing adalah sebutan bagi industri busana merek lokal. Produknya tak melulu kaus. Ada juga sepatu, tas, lengkap dengan pernik-perniknya. Dibandingkan dengan produk factory outlet yang lebih dulu menyerbu, industri yang mulai marak lima tahun lalu itu punya keunggulan lain. Sebab produknya dirancang para desainer dengan jumlah terbatas. Dijamin tak mudah mencari kembarannya.

Belum lama ini, karya grafis para desainer distro digelar di Auditorium Pusat Kebudayaan Prancis, Bandung. ''C On C'' (''Local Clothing Design Exhibition'') dipilih sebagai tema. "Masing-masing clothing punya ciri khas dan citra sendiri," ujar Ervin Ruhlelana, project officer kegiatan tersebut.

Awalnya, seni clothing diusung anak-anak band. "Clothing, musik, dan gaya
hidup itu udah jadi satu paket yang nggak bisa dipisahkan," kata Ervin. Sarana kebebasan berekspresi itu kemudian diikuti anak muda di Bandung.

Di kota eksotik ini, clothing tumbuh subur karena kualitasnya setara produk impor. Selain itu, desainnya menawarkan kekhasan tertentu. Semula, desain clothing terbilang sederhana. Sebagian besar kaus oblong, misalnya, desainnya hanya berupa rangkaian huruf kapital di dada yang menonjolkan brand tiap distro. Misalnya, NL*S untuk produk ''No Labels'', 347 untuk 347 board.co, Rockmen, atau GOD.Inc. Desainnya pun lebih tampak meniru kaus-kaus kelompok musik luar negeri. Tidak tampak penonjolan warna-warna yang berarti.

Sempat juga muncul desain yang menonjolkan ikon suatu komunitas. Contohnya, turntable atau speaker yang identik dengan komunitas clubbing. Ada pula yang menekankan simbol atau ikonnya. Sedangkan bahan baku kaus yang dipilih mulai linen hingga bahan yang harganya menengah seperti combat.

Belakangan, variasi desain muncul di sana-sini. Meskipun, kecenderungan untuk saling mengekor antar-sesama distro tak terhindarkan. Tren desainnya banyak berkiblat pada perubahan desain kaus-kaus para peselancar, seperti merek Billabong, City Surf, atau Quicksilver. Desain yang ditonjolkan yakni ornamen lipatan ombak pada desain huruf maupun garis. Ketika itu, pemisahan antara garis dan gambar sebuah karakter cenderung masih jarang dilakukan.

Sampai tahun lalu, desain model percikan cat (split) masih menghiasi dada kiri/kanan kaus oblong (T-shirt), kaus berkerah (polo shirt), maupun jaket. Sedangkan warna yang dipilih adalah pastel.

Makin ke sini, setiap desainer clothing mulai berani bereksperimen. "Desain-desain kaus Eropa banyak dijadikan referensi," kata Dendy Darman, pemilik Distro 347. Kaus maupun jaket menjadi ajang kolase gambar karakter manusia, hewan, atau kartun dengan garis grafis. Semacam karya-karya Andy Warhol.

Permainan garis dan gambar bersatu padu. Pilihan kelirnya didominasi warna-warna muda. "Kecenderungannya sekarang dekoratif," Dendy menambahkan. Ikon-ikon lebih banyak dipakai.

Sejumlah desainer memiliki banyak kiblat berkat kemudahan mendapatkan referensi desain. "Gampang banget, sekarang di internet tinggal ngambil," ujar Ahmad Marin, pemilik Distro Monik. Meski begitu, Dendy justru mendapatkan banyak perspektif baru dari para seniman. "Gue sekarang lagi nyoba gaya-gaya sixties," katanya. Gaya surealis Salvador Dali menjadi inspirasinya.

Urusan grafis yang beraneka itu akhirnya merembet pada eksklusivitas pelaku bisnis clothing. "Ya, itu tawaran kami bagi konsumen," ujar Dendy. Ini sekaligus untuk menjaga napas bisnis mereka. Jangan sampai produk yang bagus tenggelam karena desainnya diproduksi secara massal.

Dendy menyebut contoh C-59, produsen kaus asal Bandung yang digemari pada era 1990-an, maupun Dagadu dari Yogyakarta. Atau sebut saja merek-merek internasional seperti Nike, Billabong, dan Quicksliver yang tak terelakkan dari hantaman penjiplakan. "Merek-merek itu, meskipun asli, image kita sudah lain sekarang," katanya.

Penjiplakan desain pun terbilang rawan dalam industri clothing lokal. Terlebih lagi dengan kemudahan yang diberikan internet. Setiap saat para desainer bisa melihat desain grafis yang berbeda dari berbagai distro, baik lokal maupun impor. Terkadang, desain yang ada di internet itu langsung dijiplak. Lalu ditambah-tambahi atau dikurangi, sehingga terbentuk desain baru.

Langkah itu juga tak jarang dilakukan Dendy. "Hanya saja tidak seratus persen," katanya. Alasannya, pesatnya perkembangan clothing bisa membuat dia kehabisan ide. "Sementara perut harus terus diisi," Doiki "Ecky" Hamakonda, pemilik Distro Firebolt, menambahkan.

Lagi pula, kata Dendy, grafis itu tergantung selera. "Soal orisinalitas udah nggak ada," katanya. Bahkan hal itu sudah menjadi fenomena dunia seiring perkembangan zaman. Di Bandung pun, kata Ecky, ada kecenderungan sesuatu yang dianggap bagus akan menjadi tren. Tak jarang pula, karena kehabisan ide, pemilik distro sengaja mendatangi distro-distro saingannya untuk memantau desain yang laris untuk diduplikasi.

Tiru-meniru ide itu bisa dimaklumi karena ada tuntutan terhadap desainer untuk merampungkan rancangan dalam waktu beberapa hari. Padahal, lanjut Ecky, pekerjaan seorang desainer sebenarnya kurang menjanjikan dari segi penghasilan. Namun banyak desainer yang tetap menekuninya karena keasyikan.

Betapa tidak, setiap desain cuma dihargai Rp 30.000-Rp 150.000. Ecky pun hanya digaji sekitar Rp 2 juta sebulan. "Tapi enjoy-enjoy aja sampai sekarang," ujarnya. Jumlah itu tentu tak sebanding dengan keuntungan produk yang terjual.

Urusan orisinalitas memang tak pernah usai menjadi pro dan kontra. Akibatnya, pelaku bisnis ini, kata Ervin, terbelah menjadi kubu idealis dan yang berorientasi bisnis. Kubu idealis tidak menerima begitu saja pembajakan desain oleh distro lain. Sebaliknya, kubu bisnis cenderung menghalalkannya sehingga membentuk tren.

Tuntut-menuntut ke pengadilan pun menjadi hal jamak dalam bisnis ini. Meski begitu, ada saja yang malah merasa senang hasil karyanya dibajak. Mulanya Ecky juga sempat kesal ketika mengetahui karyanya dibajak sampai masuk ke Cilandak Town Square, Jakarta. Tapi ia tak berbuat apa-apa. "Toh, ada beberapa gambar yang saya ambil dari internet, cuma diubah-ubah sendiri," kata sarjana arsitektur dari Universitas Parahyangan itu.

Namun, di mata perupa dan dosen seni rupa ITB, Aminudin "Ucok" T.H. Siregar, estetika yang dimunculkan desainer clothing saat ini tidak punya identitas apa pun. "Saya tidak mengerti apa pesan yang harus ditangkap saat mengunjungi sebuah distro," tuturnya.

Meskipun demikian, Ucok pernah menjumpai sebuah distro yang menjual perangkat demonstrasi. Mulai gas air mata, kaus, sampai buku-buku beraliran radikal tersedia di sana. Bagi dia, distro semacam itulah yang seharusnya bisa menjadi panutan anak muda masa kini. Harusnya, kata dia, sesekali mereka berhenti mendesain. "Diet terhadap pencitraan," katanya. Lalu mencoba berpikir dari sisi berbeda dengan cara pandang selama ini.

Bagi Ucok, aspek komunikasi sangat penting ditonjolkan dalam seni, termasuk dalam mendesain clothing. Adapun pesan yang sudah saatnya disampaikan, menurut editor majalah fashion Juene, Chandra Hendrawan Johan, adalah mempertahankan keindonesiaan.

Namun Dendy justru memikirkan penduduk dunia yang kebetulan tinggal di Indonesia. Apalagi tren dunia dengan mudah dibaca di media massa, tanpa harus memikirkan identitas lebih dulu. Lihat saja grup musik Peterpan yang lagunya ditayangkan di televisi setiap hari. Di situ, penonton menikmati seluruh aspek dalam lagu tersebut, termasuk baju apa yang dipakai. "Itulah yang kemudian menjadi tren anak muda," ujarnya.

Dalam pandangan Dendy, kini distro telah berubah wujud menjadi supermarket desain. Estetika dan pesan yang ditonjolkan tidak lagi dari pakaian yang dikenakan, melainkan dari sikap hidup secara keseluruhan. Adapun identitas, bagi dia, merupakan sesuatu yang dipakai secara konstan.

Rita Triana Budiarti, dan Wisnu Wage Pamungkas (Bandung)

Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Agus Rakasiwi
Episode IV, Sebuah Babak ”Schizophrenic”
"It's Not The Beginning" judul prolog dari kumpulan tulisan berjudul Episode IV. Sebuah karya bukan dalam bentuk buku, tapi berupa file Microsoft Word dengan orientasi portrait.

Judul: Episode IV
Hal: 248 Halaman
Pengarang: Ervin Ruhlelana
Penerbit: -

BERJAM-JAM aku membaca karya yang disusun novelis muda Bandung ini. Tapi, sebenarnya, mata dan kepalaku mulai tak berkoneksi dengan rangkaian dalam chapter I hingga ke halaman-halaman lain. Tak ada kesinambungan antara halaman. Bahkan ada sebagian tulisan tanpa spasi. Novel ini tidak punya urutan halaman yang jelas. Dari halaman mana pun kita membacanya, hasil akhirnya tetap sama. Karena karya ini tidak seperti karya lain yang punya ketertiban halaman.

Saya mengira-ngira, cerita "Samantha" ini merupakan perpaduan antara relung kehidupan pribadinya dengan imajinasi. Sebagian dari lakon, ruang, dan waktu karya ini merupakan pengalaman sendiri. Itu saya duga dengan memperhatikan tanggal, bulan, dan tahun yang tertera usai bait puisinya.

Bait puisi itu memang bagian dari novel ini. Berbagai bentuk dan gaya sastra, sehingga menjadi sangat dinamis dan rumit. Di antaranya puisi yang dicampur esai, cerpen, prosa liris, skenario film, wawancara, lirik lagu, narasi dan bentuk-bentuk tulisan yang absurd dan schizoprenic.

Alur yang dibuat sangat berantakan, labirin-labirin cerita, pembiasan fiksi dan nonfiksi, peleburan dunia nyata dan maya, penempatan chapter-chapter pada tempat yang tidak biasa hingga permainan tokoh aku-an dan dia-an sangat kentara dalam novel ini.

Kekuatan lain dari novel ini dapat ditemukan dalam gaya bahasanya yang berubah-ubah, bias dan atraktif. Beberapa cacat metafora seperti sengaja dihadirkan untuk melepaskan diri dari kekakuan bahasa dan kejenuhan akan frase-frase yang biasa. Juga akan ditemukan beberapa pengulangan cerita untuk menghadirkan kembali sebuah cerita yang sama dalam medium dan dimensi yang berbeda. Gaya repetisi ini diangkat untuk memberikan sudut pandang baru terhadap beberapa bagian yang dianggap terlalu subyektif.

Tapi baiklah, akan kuceritakan sedikit tentang novel yang dibuat Ervin Ruhlelana ini. Manuskrip-novel-manuskrip ini menceritakan tentang tokoh bernama Niskala. Niskala mengalami masa lalu yang tragis. Hidup tanpa orang tua kandung dan dibesarkan oleh sebuah keluarga angkat. Di usia remaja, Niskala diperkosa beramai-ramai oleh keluarga angkatnya. Lantas diusir lalu kemudian hidup di jalan.

Dari keadaan masa lalunya tersebut, Niskala mengalami gangguan jiwa yang cukup serius dan dia menyadarinya. Lantas Niskala menyusun dirinya dalam sebuah sistem kejiwaan schizoprenic. Dia menciptakan seorang wanita kha?yalan bernama Samantha yang dia hidupkan dalam puisi-puisinya. Samantha disimbolkan sebagai sebuah boneka seks yang menjelma jadi manusia. Di kehidupan nyatanya Samantha menjadi seorang wanita bernama If.

Karna, salah satu pecahan kepribadiannya, muncul saat Niskala memutuskan untuk menjadi rockstar. Niskala bersama Karna membentuk sebuah band bernama Samantha Impossible Dream. If menjadi manager sekaligus groupie band tersebut.

Pada saat puncak kejayaannya dalam dunia showbiz dan bertepatan dengan ulang tahun Niskala yang ke-25, Niskala memutuskan untuk bunuh diri. Niskala mati, tapi Karna tetap hidup, hidup dalam kondisi mental yang buruk. If menemukan arsip-arsip tulisan Niskala pascakematian Niskala, dan mencoba untuk membukukannya dalam sebuah novel.

Dalam tulisan-tulisan tersebut dikisahkan Cerio dan Termina yang menjadi tokoh sentral. Tulisan-tulisan, yang juga merupakan buku harian Niskala, membuka sebuah tabir misteri hidupnya juga kisah cinta, pengkhianatan dan kegilaan yang rumit dan berputar-putar.

Penulisan novel ini bermula pada tahun 1999. Penulisnya memulai dengan goresan puisi tentang perempuan khayalannya bernama Samantha berjudul "Samantha Storie". Jumlahnya ada 13 puisi dan merupakan babak pertama dari lima babak.

Karya ini dianggap oleh beberapa penulis muda Bandung sebagai karya sastra baru. Tapi dalam sayembara roman di Dewan Kesenian Jakarta, karya ini kalah karena terlalu banyak memasukkan unsur puisi di dalamnya. Padahal, dari esai "The Art of Novel" karya Kundera, gaya ini pernah populer di Eropa. Disebut sebagai gaya poliphonic, yang merupakan campuran esai, narasi, dan puisi.

Mengutip Komentar Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto, Budayawan dan pengajar di jurusan filsafat Universitas Parahyangan, "Ada kandungan substansi serius di balik bentuknya yang schizophrenic. Ada mistisisme gila dan terpelajar di balik kekacauannya."

Tapi ada satu lagi yang lebih aneh tapi nyata dari karya ini. Manuskrip ini tidak pernah diterbitkan, tapi sudah banyak yang mendiskusikannya. Bukan perihal gaya indie seperti dalam musik. Tapi karya ini memang sengaja tidak pernah diterbitkan oleh penerbit mana pun. Pernah memang ditolak. Karena alasan itulah penulisnya membawa karya ini dari satu komputer ke komputer lain. Dari salah satu warnet di sudut Kota Bandung, hingga ke warnet lain di Yogyakarta.***

agus rakasiwi
kampus_pr@yahoo.com



ReviewReviewReviewReviewINSIDEOUT - Electronic Poetry Performance (LIVE)Mar 28, '06 6:49 PM
for everyone
Category:Music
Genre: Other
Artist:Samantha School, V-Zant Project and Studi Teater Unisba
review menyusul

ReviewReviewReviewReviewReviewSinopsis Episode IVMar 9, '06 9:37 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Ervin Ruhlelana
Niskala, tokoh sentral dalam novel ini sebenarnya hanya hidup dalam beberapa chapter. Selebihnya hanyalah menampilkan puisi-puisinya yang legendaris itu, yang disusun kembali oleh salah seorang groupie sekaligus manajer bandnya (Samantha Impossible Dream), If. Dalam puisi-puisi itu terungkap bahwa If sebelumnya pernah ditemui Niskala sebagai wanita khayalannya yang bernama Samantha, yang kemudian menjelma menjadi boneka seks yang terasuki ruh Eva, yang baru saja diusir dari surga karena memakan buah terlarang, khuldi.
Selain puisi, If juga menambahkan beberapa tulisan Niskala yang dia temukan dalam arsip-arsip yang menumpuk dalam laci kamar Niskala. Dari arsip inilah kemudian muncul tokoh-tokoh baru, diantaranya adalah tentang sepasang suami istri yang sedang dalam proses perceraian, Cerio dan Termina. Selain itu juga ada beberapa diari Niskala yang dikisahkan kembali oleh If menjadi beberapa narasi sehingga akhirnya tersusun menjadi sebuah novel yang diberi judul Episode IV, mengikuti salah satu judul essay (diari) Niskala yang kemudian ditempatkan pada Chapter I.
Kejadian rumit kemudian berlangsung dengan putaran yang cepat dan alur yang berantakan. Lingkaran setan percintaan kemudian menggilas semua tokoh yang terlibat dalam novel ini.
Lompatan waktu dan sejarahpun semakin mewarnai kisah-kisah yang dialami setiap tokohnya. Termasuk didalamnya ketersesatan salah satu tokoh dalam labirin yang dibuatnya sendiri. Serta ada semacam penyakit kejiwaan schizophrenia yang disusun dengan perencanaan yang matang oleh salah satu tokoh sehingga melanda tokoh yang lain.
Dibagian akhir novel dikisahkan dua orang lelaki yang sedang memperbincangkan keanehan novel Episode IV, yaitu mengenai hilangnya Chapter XIV. Serta ada tambahan Bonus Track, petikan wawancara seorang wartawan majalah musik dengan Niskala sebelum “Bunuh Diri”.

Novel Episode IV ditampilkan dalam berbagai bentuk dan gaya, sehingga menjadi sangat dinamis dan rumit. Diantaranya puisi, essay, cerpen, prosa liris, skenario film, wawancara, lirik lagu, narasi dan bentuk-bentuk tulisan yang absurd dan skizoprenik. Alur yang dibuat sangat berantakan, labirin-labirin cerita dibangun dengan sangat rumit, terjadi pembiasan antara realitas fiksi, fakta dan penumpukan imajinasi, adanya peleburan dunia nyata dan maya, waktu yang dipersepsikan dengan sangat absurd, menempatkan chapter-chapter pada tempat yang tidak biasa, serta permainan tokoh aku-an dan dia-an sangat kentara dalam novel ini.
Kekuatan lainnya dapat ditemukan dalam gaya bahasanya yang berubah-ubah, bias dan atraktif. Beberapa cacat metafora seperti sengaja dihadirkan untuk melepaskan diri dari kekakuan bahasa dan kejenuhan akan frase-frase yang biasa. Juga akan ditemukan beberapa pengulangan cerita untuk menghadirkan kembali sebuah cerita yang sama dalam medium dan dimensi yang berbeda. Gaya repetisi ini diangkat untuk memberikan sudut pandang baru terhadap beberapa bagian yang dianggap terlalu subyektif.
Novel Episode IV menawarkan sebuah terobosan baru baik secara bentuk, gaya penulisan, teknik penceritaan ataupun tema dalam khazanah kesusasteraan di Indonesia.
Banyaknya wilayah kosong dan tak terjelaskan, sangat memungkinkan novel ini untuk terus dikembangkan dan diwacanakan dalam berbagai bentuk. Salah satunya adalah FanFict, sebuah jurnal yang berisi fiksi-fiksi yang dibuat oleh para pembaca yang isinya berkaitan dengan cerita yang ada dalam Episode IV atau mengisi kekosongan-kekosongan tadi dengan berbagai corak dan interpretasi yang bebas, tentu saja. Bahkan ada diantaranya yang sangat personal ditujukan untuk author Episode IV.

Komentar Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto (Budayawan, Pengajar di jurusan filsafat Universitas Parahyangan) untuk Episode IV:
“Ada kandungan substansi serius dibalik bentuknya yang schizophrenic. Ada mistisisme gila dan terpelajar dibalik kekacauannya.”


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help