Niskala tak menyerah pada angin yang terus memburunya semenjak dia meninggalkan Sekala suatu ketika di sebuah jembatan cahaya.
Ervtra seharusnya nonton Band-nya Bayu ama Surya kemaren malem. Tapi ada urusan yang penting banget yang gak bisa dia tinggalin.
Dia harus nemuin Thera di rumahnya, di Bekasi. Bayu dan Surya gak mau ngerti hal itu. Mereka kecewa ama Ervtra yang mengorbankan pertemanan demi kekasih. Mereka juga agak kesel ama Thera. Soalnya Thera juga gak nonton mereka manggung. Padahal mereka selalu nonton Wonderbra manggung.
Tapi pada akhirnya Niskala menghadapi Angin dan mencoba berkomunikasi dengannya. Ternyata dia hanya mendengar sebuah bisikan kecil dari angin: Temui Sekala di Vallhalland, sekarang!
Lantas angin kembali berhembus menjauhi Niskala, meninggalkan lambaian tangan dan seutas senyum.
Sekala, sudah sekian lama akhirnya pesan darimu kuterima, kupikir angin bukan membawa pesanmu, maafkan aku!
Bayu nemuin Ervtra di kamar kontrakannya. Ervtra lagi serius di depan computer, nulis Cerpen, Dead line nih… duduk…duduk…kalo mau minum ambil aja sendiri ya…Ervtra langsung menyambut Bayu, tapi mata tetep melotot ke arah monitor komputernya, tampak Microsoft Word dengan huruf Verdana menjejali halaman-halamannya.
Loe demen banget ya ama Verdana. Gw lebih suka Arial Narrow, ramping…
Hahaha…dasar Anorexia Complex! Verdana tuh hurufnya gede-gede dan tegas tapi luwes.
Tapi arial narrow tuh simple tapi artistik, gak kayak Verdana yang menurut Gw terlalu luwes, geli, kayak cacing. Tapi gendut-gendut… loe aja kali yang terlalu obsessive dengan kegendutan…
Hahaha… gak gitu juga kali… kadang-kadang aku suka dengan hal-hal yang ramping, tapi kalo udah artificial jadi gak asik lagi, real Fonts don’t diet, remember?
Wuahahahaha….. itu yangselalu dilakukan temen-temen kita… BTW, lagi nulis apaan?
Ini, Cerpen pesenan dari penerbit gw yang lama. Katanya dia lagi mau nerbitin kompilasi cerpen dari cerpenis-cerpenis dari tiga kota, Bandung, Jakarta dan yogyakarta.
Oh, jadi gara-gara itu loe gak nonton konser band gw tadi malem?
Niskala melayangkan matanya pada lembah-lembah di bawah kakinya yang seperti menancap pada bukit di atas lembah. Mencari-cari Sekala yang biasa datang membiaskan warna coklat pada udara.
Sekala…sekala… Sekarang sudah waktunya, meski aku tak berwaktu, tapi aku tahu kamu berwaktu… Kamu dimana?
Niskala tak bertemu Sekala. Vallhalland sepi sekali. Satu titik hangat melumeri pipinya. Sekala... maafkan aku!
Ervtra menyudut kamar, kehabisan Thera di kepalanya, entah kenapa. Writer's Block menyerang, Headache menghabisinya, Thera menyempurnakannya. Thera... maafkan aku!
To be continued…