Catatan Pendongeng Keliling

ervin's posts with tag: apologi

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag apologi

Blog EntrySekala – Niskala (ver 2)Jul 2, '07 9:20 PM
for everyone

            Niskala tak menyerah pada angin yang terus memburunya semenjak dia meninggalkan Sekala suatu ketika di sebuah jembatan cahaya.

            Ervtra seharusnya nonton Band-nya Bayu ama Surya kemaren malem. Tapi ada urusan yang penting banget yang gak bisa dia tinggalin.

            Dia harus nemuin Thera di rumahnya, di Bekasi. Bayu dan Surya gak mau ngerti hal itu. Mereka kecewa ama Ervtra yang mengorbankan pertemanan demi kekasih. Mereka juga agak kesel ama Thera. Soalnya Thera juga gak nonton mereka manggung. Padahal mereka selalu nonton Wonderbra manggung.

            Tapi pada akhirnya Niskala menghadapi Angin dan mencoba berkomunikasi dengannya. Ternyata dia hanya mendengar sebuah bisikan kecil dari angin: Temui Sekala di Vallhalland, sekarang!

            Lantas angin kembali berhembus menjauhi Niskala, meninggalkan lambaian tangan dan seutas senyum.

            Sekala, sudah sekian lama akhirnya pesan darimu kuterima, kupikir angin bukan membawa pesanmu, maafkan aku!

            Bayu nemuin Ervtra di kamar kontrakannya. Ervtra lagi serius di depan computer, nulis Cerpen, Dead line nih… duduk…duduk…kalo mau minum ambil aja sendiri ya…Ervtra langsung menyambut Bayu, tapi mata tetep melotot ke arah monitor komputernya, tampak Microsoft Word dengan huruf Verdana menjejali halaman-halamannya.

            Loe demen banget ya ama Verdana. Gw lebih suka Arial Narrow, ramping…

        Hahaha…dasar Anorexia Complex! Verdana tuh hurufnya gede-gede dan tegas tapi luwes.

            Tapi arial narrow tuh simple tapi artistik, gak kayak Verdana yang menurut Gw terlalu luwes, geli, kayak cacing. Tapi gendut-gendut… loe aja kali yang terlalu obsessive dengan kegendutan…

Hahaha… gak gitu juga kali… kadang-kadang aku suka dengan hal-hal yang ramping, tapi kalo udah artificial jadi gak asik lagi, real Fonts don’t diet, remember?   

Wuahahahaha….. itu yangselalu dilakukan temen-temen kita… BTW, lagi nulis apaan?

            Ini, Cerpen pesenan dari penerbit gw yang lama. Katanya dia lagi mau nerbitin kompilasi cerpen dari cerpenis-cerpenis dari tiga kota, Bandung, Jakarta dan yogyakarta.

        Oh, jadi gara-gara itu loe gak nonton konser band gw tadi malem?

            Niskala melayangkan matanya pada lembah-lembah di bawah kakinya yang seperti menancap pada bukit di atas lembah. Mencari-cari Sekala yang biasa  datang membiaskan warna coklat pada udara.    

            Sekala…sekala… Sekarang sudah waktunya, meski aku tak berwaktu, tapi aku tahu kamu berwaktu… Kamu dimana?

            Niskala tak bertemu Sekala. Vallhalland sepi sekali. Satu titik hangat melumeri pipinya. Sekala... maafkan aku! 

            Ervtra menyudut kamar, kehabisan Thera di kepalanya, entah kenapa. Writer's Block menyerang, Headache menghabisinya, Thera menyempurnakannya. Thera... maafkan aku! 

 

To be continued…


Blog EntryChapter IXApr 4, '06 3:39 PM
for everyone

Chapter IX

Epilog Temporer Episode IV

(Apologi If)

 

Keharusan untuk menyimpulkan memang hendaknya saya sadari meski ringkih sekali. Dalam setiap puisi SkizopreniaepisodeIV (demikian saya membahasakannya) kadang saya temukan beberapa kesimpulan sementara dari naskah ini, tapi baru sementara. Tanpa sedikitpun terbersit kesimpulan akhir. Apakah karena saya nilai keskizoprenikan naskah ini belum konsisten? Aneh, apakah skizoprenia harus konsisten? Namanya saja sudah skizoprenia!

Saya memang sama sekali tidak bermaksud untuk membohongi pembaca dengan ditulisnya naskah ini karena saya yakin pembaca tidak bodoh. Dalam kata lain saya tidak bermaksud membohongi diri saya sendiri karena terang sekali bahwa naskah ini adalah hasil percakapan Niskala dengan dirinya sendiri, komunikasi intra-personal atau saya tafsirkan dengan dialog singkat dengan Tuhan, komunikasi transendental sebagai sebuah manifestasi jujur untuk menumbuh-kembangkan komunikasi imajiner. Seperti percakapan-percakapan Samantha dengan Joey dalam bayangannya.

Keberhasilan sebuah komunikasi imajiner tidak bisa diukur secara empirik dan statistik sebab tidak ada tolak ukur ataupun parameternya. Komunikasi imajiner bukanlah garis nyata yang bisa kita simbolkan dengan garis, tidak seperti misalnya garis khatulistiwa.

Lantas apa perlunya naskah ini dibaca oleh orang lain, yang dalam hal ini anda sebagai pembaca? Inilah yang saya sebut dengan keberhasilan sebuah komunikasi imajiner secara kualitatif, yaitu ketika berhasil dituliskan menjadi sebuah naskah dan dibaca oleh orang lain diluar imajinasi penulis. Meski nantinya akan banyak kode-kode pribadi yang hanya dimengerti oleh si penulis sendiri. Tapi dalam kasus ini, saya mensahkan siapapun untuk memecahkan kode pribadi itu dengan tafsiran apapun, bahkan yang paling pribadi dan paling subyektif dari pembaca sekalipun, meski bahkan, akan menjadi semakin absurd.

Seperti misalnya saya membaca Kekekalan karya Milan Kundera dalam terjemahan Bahasa Indonesia yang diterjemahkan dari Bahasa Inggris. Sementara Bahasa Inggrisnya pun adalah terjemahan dari Bahasa Perancis yang sebelumnya diterjemahkan dari bahasa aslinya, Cheko. Saya mencerapnya dalam otak saya. Andaikan saya bertemu dengan Kundera dan membicarakan Kekekalan hasil cerapan saya dengannya. Apa yang akan terjadi? Hanya ada dua kemungkinan terbaik tetapi absurd!

Pertama; mungkin Kundera akan berkata sambil takjub: “Hai, dari mana kau dapat ide sehebat itu?”

Atau kedua; mungkin Kundera akan berkata seperti ini: “Nah, itulah yang sebenarnya kumaksud! Akhirnya ada juga orang yang mengerti maksudku!”

Absurd bukan? Tapi tak masalah, seperti yang dikatakan Camus:

“Harus dibayangkan bahwa sisifus itu bahagia!” (comment: Sok tau loe! emang Camus ngomong gitu? Apologi sih apologi, tapi please dong ah...! –filsuf) (Reply: So what...! –penulis)

Sebetulnya kalau kita bersepakat maka mungkin kita akan mencapai tujuan bersama; yaitu bahwa naskah ini boleh (harus?) dibaca, dan hanya dibaca.

Perkembangan selanjutnya terserah anda...

Walaupun mungkin akan terjadi pertanyaan terhadap kapabilitas dan kompetensi dia, Niskala, sebagai penulis. Anda boleh meragukan atau bahkan yakin, tentu saja!

Tapi apapun, begitulah!

Sampai pada titik ini saya belum menemukan kesimpulan akhir. Hanya saja optimisme saya muncul, bahwa nanti dalam prosesnya akan merunut ke kesimpulan akhir. Bisa dari proses diskusi, distribusi atau bisa dari hanya sehelai daun tua basah yang jatuh dari pohon cedar setelah hujan yang begitu deras disertai angin yang begitu dahsyat dan halilintar beserta kilat yang menggelegar-gelegar dan bersahutan.

Saya rasa Niskala sudah cukup membuat penanda sebagai konotasi atas sebuah kejadian dan petanda sebagai denotasinya.

Sebuah stempel besar bercetakan tulisan “SASTRA” menempel dengan telak di naskah ini.

Selamat bermain wahai domba-domba poppy atau sesuci apapun engkau Maria!

Bersujudlah dihadapan jasad busuk Warhol (sebagai penanda) dan ucapkan kata-kata sebagai doa atau kutukan sekalipun (sebagai petanda)!

 

ttd

 

If binti Surga

(Whatever You Want To Be If)

 

 

 

 

 

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help