Chapter VIII
Oedipus; Cognition or Nihilism?
(from Apocalypse to Milk “Pamela Anderson” Factory)
-Percakapan lain-lainnya dengan ego ketiga lain-
“Kill the father, fuck the mother, (dan Sofi menambahkan) stop making baby –mungkin ada korelasinya. Aku menemukannya ketika kubuka halaman itu di No One Here Gets Out Alive. Tiba-tiba musik musim dari sebuah kelokan jalan menyeruduk telingaku, kalau boleh kusederhanakan mungkin namanya klakson. Tit atau tot, kalau adikku menyuarakannya pep, ibuku yang sangat sunda bilangnya tidid, temanku yang bule bilangnya beep, apapun, itu hanyalah masalah lidah yang bersifat ethnic privative. Bayangkan andai bunyi musik musim tadi terdengar di sebuah pemakaman purba di pedalaman yang belum terjamah fuckin’ modernitas.
Jim Morrison, yang menyebut girl terdengar seperti grill, memang terobsesi menjadi Oedipus. Tapi entahlah, mungkin ‘cause my mother is not my type, tak pernah terpikir untuk mengawininya. Hanya cepatlah berpikir andai mereka tidak pernah berpikiran untuk membuat kita, mengemasi dan meng-emas-i kita, ada satu hal yang mereka lupa, kita tidak minta dilahirkan!
Kill the father, sebuah wacana obsesi dan kecintaan mendalam dalam rangka merunut menjadi sosok yang diidam-idamkan, menjadi boomerang bagi Saturnus sebab karma yang harus dia terima adalah diburu oleh anaknya sendiri, Jupiter. Yang kemudian merunut karma-karma berikutnya hingga sekarang.
Fuck the mother, bukan tidak mungkin pembunuhan Habel disebabkan oleh sebuah perebutan kasih sayang dari ibunya, Eva. Kain merasa bahwa dia yang paling mirip Adam, sedemikian hingga setelah ayahnya meninggal, dialah yang harus mewarisi tahta pendamping Eva.
Stop making baby, bukankah tak ada salahnya bermain-main dengan ide. Membuat alam semesta pusing tujuh keliling mungkin adalah sebuah perbuatan yang lucu dan menggemaskan. Begini, apabila seluruh umat manusia bersepakat untuk tidak membuat bayi maka dalam waktu beberapa puluh tahun yang akan datang manusia akan musnah. Sementara Sang Waktu merencanakan kiamat di seribu tahun (mungkin) yang akan datang.
Dalam wacana feodalisme, kedudukan manusia sangat dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran penis sang ayah. Semakin besar ukuran penis dan semakin kuat daya bercinta maka semakin unggul anak yang dihasilkan, unggul dalam tataran normatif dan nilai-nilai umum standar. Bukan, kata temanku yang selalu berteriak tentang feminisme, tetapi tergantung bentuk rahim dan pabrik susu ibunya. Bentuk rahim akan sangat mempengaruhi bentuk fisik, cantik, seksi dan lain-lain. Pabrik susu berpengaruh di wilayah mental, kecerdasan dan spiritualitasnya. Aku lantas bertanya padanya, andaikan anaknya Pamela menyalahi konsep itu? Pam kan dadanya silikon?
Di sini aku tidak akan berpihak pada apapun, siapapun. Semua bagiku hanyalah sebuah kewajaran dan purity. Seperti tadi kubilang tentang aksen lidah yang terakomodir, semuanya terjadi, bisa!
‘O, c’mon, gender is dead, Pal!
Ini bukan orasi budaya tetapi sebuah radiasi buaya yang membenturkan kekerasan halusinasi dan dialektika kecemasan, yang hanya diterjemahkan ke dalam problem telinga, reduksi otak dan formalisme purba seperti tumpahan nafas dan setengah waktu di sebuah simpul-simpul penjelajahan persepsi bunyi dari seseorang yang tidak pernah mengenal dirinya. Seperti sebuah syair yang kubuat ketika dalam kondisi the eyes of the universe;
Bajingan, kerak-kerak di udara itu terus mengutuk-ngutuk tubuhku dan lalu memutuskan untuk segera –setengah mabuk setengah tidur—menghamili kejantanannya. Itulah yang mengantarkan kemantapan kepala yang lidahnya keluar semua. Bahan-bahan kesadaran ada padaku katanya selalu. Lalu dia meracik bumbu-bumbu serotonin untuk jadi kenangan dibuat empirisme kesan-kesan.
Bajingan, enak banget. Optimisme-optimismenya di sebuah labirin ingatan yang tujuh ratus kali sudah kudapatkan.
Bajingan, dia menjadikan kelam menjadi begitu mengudara. Ah!
Bajingan, aku tidak akan pernah mengatakan stereotyping kehidupan lagi padanya, yang kejantanannya teracuni musik musim.
Berikut ini adalah terjemahannya :
(Bajingan, kerak-kerak di udara itu terus mengutuk-ngutuk tubuhku dan lalu memutuskan untuk segera –setengah mabuk setengah tidur—menghamili kejantanannya. Itulah yang mengantarkan kemantapan kepala yang lidahnya keluar semua. Bahan-bahan kesadaran ada padaku katanya selalu. Lalu dia meracik bumbu-bumbu serotonin untuk jadi kenangan dibuat empirisme kesan-kesan.
Bajingan, enak banget. Optimisme-optimismenya di sebuah labirin ingatan yang tujuh ratus kali sudah kudapatkan.
Bajingan, dia menjadikan kelam menjadi begitu mengudara. Ah!
Bajingan, aku tidak akan pernah mengatakan stereotyping kehidupan lagi padanya, yang kejantanannya teracuni musik musim.)
Dalam hal ini aku hanyalah burung pemakan bangkai kata-kata.
Teman! (begitu aku selalu memanggil siapapun, meski beberapa kadang kupanggil –sorry—Anjing!) Adalah sinkronisasi bila dengan tiba-tiba ada arus panjang mendera kita dengan doktrin ketika produksi sperma dan ovum terus berkelanjutan, ketika meiosis tak bisa dihentikan, ketika emosi keberpihakan lambang plus terus menghantui kenyataan minus. I’m sorry, I’m so fuckin’ gay!
Kesenangan, betulkah kesenangan yang tadinya adalah tujuan, telah berfuga menjadi pisau juga? Ya, pisau untuk membunuh beberapa keberpihakan tadi. Fuck our own-selves! Onani tak berkesudahan, bukan BT, lho! (BT=Bo’ongin Titit).
Ini bukan representasi, teman (-sorry- Anjing!), tapi sebuah ketakutan akan kemudaan yang terus menua. Me-Mati. Jadi kutekan tombol ‘restart’ disebuah mesin pembunuh jiwa. Untukmu! Duluan.
Ini bukan cerpen biasa sebab handai taulan kita selalu mewartakan cerpen sebagai sebuah karya yang me-modal. Tapi ini cerpen atas fragmen hidup seorang biseksual, anak-anak brit-pop dan domba-domba glam-rock.
Ini mungkin sedikit lebih cerdas ketimbang cerita ikan Nun. Oh ya! Bagi yang belum tahu cerita ikan Nun akan kuberitahu singkatnya, agar kalian berkhayal. Konon, dunia berada di ujung tanduk seekor kerbau. Kerbau itu berdiri di atas punggung ikan Nun. Ikan Nun hidup di Lautan Pasifik. Horee…! Aku telah berbohong… aku telah berbohong…!
Maka, ayo memudalah! Seperti yang dikatakan Chaos, dewa pertama, “mati ketika bayi!” Kau masuk surga dan semesta terus ber-reinkarnasi.
Pabrik susu, seperti misalnya KPBS yang laris di mana-mana dan Pamela Anderson (salah satu parik susu terbesar) yang juga laris di mana-mana, adalah salah satu faktor ketertarikan Oedipus kepada ibunya. Dari mulai dia membutuhkan hingga “membutuhkan”. Di abad “opening act of milk factory” ini, ketertonjolan menjadi sebuah trend yang apocalyptic. Ekstase seorang sufi mungkin terlancarkan oleh sebuah bayangan akan puting susu ibunya.
Entahlah!
Cognition dan Nihilism, sebuah paradigma unik akan fusi beberapa molekul/atom yang paradoksal. Betapa tidak. Cognition yang selalu menggerecoki kita dengan cacian tentang pentingnya sciense dan –isms digelitiki oleh Dyonisus atau Bacchus (Dewa Anggur, Pesta dan Kesenangan) yang selalu mencari akal bagaimana mengosongkan botol dan membuat lagu baru. Bukankah ini mungkin? Ok, kuralat, bukankah ini absurd! Mungkin pengetahuan saya tentang anak Zeus yang satu ini kurang begitu full-contact-body, mungkin karena dia selalu tersesat dalam labirin saat setiap kali bercinta dengan istrinya. (Istrinya adalah Ariadne, Dewi Labirin) Kalau tidak percaya silahkan tanya Zarathustra!
Tapi kekeringan yang kucerca sudah cukup bulat untuk mengatakan segala hal itu wajar, tidak ada benar dan salah.
Sudah!
Biarkanlah semua mengalir sebab hidup itu cair.
Biarkanlah semua terbang sebab hidup itu tidak melekat.
Biarkanlah semua berlari sebab sinkronisasi akan tetap menghantui peradaban kita.
(bayangkanlah sebuah sungai yang mengalir di angkasa sambil mendengarkan lagu-lagu Bjork!)
Fuck me, and off course, fuck you!
And the last, don’t fuck my concept, Shit!!!
Tabel I. Primordial (my version)
|
Bentuk & Ukuran Penis |
Kekuatan Bercinta |
|
Cantik, tampan
Penanda
Besar, gemuk
Sexy
Vagina |
Cerdas, baik
Petanda
Kuat, tangguh
Anggun
Kekuatan vagina |
Tabel II. Feminis (my version)
|
Bentuk Rahim |
Pabrik Susu *) |
|
Cantik, tampan
Penanda
Denotative
Non-Fiksi
Sexy
Fisik |
Cerdas, baik
Petanda
Konotatif
Imajinasi
Sexist
Mental, spiritual |
*) Terkecuali apabila dadanya disuntik silikon atau terkena kanker payudara.
Bandung, May, 29th 2001