Catatan Pendongeng Keliling

ervin's posts with tag: essay

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag essay

-Sebuah rangkuman percakapan salah satu ego (Ervin Ruhlelana)  dengan ketiga ego lainnya yang ada saat itu[2]-

 

 Aku pernah mengenal beberapa penulis, kebanyakan penulis essay, cerpen, atau puisi. Ada salah satu penulis yang paling kukenal bahkan teramat dekat denganku. Beberapa waktu lalu dia bertemu denganku di sebuah langit berbuih (kau bisa membahasakannya dengan istilah “beer”) dan sketsa-sketsa malam yang berwarna-warni (kau mungkin biasa menyebutnya ganja, atau marijuana).

 

Dia seorang wanita yang sangat (kalau boleh kukutip Baudrillard) seductive. Atau kalau kukutip Gateaux-lotjo libidinal. Kalau Boel menyebutnya tubuh yang cerdas.

 

Aku bertanya padanya, ”Kau lebih sepakat dengan teori Geocentrist atau Heliocentrist?” sambil membayangkan sebuah dialog imajinatif antara Copernicus dan Galilei.

 

Dengan tegas “gadis” itu menjawab, “HELIOSENTRIS!”

 

Cukup! Tanpa harus bertanya lebih lanjut pun aku sudah bisa memutuskan. Wanita ini yang kucari selama ini, kata salah benak yang mulai mengurai beberapa wacana ambiguitas kekesalan. Mereka defrag beberapa kembaran ideologinya.

 

Wanita yang lebih memerlukan bumi ketimbang matahari, bagiku, tak lebih dari sekedar wanita pesolek dan mempunyai high-fuckin’-seduction dengan otak berisi busa dan kecambah. Apa bedanya dengan barbie-barbie balon dengan fasilitas vibrator di vaginanya – kalau beli hari ini bonus satu tube minyak lubricants anti kuman untuk masturbasi dan analsex.

 

Selebihnya aku akan memperkenalkan wanita penulis yang helio-mania tadi dengan nama yang selama ini kita kenal lalu mentransformasikannya ke dalam sebuah gerhana seks total.

 

Aku tidak tahu nama aslinya, tapi dia sangat exist dengan dengan nickname Enny Arrow, lebih terkenal daripada Toer[3], Derrida atau bahkan Gibran sekalipun saat itu. Hampir setiap orang pasti pernah membaca karya-karyanya, meski tak seorang pun tahu siapa penulisnya.

 

Transformasi yang kubuat untuknya merebut satu parsial keindahan dari tubuhnya. Hanya itu!

 

Aku bisa mengatakan bahwa dari perspektif fisik tampilannya biasa saja dengan cashing yang sederhana, seperti ketika kau harus memilih antara body nokia dengan ericsson, kau pasti memilih nokia. Nah, dia itu kurang lebih ericsson.

 

Kecerdasan yang dimiliki ericsson saat itu bisa dikatakan lebih mapan ketimbang nokia. Mempunyai idealisme yang tinggi serta lebih menonjolkan fungsi ketimbang body. Tapi ada kecerdasan lain yang dimiliki Enny yang tidak dimiliki mobile-phone manapun (atau wanita manapun). Dia memiliki kecerdasan tubuh! Harus dibedakan antara body sexy dengan body sexist.

 

Jadi bila kau menyuruhku memilih telepon genggam (atau wanita) maka kupilih Enny, setelah Ericsson.

 

Helio atau matahari, yang tediri dari atom-atom helium, hasil dari fusi inti atom hidrogen diantarkan berupa gelombang-gelombang foton yang akan terurai menjadi warna pelangi saat mengalami interferensi gelombang pada sore hari sehabis hujan yang menghabiskan awan di barat laut pada bulan januari. Dari beberapa literatur konservatif, kitab suci Semitisme dan sedikit literatur post-modern, kita ketahui bahwa malaikat diciptakan dari cahaya. Para newtonian dan beberapa einstein-minded mengatakan bahwa cahaya bergerak dengan sangat cepat sehingga mata kita hanya menangkap titik awal, misalnya matahari, dan titik akhir, misalnya objek batu di tengah lapangan base ball. Mereka juga percaya bahwa apabila kita bergerak dengan kecepatan yang sama dengan cahaya maka seolah kita akan melihat cahaya itu diam.

 

Enny adalah, dipercaya sebagai, seorang malaikat bagi penggemar fanatiknya, seperti misalnya aku. Layaknya cahaya, siapapun hanya melihat titik awal, yaitu nama “Enny Arrow” itu sendiri, dan titik akhir, yaitu karya-karyanya yang penuh dengan gairah dan lendir.

 

Perlu waktu yang lama bagiku untuk mengimbangi velositas pergerakannya agar bisa melihat wujudnya. Hingga saat itu aku bisa bertemu dan berdialog intim dengannya. Aku percaya bahwa kekuatan itu, semuanya, terletak di dalam otak dengan konsentrasi yang penuh, berlatih dengan tekun dan mentransformasikan tubuh menjadi se-sifat cahaya, lebih halus dari para elf yang menduduki hutan sancang, lebih halus dari jin yang tercipta dari asap-asap dupa. Otakku memerintahkan seluruh molekul yang ada di tubuh untuk merenggang... merubah energi partikel menjadi gelombang-gelombang... meliuk-liuk seperti ketika foton dibiaskan hujan dan genangan air, menjadi pelangi... bidadari sedang mandi… pancuran yang berwarna-warni.... bidadari bermandi gelombang foton...

 

Setelah berhasil menemuinya, aku mengajarkan padanya bertransformasi tubuh menjadi se-sifat manusia, menjadi padat, melekat, menerima gravitasi bumi. Tapi beginilah jadinya, seperti yang telah kukatakan tadi, setelah dia berhasil bertransformasi, hal itu hanya merebut satu parsial keindahan dari tubuhnya (sama ketika kau melihat Jin yang bertransformasi tidak sempurna dan kita menerjemahkannya sebagai hantu tanpa kepala), kemudian mengantarkan Enny pada sebuah gerhana seks total.

 

Begitupun yang dikatakan olehnya setelah aku selesai bertransformasi menjadi se-sifat cahaya.

 

Ya, tapi minimal aku mendapatkan beberapa hal penting, yang sebelumnya tak kuketahui;

-         wanita itu, Enny, heliosentris (berpusat pada matahari atau cahaya)

-         sangat indah dengan bentuk mobile-phone

-         kecerdasan tubuhnya tak terkirakan (tak terbahasakan)

-         titik awal dan titik akhir menjadi kurang begitu penting kalau dia sudah bertransformasi

-         jangan pernah dimanusiakan sebab akan menyebabkan gerhana seks total (meski terkadang terjadi kasus gerhana sex parsial, tergantung kebutuhan)

-         dan mengingatkanku akan meleburnya Siti Lemah Abang menjadi sebentuk cahaya (sebuah koinsiden kontra-melankolis, sebab saat itu aku menyadari bahwa cintaku pada Enny akan segera melebur).

 

Ini hanyalah ingatan-ingatan yang muncul dengan deras ketika aku bercinta untuk pertama kalinya dengan Enny. Selanjutnya tak lebih dari sekedar bercinta dengan barbie-barbie balon dengan vibrator[4] dengan bonus kondom berkepala Lucifer.

“Maukah kau bercinta denganku malam ini?”[5]

Ervin Ruhlelana

September, 4th 2001

 

 

 

 

 



[1] Chapter VIII dari Novel Episode IV, Ervin Ruhlelana, Samantha School Publishing, 2007 (ruhlelana.multiply.com)

[2] Baru-baru ini diketahui bahwa ketiga ego lainnya itu bernama Niskala, Karna, dan Samantha

[3] Saat itu karya-karyanya masih terlarang di Indonesia, jadi memang wajar apabila orang lebih mengenal Arrow daripada Toer..he.he.

[4] Terkadang di beberapa negara barat boneka balon semacam ini dinamakan boneka “Samantha”.

[5] Satin de Moulin Rouge


Blog EntryChapter VIIIApr 4, '06 3:32 PM
for everyone

Chapter VIII

Oedipus; Cognition or Nihilism?

(from Apocalypse to Milk “Pamela Anderson” Factory)

-Percakapan lain-lainnya dengan ego ketiga lain-

 

Kill the father, fuck the mother, (dan Sofi menambahkan) stop making baby –mungkin ada korelasinya. Aku menemukannya ketika kubuka halaman itu di No One Here Gets Out Alive. Tiba-tiba musik musim dari sebuah kelokan jalan menyeruduk telingaku, kalau boleh kusederhanakan mungkin namanya klakson. Tit atau tot, kalau adikku menyuarakannya pep, ibuku yang sangat sunda bilangnya tidid, temanku yang bule bilangnya beep, apapun, itu hanyalah masalah lidah yang bersifat ethnic privative. Bayangkan andai bunyi musik musim tadi terdengar di sebuah pemakaman purba di pedalaman yang belum terjamah fuckin’ modernitas.

Jim Morrison, yang menyebut girl terdengar seperti grill, memang terobsesi menjadi Oedipus. Tapi entahlah, mungkin ‘cause my mother is not my type, tak pernah terpikir untuk mengawininya. Hanya cepatlah berpikir andai mereka tidak pernah berpikiran untuk membuat kita, mengemasi dan meng-emas-i kita, ada satu hal yang mereka lupa, kita tidak minta dilahirkan!

 

Kill the father, sebuah wacana obsesi dan kecintaan mendalam dalam rangka merunut menjadi sosok yang diidam-idamkan, menjadi boomerang bagi Saturnus sebab karma yang harus dia terima adalah diburu oleh anaknya sendiri, Jupiter. Yang kemudian merunut karma-karma berikutnya hingga sekarang.

 

Fuck the mother, bukan tidak mungkin pembunuhan Habel disebabkan oleh sebuah perebutan kasih sayang dari ibunya, Eva. Kain merasa bahwa dia yang paling mirip Adam, sedemikian hingga setelah ayahnya meninggal, dialah yang harus mewarisi tahta pendamping Eva.

 

Stop making baby, bukankah tak ada salahnya bermain-main dengan ide. Membuat alam semesta pusing tujuh keliling mungkin adalah sebuah perbuatan yang lucu dan menggemaskan. Begini, apabila seluruh umat manusia bersepakat untuk tidak membuat bayi maka dalam waktu beberapa puluh tahun yang akan datang manusia akan musnah. Sementara Sang Waktu merencanakan kiamat di seribu tahun (mungkin) yang akan datang.

 

Dalam wacana feodalisme, kedudukan manusia sangat dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran penis sang ayah. Semakin besar ukuran penis dan semakin kuat daya bercinta maka semakin unggul anak yang dihasilkan, unggul dalam tataran normatif dan nilai-nilai umum standar. Bukan, kata temanku yang selalu berteriak tentang feminisme, tetapi tergantung bentuk rahim dan pabrik susu ibunya. Bentuk rahim akan sangat mempengaruhi bentuk fisik, cantik, seksi dan lain-lain. Pabrik susu berpengaruh di wilayah mental, kecerdasan dan spiritualitasnya. Aku lantas bertanya padanya, andaikan anaknya Pamela menyalahi konsep itu? Pam kan dadanya silikon?

Di sini aku tidak akan berpihak pada apapun, siapapun. Semua bagiku hanyalah sebuah kewajaran dan purity. Seperti tadi kubilang tentang aksen lidah yang terakomodir, semuanya terjadi, bisa!

‘O, c’mon, gender is dead, Pal!

 

Ini bukan orasi budaya tetapi sebuah radiasi buaya yang membenturkan kekerasan halusinasi dan dialektika kecemasan, yang hanya diterjemahkan ke dalam problem telinga, reduksi otak dan formalisme purba seperti tumpahan nafas dan setengah waktu di sebuah simpul-simpul penjelajahan persepsi bunyi dari seseorang yang tidak pernah mengenal dirinya. Seperti sebuah syair yang kubuat ketika dalam kondisi the eyes of the universe;

 

Bajingan, kerak-kerak di udara itu terus mengutuk-ngutuk tubuhku dan lalu memutuskan untuk segera setengah mabuk setengah tidurmenghamili kejantanannya. Itulah yang mengantarkan kemantapan kepala yang lidahnya keluar semua. Bahan-bahan kesadaran ada padaku katanya selalu. Lalu dia meracik bumbu-bumbu serotonin untuk jadi kenangan dibuat empirisme kesan-kesan.

Bajingan, enak banget. Optimisme-optimismenya di sebuah labirin ingatan yang tujuh ratus kali sudah kudapatkan.

Bajingan, dia menjadikan kelam menjadi begitu mengudara. Ah!

Bajingan, aku tidak akan pernah mengatakan stereotyping kehidupan lagi padanya, yang kejantanannya teracuni musik musim.

 

Berikut ini adalah terjemahannya :

(Bajingan, kerak-kerak di udara itu terus mengutuk-ngutuk tubuhku dan lalu memutuskan untuk segera –setengah mabuk setengah tidur—menghamili kejantanannya. Itulah yang mengantarkan kemantapan kepala yang lidahnya keluar semua. Bahan-bahan kesadaran ada padaku katanya selalu. Lalu dia meracik bumbu-bumbu serotonin untuk jadi kenangan dibuat empirisme kesan-kesan.

Bajingan, enak banget. Optimisme-optimismenya di sebuah labirin ingatan yang tujuh ratus kali sudah kudapatkan.

Bajingan, dia menjadikan kelam menjadi begitu mengudara. Ah!

Bajingan, aku tidak akan pernah mengatakan stereotyping kehidupan lagi padanya, yang kejantanannya teracuni musik musim.)

 

Dalam hal ini aku hanyalah burung pemakan bangkai kata-kata.

 

Teman! (begitu aku selalu memanggil siapapun, meski beberapa kadang kupanggil –sorry—Anjing!) Adalah sinkronisasi bila dengan tiba-tiba ada arus panjang mendera kita dengan doktrin ketika produksi sperma dan ovum terus berkelanjutan, ketika meiosis tak bisa dihentikan, ketika emosi keberpihakan lambang plus terus menghantui kenyataan minus. I’m sorry, I’m so fuckin’ gay!

Kesenangan, betulkah kesenangan yang tadinya adalah tujuan, telah berfuga menjadi pisau juga? Ya, pisau untuk membunuh beberapa keberpihakan tadi. Fuck our own-selves! Onani tak berkesudahan, bukan BT, lho! (BT=Bo’ongin Titit).

Ini bukan representasi, teman (-sorry- Anjing!), tapi sebuah ketakutan akan kemudaan yang terus menua. Me-Mati. Jadi kutekan tombol ‘restart’ disebuah mesin pembunuh jiwa. Untukmu! Duluan.

Ini bukan cerpen biasa sebab handai taulan kita selalu mewartakan cerpen sebagai sebuah karya yang me-modal. Tapi ini cerpen atas fragmen hidup seorang biseksual, anak-anak brit-pop dan domba-domba glam-rock.

Ini mungkin sedikit lebih cerdas ketimbang cerita ikan Nun. Oh ya! Bagi yang belum tahu cerita ikan Nun akan kuberitahu singkatnya, agar kalian berkhayal. Konon, dunia berada di ujung tanduk seekor kerbau. Kerbau itu berdiri di atas punggung ikan Nun. Ikan Nun hidup di Lautan Pasifik. Horee…! Aku telah berbohong… aku telah berbohong…!

Maka, ayo memudalah! Seperti yang dikatakan Chaos, dewa pertama, “mati ketika bayi!” Kau masuk surga dan semesta terus ber-reinkarnasi.

Pabrik susu, seperti misalnya KPBS yang laris di mana-mana dan Pamela Anderson (salah satu parik susu terbesar) yang juga laris di mana-mana, adalah salah satu faktor ketertarikan Oedipus kepada ibunya. Dari mulai dia membutuhkan hingga “membutuhkan”. Di abad “opening act of milk factory” ini, ketertonjolan menjadi sebuah trend yang apocalyptic. Ekstase seorang sufi mungkin terlancarkan oleh sebuah bayangan akan puting susu ibunya.

Entahlah!

Cognition dan Nihilism, sebuah paradigma unik akan fusi beberapa molekul/atom yang paradoksal. Betapa tidak. Cognition yang selalu menggerecoki kita dengan cacian tentang pentingnya sciense dan –isms digelitiki oleh Dyonisus atau Bacchus (Dewa Anggur, Pesta dan Kesenangan) yang selalu mencari akal bagaimana mengosongkan botol dan membuat lagu baru. Bukankah ini mungkin? Ok, kuralat, bukankah ini absurd! Mungkin pengetahuan saya tentang anak Zeus yang satu ini kurang begitu full-contact-body, mungkin karena dia selalu tersesat dalam labirin saat setiap kali bercinta dengan istrinya. (Istrinya adalah Ariadne, Dewi Labirin) Kalau tidak percaya silahkan tanya Zarathustra!

Tapi kekeringan yang kucerca sudah cukup bulat untuk mengatakan segala hal itu wajar, tidak ada benar dan salah.

Sudah!

Biarkanlah semua mengalir sebab hidup itu cair.

Biarkanlah semua terbang sebab hidup itu tidak melekat.

Biarkanlah semua berlari sebab sinkronisasi akan tetap menghantui peradaban kita.

(bayangkanlah sebuah sungai yang mengalir di angkasa sambil mendengarkan lagu-lagu Bjork!)

Fuck me, and off course, fuck you!

And the last, don’t fuck my concept, Shit!!!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel I. Primordial (my version)

Bentuk & Ukuran Penis

Kekuatan Bercinta

Cantik, tampan

Penanda

Besar, gemuk

Sexy

Vagina

Cerdas, baik

Petanda

Kuat, tangguh

Anggun

Kekuatan vagina

 

Tabel II. Feminis (my version)

Bentuk Rahim

Pabrik Susu *)

Cantik, tampan

Penanda

Denotative

Non-Fiksi

Sexy

Fisik

Cerdas, baik

Petanda

Konotatif

Imajinasi

Sexist

Mental, spiritual

*) Terkecuali apabila dadanya disuntik silikon atau terkena kanker payudara.

 

Bandung, May, 29th 2001

I AM GOD DOGMA I


Blog EntryChapter VIIApr 4, '06 3:30 PM
for everyone

Chapter VII

Heliocentrist

(I wanna make love w/-who?- U)

-Percakapan salah satu ego dengan ego ketiga-

 

 Aku pernah mengenal beberapa penulis, dari mulai penulis essay, cerpen hingga puisi. Ada salah satu penulis yang paling kukenal bahkan teramat dekat yang beberapa waktu lalu bertemu denganku di sebuah langit berbuih (kau bisa membahasakannya dengan istilah “beer”) dan sketsa-sketsa malam yang berwarna-warni (kau mungkin biasa menyebutnya ganja, cimeng atau marijuana).

Dia seorang wanita yang sangat (kalau boleh kukutip Baudrillard) seductive.

Aku bertanya padanya, ”Kau lebih sepakat dengan teori Geocentrist atau Heliocentrist?” sambil membayangkan sebuah dialog imajinatif antara Copernicus dan Galilei.

Dengan tegas “gadis” itu menjawab, “HELIOSENTRIS!”

Cukup! Tanpa harus bertanya lebih lanjut pun aku sudah bisa memutuskan. Wanita ini yang kucari selama ini, kata benakku yang mulai mengurai beberapa wacana ambiguitas kekesalan. Mereka defrag beberapa kembaran ideologinya.

Wanita yang lebih memerlukan bumi ketimbang matahari, bagiku, tak lebih dari sekedar wanita pesolek dan mempunyai high-fuckin’-seduction dengan otak berisi busa dan kecambah. Apa bedanya dengan barbie-barbie balon dengan fasilitas vibrator di vaginanya – kalau beli hari ini bonus satu tube minyak pelumas anti kuman untuk sodomi dan masturbasi.

Selebihnya aku akan memperkenalkan wanita penulis yang helio-mania tadi dan mentransformasikannya ke dalam sebuah gerhana seks total.

Aku tidak tahu nama aslinya, tapi dia sangat exist dengan dengan nick-name Enny Arrow, lebih terkenal daripada Pramoedya, Derrida atau bahkan Kahlil Gibran sekalipun. Hampir setiap orang pasti pernah membaca dan mereduksi karya-karyanya, meski tak seorang pun tahu siapa orangnya.

Transformasi yang kubuat untuknya merebut satu parsial keindahan dari tubuhnya. Hanya itu!

Aku bisa mengatakan bahwa dari perspektif fisik tampilannya biasa saja dengan cashing yang sederhana, seperti ketika kau harus memilih antara body nokia dengan ericsson, kau pasti memilih nokia. Nah, dia itu kurang lebih ericsson.

Kecerdasan yang dimiliki ericsson bisa dikatakan lebih mapan ketimbang nokia. Mempunyai idealisme yang tinggi serta lebih menonjolkan fungsi ketimbang body. Tapi ada kecerdasan lain yang dimiliki Enny yang tidak dimiliki mobile-phone manapun (atau wanita manapun). Dia memiliki kecerdasan tubuh! Harus dibedakan antara body sexy dengan body sexist.

Jadi bila kau menyuruhku memilih telepon genggam (atau wanita) maka kupilih Enny, setelah Ericsson.

Helio atau matahari, yang tediri dari atom-atom helium, hasil dari fusi inti atom hidrogen diantarkan berupa gelombang-gelombang foton yang akan terurai menjadi warna pelangi saat mengalami interferensi gelombang. Dari beberapa literatur konservatif, kitab suci dan sedikit literatur post-modern, kita ketahui bahwa malaikat diciptakan dari cahaya. Para newtonian dan beberapa einstein-minded mengatakan bahwa cahaya bergerak dengan sangat cepat sehingga mata kita hanya menangkap titik awal, misalnya matahari, dan titik akhir, misalnya objek batu di tengah lapangan base ball. Mereka juga percaya bahwa apabila kita bergerak dengan kecepatan yang sama dengan cahaya maka seolah kita akan melihat cahaya itu stagnant.

Enny adalah, dipercaya sebagai, seorang malaikat bagi penggemar fanatiknya, seperti misalnya aku. Layaknya cahaya, siapapun hanya melihat titik awal, yaitu nama “Enny Arrow” itu sendiri, dan titik akhir, yaitu karya-karyanya.

Perlu waktu yang lama bagiku untuk mengimbangi velositas pergerakannya agar bisa melihat wujudnya. Hingga saat itu aku bisa bertemu dan berdialog intim dengannya. Aku percaya bahwa kekuatan itu, semuanya, terletak di dalam otak dengan konsentrasi yang penuh, berlatih dengan tekun dan mentransformasikan tubuh menjadi se-sifat cahaya, dengan intensitas yang dikecilkan.

Setelah berhasil menemuinya, aku mengajarkan padanya bertransformasi tubuh menjadi se-sifat manusia. Tapi beginilah jadinya, seperti yang telah kukatakan tadi, setelah dia berhasil bertransformasi, hal itu hanya merebut satu parsial keindahan dari tubuhnya, mengantarkannya pada sebuah gerhana seks total.

Begitupun yang dikatakan olehnya setelah aku selesai bertransformasi menjadi se-sifat cahaya.

Ya, tapi minimal aku mendapatkan beberapa hal penting, yang sebelumnya tak kuketahui;

-          wanita itu, Enny, heliosentris (berpusat pada matahari atau cahaya)

-          sangat indah dengan bentuk mobile-phone

-          kecerdasan tubuhnya tak terkirakan (tak terbahasakan)

-          titik awal dan titik akhir menjadi kurang begitu penting kalau dia sudah bertransformasi

-          jangan pernah dimanusiakan sebab akan menyebabkan gerhana seks total

-          dan mengingatkanku akan meleburnya Syech Siti Jenar atau Siti Lemah Abang menjadi sebentuk cahaya (sebuah koinsiden kontra-melankolis, sebab saat itu aku menyadari bahwa cintaku pada Enny akan segera melebur).

Ini hanyalah ingatan-ingatan yang muncul dengan deras ketika aku bercinta untuk pertama kalinya dengan Enny. Selanjutnya tak lebih dari sekedar bercinta dengan barbie-barbie balon dengan vibrator[1] dengan bonus kondom berkepala Lucifer.

“Maukah kau bercinta denganku malam ini?”        

 

Satin de Moulin Rouge

September, 4th 2001

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Terkadang dinamakan boneka “Samantha”.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help