Tentang Ditemukannya Dua Mayat Lelaki Di Sebuah Taman
Kalau Kau Membaca Berita Tentang Ditemukannya Dua Mayat Lelaki Yang Tercincang Di Sebuah Taman (maka harus kau baca kisah ini dari awal!)
Langit sepertinya masih hijau. Belum menunjukan kebijaksanaan apapun, bahkanpun seandainya beberapa bintang yang membentuk sebuah rasi mulai jelas terlihat.
Dua lelaki itu masih duduk menunggui malam, masih di taman itu. Taman yang berbau dupa, tidak begitu menyengat, tapi cukup membuat bulu kuduk berdiri satu-persatu apabila dihirup dengan semua kegagalan fantasi yang menyeruak menggambarkan wajah seram Sundel Bolong saat kau berumur 4-12 tahun.
Dua lelaki itu sedang menghitung berapa banyak keindahan yang terlewatkan sore itu bila mereka membicarakan beberapa tema sekaligus dalam hitungan kesepuluh.
Misalnya ketika seorang gadis bersepatu kaca berjalan tepat di depan hidung sementara bau dupa terus menghantui fantasi mereka. Ada keindahan yang terlewatkan tentu. Atau ketika ada gadis lain melirik mereka dan mencoba duduk di kursi besi yang lain yang tak jauh dari kursi besi yang mereka duduki sekarang sementara suara mobil yang entah berapa puluh mengaum di kejauhan di jalan sebelah taman itu. Sementara mereka terus membicarakan tema-tema yang sejak tadi melingkupi obrolan mereka. Ada keindahan yang terlewatkan tentu. Atau ketika ada seorang anak kecil melemparkan batu pertamanya ke kolam yang tak jauh dari tempat duduk mereka dan ibunya tersenyum memperlihatkan sebuah kebanggaan yang tak dapat dilukiskan pelukis naturalis rajin setelah menghisap satu gram metamphetamine sekalipun. Senyum yang menarik, seharusnya menarik kedua lelaki itu. Tapi tidak. Ada keindahan yang terlewatkan tentu.
Ada memang banyak keindahan yang terlewatkan. Puluhan paragraf. Tapi tidak, ada keindahan lain yang mereka rasakan saat langit berubah dari hijau ke kelabu padat. Yang hanya dirasakan mereka berdua. Tidak dirasakan orang-orang yang sedang menikmati sore di taman itu. Hanya mereka berdua.
Dua lelaki itu sebenarnya tidak pernah merindui malam, tidak seperti para kampret yang menggantung di sudut-sudut kolong jembatan dan dahan-dahan pohon. Tidak pernah merindui malam sama seperti tidak pernah merindui siang.
Lelaki pertama berbadan kurus tapi tidak kering, cukup basah dalam beberapa hal, misalnya apabila dia menawarkan seorang gadis untuk bersetubuh dengannya dan menjilati seluruh tubuh gadis itu seperti induk kucing menjilati anaknya setubuh-tubuh. Cukup basah saat merokok, sebab ujung rokok yang terselip di bibirnya memang tidak pernah kering, sepertinya dia tidak pernah berhenti menjilati rokoknya yang berasa sedikit manis itu seperti tidak akan pernah bisa menikmati rokok putih yang ujung filternya tidak berasa atau bahkan sedikit pahit.
Wajahnya tirus, memendam tangis, sedikit merah apabila mendengar beberapa hal yang emosional, marah, sedih, tertawa, malu, gatal bahkan birahi. Wajahnya cukup menarik kalau begitu, berwarna dua, merah dan putih oriental standar.
Tangannya selalu mengepal seperti mempunyai wajah yang kuat dan berbadan gempal. Tangannya selalu mengepal seperti menandakan bahwa dia selalu siaga apabila ada orang yang tiba-tiba datang membawa segudang adrenalin dan menimpakan beberapa balok paving block ke muka, kepala dan tubuhnya.
Tetapi lelaki itu berperilaku santai, hanya tangannya selalu mengepal, entah kenapa.
Dia, seperti juga yang sering ia katakan, adalah keindahan yang terbunuh oleh takdir. Dengan kata-kata itu ia membesarkan diri.
Lelaki kedua berwajah lembut, kekanakan, kewanitaan. Seperti akan membiarkan orang menampar pipi kirinya apabila sebelumnya orang itu menampar pipi kanannya. Tidak akan membunuh seekor nyamukpun meski dia hidup di musim kemarau dalam sebuah tempat penuh genangan air dan puluhan baju bergantungan di capstock dan lemari yang terbuka. Sepertinya dia rentan akan berbagai penyakit yang dekat dengannya. Berwajah Arab campuran Cina. Wajah yang jarang sekali ditemukan, wajah yang dipertemukan oleh dua kebudayaan yang amat berbeda, amat bertolak belakang. Dan sepertinya leluhurnya pernah bermasalah terhadap keluarga besarnya. Kakeknya diusir dari rumah karena menikahi seorang Cina. Neneknya diusir dari rumah karena menikahi seorang Arab. Ayahnya lahir dan menikahi seorang sunda-belanda saat beranjak dewasa. Cukup tampan kalau begitu.
Lumayan tinggi dan tegap, tidak terlalu kurus meski sepertinya olahraga bukan kebiasaannya dari semenjak lahir hingga sekarang. Kulitnya berwarna macam-macam, sepertinya seluruh warna siang, sore, malam dan pagi menempel sekaligus dan sabar di tubuhnya.
Dia, seperti juga yang sering ia katakan, adalah takdir yang indah. Dengan kata-kata itu ia membesarkan hati.
Taman yang mereka duduki sebenarnya taman yang sudah lama mati, tak pernah lagi dikunjungi, hanya dihuni beberapa gelandangan dan menjadi tempat nongkrong anak-anak Punk yang mencoba meninggalkan rumah lantas setelah benar-benar kelaparan mereka baru pulang lagi ke pangkuan orang tua mereka. Taman itu mulai menjadi hidup kembali setelah beberapa demonstran lingkungan hidup dari sebuah LSM pencari perhatian menekan pemerintah kota untuk merenovasi fasilitas-fasilitas taman itu, seperti misalnya WC umum, kursi-kursi, tempat bermain anak-anak, air mancur dan kolam-kolam yang sudah menyerupai bekas peternakan babi.
Sebuah gedung kembar simbol hegemoni ekonomi meledak beberapa saat setelah kejadian di bawah ini.
Seekor kucing bercorak putih kuning tiba-tiba mengeong dengan nyaring dengan mata menyorot langsung dan tajam ke mata lelaki pertama. Seolah akan memperingatkan tentang sesuatu padanya, dan bukan saja seolah. Agak lama mereka terpaku terkesima hingga kucing itu pergi sambil menggerutu dengan eongan-eongan kecil hingga tak terlihat, tertutup salah satu pohon di taman itu dan beberapa belukar akan tapi eongan nya masih terdengar.
Lelaki pertama tersontak kaget, melirik ke arah lelaki kedua yang juga memandanginya dengan nada pertanyaan yang sama dalam air mukanya.
“Sebuah pertanda!” lelaki pertama menyentakan suaranya tepat di ujung pusaran pikiran lelaki kedua.
“Aku tahu, tapi pertanda apa, aku tak tahu. Runutannya terlalu cepat. Menurutmu?” lelaki kedua mencoba mengurai pertanyaan-pertanyaan yang terlontar secara diam dari lelaki pertama.
“Kupikir alangkah sebaiknya kita menjadi Sulaiman dahulu sebelum menerka-nerka apa yang ingin disampaikan kucing itu pada kita.”
“Kenapa harus Sulaiman! Bukankah setiap manusia bisa menerjemahkan bahasa buana seperti itu?”
“Buktinya kita tidak bisa! Apa kau pikir bisa semudah itu menerjemahkan bahasa buana?”
“Meditasi, Kawan! Coba kita sedikit bermeditasi dan menyatukan energi kita berdua. Seperti yang pernah kita lakukan waktu itu saat kita berdua sering dikunjungi hantu-hantu berkerudung. Bukankah saat itu akhirnya kita berdua dapat berkomunikasi dengan mereka?”
“Ah, ya… Kalau begitu, ayo!”
Lelaki pertama meraih tangan lembut lelaki kedua. Mereka berpegangan erat, saling menyilang. Kanan dengan kanan. Kiri dengan kiri. (Alasan kenapa menyilang adalah agar tidak ada perebutan energi. Sebab tangan kanan bermuatan positif dan apabila bertemu tangan kanan lagi akan terjadi penolakan sehingga energi akan tetap berputar di tubuh masing-masing. Pada saat seperti itu mereka menggunakan kesempatan untuk menyedot energi dari semesta. Berkomunikasi dengan semesta.)
Malam semakin larut. Orang-orang benar-benar hanya tinggal para pengemis dan pengamen yang sudah terlelap dalam dusnya masing-masing di sudut taman. Kedua lelaki itu masih berhadapan, berpegangan erat seperti seolah tidak akan dilepaskan andai saja tidak ada guntur yang menggelegar.
Dari arah utara, tiba-tiba, datang seorang tua membawa sebuah kendi berisi air bening. Seorang tua bersorban putih, berbaju putih, berkumis putih, bersarung putih, dan bermata putih. Orang tua itu buta! Tapi dia bisa berjalan sangat tepat dan cepat seperti seolah akan mengalahkan manusia bermata normal dalam kecepatan berjalan seperti itu, dalam kegelapan malam seperti itu.
Orang tua itu mencoba mendekati dua lelaki di taman itu.
Berkata dengan suara lirih,
“Hai dua lelaki yang perih hati! Aku datang kemari untuk membawa dua buah jawaban atas pertanyaan kalian yang tadi kalian lontarkan. Aku adalah Sulaiman.”
Dua lelaki itu tersontak kaget. Terbangun dari meditasinya. Hari hampir pagi. Memandang lurus setajam katana ke arah lelaki tua berputih itu.
“Kau Sulaiman?” Dengan bersamaan, seolah terucap dari mulut kedua lelaki itu.
“Ya, seharusnya para malaikat yang diutus dini hari ini untuk menjawab pertanyaan kalian. Tapi aku meminta pada Tuhan untuk menggantikan para malaikat itu sebab tadi malam kalian menyebut-nyebut namaku.”
“Pesan apa yang kau bawa dari Tuhan untuk kami, Paduka?” Lelaki pertama bertanya diiringi sedikit menekukan tubuh tanda hormat pada Sulaiman.
“Jawaban pertama, meditasi kalian akan meruntuhkan beberapa hegemoni yang ditanamkan sebuah negara adi daya. Meditasi kalian akan menimbulkan teror yang hebat untuk dunia. Sebuah teror yang akan luar biasa mengejutkan dunia.”
“Teror?” Lelaki kedua menyambut dengan pertanyaan lagi.
Sang Sulaiman terdiam sejenak sambil memandang kosong dengan mata butanya tepat kejantung mata lelaki kedua.
“Kenapa terdiam?” Lelaki kedua mencoba membuka kembali percakapan.
Sang Sulaiman menghirup nafas panjang. “Aku hanya membawa dua buah jawaban. Yang pertama sudah kulontarkan. Tak ada jawaban lebih lanjut dari jawaban pertama. Yang kedua akan segera kulontarkan. Kalian harus bersiap sebab jawaban yang kedua akan terlontar menjadi suara terakhir di dunia yang akan kalian dengar.”
“Maksudmu?” Lelaki kedua.
“Maksudmu?” Lelaki pertama tergagap, seolah dia sudah tahu apa yang akan dilontarkan lelaki tua itu.
“Dunia akan berada di ujung tanduk seekor kerbau seperti dongeng leluhur kalian yang sering kalian dengar setiap malam sebelum kalian tidur. Kerbau itu berdiri di atas ikan Nun. Ikan Nun itu hidup di Samudera Hindia yang berombak ganas.
Kalian akan tersenyum, hidup di dunia seperti itu. Kalian adalah penyebab semua itu, tersenyum bukan? Selain aku mewakili Jibril saat ini, aku juga mewakili…” Lelaki itu terdiam sejenak, menatap kedua lelaki itu, kembali menekankan kesiapan kedua lelaki itu untuk mendengar berita ini.
“Sebentar,” lelaki pertama tiba-tiba berdiri, “kau Malaikat Maut? Hendak meregang nyawa kami? Mencabut nyawa kami sebab kami tak akan siap menghadapi apa yang akan terjadi siang ini?”
“Benarkah wahai Paduka?” Lelaki pertama menghentakan kakinya, juga tiba-tiba berdiri.
“Kalian adalah orang-orang pilihan. Sudah cukup tugas kalian di bumi. Keindahan yang kalian ciptakan, keindahan yang kalian tatap kemudian kalian bicarakan sudah cukup mapan untuk berdiri sendiri. Tetapi sebelum itu, Tuhan merencanakan untuk segera mencabut keindahan itu.
Ya, aku adalah Sang Maut! Aku adalah Izrail!”
Dari arah selatan beberapa orang berpakaian seragam hitam-hitam, sekitar sepuluh orang dengan masing-masing membawa golok menyerbu masuk ke dalam taman. Berteriak-teriak menggaung. “Bunuh mereka…, bunuh…!”
Dua lelaki itu terkaget. Sulaiman sudah menghilang menjadi sebentuk bayangan. Mengangkat kedua lelaki itu.
Orang-orang berpakaian hitam itu mencincang tubuh kedua lelaki itu menjadi sebentuk onggokan darah, daging dan tulang.
Dua lelaki itu melayang diangkat Sulaiman yang menjadi Ijrail sambil tersenyum haru.
SM Bandung, 11 September 2002.
Seseorang menyuruhku berhenti mengetik.