Catatan Pendongeng Keliling

ervin's posts with tag: fiction

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag fiction
Blog EntryFlash BackApr 5, '06 12:43 AM
for everyone

Sedikit Flash Back Mengenai Ingatan2 Cerio Dari Masa Lalu Bersama Termina Yang Mengerikan Itu Dalam Beberapa Fragmen…

 

Terjebak Dalam Geliat Gergaji Anjing

Hal terbaik yang pernah bisa kulakukan adalah memanggilnya Ratu. Saat- saat seperti itulah yang biasanya membuat wanita itu diam. Diam dari segala teriakan mengerikan yang selalu nyaris membuat kupingku berdenyut-denyut bahkan nyaris tuli.

Oh Tuhan! Sayang, ratuku… kau mau secangkir anggur segar? Anggur ini akan segera menyegarkanmu, menyegarkan benakmu dari keinginan-keinginan purbamu.

Lantas seteguk-demi-seteguk anggur itu diminumnya, menyeruak dalam perutnya, dihisap usus halusnya, menyerap dalam darah, menuju jantung, diantarkan ke otak, maka perintah senyum dari otaknya membuat bibirnya melebar, tersenyum, menggantikan teriakan-teriakan gilanya.

Tenang, sayang, tenang ratuku, tahan senyummu, tahan sampai disitu, jangan kurangi lagi, ya, ya, great, benar teruslah begitu…

 Lalu tawanya meledak, merangkulku dengan erat, sangat lekat, penuh tenaga, membuatku hampir tak bisa bernafas.

Bagus ratuku… bagus…

Bicaraku tersentak berlarian berkejaran dengan nafas tertahanku, tersengal sambil terus berucap…

Ya, ratuku, ya, maksudku memang yang ini … senyum yang ini, tawa yang ini, ayo, teruslah…

Dan jangan ingatkan akan teriakannya… jangan pernah ada kata teriak mengumandang lagi dalam telinganya, butuh waktu berjam-jam untuk menghentikannya lagi, membuatnya tersenyum, membuatnya berhenti dan melupakan kesakitannya, kesakitan akan rindu terhadap segala hal yang menyelubungi otaknya, awan-awan kelabu…

 

Terhalang Dua Gumpal Awan Hitam

Ratuku, mulai saat ini aku akan meninggalkanmu, tampaknya aku sudah muak dengan segala tingkah keratuanmu, selamat tinggal!

Beranikah aku berkata seperti itu pada wanita itu. Siapkah aku menerima terikan terakhirnya dan pasti paling keras? Bukankah aku harus siap agar segala intervensianya untuk diriku memudar hingga hilang?

Sudahlah ratu, jangan bersedih, aku bukannya muak, tetapi ada beberapa hal yang harus aku kerjakan diluar sana.

Akankah seperti itu jadinya? Atau seperti ini, seperti yang kuharapkan…

Terimakasih, Ratuku, mudah-mudahan ini adalah hal terbaik untuk kita berdua bila aku pergi dari sini. Jaga dirimu baik-baik, Ratuku!

Ah… aku muak memikirkan bahkan hanya untuk terlepas darinya. Tapi memang harus kuakui bahwa hal terbaik yang bisa kulakukan adalah memanggilnya Ratu.

 

Bergeser Pada Wilayah Lain

Pagi hari kami bangun bersama, memanaskan air, menyeduh kopi, duduk di beranda belakang dekat kebun mungil yang kami bangun dengan penuh kasih sayang. Dia menyalakan sebatang rokok sambil melihat kearah kebun, memberikannya padaku, kuhisap dalam-dalam, kesegaran pertama di pagi hari itu menyeruak melepas uap dari paru-paruku yang mengembun pada beberapa ingatan masa kecil kita berdua. Lantas dia menyalakan rokok lagi untuknya sendiri. Kami meminjam beberapa roman Edi Suhendro untuk suasana pagi hari. Tak ada hiruk pikuk sebab belakang rumah kami jauh dari jalan. Rumah kami besar panjang berhalaman luas, tampaknya sulit bahkan suara klakson pun untuk mencapai telinga kami di beranda belakang. Anak-anak kami, kami belum punya anak, ah ya, mungkin dalam khayalan kami, kami melihat anak-anak kami berlarian memegang selang air bermain menyiram pot-pot bunga dan rerumputan, riang, seriang masa kecil kami dalam asuhan nenek yang sudah meninggal saat kami masih di SMP.

Apakah kau berharap untuk mempunyai anak Ratuku? Seperti juga yang sangat kuharapkan.

Ya, Tuhan aku kelepasan berbicara begitu padanya. Seharusnya hal itu adalah awal pembicaraan yang paling buruk di pagi seindah ini karena seperti kuketahui dan kualami sebelumnya  pertanyaan sejenis itu akan merusak hari, apalagi pagi maka akan seharian penuh ini dia akan kembali berteriak histeris dan akan berhenti jika aku memberinya bergelas-gelas anggur.

Astaga Ratuku, maafkan aku. Kumohon berhenti berteriak, please… sebentar, tunggu sebentar, akan kuambil anggurnya…

Lantas aku berlari kearah bar di ruang tengah rumah kami mencari sebotol anggur terbaik yang kami punya. Astaga, aku lupa kalau persediaan anggur kami untuk bulan ini sudah habis. Aku tidak mampu lagi berbelanja sebab sudah 3 bulan terakhir ini gajiku belum dibayar juga. Aku sering bolos bekerja semenjak wanita ini jadi sering berteriak menjadi-jadi. Ya… aku harus menjaganya, menjaganya dari kematian yang selalu mendekati tubuhnya. Tak ada yang bisa kulakukan sekarang selain mendengarkan teriakannya di beranda belakang dan berpikir bagaimana mencegah kematian untuk pergi jauh-jauh dari tubuhnya…

 

 

 

 

 

***End Of Episode IV***


Blog EntryUmbai Cacing (Dead End)Apr 5, '06 12:37 AM
for everyone

Tentang Pertemuan Singkat Cerio dan Samantha

 

Akhirnya, Cerio berhasil, setelah dengan susah payah mengumpulkan energi dan memberanikan diri, membuka kaca mata hitam gadis itu.

Itu saja!

 


Blog EntryUmbai Cacing (Dead End)Apr 5, '06 12:36 AM
for everyone

Tentang Ditemukannya Dua Mayat Lelaki Di Sebuah Taman

Kalau Kau Membaca Berita Tentang Ditemukannya Dua Mayat Lelaki Yang Tercincang Di Sebuah Taman (maka harus kau baca kisah ini dari awal!)

 

Langit sepertinya masih hijau. Belum menunjukan kebijaksanaan apapun, bahkanpun seandainya beberapa bintang yang membentuk sebuah rasi mulai jelas terlihat.

Dua lelaki itu masih duduk menunggui malam, masih di taman itu. Taman yang berbau dupa, tidak begitu menyengat, tapi cukup membuat bulu kuduk berdiri satu-persatu apabila dihirup dengan semua kegagalan fantasi yang menyeruak menggambarkan wajah seram  Sundel Bolong saat kau berumur 4-12 tahun.

Dua lelaki itu sedang menghitung berapa banyak keindahan yang terlewatkan sore itu bila mereka membicarakan beberapa tema sekaligus dalam hitungan kesepuluh.

Misalnya ketika seorang gadis bersepatu kaca berjalan tepat di depan hidung sementara bau dupa terus menghantui fantasi mereka. Ada keindahan yang terlewatkan tentu. Atau ketika ada gadis lain melirik mereka dan mencoba duduk di kursi besi yang lain yang tak jauh dari kursi besi yang mereka duduki sekarang sementara suara mobil yang entah berapa puluh mengaum di kejauhan di jalan sebelah taman itu. Sementara mereka terus membicarakan tema-tema yang sejak tadi melingkupi obrolan mereka. Ada keindahan yang terlewatkan tentu. Atau ketika ada seorang anak kecil melemparkan batu pertamanya ke kolam yang tak jauh dari tempat duduk mereka dan ibunya tersenyum memperlihatkan sebuah kebanggaan yang tak dapat dilukiskan pelukis naturalis rajin setelah menghisap satu gram metamphetamine sekalipun. Senyum yang menarik, seharusnya menarik kedua lelaki itu. Tapi tidak. Ada keindahan yang terlewatkan tentu.

Ada memang banyak keindahan yang terlewatkan. Puluhan paragraf. Tapi tidak, ada keindahan lain yang mereka rasakan saat langit berubah dari hijau ke kelabu padat. Yang hanya dirasakan mereka berdua. Tidak dirasakan orang-orang yang sedang menikmati sore di taman itu. Hanya mereka berdua.

Dua lelaki itu sebenarnya tidak pernah merindui malam, tidak seperti para kampret yang menggantung di sudut-sudut kolong jembatan dan dahan-dahan pohon. Tidak pernah merindui malam sama seperti tidak pernah merindui siang.

Lelaki pertama berbadan kurus tapi tidak kering, cukup basah dalam beberapa hal, misalnya apabila dia menawarkan seorang gadis untuk bersetubuh dengannya dan menjilati seluruh tubuh gadis itu seperti induk kucing menjilati anaknya setubuh-tubuh. Cukup basah saat merokok, sebab ujung rokok yang terselip di bibirnya memang tidak pernah kering, sepertinya dia tidak pernah berhenti menjilati rokoknya yang berasa sedikit manis itu seperti tidak akan pernah bisa menikmati rokok putih yang ujung filternya tidak berasa atau bahkan sedikit pahit.

Wajahnya tirus, memendam tangis, sedikit merah apabila mendengar beberapa hal yang emosional, marah, sedih, tertawa, malu, gatal bahkan birahi. Wajahnya cukup menarik kalau begitu, berwarna dua, merah dan putih oriental standar.

Tangannya selalu mengepal seperti mempunyai wajah yang kuat dan berbadan gempal. Tangannya selalu mengepal seperti menandakan bahwa dia selalu siaga apabila ada orang yang tiba-tiba datang membawa segudang adrenalin dan menimpakan beberapa balok paving block ke muka, kepala dan tubuhnya.

Tetapi lelaki itu berperilaku santai, hanya tangannya selalu mengepal, entah kenapa.

Dia, seperti juga yang sering ia katakan, adalah keindahan yang terbunuh oleh takdir. Dengan kata-kata itu ia membesarkan diri.

Lelaki kedua berwajah lembut, kekanakan, kewanitaan. Seperti akan membiarkan orang menampar pipi kirinya apabila sebelumnya orang itu menampar pipi kanannya. Tidak akan membunuh seekor nyamukpun meski dia hidup di musim kemarau dalam sebuah tempat penuh genangan air dan puluhan baju bergantungan di capstock dan lemari yang terbuka. Sepertinya dia rentan akan berbagai penyakit yang dekat dengannya. Berwajah Arab campuran Cina. Wajah yang jarang sekali ditemukan, wajah yang dipertemukan oleh dua kebudayaan yang amat berbeda, amat bertolak belakang. Dan sepertinya leluhurnya pernah bermasalah terhadap keluarga besarnya. Kakeknya diusir dari rumah karena menikahi seorang Cina. Neneknya diusir dari rumah karena menikahi seorang Arab. Ayahnya lahir dan menikahi seorang sunda-belanda saat beranjak dewasa. Cukup tampan kalau begitu.

Lumayan tinggi dan tegap, tidak terlalu kurus meski sepertinya olahraga bukan kebiasaannya dari semenjak lahir hingga sekarang. Kulitnya berwarna macam-macam, sepertinya seluruh warna siang, sore, malam dan pagi menempel sekaligus dan sabar di tubuhnya.

Dia, seperti juga yang sering ia katakan, adalah takdir yang indah. Dengan kata-kata itu ia membesarkan hati.

Taman yang mereka duduki sebenarnya taman yang sudah lama mati, tak pernah lagi dikunjungi, hanya dihuni beberapa gelandangan dan menjadi tempat nongkrong anak-anak Punk yang mencoba meninggalkan rumah lantas setelah benar-benar kelaparan mereka baru pulang lagi ke pangkuan orang tua mereka. Taman itu mulai menjadi hidup kembali setelah beberapa demonstran lingkungan hidup dari sebuah LSM pencari perhatian menekan pemerintah kota untuk merenovasi fasilitas-fasilitas taman itu, seperti misalnya WC umum, kursi-kursi, tempat bermain anak-anak, air mancur dan kolam-kolam yang sudah menyerupai bekas peternakan babi.

Sebuah gedung kembar simbol hegemoni ekonomi meledak beberapa saat setelah kejadian di bawah ini.

Seekor kucing[1] bercorak putih kuning tiba-tiba mengeong dengan nyaring dengan mata menyorot langsung dan tajam ke mata lelaki pertama. Seolah akan memperingatkan tentang sesuatu padanya, dan bukan saja seolah. Agak lama mereka terpaku terkesima hingga kucing itu pergi sambil menggerutu dengan eongan-eongan kecil hingga tak terlihat, tertutup salah satu pohon di taman itu dan beberapa belukar akan tapi eongan nya masih terdengar.

Lelaki pertama tersontak kaget, melirik ke arah lelaki kedua yang juga memandanginya dengan nada pertanyaan yang sama dalam air mukanya.

“Sebuah pertanda!” lelaki pertama menyentakan suaranya tepat di ujung pusaran pikiran lelaki kedua.

“Aku tahu, tapi pertanda apa, aku tak tahu. Runutannya terlalu cepat. Menurutmu?” lelaki kedua mencoba mengurai pertanyaan-pertanyaan yang terlontar secara diam dari lelaki pertama.

“Kupikir alangkah sebaiknya kita menjadi Sulaiman dahulu sebelum menerka-nerka apa yang ingin disampaikan kucing itu pada kita.”

“Kenapa harus Sulaiman! Bukankah setiap manusia bisa menerjemahkan bahasa buana seperti itu?”

“Buktinya kita tidak bisa! Apa kau pikir bisa semudah itu menerjemahkan bahasa buana?”

“Meditasi, Kawan! Coba kita sedikit bermeditasi dan menyatukan energi kita berdua. Seperti yang pernah kita lakukan waktu itu saat kita berdua sering dikunjungi hantu-hantu berkerudung. Bukankah saat itu akhirnya kita berdua dapat berkomunikasi dengan mereka?”

“Ah, ya… Kalau begitu, ayo!”

Lelaki pertama meraih tangan lembut lelaki kedua. Mereka berpegangan erat, saling menyilang. Kanan dengan kanan. Kiri dengan kiri. (Alasan kenapa menyilang adalah agar tidak ada perebutan energi. Sebab tangan kanan bermuatan positif dan apabila bertemu tangan kanan lagi akan terjadi penolakan sehingga energi akan tetap berputar di tubuh masing-masing. Pada saat seperti itu mereka menggunakan kesempatan untuk menyedot energi dari semesta. Berkomunikasi dengan semesta.)

Malam semakin larut. Orang-orang benar-benar hanya tinggal para pengemis dan pengamen yang sudah terlelap dalam dusnya masing-masing di sudut taman. Kedua lelaki itu masih berhadapan, berpegangan erat seperti seolah tidak akan dilepaskan andai saja tidak ada guntur yang menggelegar.

Dari arah utara, tiba-tiba, datang seorang tua membawa sebuah kendi berisi air bening. Seorang tua bersorban putih, berbaju putih, berkumis putih, bersarung putih, dan bermata putih. Orang tua itu buta! Tapi dia bisa berjalan sangat tepat dan cepat seperti seolah akan mengalahkan manusia bermata normal dalam kecepatan berjalan seperti itu, dalam kegelapan malam seperti itu.

Orang tua itu mencoba mendekati dua lelaki di taman itu.

Berkata dengan suara lirih,

“Hai dua lelaki yang perih hati! Aku datang kemari untuk membawa dua buah jawaban atas pertanyaan kalian yang tadi kalian lontarkan. Aku adalah Sulaiman.”

Dua lelaki itu tersontak kaget. Terbangun dari meditasinya. Hari hampir pagi. Memandang lurus setajam katana ke arah lelaki tua berputih itu.

“Kau Sulaiman?” Dengan bersamaan, seolah terucap dari mulut kedua lelaki itu.

“Ya, seharusnya para malaikat yang diutus dini hari ini untuk menjawab pertanyaan kalian. Tapi aku meminta pada Tuhan untuk menggantikan para malaikat itu sebab tadi malam kalian menyebut-nyebut namaku.”

“Pesan apa yang kau bawa dari Tuhan untuk kami, Paduka?” Lelaki pertama bertanya diiringi sedikit menekukan tubuh tanda hormat pada Sulaiman.

“Jawaban pertama, meditasi kalian akan meruntuhkan beberapa hegemoni yang ditanamkan sebuah negara adi daya. Meditasi kalian akan menimbulkan teror yang hebat untuk dunia. Sebuah teror yang akan luar biasa mengejutkan dunia.”

“Teror?” Lelaki kedua menyambut dengan pertanyaan lagi.

Sang Sulaiman terdiam sejenak sambil memandang kosong dengan mata butanya tepat kejantung mata lelaki kedua.

“Kenapa terdiam?” Lelaki kedua mencoba membuka kembali percakapan.

Sang Sulaiman menghirup nafas panjang. “Aku hanya membawa dua buah jawaban. Yang pertama sudah kulontarkan. Tak ada jawaban lebih lanjut dari jawaban pertama. Yang kedua akan segera kulontarkan. Kalian harus bersiap sebab jawaban yang kedua akan terlontar menjadi suara terakhir di dunia yang akan kalian dengar.”

“Maksudmu?” Lelaki kedua.

“Maksudmu?” Lelaki pertama tergagap, seolah dia sudah tahu apa yang akan dilontarkan lelaki tua itu.

“Dunia akan berada di ujung tanduk seekor kerbau seperti dongeng leluhur kalian yang sering kalian dengar setiap malam sebelum kalian tidur. Kerbau itu berdiri di atas ikan Nun. Ikan Nun itu hidup di Samudera Hindia yang berombak ganas.

Kalian akan tersenyum, hidup di dunia seperti itu. Kalian adalah penyebab semua itu, tersenyum bukan? Selain aku mewakili Jibril saat ini, aku juga mewakili…” Lelaki itu terdiam sejenak, menatap kedua lelaki itu, kembali menekankan kesiapan kedua lelaki itu untuk mendengar berita ini.

“Sebentar,” lelaki pertama tiba-tiba berdiri, “kau Malaikat Maut? Hendak meregang nyawa kami? Mencabut nyawa kami sebab kami tak akan siap menghadapi apa yang akan terjadi siang ini?”

“Benarkah wahai Paduka?” Lelaki pertama menghentakan kakinya, juga tiba-tiba berdiri.

“Kalian adalah orang-orang pilihan. Sudah cukup tugas kalian di bumi. Keindahan yang kalian ciptakan, keindahan yang kalian tatap kemudian kalian bicarakan sudah cukup mapan untuk berdiri sendiri. Tetapi sebelum itu, Tuhan merencanakan untuk segera mencabut keindahan itu.

Ya, aku adalah Sang Maut! Aku adalah Izrail!”

Dari arah selatan beberapa orang berpakaian seragam hitam-hitam, sekitar sepuluh orang dengan masing-masing membawa golok menyerbu masuk ke dalam taman. Berteriak-teriak menggaung. “Bunuh mereka…, bunuh…!”

Dua lelaki itu terkaget. Sulaiman sudah menghilang menjadi sebentuk bayangan. Mengangkat kedua lelaki itu.

Orang-orang berpakaian hitam itu mencincang tubuh kedua lelaki itu menjadi sebentuk onggokan darah, daging dan tulang.

Dua lelaki itu melayang diangkat Sulaiman yang menjadi Ijrail sambil tersenyum haru.

 

SM Bandung, 11 September 2002.

Seseorang menyuruhku berhenti mengetik.

 

 



[1] Kucing adalah binatang paling cerdas. Matanya hidup. Binatang kesayangan Muhammad S.A.W. Saat ini tiba-tiba seekor kucing berbulu belang, putih kuning mengeong seperti memperingatkan sesuatu padaku juga. Matanya menyorot tajam langsung tertuju ke mataku seperti kepada kedua lelaki itu.


Blog EntryUmbai Cacing (Dead End)Apr 5, '06 12:35 AM
for everyone

Tentang 6 Pintu Labirin Yang Terabaikan

 

Labirin 1

Truly menghempaskan badannya di sofa merah itu. melemparkan tas sekolahnya. meraih remote control. menyalakan tv keras-keras. memindah-mindahkan channel. Mtv. sudut kiri bawah: samantha impossible dream. everything is infrasonic. labirynth of dream #1 (feat. borges:). Terlihat wajah niskala, wajah karna, dalam video klip mereka. ada dirinya yang merah jambu. dia jadi bintang video klip buat lagu itu. lagu yang katanya tak bisa didengar manusia. "everything is infrasonic"

berkali-kali terhempas saat ada adegan karna memeluknya. dia memeluk karna. dengan wajah tak curiga sedikitpun. tulus. dia tak akan pernah curiga seandainya dia tidak melihat semuanya. dalam klip itu, semua ingatan terurai. ingatan yang itu-itu lagi.

siang tadi sekitar jam sepuluhan, saat istirahat. dia mabal dari sekolah , pergi ke mall bersama teman-temannya, cewek-cewek cukup badung, model, sedikit seleb. di mall, dia melihat semuanya. bsm memang besar, tapi proses kebetulan menjadikan dunia seluas apapun jadi sempit. dia sudah melihat semuanya. semua pertanyaan yang selama ini coba dia enyahkan. pertanyaan terjahat yang pernah terlintas dalam kepalanya. pertanyaan dengan jawaban paling tidak mungkin. dia telah melihat segalanya mungkin.

truly berlari kencang berharap pertanyaan itu tak pernah ada. melewati jalan gatot soebroto. tak mengindahkan teman-temannya yang khawatir. terus berlari hingga kelelahan di perempatan binong. terjatuh, mencoba menahan tangis. dian yang saat itu sudah dapat mengejar truly menolongnya, membopong menghindari tatapan orang-orang yang saat itu sedang menunggui angkot. dian meng-UTS (Under Three Second) rachel agar membawa mobilnya keperempatan. cepet!

truly pingsan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Labirin 2

termina tersedot dalam ruangan yang semakin panas menyelubungi seluruh tubuhnya dengan hentakan-hentakan musik trance dengan segumpal marijuana dengan visualisasi winamp, justin-superscope love. semakin tersedot, semakin dalam... semakin dalam...

suara-suara instrumen dan manusia robot berteriak, this is the sign...

 

truly menghempaskan tubuhnya di sofa. melemparkan tas sekolahnya ke sebelah meja, meraih remote control, menyalakan 31 inch di depannya, mtv...

tubuhnya sedang menggeliat diiringi lagu "everything is infrasonic" single kedua dari sid. dia jadi bintang videoklipnya. dirangkul karna.

hanya dia yang tahu, siapa karna, siapa niskala.

siapapun tidak tahu. terminapun tidak tahu. semuanya tidak tahu. hanya dia yang tahu. ya, dia tahu, semenjak kejadian sore itu di mal...

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Labirin 3

flower in my mind bersama iringan penari dalam semua bilangan-bilangan absurd seperti akar dua. menyuruhku untuk menghentikan segala keperluan-keperluan fantasi. seperti misalnya kau mencoba merengkuhku dengan segala panas yang selama ini tidak pernah kau tunjukan padaku. tapi aku tak pernah memprotes segala yang pernah kau lakukan itu padaku.

 

sore itu di mall...

truly sedang mengalihkan perhatiannya terhadap baju-baju yang merangsangnya untuk segera disikapi menjadi sebentuk pameran model baru itu di depan teman-temannya

pada saat itu dia melihat semuanya

dia melihat semuanya...

dibalik etalase transparan, di dekat sebuah toko aksesoris indian, dengan latar belakang poster-poster film yang akan di putar di 21. dia melihat semuanya, semua tabir yang selama ini menghantuinya dalam beribu pertanyaan. tabir yang menggetarkan sel-sel kelabunya untuk segera dipastikan menjadi hitam atau putih.

dia melihat semuanya...

sebuah eureka atas pengendapan-pengendapan yang selama ini selalu mengendap tak jelas, hanya menjadi sebentuk lumpur, odorless, tasteless.

ah, dia melihat semuanya...

semua jawabannya sekarang terpampang jelas dihadapannya seperti ribuan gajah dihunjamkan langsung ke pelupuk mata

menghentak, menghenyak

dan lalu truly berlari...

berlari sejauh mungkin

berlari dari bayangannya akan memamerkan model baru yang ada dihadapannya

berlari dari teman-temannya

berlari dari jawaban-jawaban itu

berlari keluar mall

ke pinggir jalan

ke perempatan

berlari...

dan lalu tak sadarkan diri. memeluk lantai trotoar dalam hening yang sangat panjang.

 

 

Labirin 4

truly menghempaskan badannya di atas sofa. beberapa kejadian mulai terurai lagi dalam memori panjangnya.

meraih remote control.

mtv

segelas juice jeruk datang.

makasih!

mtv, menyanyikan sebuah lagu dalam videoklipnya. dia menjadi bintang video klipnya saat itu.

karna mencoba memeluknya. tapi dia lebih bisa dipeluk niskala saat itu sebab niskala lah yang paling dekat dengannya. sekarang dia menjadi tahu, siapa karna, siapa niskala. keduanya teramat dekat satu sama lain dan satu sama lain teramat dekat dengannya.

ah andai kemarin sore dia tidak melihat semuanya. sekarang hanya dialah yang mengetahui semuanya. hanya dia, tiada yang lain. kesakitan lantas menyeruak lagi di sekujur tubuhnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Labirin 5

ah...

trully merebahkan badannya di sofa. sungguh hari yang sangat melelahkan. dia melihat semua hal yang paling tidak ingin dilihatnya. paling tidak ingin dilihatnya setelah dia curiga dengan beberapa hal akhir-akhir ini. paling tidak ingin dilihatnya setelah dia bertanya-tanya tentang beberapa hal yang berbeda yang mulai dicurigainya akhir-akhir ini. paling tidak ingin dilihatnya setelah dia mencium bau busuk yang seperti ingin ditutup rapat rapat sehingga tidak terjangkau penciumannya. paling tidak ingin dilihatnya setelah beberapa burung suit incuing terus menerus berkicau diatas atap gentengnya akhir-akhir ini. mencium bau kematian. bau busuk pengkhianatan.

hari ini semua terbukti sudah. dia melihat hal yang paling tidak ingin dilihatnya.

tanda-tanda itu sudah merebak menjadi sebuah kenyataan kuat. kenyataan yang paling tidak ingin dialaminya.

dia meraih remote control. menghidupkan tv. memindah-mindakan channel. mtv. sid. everything is infrasonic. labirynth of dream #1 (feat. borges:)

karna memeluknya dalam videoklip itu. sebuah kenangan. hanya dia yang tahu kenangan apa yang seharusnya terkenang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Labirin 6

truly dan rachel melangkahkan kakinya menuju siang hari yang terik. setidaknya rachel saat itu menjadi saksi mata selain dian, bahwa truly memang benar-benar keluar sekolah bersamanya sebelum jam belajar usai.

hari memang teramat terik, sehingga rachel mengajak truly untuk mencari tempat ber-ac yang cukup dingin. tempat ber-ac yang cukup dingin terletak di bsm tentu saja.

lalu rachel menelepon dian yang sedang berada di kelas. dengan diam-diam tak ketahuan guru dian mengangkat telepon dan menerima sinyal dari rachel untuk segera meninggalkan kelas. rachel dan dian tidak sekelas.

dian tahu bahwa truly semenjak istirahat tadi seperti mengelami masalah yang besar. dia perlu jalan-jalan. dian mengambil kunci mobil dari tasnya, dan meminta izin ke toilet kepada gurunya.

dengan sedikit berlari dian menyusul rachel dan truly di luar gerbang sekolah. mengedipkan sebelah matanya yang menggoda kepada pak satpam. pak satpam cukup paham terhadap kelompok anak itu. beberapa bungkus rokok dan berlembar puluhan ribu akan segera dia terima sekembalinya mereka dari mabal.

mereka lantas meninggalkan sekolah itu. dian menghidupkan ac mobilnya. kemana kita sekarang. bsm.

andai saja dia tidak ke bsm siang itu. andai saja mencari tempat ber-ac lain semisal atm atau kafe di sepanjang dago misalnya. andai saja dia menahan pusingnya di kelas tanpa harus mabal. mungkin dia tidak akan menambah pusingnya dengan pemandangan yang dia lihat di dekat bioskop itu. mungkin dia tidak akan sepingsan sekarang. sepusing sekarang.

sekarang dia sudah tahu semuanya. semuanya yang selama ini hanya menjadi segumpal pertanyaan abu-abu. segumpal tanda tanya yang menyeruak dalam setiap geraknya, jalannya, makannya dan lain-lainnya.

 

 

 


Blog EntryChapter XVIIApr 5, '06 12:31 AM
for everyone

Chapter XVII

 

Suatu ketika Adam membaca beberapa Cerpen yang  saya buat, dan salah satunya adalah cerpen yang berjudul “Akhir Dari Sebuah Akhir”. Cerpen tentang skizoprenia Karna. Cerpen ini memang saya dedikasikan untuk Niskala dan Karna. Lalu saya meminta suami saya, Adam, untuk mengkritik karya tersebut.

Dengan nada agak sedikit emosi dan bersemangat dia berkata, “Literer, Meky! Terus terang gue udah muak dengan karya yang orally seperti ini. Coba loe perhatiin literer. Karya yang literer! Loe orally banget dalam cerpen ini.”

Lalu saya mencoba menjelaskan bahwa saya sedang bereksperimen dengan gaya penulisan dan saya bilang bahwa apabila pembaca jeli maka dia akan melihat sesuatu yang lain dalam cerpen ini. Dan berbagai alasan lain untuk menahan serangan dari Adam.

Tetapi dia malah berkata, “Gue sebagai pembaca nggak peduli ama alasan-alasan kayak gitu. Artinya kalo pembaca nggak kenal ama loe maka mereka gak bakalan tau dengan hal-hal yang loe utarain tadi.”

“Tapi itu yang menarik kan, Kenty? Maksud gue ketika seseorang nasibnya baik maka dia bakalan nerima karya sekaligus author-nya. Orang-orang seperti yang loe contohin tadi cuma bernasib nggak lebih baik aja. Isn’t it?”

“Ya, terserah loe deh! Cuman hal yang menarik dari cerpen loe ini menurut gue adalah loe bermain dengan subyek. Itu aja!”

Lalu saya bilang, “Ok!”

Tapi terlepas dari itu semua, berikut ini adalah cerpen itu dan sengaja ditempatkan di akhir agar sesuai dengan judulnya:

 

Akhir Dari Sebuah Akhir

 

Kurasa sudah saatnya aku menambah beberapa impian dalam kegagalan otak sadarku untuk berpikir ketika aku bangun. Lihatlah, betapa angkuhnya kelemahan sarafku hingga tak dapat lagi aku melihat dunia dengan dua mata!

Entahlah!

Tapi aku terus memandangi photomu, dan selalu kulihat watak yang berbeda dari penerjemahan kerlingan matamu dalam lampu bohlam di kamarku yang dapat kuatur cahayanya. Ketika terang engkau seperti ingin mengatakan bahwa hatimu kelaparan akan keindahan yang tak dapat lagi kau dapatkan hanya dengan selembar uang lima puluh ribu atau bahkan berkoper-koper. Tapi justru ketika lampu kuredupkan wajahmu semakin berseri dan kau seolah berkata padaku, “Sayang, jangan terlalu kau khawatirkan aku! Aku sudah terlalu lama hidup di dunia, aku bosan dengan keindahan yang hanya seperti itu dan terus seperti itu. Aku bosan dengan suara deru kendaraan. Langit yang selalu biru di siang hari, selalu hitam di malam hari. Tanah kuburan seakan memberikan promosi yang sangat sugestif pada diriku, hingga aku melakukannya. Yah…, tapi aku menikmatinya.”

Truly, kenapa begitu cepat. Kamu masih terlalu muda dan bahkan televisi Jhonson di rumahkupun lebih tua dari umurmu. Aku masih begitu sayang padamu, hingga aku takut berpisah dan membayangkan perpisahan itupun terasa amat sakit seperti kangen yang begitu lama kupendam. Lidahku terasa begitu pahit padahal tak sebutir obatpun kuminum. Aku sakit. Aku lumpuh. Aku buta. Dan tertawa tampak tidak lucu pada saat ini, maka aku tidak tertawa. Aku menangis!

Truly, bukankah kau pernah mengatakan padaku bahwa hiduplah dengan mudah dan tersenyumlah dengan lepas agar jiwamu ringan dan kau bisa melayang kemana saja, tanpa beban! Ingatkah kau? Lantas kalau kau ingat, kenapa pada saat aku harus mengatakan hal yang sama padamu, kamu pergi begitu saja? Dan tak kau beritahukan sedikitpun kesakitanmu padaku. Padahal aku sangat ingin merasakan beban yang menjadikan kamu begitu mudah menelan pil-pil tidur itu. Aku kembali menangis, aku tak sanggup membayangkan rona merah di wajahmu yang selalu menghias pagi hari di depan gang ketika kau akan berangkat kuliah. Tapi sekarang rona merah itu menjadi putih pucat tanpa sedikitpun aura yang biasanya mengelilingi sekujur tubuhmu.

Kenapa kau lakukan itu. Ah! Truly, aku benci kamu. Kau tinggalkan aku sendiri, hampa. Aku rindu... Aku gila!

 

*

 

Hingga malam, kudentangkan gitar dengan nada-nada fals seperti hidupku. Kunyanyikan lagu-lagu cinta seperti seolah tiada lagi yang lebih berarti dalam hidup ketimbang cinta.

Tiba-tiba datang Niskala. Dia bercerita padaku tentang hubungan cintanya yang kandas gara-gara hal kecil yang sebenarnya masih bisa diselesaikan. Cinta lagi! Apa tidak ada kisah lain yang lain selain kisah cinta? Selalu cinta… selalu tentang cinta. Aku muak, sambil menghembuskan asap rokok ke mukanya.

“Sebentar, Kawan! Bukan hubungan cinta dengan wanita, tapi dengan Tuhan. Gue lagi berantem berat ama Dia.”

Aku tak peduli. Lalu aku tinggalkan dia. Aku keluar kamar kost-ku. Kulangkahkan kakiku mengikuti ibu jari yang entah berapa lama tak kupotong kukunya. Semerbak harum getah-getah pohon flamboyant mengiringi langkah dan lamunanku. Dingin malam tak terasa. Tiba di pinggir jalanan sepi, aku berjongkok dan mataku menerawang ke arah langit yang malam ini enggan menampakan bintang-bintangnya. Sepertinya enggan untuk memberiku keindahan. Disitulah aku sepanjang malam itu hingga tertidur.

Pagi hari, lebih tepatnya menjelang tengah hari aku dibangunkan oleh suara klakson bis kota yang mengangkut para mahasiswa dan pedagang-pedagang pasar yang baru pulang. Aku menggeliat dan menoleh ke sekelilingku. Begitu riuh. Aku berdiri dengan sisa kantuk yang masih menyerang sarafku. Sambil sempoyongan berjalan menuju kamar kost-ku yang tak jauh dari sana.

Sesampai disana kutemui Niskala masih tertidur. Dan seorang gadis sedang membaca majalah.

“Hai!” sapaku.

Dia terkejut dan menoleh ke arahku.

“Karna, dari mana saja?” kata If.

“Sejak kapan disini?”

Dia tak menjawab. Dia hanya memelukku sambil mencium pipiku dan menarikku kedalam kamar. Lalu dia menuangkan segelas air putih dari botol dan memberikannya padaku.

“Minum dulu! Berantakan sekali kamu. Dari mana sih? Tertimpa gunung batu ya? Aku kangen.” Katanya.

Aku hanya terdiam setelah menenggak habis air di gelas itu. Aku terus terdiam sambil tertunduk. Dia pun terdiam sambil memperhatikanku. Sepetinya tidak menunggu jawabanku. Dia mengerti bahwa ini bukan saatnya aku memberikan jawaban. Dia sepertinya tahu bahwa aku sedang menghadapi sesuatu yang berat.

Selanjutnya, aku berteriak-teriak. Dia keheranan dan mencoba menenangkanku. Aku terus berteriak dan mengamuk hingga Niskala terbangun dan langsung membantu If menenangkanku. Hingga aku menangis dalam pelukan If.

“Aku ingin mati saja, aku ingin mati!” ratapku.

If menepuk-nepuk punggungku dan membelai-belai rambutku dengan lembut.

“Sudahlah, Sayang! Tenangkan dulu, baru setelah itu ceritakan apa yang terjadi! Mungkin aku bisa membantu.”

Aku terisak-isak dan lalu tak sadarkan diri.

 

*

 

Paris, 9 Agustus 2000

(musim semi disini...)

aku lari kesini dengan hampa

tanpa daya dan kehancuran

aku tak lagi bisa membuka kelopak mataku

keningku bersimbah keangkuhan

tanpa cinta

tanpa air mata

aku mengering di musim semi ini

haruskah aku kembali...?

 

Bonn, 12 Agustus 2000

(juga musim semi...)

ternyata aku masih mengering

dalam bus travel ber-AC

yang kurasa sangat menyesakan setiap hirupan nafasku

 

Athena, 20 Agustus 2000

di kota kuno ini

aku dapatkan pencerahan

kucoba membunuh diriku

tapi tak berhasil...

aku dipulangkan!

 

Jakarta, 25 Agustus 2000

(sedang musim kemarau...)

aku menangis

betapa rindunya aku

dengan musim kemarau

meski aku jadi semakin mengering

 

 

Bandung, 27 Agustus 2000

hari pertamaku

kuhabiskan dengan

meminum dua gelas kopi tubruk

dan sebungkus rokok kretek

dengan memandangi lalu lalang peradaban

di hadapanku

bersama seorang anak kecil lusuh

yang berjuang dengan bahagia

membagi masa kecilnya dengan sepiring duka yang tertawa

seperti aku...?

 

Cianjur, 29 Agustus 2000

disini, di kota asalku

di pangkuan ibuku

aku menghembuskan nafas terakhirku (kurasa...)

dalam kekeringan yang amat panjang

aku rindu Truly…

 

*

 

Kusangka aku telah mati

bersama segala perih hati

tetapi selimut putih itu mulai membuka lagi

tak lagi menutupi sekujur tubuhku

ah...

betapa sejuk disini!

surgakah ini?

 

*

 

Pertemuan kami sebenarnya biasa-biasa saja. Pada tempat yang biasa, moment yang biasa, suasana yang biasa dan bukan hari yang istimewa.

“Namaku Karna!”

“Truly!” Katanya sambil memegang erat tanganku.

Dalam benakku, cantik, sepi atau single? Sebenarnya wajahnya biasa saja, sederhana dan terbantu oleh penampilan yang cerdas. Rambut yang selalu terurai, mata yang selalu terang di siang hari dan cerah di malam hari. Wajah khas dengan karakter kuat yang mungkin mempunyai garis ras yang asli tanpa terlalu banyak campuran.

Aku memikirkannya hingga pulang ke rumah, hingga malam, ketika makan, ketika mandi, hingga aku tak bisa tidur.

Cantik?

Sepi?

Single?

Entahlah! Hanya kedalaman jiwanya yang dapat kurasa.

Entahlah! Nyatanya aku tertidur nyenyak sekali.

 

*

 

Dulu…

Bukankah sering dikatakan  Truly bahwa ia masih gadis, ia masih gadis! Truly masih gadis? Mana mungkin! Beberapa hari yang lalu ia kulihat sedang telanjang bersama entah siapa di kamarnya, ketika aku ke rumahnya. Aku tak percaya kalau ia masih gadis. Meski aku belum pernah bercinta dengannya. Belum mencobanya.

“Aku masih gadis!” katanya selalu.

“Aku tidak percaya!” kataku dalam hati.

Itulah awalnya aku bermain bahasa jiwa dengannya.

“Selama ini orang berpacaran dengan ikatan emosi, kau tahu!” kataku

“Maksudnya?”

“Ya, saling mencintai, menyayangi atau apalah… Bukankah itu emosi dan bukannya pikiran?”

“Ya, benar. Lantas…?”

“Lantas kenapa kita tidak mencoba melakukan suatu hubungan dengan ikatan pikiran dan emosi yang seimbang.”

“Untuk apa, apa bedanya?”

Aku tak menjawab. Biarlah dia mengerti sendiri jawabannya. Itulah awalnya aku mengajak Trully menjalin suatu hubungan.

Truly, sebuah nama yang anggun dan berani. Aku tahu sebab aku adalah Eros dan Truly adalah Anteros. Kebencian? Entahlah!

Dia yang selalu mengatakan bahwa dia mempunyai perasaan khusus untukku. Perasaan khusus, dia tak pernah tegas menyatakan dengan kata cinta. Hingga akhirnya aku mencintainya. Untukku cinta terlalu dalam. Hingga disini aku memang mencintainya.