| |
ervin's posts with tag: fiksi-fiksi bohlam
A lucid dream, also known as a conscious dream, is a dream in which the person is aware that he or she is dreaming while the dream is in progress. During lucid dreams, it is possible to exert conscious control over the dream characters and environment, as well as to perform otherwise physically impossible feats. Lucid dreams can be extremely real and vivid depending on a person's level of self-awareness during the lucid dream.[1] A lucid dream can begin in one of two ways. A dream-initiated lucid dream (DILD) starts as a normal dream, and the dreamer eventually concludes that he or she is dreaming, while a wake-initiated lucid dream (WILD) occurs when the dreamer goes from a normal waking state directly into a dream state with no apparent lapse in consciousness. Lucid dreaming has been researched scientifically, and its existence is well established.[2][3] Scientists such as Allan Hobson, with his neurophysiological approach to dream research, have helped to push the understanding of lucid dreaming into a less speculative realm. wikipedia Before Sleeping: saya melakukan hal dibawah ini secara bersamaan - Saya mengaktifkan audio software Atmophere Deluxe dengan atmosfir Storm dengan volume 60 % di PC saya - Saya mengaktifkan audio softaware I-Doser dengan dosis Lucid dengan volume 30% di PC saya - Saya memutar video Scotch Mist Radiohead dengan volume 90% di PC saya dengan kondisi repeat playlist di Windows Media Player di Screen 1 dan Visualisation di Screen 2 dengan tema Ambient - Saya menghisap selinting tembakau tampang dilinting dengan daun kawung dengan campuran hashish yang saya produksi sendiri dan sedikit tambahan Apel Jin yang saya beli di pasar tradisional - Lampu kamar saya gelapkan - Saya minum sebotol Beer Organic Storm Gold yang dikirim seorang teman dari Bali - Saya makan sebatang coklat Cadbury Black Forest - Saya membayangkan adegan-adegan di novel saya yang baru yang sudah selesai 50% berjudul Fiksi-fiksi Bohlam dan Beberapanya Padam - Hingga saya ketiduran Lucid Dreaming: Adegan pertama saya berada di dalam sebuah kereta kencana, yang saat itu sudah tidak asing lagi buat saya, di atas laut yang tidak berombak, kereta itu tidak melayang, saya tahu, tapi saya tidak tahu bagaimana kereta itu berjalan, apakah menyentuh air atau tidak, keretanya tidak berkuda. langit mendung, tapi matahari, bulan dan bintang datang bersamaan. Saya ditemani seorang perempuan yang saat itu saya rasa sebagai Istri saya, tapi saya tidak pernah melihat perempuan ini di dunia nyata. dia memakai mahkota, saya lupa bentuk mahkotanya, tapi yang pasti bertabur berlian, karena saya bisa melihatnya gemerlapan tertimpa cahaya matahari yang muncul dari sun roof kereta kencana itu. hingga adegan ini saya belum tahu bahwa saya sedang bermimpi dan terasa sangat nyata. di adegan ini saya hanya jadi penonton pasif, semua diarahkan oleh skenario mimpi dengan sutradara entah siapa. Adegan kedua, saya mengetahui bahwa itu mimpi, kemudian saya mencoba untuk bangun, karena entah kenapa suasananya terasa horor, mungkin karena pandangan perempuan itu yang begitu dingin. saya mendengar lamat-lamat suara-suara dari PC saya, dan melihat gemerlapan visual dari screen 2. anehnya saya tidak berada di kamar saya ketika terbangun itu. lalu saya bangkit dan mencoba keluar dari kamar itu, ternyata pintunya langsung ke luar rumah, saya melihat sebuah lapangan luas, saya tidak tahu masih mimpi. di lapangan itu berjejer jutaan manusia, telanjang, tapi tidak mendengar sedikitpun suara manusia, hanya sebuah lagu yang berasal dari sebuah panggung concert yang megah dan saya melihat radiohead sedang concert membawakan lagu Nude, tapi volumenya kecil sekali. saya sangat girang dan mencoba mendekati panggung, ingin melihat radiohead lebih dekat. saya melewati manusia-manusia telanjang itu, dan kaget ketika melihat pandangan mereka kosong seperti mayat, terarah lurus ke arah panggung yang gemerlap. ketika sudah berada tepat di depan panggung, volume lagu dari sound-sound besar itu tetap sekecil tadi, saya heran, dan baru sadar bahwa saya masih berada di dalam mimpi, tapi kali ini saya menolak bangun, karena sangat ingin bertemu Radiohead di belakang panggung, lalu saya menuju kesana, menunggu mereka selesai manggung. tiba-tiba guntur dan halilintar bersahutan ditimpa suara noise panjang dan hujan yang lebat. saya mencoba berteduh di sebuah tenda putih, dan melihat semua personil Radiohead berada disana. saya kaget, ekspresi mereka sama kosongnya seperti orang-orang yang di luar. saya bertanya kenapa pada thom yorke, dia menjawab tergagap, dan tiba-tiba mereka malah memainkan musik di tenda itu dengan lagu Weird Fish Carpegie masih dengan ekspresi muka yang kosong. bulu kuduk saya merinding, saya keluar tenda. di luar suasana sudah berubah, menjadi di pinggir pantai, sangat mendung, berkabut dan saya melihat sebuah laut tanpa ombak dan tanpa akhir. tak ada apa-apa. saya benar-benar berada di atas air. ketika sadar hal itu, saya tercebur dan lantas tenggelam karena tiba-tiba saya tak bisa bernang. lalu ada sesuatu yang menarik kaki saya, entah apa...saya meronta, terus meronta dan terbangun dalam keadaan banjir keringat, basah, jauh dari tempat tidur. Adegan ketiga diawali dengan hal itu, banjir keringat, basah, jauh dari tempat tidur, tapi saya berada di kamar saya. anehnya, kali ini kamar saya terang benderang dengan empat lampu halogen di tiap sudut kamar, dan kamar saya kosong, kecuali seseorang yang terbujur kaku dangan erangan minta tolong di salah satu sudut kamar, seorang perempuan, badannya belepotan darah, tapi saya tidak melihat luka sedikitpun di tubuhnya, dan saat itu saya baru sadar bahwa darah itu berasal dari luka-luka di sekujur tubuh saya, juga baru sadar bahwa saya bukan basah oleh keringat, tapi oleh darah, saya menjerit kaget, meski bukan karena rasa sakit, karena tidak terasa sakit sedikitpun, jeritan saya ternyata tidak mengeluarkan suara sedikitpun. saya berlari keluar kamar. diluar sepi, tak ada orang, hening mencekam. matahari bulan dan bintang berada bersamaan di arah barat dalam cuaca mendung, tapi saya bisa melihat jelas mereka. kesadaran saya tiba2 mengatakan bahwa kiamat tinggal tiga hari lagi, dan bumi akan gelap selama tiga hari ke depan. lalu ponsel saya berdering, sekali, dua kali, tiga kali. baru saya mengangkatnya. halo? halo? dan ponselnya masih berdering, tapi ada suara menjawab di ear phone-nya. ervin, katanya, saya tuhan... semuanya tiba-tiba berputar dengan iringan dering ponsel... dan saya benar-benar terbangun...dengan jantung berdegup kencang...seseorang menelepon saya...saya mengambil ponsel...melihat nomornya 0818160*** saya mengangkatnya, halo? di luar hari sudah siang, PC saya sudah mati, dimatikan adik saya, suara di seberang menjawab, halo, ervin? suara wanita yang tak asing di telingaku ya, jawabku. aku kangen kamu, katanya dengan terisak... saat itu saya langsung tahu bahwa saya masih mimpi...dan langsung mengendalikan semuanya...menjawab isakannya...ya, aku juga kangen kamu...tiba-tiba perasaan bahagia menyeruak dalam diri saya...dan saya ingin mimpi itu berlanjut terus, menolak bangun... dan saya benar-benar tidak pernah bangun lagi...terjebak dalam kebahagiaan itu, dalam mimpi itu... :')
maka gw akan melihat dengan mengutip mata jean luc godard saat melihat adegan-adegan godarian maka gw akan mendengar dengan telinga ray manzarek saat dengerin jim baca puisi maka gw akan mencium dengan hidung jean-baptiste grenouille saat baru lahir dan mencium aroma ikan busuk, kota paris abad 18 dan bau darah yang keluar dari rahim ibunya dan saat dia sadar bahwa dirinya tidak memiliki bau maka gw akan berpikir dengan otak nicola tesla saat memainkan petir dan letupan2 gelombang listrik maka gw akan berbicara dengan mulut thom yorke saat tergagap dalam wawancara di sebuah radio perancis ketika menjelaskan kenapa radiohead saat itu hanya dimainkan dia dan jonny maka gw akan merasa dengan hati don juan de marco saat ditawan kerajaan wanita itu maka gw akan meraba dengan tangan val killmer dalam first sight saat pertama kali bisa melihat lagi maka gw akan melangkah dengan kaki jack kerouac saat meminang beat generation dengan on the road maka gw akan menulis dengan tangan jorge luis borges saat membuat borges and i maka gw akan bernyanyi dengan pita suara beth gibbons saat menemani rustin man sebelum portshead third maka gw akan melukis dengan tangan luther van gogh saat ditemui akira kurosawa dalam dalam lukisannya di mimpi akira maka gw akan berkaca dengan cermin tarsah saat harry potter melihat ibu dan ayahnya disana maka gw akan berdiam dengan semedhi govinda yang mengimitasi siddharta di sebuah kuil sunyi di selatan india maka gw akan... (to be continued)
Menjadi tapi tidak terjadi. Mengada tapi tak ada. Begitulah sekira-kira adanya. Ada menjadikan tak-ada, tak-ada menjadikan ada. Begitupun juga sekira-kira ada-nya dan ke-tak-ada-annya. Hingga begitulah kami, saling mengada, saling mentak-ada, saling melengkapi dengan ribuan aksesoris kosmis yang pernah menjadi mimpi-mimpi muda kami. Kiranya beginilah saat abu-abu berada pada pose tercantiknya. Abu-abu tercantik. Bukan abu-abu terbaik. Aku tak begitu ingin mendapatkan yang terbaik dari abu-abu, cukup yang tercantik, yang terindah. Abu-abu yang memberikan siluet-siluet panjang pada frekwensi suara 1 kH, dengan spektrum-spektrum yang membuyar terbelah-belah pada frekwensi yang berbeda-beda dengan akronim non-acak mejikuhibiniu: Merah: saat abu-abu sedang matang di pohon, siap di petik. Ranum, menggiurkan, menderaskan ludah menjadi lebih cair. Fresh! Jingga: saat abu-abu sangat matang, siap disantap. Tersaji pada meja makan, dengan pisau kupas disebelahnya, sensasi rasanya melonjak pada ujung-ujung lidah. Fade! Kuning: saat abu-abu mengurai kiri dan kanan, mengurai perbedaan, mengurai interaksi, bersosial, mendikotomikan hitam dan putih. Taboo! Hijau: saat abu-abu bermunculan dari dasar bumi, mencengkeram tanah, meresap air, menyejukan senyum dan tangis, meredakan tawa dan marah, segar.... Memanjakan mata, melonggarkan dada, menetralkan asap. Cool! Biru: saat abu-abu mencoba bangkit, mewarnai kembali langit, mengkontras gunung dan tanah, mengharmoni laut, terbang berserakan menjadi selimut angkasa di langit utara di siang redup tak berawan. Blue! Nila: saat abu-abu terpuruk pada titik terendah dari kesakitan, terbangun, menggeliat, merusak putih pada titik terhitamnya, bersembunyi pada warna-warna coklat, berharap luntur. Tragic! Ungu: saat abu-abu mendandani wajahnya, mengemas tubuhnya, memeras otaknya, menjadi cantik luar biasa, dengan berpuluh nama, ungu, violet, purple, magenta, gandaria,...venus...magdalena...kartini...woolf...eva...if...samantha...sekala.... Illana! Abu-abu tercantik, rumah kami sekarang, senyum kami sekarang, kerinduan kami sekarang, amarah kami sekarang, cinta kami sekarang, realitas kami sekarang, romantisme kami sekarang. Berpijak pada intuisi dan keyakinan, pada pikir dan emosi, tuhan dan dewa-dewi, pada ikatan pernikahan yang sudah kami laksanakan diatas pualam dan tergenangi air hangat, sehangat senyum kami berdua, sehangat tumpahan nafas di tumpukan setengah waktu file-file masa lalu kami berdua: Oh Tuhan dan Dewa-Dewi Kami berdua saling mencintai
Dalam gelap dua dunia… Menunggu pagi terhengkang… Kuikuti irama bumi tercengkeram mati, dua arah dan terhempas Jelas terhempas… Dua arah… Darah tercecer dan mengalir… Dari janin suci dua nabi… Tentang dua benda, terpisah amat jauh Yang satu belahan dari satunya Dan satu…satunya Hanya awan... Hanya kelip cahaya… Membutakan… Sebelah mataku Tapi kicau burung… Yang menjadi mitos… Membutakan… Seluruh mataku Seluruh mataku Seluruh mataku… Drama tak akan berhenti… Kematian demi kematian… Terus menggorok lubang nafas bumi yang menangis; api menangis-padam-membakar air matanya… Selamanya Dan untuk benar atau salah Aku tak peduli Biarlah tuhan sibuk dengan pekerjaannya Biarlah iman ini menjadi milik sang waktu Sebab aku adalah tak ada… Aku sudah mencapai titik nihil* Titik dimana ilmu pengetahuan belum lahir Peradaban dan kebudayaan belum lahir Dan aku bukanlah apa-apa… *)dari sebuah percakapan
(pasti tokcer…! ;-)) Rahasia 1. Ini yang paling tidak dijaga Joey, artinya apabila teman-temannya pada akhirnya tahu, dia gak begitu peduli. Ini tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Joey sebagai sebuah rahasia, tapi kemudian, karena Joey takut kehilangan hal ini maka Joey menyembunyikannya dari dunia kecuali kamarnya. Ya, Samantha. Inilah rahasia Joey yang pertama. Samantha yang sangat dicintainya. Samantha yang selalu terbaring disampingnya saat malam-malam bersalju. Rahasia 2. Niskala, ini yang kedua. Rahasia 3. Asal-usul keluarganya. Rahasia 4. 5 cm tanda lahir di selangkangannya. Rahasia 5. Kematian rekan kerjanya pada sebuah malam Rahasia 6. Mencuri lolly pop kakaknya saat dia berumur 6 tahun. Rahasia 7. Harta karun di sebuah pulau. Rahasia 8. Keterlibatannya dalam tragedy Trisakti dan Tragedi Semanggi 1 dan 2 Rahasia 9. Drugs Rahasia 10. Ditampar seorang wanita pada suatu pagi Rahasia 11. Onani sambil melihat wajah Terra Patrick dan Asia Carerra saat kuliah di UI dulu. Rahasia 12. Punya passport palsu Rahasia 13. Pernah ngejam secara dadakan di sebuah café di ubud dengan eddy veder, ini harus dirahasiakan, sebab bakal bikin sirik anak-anak yang lagi bikin petisi kepada pearl jam supaya mau ke Indonesia, padahal Eddy Veder sering banget datang ke Ubud untuk dalam rangka pertemuannya dengan para aktivis dan petinggi-petinggi LSM di seluruh dunia yang diadakan secara rahasia setiap dua tahun sekali. Rahasia 14 Pernah masuk rumah sakit jiwa Rahasia 15 Pernah diculik oleh sebuah organisasi rahasia Rahasia 16 Pernah di cuci otak Rahasia 17 Seorang agen intelejen sebuah Negara tanpa wilayah. Dan sedang mempersiapkan coup de ‘etat terhadap presiden boneka para penjajah.
- Huruf --- Angka - Usung --- Lempar - Turut --- Berontak - Lambung --- Lurus - Kata --- Gejala - Doa --- Serapah Ribuan digit dalam angka-angka 0 dan 1 yang terkombinasi secara ajaib menjadi program-program pembentuk semesta. Seperti symbol pertama untuk jantan dan betina, 0 untuk ovum dan 1 untuk sperma, lalu tercipta 0 dan 1 dalam deret-deret yang tak terkira panjangnya dalam baris-baris yang baru, menyatu utuh menjadi program dalam rupa Zygote, awal manusia baru, aku. Aku saat ibuku melihat garis merah pada test-packnya dan memastikan bahwa aku tetap aman meski ibuku tahu ayahku sedang mengkombinsikan 0 dan 1 yang lain bersama wanita sumber air mata darah ibuku. Mengingat hal ini seperti menghunjamkan kembali pendarahan ibuku pada ingatan terperih dalam hidupku, jauh tersimpan dalam folder yang disembunyikan dengan aman meski tak seaman yang kukira. Berkali-kali aku melempar ingatan-ingatan perih ini, tapi ini semuanya read-only files. Aku tak bisa menghapusnya, selalu ada alat untuk melacak jejak-jejaknya, meski asing, tapi selalu perih. Aku benci search engine. Tanpanya hidupku bisa jauh lebih ringan tanpa beban ingatan-ingatan yang kunamai perih itu, sebuah program file yang tersimpan dalam system 32 yang sudah merangsek seperti virus dan mengacaukan program-program lain yang ada di dalamnya. W/32-Perih, seorang temanku menamai Worm ini. Tidak merusak tapi mengganggu. Up Date-an terbaru dari semua jenis anti virus, yang canggih sekalipun, tidak mampu membunuh program Worm yang ini. Malah ada beberapa anti virus yang jadi kacau dalam mendeteksi hingga menghapus file-file penting dan program-program penting. Hingga sering kali kepalaku nge-hang dan harus di restart. Dan seringkali pula program bootnya bener-bener rusak hingga aku tak bisa masuk kedalam hidupku sendiri dan harus di install ulang. Sakit sekali. Menguliti-menghapus-mengganti baru hampir semua program agar bisa diaplikasikan kembali. Capek, butuh waktu lama dan lebih banyak merasa kehilangan. Setelah itu, W/32-Perih tak pernah benar-benar terbunuh, masih melekat dan menjalar dan menyebar dalam folder-folder yang tak terdeteksi keberadaannya. Ku-nonaktifkan program search-engine-nya. Dan setelah ini hidupku harus benar-benar disusun dalam mekanisme meraba-raba, meski akan jauh lebih capek ketimbang pake search engine tapi jauh lebih aman, kemungkinan resiko mendapat serangan W/32-Perih akan jauh lebih sedikit dan tentu saja lebih aman untuk lambungku sebab penyakit maagku kambuh bila W/32-Perih beraksi.
Pertanyaan kenapa Aroel memilih Maria terjawab. Aku bertemu dengannya dalam sebuah acara music di Bandung. Kesempatan itu saya gunakan untuk mewawancarainya, berikut adalah petikannya; Kenapa Maria? Karena pamanku, dia ngefans banget sama Maria, bahkan dia punya koleksi kasetnya. Koleksi kasetnya? Bukannya Maria hanya memiliki satu album saja? Iya, tapi pamanku memiliki beberapa album kompilasi yang ada Maria nya, ada sekitar 6 kaset, tapi dari kesemua kompilasi itu gak ada satupun memakai Maria sebagai Hits Single, makanya Maria seperti gak kedenger lagi kiprahnya. Terus lagu-lagu cover Maria yang dibawakan, beberapa, oleh penyanyi-penyanyi 90an, kayak Yuni Shara atau Reza, tapi gak jadi single hits, cuma biar tracknya banyak aja… terus pamanku juga punya koleksi kaset-kaset Maria yang dia beli dari kota-kota yang berbeda. Kaset yang sama? Ayo Berdisko? Ya.. Wow… sebegitu ngefans nya ya? Oh kalo yang ini nggak, bukan karena ngefans, tapi karena pamanku dulu kerja di Recording Company yang mengeluarkan album Maria. Dan kerjaannya keliling Indonesia, ngecek pemasaran kaset-kaset, dan membeli kaset-kaset keluaran recording company itu sebagai bukti bahwa kaset mereka sudah masuk ke kota itu. Dan Pamanmu menyimpan semua bukti kaset itu? Yup! Tapi Cuma Maria dan beberapa lainnya, soalnya yang lain di simpen di gudang kantor untuk dijadikan stok penjualan Oh, jadi dijual lagi? Ya iya lah, mereka kan gak mau rugi… Seneng banget ya punya Paman yang kerja di Pabrik Kaset…terus, bagaimana bisa bertemu Maria? Wah, aku belum pernah bertemu Maria, semua sampling suara Maria aku ambil dari kasetnya… seperti dugaan mu pada tulisan sebelumnya. Kami bahkan belum berkomunikasi sama sekali, dia gak kenal aku. Hak cipta dipegang label, terus mereka udah gak ada ikatan royalty lagi, semuanya dah dibayarin ke Maria. Dan mereka juga gak pernah mencetak ulang Album-albumnya. Labelku sama dengan Maria, itulah kenapa aku gak perlu repot urusan-urusan Hak Cipta… I see… tapi kok kontraknya aneh sih? Jaman itu, produsernya jahat-jahat… liat aja sekarang, kita bakal susah banget dapet ijin recycle lagu-lagu 80an… bakal dihargain mahal banget… sial, itulah kenapa orang lebih banyak nge recycle lagu-lagu 60-70an Kamu tahu Maria dimana? Gak. Terakhir gw denger tahun 90an katanya dia pernah bikin band, dan dah sempet ngeluarin album, tapi saat itu gak ada yang Notice kalo itu Maria penyanyi 80an. Nama Band nya Clarinet. Terus konsermu nanti siapa yang nyanyi? Oh, aku gak akan konser… Cuma bikin album doang… Promosinya? Media… TV, Radio, Internet Pembuktian? Kupikir jaman sekarang dah gak perlu melakukan pembuktian melalui konser kok, toh tanpa itu kaset bisa tetep laku. Tapi kan berarti gak dapet tambahan uang? Album ini kan cuma side project… aku sih kalo manggung tetep ama Stereomantic. Kapan Stereomantic ngeluarin album baru? Kayaknya belum kepikiran deh, soalnya kan aku masih-sibuk-sibuknya ngurusin promosi album Let’s Disco! Paling entaran dipikirinnya… Ok, Roel… Thank’s ya… Sip!
 I. Aku punya seorang teman. Namanya Ervin. Rumahnya di kota cianjur. Selama hidupnya di cianjur hanya berpindah rumah 2 kali. Pertama ke BTN Joglo. Yang kedua hanya menyebrang. Kemudian dia bersekolah, sekelas denganku waktu SMA. Dia aneh, jarang ada yang mau menemani dia, kecuali aku, soalnya aku juga sering dibilang aneh oleh teman-temanku, karena aku sumbing. Ervin sering meledek aku. Menirukan orang sumbing kalau bicara. Tapi aku tak pernah sakit hati karena aku tahu Ervin hanya bercanda. Aku selalu merasa nyaman kalau dekat Ervin soalnya dia tak pernah peduli aku sumbing atau tidak. Dia sering meledek orang-orang. Mungkin salah satunya gara-gara itu dia jarang ditemani orang-orang. Tapi gara-gara itu pula aku merasa diperlakukan seperti orang biasa olehnya. Meledek adalah kebiasaanya, dan dia tak pernah segan meledek orang secara fisik, seperti padaku dengan meniru gaya orang sumbing bicara. Aku malah jadi tertawa dibuatnya. Bahkan lama-lama akhirnya aku juga malah meladeninya, dan lama sekali kami bicara dengan bahasa sumbing dan saling mengerti satu sama lain, meski ucapan Ervin dengan gaya sumbing kadang suka tidak jelas, tapi yang penting kami tertawa…hingga terbahak-bahak soalnya kami tertawa dengan gaya orang sumbing. Mungkin gara-gara itu pula pada akhirnya aku mencintainya… II. Namaku Minus. Aku gay. Dan aku sumbing. Sumbing bawaan sejak lahir. Mungkin karena itu orang tuaku menamaiku minus. Karena aku memang manusia minus. Manusia minus kesempurnaan. Seperti Ervin. Aku mencintainya, meski aku tahu kelakuannya minus. Dia juga manusia minus. Manusia minus keinginan. Jadinya lebih menderita daripada aku. Manusia tanpa kesempurnaan itu wajar. Tapi manusia tanpa keinginan sepertinya hampa. Pernah suatu kali kutanyakan padanya tentang hal ini, mengapa dia tidak pernah berkeinginan, meski sedikit. Terus dia jawab: Pernah liat malaikat? Tentu belum kan? Karena emang gak ada, maksudku wujudnya, malaikat hanyalah konsep. Dan aku memilih salah satu konsep tentang malaikat itu untuk dicobakan pada kehidupanku sehari-hari. Kemudian akan kulihat apakah dengan cara itu akhirnya bisa ditemukan cara untuk mewujudkan malaikat menjadi terlihat kalau memang ada, atau menjadi ada secara fisika dengan mengkalkulasikan seluruh konsep-konsep yang berhubungan dengan wacana malaikat itu dari berbagai sudut pandang. Hasilnya? Aku tak pernah tahu. Hanya kemudian aku berpikir bahwa konsep malaikat adalah sebuah konsep pencapaian. Dan aku sedang melakukan proses pencapaian itu. Aku bingung. Mengerjap sebentar lalu memikirkan jawaban Ervin tadi. Aku tidak mengerti bahkan hingga sekarang pun tak pernah. Apa hubungannya keinginan dengan malaikat? III. Suatu ketika Ervin bertanya padaku sambil tertawa: Darimana kamu tahu bahwa kamu gay, padahal kamu tidak pernah sekalipun pacaran, baik sama cewek ataupun sama cowok, karena kamu udah pasrah juga kan dari kecil bahwa kamu bakal gak laku? Aku diam. Serius. Tak bisa menjawab pertanyaan itu. Aku tidak mau Ervin tahu aku mencintainya. Aku takut kehilangan dia. IV. Kompleksitas pada kehidupan selalu bermula dari sebuah pertanyaan tentang cinta. Beribu kisah ditulis untuk menjawab pertanyaan itu, beribu film, beribu buku, beribu korban, dan beribu pertanyaan ulang, beribu pertanyaan tentang detail, tentang segala macam hal yang berhubungan atau hanya saling terkait dengan itu, menjadi puisi, menjadi musik, menjadi hening atau bunuh diri. Aku tidak tertarik mempertanyakannya. Aku sudah tahu. Dan aku cukup tahu diri mengakui bahwa cinta yang kumiliki ini berjenis kelamin hening. Meski Ervin riang dan aku begitu mencintainya, keheningan ini sepertinya sudah terdiam permanent dalam hatiku, jauh sebelum rasa cinta pada Ervin muncul. Sejak kecil aku sudah ditolak oleh dunia, dan ditakdirkan untuk menerima penolakan ini dengan baik. Kemudian diajarkan bagaimana menolak balik semua dunia yang mungkin datang tanpa melalui proses rumit bernama kematian. Hanya Ervin lah satu-satu nya dunia yang tak pernah kutolak. Selamat Jalan, Erv… Semoga menemukan keabadian yang kamu cari-cari itu… Dari Catatan Harian Minus Orbit, Penulis Novel Fenomenal Sumbing Yang pernah memenangkan Sayembara Penulisan Novel dan Naskah Drama tingkat Asia pada pertengahan tahun 2000 Naskah Obituary ini saya bacakan pada upacara penguburan jasad Minus tanggal 7 Mei 2004 Selamat jalan kawan, lo bakal bisa ngomong beres di surga, tenang aja, gak ada orang sumbing disana…! ;-p
Niskala’s Testament Pada pertengahan tahun 1999 saya mulai mengerjakan sebuah antologi puisi fragmentik dari kehidupan seorang wanita. Wanita ini adalah penjelmaan dari entah berapa banyak wanita yang pernah saya temui selama 20 tahun hidup saya. Kejadian selanjutnya sungguh di luar dugaan, Samantha, nama yang saya berikan untuk tokoh wanita dalam antologi puisi ini, memprovokasi saya untuk melakukan rekonstruksi berulang-ulang atas kematian kekasihnya, Joey. Joey, yang juga sahabat saya, tinggal di Amerika untuk menyelesaikan studinya. Meninggal setahun yang lalu dan mewariskan boneka sex nya pada saya. Kemudian saya meniupkan sebagian ruh saya untuk membuat boneka itu hidup dalam fiksi saya. Lalu saya beri dia nama Samantha. Rasa kehilangan atas kekasihnya begitu tinggi, setinggi keinginannya untuk kembali mati dan terus-menerus menyalahkan saya karena memberikannya setengah kehidupan saya. Meskipun saya tahu bahwa dia tahu kalau saya tahu tentang sejauh mana pengetahuannya mengenai keadaan saya setelah meniupkan setengah hidup saya padanya, memberikannya dengan tulus, mengajarinya berdandan, saya kehilangan setengah hidup saya. Dia tidak tahu bahwa gara-gara hal itu keadaannya dan keadaan saya menjadi sama. Semakin kuat dia ingin mengakhiri hidupnya, semakin terdorong pula rasa saya untuk memulai memikirkan bunuh diri dengan berbagai pembelaan-pembelaan ketika hal ini menjadi awal pembicaraan dengan beberapa teman saya. Suatu ketika mulut saya kelepasan bicara, bahwa saya akan melakukan bunuh diri pada umur 25. Teman saya mendengar itu dan dengan agak jengah menantang saya untuk benar-benar melakukan hal itu. Perdebatan berlanjut pada berani atau tidaknya saya melakukan hal itu. Dan demi mempertahankan harga diri saya bilang berani, dan berjanji pada nya bahwa saya benar-benar akan melakukan hal itu. Semenjak saat itu tanpa saya sadari saya mengkonversi Samantha kedalam bentuk Novel dan melibatkan Joey dalam cerita novel itu, melibatkan saya, melibatkan beberapa teman, dan melibatkan tokoh-tokoh baru yang secara brilian, mistis dan sedikit pragmatis, muncul satu persatu sepanjang kontemplasi saya selama satu tahun, sepanjang tahun 2000, tahun ketika saya berada pada masa kehilangan identitas karena zaman berubah drastis, kebrilianan dan keajaiban tahun 1999 digantikan kecanggungan dan kegelapan tahun 2000, tahun yang disangka banyak orang akan membawa kejutan-kejutan, dan sangkaan itu kemudian menjadi harapan, pada kenyataanya kejutan-kejutan dating dengan rupa bencana-bencana maha dahsyat. Ajaib, Samantha pada akhirnya malah tidak jadi mati meskipun di setiap akhir episode nya selalu diakhiri dengan kata mati. Seringkali memang pada episode-episode penting saya mencegahnya untuk mati. Dan nyaris kematian itu malah membabat saya. Tapi kami berdua, dengan alasan masing-masing selalu berkelit dari kematian itu. Selalu memikirkan kemungkinan hidup dalam setiap metode bunuh diri. Kemungkinan selamat apabila bunuh diri itu dilakukan, seberapa banyak kemungkinan itu. Dan secara licik, kami bekerja sama menyusun semua metode itu dalam sebuah rangkaian mudah dibaca, dan kami beri judul Metode-Metode Bunuh Diri. Karena pernah hidup di Amerika, Samantha menerjemahkannya kedalam Bahasa Inggris. Menyisihkan beberapa metode yang kemungkinan selamatnya rendah, secara diam-diam karena masing-masing tidak ingin terlihat pengecut, meski koar-koar yang kami lakukan malah lebih mendera kami dan membuat kami makin terlihat pengecut. Muka yang pucat setiap kali bertemu dengan orang, mudah terkejut, paranoid, obsessive compulsive disorder, schizophrenia, lalu secara tidak diduga, Samantha berhasil hidup dari 13 episode kali 5 babak percobaan bunuh dirinya, satu kali setiap episode. Enam puluh lima metode dia kuasai dengan baik, dengan 65 drama yang spektakuler, dia berhasil melakukan setiap metode dan berhasil bertahan hidup, sesulit apapun metode itu. Sementara saya, yang benar-benar mengetahui hal ini, setiap gerak Samantha, setiap detilnya, apapun yang dia pikirkan, apapun yang dirasakannya, saya pasti mengetahuinya, dia sudah tidak punya lagi rahasia yang tersisa pada saya, semakin terpuruk pada kekecewaan terhadap diri sendiri akan kepengecutan itu, menistakan diri pada hal-hal kotor dan kemudian benar-benar berharap mati tapi terlalu pengecut untuk mengerjakannya sendiri. Bahkan terlalu pengecut menghadapi kematian apabila kematian itu benar-benar ada. Dari obsesi menjadi ketakutan dan secara random terus berubah-ubah, menjadi harapan, menjadi spirit, menjadi simbol, menjadi teori, menjadi omong kosong, menjadi perjalanan panjang, menjadi drama-drama sentiment dan norak, menjadi mistis, menjadi putus asa, menjadi betul-betul terpuruk… Lalu sepuluh tahun berlalu, kematian tidak pernah benar-benar datang pada saya, semua bergulir menjadi wacana. Menjadi cerita, menjadi tokoh-tokoh baru pada novel yang terus berkembang, tak berkeakhiran. Sadar ataupun tidak, ingin atau tidak, secara misterius saya patuh pada keadaan ini, bertahan hidup. Dan saya kemudian mengkonversikan beberapa metode yang dilakukan Samantha pada diri saya sendiri yang menjadi salah satu tokoh dalam novel yang terus berkembang ini. Lalu memilih 5 metode dengan resiko yang paling tinggi. Bunuh diri dengan resiko tinggi saya artikan disini sebagai bunuh diri dengan tingkat kemungkinan hidup paling tinggi tapi mengakibatkan tingkat kerusakan yang sangat parah, misalnya menyebabkan cacat-cacat tertentu dan permanen, tentu jauh lebih mudah mati daripada menjalani hidup seperti, setidaknya itulah yang saya pikirkan selama ini. Samantha benar-benar mencoba semua metode itu dengan harapan bisa bertahan hidup meski kebanyakan resiko yang harus dia terima adalah cacat, sakit dan luka, ternyata baginya hal itu tidak lebih daripada sekedar test, sejenis tempaan seperti pada pepatah lama kudu meurih lamun hayang boga peurah harus perih kalau ingin berbisa, dan untuk itulah ini semua baginya, menjadi manusia utuh, karena setiap luka, setiap sakit, setiap cacat yang dia terima, berarti penempaan, pengojlokan, dan metode ini benar-benar berhasil membuatnya hampir menjadi manusia yang utuh, seperti kebanyakan manusia lain. Dan beriringan dengan itu, sedikit-demi sedikit, ruh saya semakin berkurang, berpindah padanya. Ternyata tanpa kami berdua sadari, secara otomatis Samantha mengambil sedikit demi sedikit bukan hanya ruh saya tapi hidup saya, badan saya, setiap kali dia selamat dari bunuh dirinya. Setiap luka, setiap sakit, setiap cacat yang seharusnya diderita Samantha malah menimpa saya, dan tak ada satupun dari kami berdua yang bisa menghentikan proses ini. Saya seperti disedot lalu pelan-pelan menghilang. Hingga saat ini, saat dia hampir utuh menjadi manusia dan yang tersisa dari keseluruhan saya hanyalah mata. Saya tak bisa melakukan apapun meski saya bisa melihat semuanya dan Samantha bisa melakukan segalanya kecuali melihat. Tapi dengan cerdik, pada 4 terakhir metodenya, meski saat ini dia tahu bahwa kelima metode itu akan membabat habis sisa-sisa saya, dia melakukannya dibelakang saya. Dan hal terakhir yang akan saya pertahankan dari hidup saya, dan tidak boleh siapapun memilikinya, Samantha sekalipun, adalah penglihatan. Dan ini tak bisa ditawar lagi. Ini saatnya bagiku untuk berkelit dan tidak terprovokasi untuk memikirkan ke-4 metode bunuh diri ini. Dan terus mengawasi Samantha yang membabi buta menggunakan 4 metode terakhir itu, mencari-cari saya dalam kegelapan dan saya terus berkelit dalam terang benderang bersama tokoh-tokoh baru, melupakan Samantha yang tidak pernah berhasil melakukan 4 metode terakhirnya. Samantha bertahan hidup dalam kebutaan kemudian bertamasya dalam hiper-realitas novel yang terus berkembang ini, terjebak disana, meski sebenarnya lebih tepat dengan kalimat saya jebak dia disana. Saya sendiri hanya bisa melihat keseluruhan itu, tanpa bisa melakukan apa-apa, terjebak dalam tingkat tertinggi ketakutan saya selama ini. “I’m just the eyes of the universe tapi betapa cerewetnya mataku dan betapa heningnya itu, Sayangku…!” untuk M yang secara tidak diduga diserbu kesedihan tanpa akhir… jangan habisin air matanya sebelum kita ketemu ya, aku pengen liat kamu nangis berurai air mata… aku janji bakal ngakak…he… Cianjur, 25 Januari 2008. Sub-script: untuk melihat beberapa metode bunuh diri ini dan pengkonversiannya pada beberapa cerita yang saya sebut di atas dapat ditemukan pada novel berjudul Episode IV yang beberapa hari lalu saya released dalam fomat MS Word. Saya published pada attachment salah satu posting saya beberapa hari lalu berjudul Episode IV, The Novel – Last Updated. (ruhlelana.multiply.com)
Bagian Pertama: Sangkuriang, Glossolalia Lelaki Tua dan Selinting Bako Mole Sebagai informasi yang cukup penting, lelaki tua yang akan saya ceritakan dibawah ini sebenarnya adalah seorang tokoh sejarah yang sangat berpengaruh dalam perkembangan penemuan manuskrip-manuskrip sejarah sunda. Penemuannya itu masih terus dipakai sebagai bahan rujukan di beberapa jurusan sejarah di kampus-kampus, baik di Indonesia maupun di luar negeri, terutama Belanda dan Perancis. Meski beberapa puluh tahun kemudian, banyak teorinya yang dibantahnya sendiri melalui penelitian-penelitian barunya. Penelitian barunya ini terkesan emosional tapi menurut saya malah lebih akurat dibanding teori-teori sebelumnya. Gara-gara kesan emosional ini, kaum akademisi pada akhirnya tidak terlalu menganggap teori-teori barunya. Mereka menganggap bahwa Si Tua ini sudah pikun dan mulai “merengek-rengek seperti anak kecil”. Hingga akhirnya Si Tua ini tidak lagi diketahui rimbanya di dunia akademis dan beberapa desas-desus mengatakan Lelaki Tua ini berkeliaran di jalan dengan hanya memakai celana dalam dan baju rombeng. Meski hanya rumor, seorang teman yang sangat tertarik dengan sejarah sunda mencoba melacak kebenaran ini dan katanya dia berhasil menemuinya. Niskala, nama teman saya itu, menceritakan pertemuannya dengan Lelaki Tua ini lengkap dengan semua detil percakapan mereka pada saya beberapa waktu yang lalu. Berikut ini adalah saduran saya dari pertemuan dan percakapan mereka dengan efek dramatis yang saya ciptakan, tentu saja dalam bentuk narasi agar bisa lebih dinikmati sebagai sebuah karya fiksi. Tokoh “aku” dalam cerita dibawah ini adalah Niskala. Saya sengaja mengubah subjek menjadi tokoh aku karena saya mencoba memakai sudut pandang Niskala dalam penggambaran ceritanya. Selama ini saya memang selalu terkagum pada sudut pandangnya dalam melihat sebuah kejadian. Provokatif. Misterius. Sinting! : Seorang lelaki tua, meski tidak berkarat, kau bisa melihat ketuaannya melalui mata mapannya, tajam, bijak dan sedikit merengek khas orang tua, menghembuskan asap bako mole berlintingkan daun kawung berbau 5 dekade lalu yang membawanya pada sebuah pelaminan sakral tanpa teks-teks terjemahan, yang membawaku pada saat-saat kota Bandung masih memiliki ribuan pohon rindang dan kereta kuda berlalu lalang, sejumput memori, kematian Daendels, berderet-deret heritage, pakaian vintage dan sebuah kata baru yang begitu halus dari majalah Poesaka Soenda. Ia mengerutkan keningnya yang terbangun oleh sejarah dan bentuk-bentuk huruf Kawi yang dimulai oleh ha dan diakhiri oleh ngha. Sejarah yang begitu disesalinya. Begitu tidak inginnya dia mengingat itu seperti kau tidak ingin mengingat seorang wanita yang kau pikir begitu mencintaimu tapi kau pernah memergokinya bercinta dengan lelaki lain dan lantas saat itu kau memberikan apologi atas tingkahnya itu meski sebenarnya kau sangat ingin membunuh keduanya saat itu juga tapi kau tidak melakukannya karena kau mencintainya, yang ada dalam pikiranmu adalah menyodomi laki-laki itu hingga laki-laki itu menyesal pernah lahir ke dunia. Kira-kira seperti itulah yang ingin dilakukannya pada Belanda yang pernah bercinta dengan leluhurnya yang dia pikir sangat mencintainya tapi dia memergoki percintaan itu dengan telak dan lantas saat itu dia memberikan apologi atas tingkah leluhurnya itu meski sebenarnya dia sangat ingin membunuh keduanya saat itu juga tapi dia tidak melakukannya karena dia mencintai leluhurnya dan seluruh peradabannya yang sudah terperkosa itu, yang ada dalam pikirannya adalah menyodomi Belanda hingga Belanda menyesal pernah menginjakan kaki di tanah Sunda yang begitu dicintainya. Belanda mengubah seluruh sejarah leluhurnya (yang sudah ribuan tahun dibangun melalui tradisi lisan) menjadi teks-teks tanpa ruh menggelayuti berbagai kaitan makna dan kata, semewujud kehambaran itu sendiri, sehambar keheningan artifisial yang diciptakan oleh kejemuan yang memadat hingga nyaris mati, menyebalkan sekaligus memuakkan, membuatnya serasa ingin muntah seperti minum berbotol-botol wine padahal yang diminumnya hanyalah segelas lemon squash dingin dengan kadar soda dan tingkat keasaman yang masih tinggi, seharusnya membuat otaknya justru menyegar saat itu tetapi tidak karena rasa asam dan soda malah terinterpretasi dalam kepalanya sebagai berbotol-botol wine. Cerita-cerita seperti Sangkuriang, Kabayan, dan Dalem Boncel mengalami perubahan pada setiap generasi akibat kecenderungan improvisasi yang sewajarnya dilakukan oleh kepala dan lidah berubah menjadi baku karena tulisan (teks dan konteks) yang dipaksakan agar -seolah akan- abadi. Padahal yang terjadi malah membusuk dan abadi dalam keterbusukannya, terus melusuh seperti buku-buku tua di perpustakaan penuh debu, tak terawat, berbau kematian para penulis. Kering improvisasi, kering reduksi, kering diksi. Ia, menurut ceritanya, tidak pernah mengenal huruf-huruf dalam tradisi leluhur Sunda. Meskipun banyak ahli yang sok tahu mengatakan bahwa Sunda memiliki tradisi tulisan dengan huruf-huruf sanskrit. BullShit! Saat itu segala hal mengalir, pengetahuan mengalir dari satu mulut ke mulut lain tanpa pernah menjadi baku. Bahasa bagaikan air, mengalir dan luwes mengikuti tempatnya berpijak. Kata-kata seperti angin, menghembus… dia menyulut lintingan barunya yang tersusun rapi dalam sebuah kain bersablonkan 345 dengan garis plesetan dari kertas rokok Dji Sam Soe, berbau sapi betina yang baru diperah susunya, menguik… Huruf-huruf itu dijejalkan kedalam otaknya seperti sampah busuk, memprovokasinya, meracuninya, menggilasnya menjadi serpih-serpih tinja, dan mengotori seluruh bagian sejarah yang pernah dielu-elukannya bersama teman-temannya waktu kecil dulu. Di sebuah leuwi, berenang telanjang sambil menceritakan kekonyolan Si Kabayan. Selalu memiliki versi yang berbeda untuk satu judul yang sama seperti ending yang berbeda pada Si Kabayan Ngala Kadu. Ending yang dia dengar waktu umur 7 tahun dengan ending yang dia dengar ketika SMA sangat berbeda. Tapi meskipun begitu masih tetap lucu dengan bagian penekanan lucu di wilayah yang berbeda-beda, dia menikmatinya waktu itu. Sekarang, Si Kabayan sudah menjadi buku dan laris, lalu satu kali dibaca, selesai, lantas ditumpukan dalam tumpukan-tumpukan kertas yang lain yang menggelora untuk menggeliat melepaskan diri dari keterpurukan stigma jenuh yang dibangun oleh huruf-huruf itu sendiri… lantas menguning disana, rapuh, renta, tua … Saya, katanya, lebih suka menyebutnya “teks-teks sekarat”. Setelah 10 menit berlalu dari kontemplasinya, dia melanjutkan ceritanya: “Tumpukan mayat kertas itu sebenarnya nyaris kubakar, sebab sebenarnya itulah yang mereka minta, itulah yang kertas-kertas itu inginkan. Agar lidah masih tetap berfungsi sebagai pencerita dan kepala berfungsi memberikan ruh-ruh reduksi dan improvisasi setiap kali ada pengulangan cerita dari satu orang ke orang lainnya. “Total pada saat itu aku sudah mendengar 1.347 cerita Sangkuriang dalam versi yang berbeda. Tapi sekarang akibat benda rapuh yang kita sebut tulisan itu, paling banyak aku hanya mendapatkan 15 versi dan salah satu diantaranya berupa gambar bergerak (Dalam film ini Sangkuriang menjadi Indo menjelma Cliff Sangra dan Dayang Sumbi menjadi Indo pula menjelma Suzanna) yang diterjemahkan dari kertas berisi tulisan versi ke 8 yang ditemukan oleh salah seorang sejarawan Sunda berkebangsaan Belanda 3 abad lalu. Tulisan itu berhuruf Pallawa dengan bahasa Sanskrit ditemukan di salah satu pulau kecil di utara Lombok. Sungguh menggelikan… dan orang-orang malah percaya (dipaksa untuk percaya/dipropaganda sehingga akhirnya percaya) bahwa kisah dalam manuskrip versi ke-8 itulah yang paling benar. Ada beberapa hal/bukti mengapa masyarakat percaya pada manuskrip versi ke-8 itu. Yaitu; 1. Ukurannya kira-kira 3 kali lebih tebal dari yang paling tebal dari ke-13 manuskrip yang pernah ditemukan. 2. Memiliki judul yang paling sesuai untuk cerita yang diungkapkan. Tidak ada satupun dari ke-13 manuskrip itu yang berjudul “Sangkuriang” beberapa diantaranya berjudul sama yaitu, dosa pertama. Dan yang lainnya hampir rata2 berjudul buruk, tidak langsung mengacu pada tokoh yang diceritakan. Kebiasaan sastrawan pada masa itu selalu memberikan judul pada kisahnya langsung memakai nama tokoh utama dalam cerita tersebut. Judul untuk manuskrip ke-8 ini adalah Dayang Sumbi dan anak laki-lakinya. 3. Meskipun ditemukan dalam urutan ke-8, melalui hasil test karbon, manuskrip ini adalah yang paling tua. Tak ada satupun dari ke-13 manuskrip itu yang memberikan keterangan waktu. Waktu selalu ditunjukan dengan memakai simbol2 penanda waktu alamiah. Seperti matahari, menstruasi, posisi bintang dan kulit pohon. Sepertinya matematika memang diciptakan hanya untuk orang-orang Yunani. 4. Kisah dalam manuskrip yang ke-8 ini adalah kisah yang paling tidak masuk akal. Dengan anggapan bahwa pada masa itu hal-hal yang tersebut wajar terjadi. Hanya inilah satu-satunya manuskrip yang mengaitkan tokoh utama laki-laki dengan Gunung Tangkuban Perahu. Meski justru hanya manuskrip ini yang tidak menamai tokoh utama laki-lakinya, sementara ke-12 manuskrip lainnya justru memberikan nama pada tokoh utama laki-lakinya yaitu SANGKURIANG. Tangkuban Parahu memang harus menjadi bagian dari unsur cerita sebab ada sebuah tradisi yang memberikan asal-usul pada sebuah bentuk morfologis permukaan bumi, atau artefak artefak, yang dianggap ganjil. Atau disugestikan ganjil. Seperti kebanyakan cerita rakyat di Indonesia, selalu menghubungkan cerita-cerita tersebut dengan sebuah fenomena alam atau sebuah obyek alam yang ganjil dan dianggap sakral. 5. Runutan cerita lebih terpola. 6. Narasinya lebih utuh dan bentuk-bentuk hurufnya lebih konstan dibanding dengan manuskrip yang lain. 7. Dan ini yang paling penting: kisah dan alur dalam manuskrip ke-8 adalah yang paling mirip dengan cerita lisan versi terakhir yang sudah menjadi pengetahuan umum pada masa itu saat manuskrip ini ditemukan.” Lelah… lelaki tua itu menghirup kopi tubruknya yang mulai mendingin dibuai angin. Sebenarnya sudah lama sekali lelaki tua ini ingin membuang jauh-jauh gelar Doktor dalam bidang Sosio-Historisnya. Memuakkan, gelar itu menyebabkan saya ingin muntah setiap kali mengingat masa-masa saya membuat desertasi tentang cerita sejarah mengenai kondisi masyarakat agrikultur Sunda pada abad ke-6. Huruf Pallawa itu, semua orang juga tahu, berasal dari India dan hanya mengintervensi Jawa dan, tolong tekankan, BUKAN SUNDA. Kalaupun memang Orang Sunda sudah mengenal tulisan maka bentuk hurufnya adalah lebih menyerupai huruf paku dan bukan Pallawa. Dan itupun bisa saya pastikan, huruf-huruf itu hanya dipakai untuk perdagangan dan kegiatan-kegitan formal kerajaan, deklarasi, perjanjian, dan undang-undang. Bukan sastra. Ingat! BUKAN SASTRA. Mengerikan… bagaimana ketika semua orang mempercayai Belanda bahkan hingga kini… hingga saat Belanda sudah hengkang puluhan tahun lalu… Kembali aku memandanginya, memandangi kerut-kerut dimukanya, daki yang sudah menempel puluhan tahun dimukanya, racauan schizophrenic-nya yang berulang-ulang, rambutnya yang menggimbal, bau tubuhnya yang seindah tumpukan sampah sore hari di pasar-pasar. Dia terus meracau di sini, di jembatan ini, di sebelahku, dengan mata tajam dan liar, dan selalu terus menerus memandangi Gunung Tangkuban Parahu yang menjulang di utara dan seolah ikut menangis bersama tokoh legendanya (yang dia yakini sebagai leluhurnya), di sore hari penuh debu. Lantas dia mengucapkan kalimat terakhirnya sebelum dia pergi, karena berdiri sambil membenahi tubuhnya dan tas karung terigunya yang entah berisi apa, sambil menyodorkan selinting bako mole yang baru dibuatnya (sepertinya memang sengaja dibuat untukku) padaku, dan ini kali pertama dia memandangku, hangat tetapi tajam; “Aku selalu bertanya, anak muda! Apa benar Gunung itu,” dia menunjuk Tangkuban Parahu, “adalah monumen keputus-asaan, kekecewaan, dan kemarahan Sangkuriang yang sengaja diciptakan agar kesakitannya diingat oleh orang-orang di masa depan? Itu PR buatmu, Anak Muda! Sebab sebentar lagi aku akan mati.” Aku tidak bisa menjawab. Seribu kebijaksanaan tiba-tiba menyeruak dalam tubuhku dalam diam yang panjang, membisu, menatap mata lelaki tua itu yang sedang mentransfer energinya berupa aura yang bertubi-tubi menyerbu tubuhku dan kepalaku, sebuah aura yang menyadarkanku akan kesimpangsiuran sejarah. Sejarah yang mana yang harus kupercayai? Lantas aku menyaksikannya pergi melangkah menuju Dago Utara dengan baju rombengnya yang berkibar-kibar tertiup angin berbau bako mole dan asap knalpot bis kota. *** Bandung, 2003 Bagian Kedua; Dayang Sumbi, Gateaux-lotjo, dan Beberapa Simulasi Masa Lalu Seluruh kejadian dalam bagian kedua ini terjadi dalam sebuah auditorium berbentuk kubus dengan dinding dan langit-langit serta lantai berwarna hitam kira-kira seukuran lapangan Futsal. Dan akan diawali dengan pengenalan salah satu tokoh sentralnya yaitu Gateaux-lotjo. Tapi kali ini saya akan menceritakannya dari sudut pandang saya sendiri, sebab saya ada di tempat kejadian dan mengenal dekat para tokoh yang ada dalam cerita ini. : Dia selalu begitu; memicingkan mata, menggertak dengan kata-kata sinis seperti, “Aku tak suka cantikmu yang mengerikan itu!”, tersenyum, berkedip lalu pergi. Dia, lelaki yang selalu memperkenalkan diri dengan nama Gateaux-lotjo itu, selalu begitu; mengejan, mengerang, menyembunyikan sebagian wajahnya, berteriak santun: “Aku berharap semua tidak baik-baik saja!”, lalu turun dari “tugu sialan!” itu. Dia sendiri yang selalu menjuluki singgasananya dengan “tugu sialan!”, selalu memakai tanda seru. Ada lambang hegemoni dan birokrasi di tugu itu, dia sangat tidak menyukai kedua hal itu. Akan tetapi hanya tugu itulah yang paling tinggi yang bisa ia naiki untuk lantas berteriak dan dilihat semua orang dari berbagai arah. Dia sangat membenci angin. Angin adalah bentuk manifestasi kekurang ajaran semesta. Meraba-raba tubuh kita tanpa permisi, diizinkan ataupun tidak, tak bersyarat, bebas absolut, dengan tanpa gairah sekalipun. Angin akan datang tiba-tiba, meski tidak terlalu kencang, tapi tetap akan menyusup ke dalam kulitmu, membuatmu merinding, membuatmu kedinginan, kadang membuatmu mendapatkan kenyamanan bersyarat. Dia sangat suka berdebat, apalagi perdebatan tentang Cinta, Agama dan Filsafat. Inilah satu-satunya kelebihan yang dia punyai. Bila Kundera pernah berkata: perjuangan terbesar manusia adalah untuk menguasai telinga orang lain. Maka dia sudah mencapai puncak kekuasaannya bila dia berdebat atau monolog dengan siapapun. “Namaku Gateaux-lotjo!” Suatu kali dalam sebuah kelembapan cuaca yang sangat dipengaruhi oleh bekas luka para hujan yang tercurah sederhana dari gelembung awan-awan lebat. Tentu, dia mengatakannya dalam kesungguhan yang dibuat-buat sambil menengadah ke langit dan menepis beberapa angin. Menengadah ke arah para hujan tadi yang cukup membuatnya kuyup. “Aku bukan lelaki, sebab aku yakin penisku bisa hidup sendiri tanpa harus diperintah oleh otakku dan diberi nutrisi oleh pacu jantungku. Dia bahkan bisa berdetak lebih kencang dari jantungku pada saat-saat yang seharusnya tenang. Penis punya organ tubuh sendiri yang diperintah oleh otaknya sendiri...” Setelah itu dia menyusun dirinya dalam kesendirian genit yang mengundang cinta dan kebebasan untuk segera datang padanya, bersujud dan memohon untuk dilibatkan dalam semua orasinya. Arahmaiani, seorang art performer yang sangat dikenal sebagai aktivis feminis dengan menyuarakan ideologinya lewat performance art, yang memakai kebaya modern dengan potongan lahak di punggung dan dada di depan 300 orang lebih penonton, membuka kebayanya dengan menyisakan sarung, stagen dan bra tetap melekat di tubuhnya. Lantas dia meminta penonton untuk memperlakukan tubuhnya sekehendak penonton dengan memberikan tiga sepidol besar. Satu-persatu penonton maju ke depan, menuliskan apapun yang ada di benak mereka ke tubuh setengah telanjang Arahmaiani. Ada yang menggambar bayi di perut Arahmaiani, ada yang menuliskan “Apakah ini perempuan, bukankah ini wanita?” di punggungnya. Dan banyak lagi yang lebih provokatif dari itu. Hingga seluruh tubuh dan wajah Arahmaiani dipenuhi coretan seperti dinding toilet di sekolah-sekolah atau kampus-kampus yang dipenuhi caci maki para hooligan hingga pernyataan cinta antar gay dan bahasa-bahasa kotor lainnya. Ketika pertunjukan masih berlangsung, tiba-tiba Gateaux-lotjo yang memakai baju bengkel terusan berwarna biru dengan topi bulu khas orang-orang Kozak di Rusia yang menutupi telinga untuk melindunginya dari terpaan angin dingin –hal ini membuat profilnya jadi mirip anjing bulldog– menggonggong, meneriaki penonton dengan gonggongan keras dan lari seperti anjing ke arah Arahmaiani berdiri. Dia mencoba menggigit siapapun yang mencoba mendekati Arahmaiani. Gateaux-lotjo secara tidak sadar sedang menyusun dirinya menjadi Si Tumang, atau bahkan mungkin terasuki roh Si Tumang dan mencoba melindungi istrinya, Dayang Sumbi, dari gangguan orang-orang dan tentu saja target utamanya adalah Sangkuriang, kalau memang saat ini Sangkuriang ada disini, sebagai salah satu manifestasi balas dendamnya gara-gara dipanah di masa lalu. Sangkuriang, sang tokoh atau yang selama ini menjadi status quo sebagai tokoh sentral dalam ceritanya sendiri, sedang dicaci maki dan diprotes habis-habisan oleh Arahmaiani sebagai bentuk perlawanan atas hegemoni laki-laki pada perempuan yang selalu diteriakan dalam setiap pertunjukannya. Sangkuriang sebagaimana cerita feodal lainnya adalah bentuk manifestasi kekuasaan lelaki yang dicoba-masukan kedalam benak setiap orang selama berabad-abad melalui Ideological State Aparathus masa lalu untuk melanggengkan kekuasaan laki-laki atas perempuan. Arahmaiani mencoba untuk menentang terhadap status quo ini tentu saja. Tanpa perlu kuratorial yang rumit, judul pertunjukannya sudah menjelaskan hal itu. Tentu saja bila Sangkuriang hadir saat ini dia akan ke atas panggung pertunjukan mencoba untuk menghentikan ibunya yang menjelma Arahmaiani tersebut, sekalian untuk melampiaskan dendamnya karena ditipu di masa lalu sehingga dia tidak jadi menikahinya dan menendang perahu yang dengan susah payah dia bangun.
|
|