Catatan Pendongeng Keliling

ervin's posts with tag: flashback

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag flashback

Blog EntryUmbai Cacing (Dead End)Apr 5, '06 12:35 AM
for everyone

Tentang Pertemuan Dengan Sejarah Yang Luntur

 

Di sebuah hari yang muram. Dyah, nama wanita itu, membereskan pakaiannya yang berserakan di kamar hotel itu. Memandang benci pada seorang lelaki yang tergolek penuh senyuman, tertidur setelah malamnya menguras energi wanita itu. Sialan!

Dyah memasuki kamar mandi dan menyalakan kran bagian kanan. Agar dingin sekali. Meski dingin sekali. Dyah perlu kesegaran, membersihkan setiap bibit penyakit yang mungkin sudah menempel di tubuhnya, penyakit durjana yang dia sadari betul keberadaannya.

Lelaki sialan itu membayarnya dengan mahal untuk satu malam itu. Tapi, Ya Tuhan, badannya bau sekali. Dyah berpikir mana bisa seorang lelaki tua dan bau sekali bisa menjadi direktur di sebuah perusahaan yang sangat besar di negeri ini. Dyah merinding membayangkan kejadian tadi malam itu. Cepat-cepat menggosok seluruh badannya, setiap senti.

Keluar kamar mandi dengan kesegaran baru, dingin sekali.

Umurnya sudah 30 saat ini. Tak ada niatannya untuk cepat-cepat menikah semenjak dulu, atau dia berpikir, tidak akan menikah sampai kapanpun. Dia tidak pernah menikmati profesinya ini. Sama sekali!

Ia lantas pulang setelah mengambil dua lembar seratus ribuan diatas meja sebelah lampu tidur, dengan kesegaran aneh yang terpintal bersama kedukaanya menjadi tali penolong untuk menariknya kembali ke kamar kecil kumuh kontrakan 75 ribu sebula di gang sempit sebuah kerajaan prostitusi ber-NGP rendah. Gang sebelahnya adalah sebuah kerajaan pesantren yang sengaja di proklamirkan disana sebagai sebuah pengejawantahan wacana post-kolonial untuk mengintimidasi secara budaya terhadap sebuah persepsi kenikmatan purba. Kerajaan tersebut ber-NGP tinggi sebab banyak sekali investor untuk menghancurkan persepsi kenikmatan purba.

Dia membeli 2 bala-bala, 1 gehu dan 1 pisang goreng yang hampir dingin sebelum mencapai kamarnya untuk pengganti sarapan yang selalu hilang. Aku lebih suka menyebutnya makan malam (supper). Memanaskan air dengan teko heater yang hampir rusak dan kabul yang sedikit melepuh sebab panasnya yang tidak stabil, seringkali terjadi konsleting gara-gara itu. Menyeduh kopi pahit, sangat pahit, untuk melengkapi kepahitan mimpi-mimpinya. Menyalakan sebatang rokok yang asapnya langsung memenuhi kamarnya yang sempit berdinding triplex bercat putih lusuh seperti capek tidak tidur selama dua hari, dengan kelupasan dimana-mana, menjadi satu ornamen baru seperti memberikan instrumen untuk semua nyanyian histeris di kamar itu. Sebuah poster kecil Ayat Qursyi menempel di pintu kamarnya, untuk menangkal setan kata temannya.

Dia merebahkan tubuhnya diatas kasur yang tidak beranjang, lapuk, kepalanya disenderkan di atas bantal yang ditumpuknya.

Menyalakan 14 inch konka-nya, channel berpindah-pindah hingga, Mtv, sebuah videoklip dari salah satu band yang kemudian akan merubah drastis seluruh hidupnya.

Lelaki itu, lelaki yang selalu membawanya ke masa lalu, lelaki yang selalu membuatnya terus-menerus merasakan deja vu yang berkepanjangan, lelaki yang selalu dilihatnya sedang meneriakan sabda dalam videoklip itu, pernah tidur dengannya, lantas menghilang, meninggalkan kenangan aneh bahkan Dyah sama sekali belum mengetahui namanya. Sekarang dia melihatnya dalam sebuah frame 14’ di dalam kamarnya.

Aku harus melacaknya. Aku harus bertemu dengannya lagi...!

Sebenarnya sebelum ini, namanya bukan Dyah, setelah berkali-kali berganti nama, menurutnya, nama Dyah-lah yang terakhir kali akan dia sandang. Alasannya sederhana: capek!

Meskipun pada akhirnya ada alasan yang lebih filosofis dan historis kenapa namanya berakhir di nama Dyah.

 

 

Saudara kandungku itu bernama Dyah. Kami dipertemukan oleh sebuah kecelakaan yang membenturkan bagian hidupnya dengan hidupku.

Saat itu sebuah mobil menyerempetnya saat dia sedang menyeberang. Aku waktu itu baru keluar dari Circle-K, sebab cuma CK (terkadang aku dan temanku menyebutnya lingkaran kecil) yang masih buka jam segitu untuk membeli keperluan gilaku.

Saat itu Dyah baru diturunkan dari sebuah mobil. Sebuah mobil BMW 2 pintu keluaran tahun 2000 yang dikendarai oleh seorang anak berusia awal dua puluhan – yang menjadi pertanyaanku adalah; bapaknya anak itu korupsi di BUMN yang mana?

Dyah turun dengan wajah lelah yang melekat begitu erat, tampak seperti bekas lem aibon yang merekat di jari-jari tangan yang tak sempat kau bersihkan setelah merekatkan sepatumu yang sudah menganga. Dia memakai rok yang – tidak saja begitu pendek tetapi membuat singkayo-nya nyaris kelihatan kemana-mana. (Di masa depan singkayo itulah yang selalu membuatnya selalu seksi dan membuatku selalu terangsang). Saat dia menyeberang (saat itu aku sedang minum sekaleng green sands sambil melihat bagian bawah tubuhnya yang – tentu saja di saat shubuh begini, di pelataran parkir CK Dago, sepi, dingin, sambil terduduk, melamunkan hal seperti ini dari tadi – konak-able atau kalau boleh kupinjam istilah Baskoro; libidinal) menuju CK, ada sebuah mobil yang sepertinya begitu mabuk hingga menyerempet pantat Dyah yang tadi bergoyang begitu mantap. Sebenarnya laju mobil itu tidak terlalu cepat tapi karena memang sepatu Dyah terlalu tinggi membuatnya hilang keseimbangan. Gara-gara itulah lantas mobil itu menambah laju mobilnya. Lantas dengan refleks, akibat naluri heroik-ku yang begitu tinggi sekaligus juga kubenci, aku berlari menuju tempat Dyah yang saat itu sudah terkapar sambil meringis nyaris pingsan. Tak ada orang selain aku dan dia saat itu. Saat berada tepat didepannya aku ragu untuk meraihnya, karena posisinya yang membuat jantungku sesaat tertegun. Saat itu singkayo dan G-String-nya mengkilap menyapu mata dan selangkanganku. Hingga akhirnya aku sadar - astaga! – bahwa darah keluar dari kepalanya. Ternyata tadi kepalanya membentur trotoar pembatas jalur jalan. Setelah itu tentu kau bisa menebak ke arah mana bagian fiksi ini akan berjalan.

 

Di kamar kost-nya:

(Kamar kecil kumuh kontrakan 75 ribu sebulan di gang sempit sebuah kerajaan prostitusi ber-NGP rendah. Gang sebelahnya adalah sebuah kerajaan pesantren yang sengaja di proklamirkan disana sebagai sebuah pengejawantahan wacana post-kolonial untuk mengintimidasi secara budaya terhadap sebuah persepsi kenikmatan purba. Kerajaan tersebut ber-NGP tinggi sebab banyak sekali investor untuk menghancurkan persepsi kenikmatan purba.

Kamarnya sempit berdinding triplex bercat putih lusuh seperti capek tidak tidur selama dua hari, dengan kelupasan dimana-mana, menjadi satu ornamen baru seperti memberikan instrumen untuk semua nyanyian histeris di kamar itu. Sebuah poster kecil Ayat Qursyi menempel di pintu kamarnya, “Untuk menangkal setan!”, kata temannya.

Dia kurebahkan tubuhnya diatas kasur yang tidak beranjang, lapuk, kepalanya disenderkan di atas bantal yang menumpuk.)

Tadi kami naik taksi untuk bisa kesini. Dyah masih setengah sadar, darah dari kepalanya menetesi sweater wol peninggalan nenekku. Orang-orang yang baru keluar dari masjid memandangi kami dengan beribu pertanyaan yang takkan berani mereka ungkap. Setelah sampai dikamarnya barulah kau baca lagi deskripsinya dalam tanda kurung diatas! Kalau sudah selesai kau boleh lanjutkan ke baris-baris berikut di bawah ini:

Aku mencari lap bersih di lemari pakaiannya yang terbuat dari plastik usang itu. Lantas aku mencari toilet di luar kamar untuk mengambil air.

Kuseka darah dikepalanya. (Aku harus berlari dulu keluar mencari warung untuk membeli obat merah dan kapas). Setelah bersih barulah kuteteskan obat merah+antibiotik itu di luka kecil yang menggurat di kening halusnya. Menutupinya dengan kapas dan dia tersenyum…

 

 

 


Blog EntryChapter XIIApr 5, '06 12:19 AM
for everyone

Chapter XII

Post-Logical Discourse

 

Dia terbangun dari dari tidurnya. Terkaget. "Oh, Sang Hyang Indra! Semoga ini hanya mimpi saja!"

Umurnya baru 9 tahun saat itu. Saat mimpi-mimpi itu terus menghantuinya.

4 September 1357. Tragedi Palagan Bubat.

Dia tinggal bersama pamannya, Sang Bunisora, di pertapaan di sebuah kaki bukit yang jauh dari pusat kerajaan ayahnya. Ayahnya, Lingga Buana Sang Prabu Maharaja, menitipkan dia kepada adiknya untuk dibekali berbagai ilmu kanuragan, spiritualitas, tata negara dan banyak lagi, sebab kelak dialah yang nanti akan menggantikan kedudukan ayahnya menjadi penguasa Kerajaan Sunda. Kakak-kakaknya yang laki-laki meninggal dunia pada saat masih bayi, hanya kakaknya yang sulunglah yang masih hidup, seorang puteri bernama Dyah Pitaloka.

Dyah saat itu berumur 19 tahun.

*

Kurasa baru kali ini mengatakan bahwa aku masih hidup. Berawal dari kokok ayam jantan yang terdengar aneh di sore hari. Suara kuda dan ringkikannya meraung-raung ditimpa suara-suara burung yang mengaum. Aku sebenarnya tak mengindahkan itu semua. Pikiranku hanya tertuju pada sebuah nama: Dendam!

Dendam dari sebuah kemampatan berpikir, akankah kulanjutkan hidup ini? Ya, harus kulanjutkan sebab tiada hidup yang pernah kujalani selain derita... derita... derita...

Atau itu mungkin hanyalah sebuah pengalihan perhatian dari ketidak mampuanku menghadapi hidup yang sebenarnya..., aku tidak menderita!

Dendam ini kupelihara seperti jamur yang menyerang kulit coklat terbakar panas matahari. Menutupi seluruh gelap hidupku. Ya..., aku tidak mengenal hidup seperti halnya aku tidak tahu sama sekali tentang mati, semuanya dendam!

Dendam dalam kenyataan sekarang adalah tidak adanya bintang atau bulan sebab masih sore. Tiada matahari sebab awan-awan gelap menyelubungi sore dan hanya lampu-lampu jalan yang meremang menjadi sedikit penerang.

Dendam ini kuhadiahkan pada Tuhan sebagai persembahan tambahan dari persembahan-persembahanku sebelumnya. Aku mengalah pada Tuhan dalam hal ini. Tapi benar-benar dendam, dendam sekali!

*

Hayam wuruk tidak bisa tidur di kamar kebesarannya… In Love… pada entah siapa di mimpinya.

*

Lingga Buana menerima utusan dari Majapahit itu dengan sukacita. Utusan itu datang atas perintah Hayam Wuruk untuk melukis puteri satu-satunya. Gejala baik… Mengingat Majapahit adalah negeri besar dan kuat.

Dyah sendiri tidak berkeberatan untuk dilukis dan dia memang sangat sayang pada ayahnya. Dyah paham betul keuntungan politis apa yang akan didapat oleh ayahnya bila kelak…

*

Hayam Wuruk mengamati ratusan lukisan yang datang dari berbagai negeri. Rata-rata dari lukisan itu adalah minimal puteri seorang raja.

Aha…! Dia menemukannya… Raja Sunda emang keren, bikin anak se-sukses ini... hehehe...

*

Entah kenapa setiap Dewa Perang selalu digambarkan halus, lemah lembut dan romantis. Indra, Ares, dan lain-lain. Dan hal itu selalu berimbas kepada para penyembah atau titisannya. Androgin!

Arjuna androgin dan banyak istrinya. Bisa juga kau artikan hyper-genit. Paling genit dibanding dewa-dewa yang lain. Niskala Wastukencana androgin dan banyak istrinya. Ya, setiap penyembah Dewa Perang cenderung mempunyai libido yang tinggi dan tidak peduli dengan jenis kelamin.

*

Lingga Buana melanggar adat pituin sunda yang disebut ngeuyeuk seureuh[1] demi kekuatan politis dan prestise negara. Hal itupun disetujui oleh para sesepuh pemuka kerajaan, dalam hal ini bertindak sebagai parlemen. Sistem parlemen ini adalah sistem yang diterapkan semenjak Kerajaan Salakanagara, kerajaan pertama di Jawa Barat, dimana sesepuh dan para pemuka agama menjadi perwakilan suara rakyat.

*

Niskala terbangun dari mimpinya dan segera ke perpustakaan untuk mencari data-data tentang Tragedi Palagan Bubat.

*

Ada banyak simpang siur tentang sejarah Sunda. Khususnya tentang tragedi palagan bubat. Semua ahli sejarah punya versi masing-masing untuk kejadian ini. Ada banyak literatur dan referensi serta bukti-bukti sejarah yang saling bertolak belakang. Atau mungkin para sejarawan itu salah menerjemahkan manuskrip-manuskrip itu?

Salah seorang ahli sejarah Sunda berkebangsaan Perancis meragukan adanya Perang Bubat sebab berita tersebut ditemukan dalam sebuah manuskrip yang ditemukan di Pulau Bali oleh seorang sejarawan berkebangsaan Belanda. Menurut profesor Perancis itu manuskrip tersebut dihadirkan untuk memecah belah Sunda dan Jawa, sebagai salah satu politik devide et impera. Agar memudahkan Belanda untuk emnggempur keduanya.

*

Lingga Buana bersama serombongan pasukan kerajaan berangkat menuju majapahit untuk mengantarkan Dyah ke pelaminan. Gajah Mada menghadang mereka ditengah perjalanan dan mengultimatum bahwa Dyah harus diserahakan ke Majapahit sebagai upeti dari Sunda.

Lingga Buana tidak bisa menerima dan lebih baik berperang.

Maka mereka berperang. Pasukan dari Kerajaan Sunda kalah. Mereka semua gugur. Dyah sakit hati terhadap Majapahit dan lalu dia bunuh diri.

*

Hayam Wuruk murka. Memerintahkan seluruh pasukan majapahit untuk memusnahkan Gajah Mada dan pasukannya. Gajah Mada menghilang dalam pengejaran. Hayam wuruk menjadi sakit-sakitan saat kehilangan Dyah.

*

Mimpi Niskala Wastukencana menjadi kenyataan. Sang Bunisora tak bisa membendung amarah Niskala. Dendam yang membara. Menyerang dan menghancurkan Majapahit.

*

Niskala mendatangi tempat yang dipercayai sebagai bekas pusat Kerajaan Sunda pada pemerintahan Niskala Wastukencana. Bermeditasi. Bertransformasi menembus sejarah. Saat Waktu: A!

*

Niskala datang pada saat yang tepat. Betransformasi pada saat yang tepat. Masuk kedalam benak Niskala Wastukencana pada saat yang tepat. Seperti John Cussack masuk kedalam benak John Malkovich. Berhasil berkomunikasi dengan Niskala Wastukencana. Niskala Wastukencana seperti sedang berkomunikasi dengan dirinya sendiri dan lantas mengenal Niskala dalam dirinya. Komunikasi intra personal. Komunikasi imajiner. Dan pada akhirnya akan sama dengan komunikasi transendental. Kesadarannya mengantarkan dia pada Niskala. Niskala berhasil meredam dendam Niskala Wastukencana. Mengendalikan tubuh Niskala Wastukencana dalam kesadarannya dan kesadaran Niskala Wastukencana. Berpindah waktu seperti dalam Voyagers. Berpindah ruang seperti dalam Sliders. Masuk ke dalam benak seperti dalam Being John Malkovich.

*

Niskala memerintah dengan amat bijak dan adil. Dia lantas dijuluki Prabu Siliwangi (silih: penganti, wangi: keharuman). Pengganti keharuman ayahnya, Sang Prabu Wangi bergelar Prabu Maharaja, yang gugur di Bubat. Sampai akhir hayatnya.

*

Niskala bersama Niskala melebur menjadi satu dalam androginitas. Ngahiyang. Menghilang. Ditempat yang sama pada saat bermeditasi.

Saat itu, dia harus membagi kerajaan menjadi dua, akibat libido[2], kepada kedua anaknya dari istri yang berbeda. Rajaputra atau Prabu Susuk Tunggal dan Rajasunu atau Prabu Dewa Niskala[3], yang masing-masing menguasai bagian timur, Galuh dan menguasai bagian barat, Pajajaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Ngeuyeuk seureuh adalah adat pituin Sunda berupa tinggal satu tahun bersama mertua setelah menikah hingga lahir anak pertama.

 

[2] Ada dua hal yang menyebabkan Niskala mempunyai libido tinggi. Pertama dia seorang Rockstar. Yang kedua dia pemuja Dewa Indra. Hihihi…

[3] Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa Prabu Dewa Niskala adalah Prabu Siliwangi yang terkenal itu atau kadang disebut Sang Pamanah Rasa ketika beliau mengembara atau Pangeran Rajasunu ketika masih kecil dan masih tinggal di istana. Dalam literatur lainnya malah disebutkan bahwa Prabu Siliwangi terdiri dari 3 orang yaitu yang pertama adalah Prabu Niskala Wastukencana, yang kedua Prabu Dewa Niskala dan yang ketiga adalah anak dari Prabu Dewa Niskala yaitu Sri Baduga Maharaja yang menyatukan kembali Galuh dan Pajajaran dengan cara menikahi putri Prabu Susuk Tunggal (Pangeran Rajaputra).


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help