Chapter XII
Post-Logical Discourse
Dia terbangun dari dari tidurnya. Terkaget. "Oh, Sang Hyang Indra! Semoga ini hanya mimpi saja!"
Umurnya baru 9 tahun saat itu. Saat mimpi-mimpi itu terus menghantuinya.
4 September 1357. Tragedi Palagan Bubat.
Dia tinggal bersama pamannya, Sang Bunisora, di pertapaan di sebuah kaki bukit yang jauh dari pusat kerajaan ayahnya. Ayahnya, Lingga Buana Sang Prabu Maharaja, menitipkan dia kepada adiknya untuk dibekali berbagai ilmu kanuragan, spiritualitas, tata negara dan banyak lagi, sebab kelak dialah yang nanti akan menggantikan kedudukan ayahnya menjadi penguasa Kerajaan Sunda. Kakak-kakaknya yang laki-laki meninggal dunia pada saat masih bayi, hanya kakaknya yang sulunglah yang masih hidup, seorang puteri bernama Dyah Pitaloka.
Dyah saat itu berumur 19 tahun.
*
Kurasa baru kali ini mengatakan bahwa aku masih hidup. Berawal dari kokok ayam jantan yang terdengar aneh di sore hari. Suara kuda dan ringkikannya meraung-raung ditimpa suara-suara burung yang mengaum. Aku sebenarnya tak mengindahkan itu semua. Pikiranku hanya tertuju pada sebuah nama: Dendam!
Dendam dari sebuah kemampatan berpikir, akankah kulanjutkan hidup ini? Ya, harus kulanjutkan sebab tiada hidup yang pernah kujalani selain derita... derita... derita...
Atau itu mungkin hanyalah sebuah pengalihan perhatian dari ketidak mampuanku menghadapi hidup yang sebenarnya..., aku tidak menderita!
Dendam ini kupelihara seperti jamur yang menyerang kulit coklat terbakar panas matahari. Menutupi seluruh gelap hidupku. Ya..., aku tidak mengenal hidup seperti halnya aku tidak tahu sama sekali tentang mati, semuanya dendam!
Dendam dalam kenyataan sekarang adalah tidak adanya bintang atau bulan sebab masih sore. Tiada matahari sebab awan-awan gelap menyelubungi sore dan hanya lampu-lampu jalan yang meremang menjadi sedikit penerang.
Dendam ini kuhadiahkan pada Tuhan sebagai persembahan tambahan dari persembahan-persembahanku sebelumnya. Aku mengalah pada Tuhan dalam hal ini. Tapi benar-benar dendam, dendam sekali!
*
Hayam wuruk tidak bisa tidur di kamar kebesarannya… In Love… pada entah siapa di mimpinya.
*
Lingga Buana menerima utusan dari Majapahit itu dengan sukacita. Utusan itu datang atas perintah Hayam Wuruk untuk melukis puteri satu-satunya. Gejala baik… Mengingat Majapahit adalah negeri besar dan kuat.
Dyah sendiri tidak berkeberatan untuk dilukis dan dia memang sangat sayang pada ayahnya. Dyah paham betul keuntungan politis apa yang akan didapat oleh ayahnya bila kelak…
*
Hayam Wuruk mengamati ratusan lukisan yang datang dari berbagai negeri. Rata-rata dari lukisan itu adalah minimal puteri seorang raja.
Aha…! Dia menemukannya… Raja Sunda emang keren, bikin anak se-sukses ini... hehehe...
*
Entah kenapa setiap Dewa Perang selalu digambarkan halus, lemah lembut dan romantis. Indra, Ares, dan lain-lain. Dan hal itu selalu berimbas kepada para penyembah atau titisannya. Androgin!
Arjuna androgin dan banyak istrinya. Bisa juga kau artikan hyper-genit. Paling genit dibanding dewa-dewa yang lain. Niskala Wastukencana androgin dan banyak istrinya. Ya, setiap penyembah Dewa Perang cenderung mempunyai libido yang tinggi dan tidak peduli dengan jenis kelamin.
*
Lingga Buana melanggar adat pituin sunda yang disebut ngeuyeuk seureuh demi kekuatan politis dan prestise negara. Hal itupun disetujui oleh para sesepuh pemuka kerajaan, dalam hal ini bertindak sebagai parlemen. Sistem parlemen ini adalah sistem yang diterapkan semenjak Kerajaan Salakanagara, kerajaan pertama di Jawa Barat, dimana sesepuh dan para pemuka agama menjadi perwakilan suara rakyat.
*
Niskala terbangun dari mimpinya dan segera ke perpustakaan untuk mencari data-data tentang Tragedi Palagan Bubat.
*
Ada banyak simpang siur tentang sejarah Sunda. Khususnya tentang tragedi palagan bubat. Semua ahli sejarah punya versi masing-masing untuk kejadian ini. Ada banyak literatur dan referensi serta bukti-bukti sejarah yang saling bertolak belakang. Atau mungkin para sejarawan itu salah menerjemahkan manuskrip-manuskrip itu?
Salah seorang ahli sejarah Sunda berkebangsaan Perancis meragukan adanya Perang Bubat sebab berita tersebut ditemukan dalam sebuah manuskrip yang ditemukan di Pulau Bali oleh seorang sejarawan berkebangsaan Belanda. Menurut profesor Perancis itu manuskrip tersebut dihadirkan untuk memecah belah Sunda dan Jawa, sebagai salah satu politik devide et impera. Agar memudahkan Belanda untuk emnggempur keduanya.
*
Lingga Buana bersama serombongan pasukan kerajaan berangkat menuju majapahit untuk mengantarkan Dyah ke pelaminan. Gajah Mada menghadang mereka ditengah perjalanan dan mengultimatum bahwa Dyah harus diserahakan ke Majapahit sebagai upeti dari Sunda.
Lingga Buana tidak bisa menerima dan lebih baik berperang.
Maka mereka berperang. Pasukan dari Kerajaan Sunda kalah. Mereka semua gugur. Dyah sakit hati terhadap Majapahit dan lalu dia bunuh diri.
*
Hayam Wuruk murka. Memerintahkan seluruh pasukan majapahit untuk memusnahkan Gajah Mada dan pasukannya. Gajah Mada menghilang dalam pengejaran. Hayam wuruk menjadi sakit-sakitan saat kehilangan Dyah.
*
Mimpi Niskala Wastukencana menjadi kenyataan. Sang Bunisora tak bisa membendung amarah Niskala. Dendam yang membara. Menyerang dan menghancurkan Majapahit.
*
Niskala mendatangi tempat yang dipercayai sebagai bekas pusat Kerajaan Sunda pada pemerintahan Niskala Wastukencana. Bermeditasi. Bertransformasi menembus sejarah. Saat Waktu: A!
*
Niskala datang pada saat yang tepat. Betransformasi pada saat yang tepat. Masuk kedalam benak Niskala Wastukencana pada saat yang tepat. Seperti John Cussack masuk kedalam benak John Malkovich. Berhasil berkomunikasi dengan Niskala Wastukencana. Niskala Wastukencana seperti sedang berkomunikasi dengan dirinya sendiri dan lantas mengenal Niskala dalam dirinya. Komunikasi intra personal. Komunikasi imajiner. Dan pada akhirnya akan sama dengan komunikasi transendental. Kesadarannya mengantarkan dia pada Niskala. Niskala berhasil meredam dendam Niskala Wastukencana. Mengendalikan tubuh Niskala Wastukencana dalam kesadarannya dan kesadaran Niskala Wastukencana. Berpindah waktu seperti dalam Voyagers. Berpindah ruang seperti dalam Sliders. Masuk ke dalam benak seperti dalam Being John Malkovich.
*
Niskala memerintah dengan amat bijak dan adil. Dia lantas dijuluki Prabu Siliwangi (silih: penganti, wangi: keharuman). Pengganti keharuman ayahnya, Sang Prabu Wangi bergelar Prabu Maharaja, yang gugur di Bubat. Sampai akhir hayatnya.
*
Niskala bersama Niskala melebur menjadi satu dalam androginitas. Ngahiyang. Menghilang. Ditempat yang sama pada saat bermeditasi.
Saat itu, dia harus membagi kerajaan menjadi dua, akibat libido, kepada kedua anaknya dari istri yang berbeda. Rajaputra atau Prabu Susuk Tunggal dan Rajasunu atau Prabu Dewa Niskala, yang masing-masing menguasai bagian timur, Galuh dan menguasai bagian barat, Pajajaran.
Ngeuyeuk seureuh adalah adat pituin Sunda berupa tinggal satu tahun bersama mertua setelah menikah hingga lahir anak pertama.