Catatan Pendongeng Keliling

ervin's posts with tag: illana on-line

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag illana on-line
 

 

 
 Aku bergidik mendengar suara jengkerik krik…krik…krik… tadi malam saat aku padam di tengah gemerlap kegelapan memori dalam satu folder - terkunci dan sengaja kulupakan passwordnya - berjudul Bitch And The Bastard Project -  Chapter One. Kudukku meremang dalam keremangan di jauh sana tanpa suara dan sama sekali tak ada suara.

Ada apa…?

                Pagi ini segar dan tak diantar…

                Baguslah kalau begitu. Tapi nanti?

                Mungkin diantar tapi belum tentu segar.

                Agak tidak bagus kalau begitu.

                Bukankah selalu begitu?

                Tentu… tapi kupikir sudah saatnya kau berhenti bermain kata-kata yang sering kau lantunkan itu. Tak ada lagi permintaan maaf… enough is enough! Aku muak…

                Tapi…sebentar…please…jangan dulu ditutup…sayang…plea…ss…ah…GOD!!damn it!

  

                Saat itu aku masih terang benderang seperti siang, seperti karang, tegak menantang menyulut pedang. Tapi tadi malam ada beberapa hal yang menginterupsi kegagahanku, kesombonganku, dalam bentuk surat balasan yang ditujukan pada alamat elektronik-ku yang selalu kuingat passwordnya dan tak ada satu orang-pun yang mungkin mengetahui passwordnya. Surat itu berjudul Re: I LOVE YOU !!! (I don’t, sorry!)

                Surat itu hanya berisi kjahsdfvgjsh. Artinya tak ada apa-apa…dia hanya mengetik sembarang untuk memenuhi syarat pengiriman surat elektronik agar mengisi halamannya. Dia perlu mengetik sembarang agar aku tahu bahwa isi surat itu semua sudah dikandung pada judulnya Re: I LOVE YOU !!! (I don’t, sorry!)

                Ini adalah surat balasan dari suratku sebelumnya untuk dia berjudul I LOVE YOU !!! .

See what I mean??? Dan suratku itu berisi sebuah narasi tentang alasan-alasan kenapa aku begitu mencintainya sebanyak sepuluh halaman A4, arial narrow 10, satu setengah sepasi.

:’-(hiks!)

 

                Beberapa saat yang lalu itu adalah sebuah film, dimana segala hal dalam hidup hanya ditampilkan pada bagian menarik saja. Maka begitupun kemudian film itu berjalan dan berdurasi hanya kira-kira dua jam. Dan selama dua jam itulah segala hal ini dimulai.

Dia datang di saat-saat terakhirku memutuskan untuk hidup atau terus mati. Ya, aku layak disebut mayat hidup, tanpa kartu pengenal, tanpa tempat tinggal, tanpa tujuan, tanpa pasangan, kasihan… lalu tiba-tiba dia datang, dan mengisi sisi menarik hidupku selama dua jam ke depan.

Selamat menyaksikan…

 

Tittle : The Projects Of Bitch and The Bastard

Credit Tittles

 

Chapter One.

 

Scene I                                  

Kita melihat sebuah rumah berwarna putih, mata kita menelusuri setiap bagian rumah, arsitektur victorian, cat putih kotor mengelupas dimana-mana, bangunan yang besar dan megah, pintu tinggi besar seolah seorang raksasa pernah tinggal di rumah ini. Rumah ini kosong, bahkan tak ada satupun furniture atau hiasan dinding tersisa. Dan hening.

Gadis itu duduk di pojok ruang tamu, memandang kosong jendela kayu di depannya. Satu desahan nafas pelan keluar dari mulutnya, terdengar keras sebab suasana benar-benar hening. Sepertinya bila hatimu menjerit maka jeritan itu akan terdengar meski sayup saking heningnya. Hingga aku menjuluki bangunan itu Super-Infrasonic House…

Tiba-tiba, mungkin sekali dalam seratus tahun kejadian ini terjadi di bangunan itu…sedesir angin berkelebat melewati pundak kiri gadis itu dan terdengar ditelinganya seperti sebuah ledakan bom, sukses mengejutkannya, lamunannya dihancur-leburkan bom audiosonic dari angin itu, banyak sekali korban, dan dia menjerit-jerit, keras sekali, gaungnya berputar mengelilinginya, membentur-bentur dinding ruang tamu itu, debu-debu dari pecahan bata beterbangan karena dinding terus bergetar dan hampir tiba pada batas akhir kekuatan keduanya, kekokohan bangunan tua dan jeritan gadis itu. Lalu keduanya berhenti, gadis itu berhenti menjerit, bangunan tua itu terhenti pada tahap nyaris rubuh…

Sebegitu detil… ya, sebegitu detil aku menampakannya pada setiap narasiku tentangnya dan selalu untuknya.  

 

Scene II

Desahan itulah sebenarnya yang menyebabkan angin itu berdesir melewati pundaknya, kita melihat secara detil kaitan antara desahan nafasnya dan desiran angin kecil yang melewati pundaknya…desahan itu keluar membawa sebuah hembusan kecil angin yang melaju menembus udara-udara beku disekitarnya, menabrak dinding tembok sekitarnya, mengalami beberapa pantulan seperti echo pada gelombang suara, lalu pada satu ketika angin itu menjadi lebih besar dan berhembus kembali melewati pundak kirinya, membawa getaran yang lebih besar dari desahannya tadi, lantas membomnya dengan bom audio-sonic.

Sebenarnya hal itu benar-benar amat hiperbolik sebab telinganya tidak benar-benar terganggu secara fisik, apalagi sampai berdarah, tidak mungkin sedesir angin mampu melakukan hal itu, dan jeritannya pun tidak benar-benar keluar dari mulutnya, tapi hanya ada di hatinya, dan hanya kepalanya yang bisa mendengar, efek mentalnya begitu dahsyat, mengganggunya secara fisik, membuat kepalanya berdenyut pusing, hingga dia berhalusinasi…dan semua detil itulah halusinasinya…dan ada beberapa detil lainnya yang kemudian akan diceritakan pada beberapa narasi berikut ini: 

 

Scene III

Desahan nafas yang sama seperti yang dimiliki seorang gadis dalam sebuah kamar. Kita melihat sebuah kamar agak berantakan dengan seorang gadis duduk diatas kasur pegas sambil memegang sebuah buku foto kopi-an berjudul Episode IV.

Desahan itu kemudian menggaung mengembalikan kita pada gaung desahan di ruang tamu rumah kosong tempat gadis itu terduduk di pojok, masih seperti itu. Dan kita berada tepat di hadapan gadis itu, close-up. Matanya sembab, tak ada air mata. Sepertinya semalaman dia menangis disitu hingga tak ada lagi air mata yang tersisa. Kita melihat waktu berputar balik pada semalam yang lalu, dan gadis itu datang kemudian duduk di sudut sambil memandang jendela di depannya. Dimulailah tangisan itu. Pilu semalaman hingga pagi. Dan pagi ini kita berada disini, tepat dihadapannya, close-up. Jangan takut, meski kita bisa melihat dia dari dekat, dia tidak mungkin bisa melihat kita, jangan lupa bahwa kita sedang menonton film yang di capture dari halusinasi gadis itu.

 

Scene IV

Seorang pemuda menyalami gadis yang sama beberapa bulan yang lalu di sebuah kantin kampus. Nama pemuda itu Ervtra. Nama Gadis itu Illana. Kita tahu sebab kita bisa mendengar mereka meski kita melihatnya dari jarak agak jauh, medium shot, kira-kira beberapa meja dari meja mereka. Kemudian kita tak bisa lagi mendengar obrolan mereka sebab serombongan keluarga menempati salah satu meja antara kita dengan mereka berdua, terlalu bising, tapi kita masih bisa melihat mereka dan bisa kesimpulan bahwa mereka tampak saling mengagumi.

 

Scene V

Kita melihat sebuah pintu kamar hotel, kita mencoba masuk tapi tak bisa, pasangan baru itu keburu menutup pintunya. Kita tak tahu apa yang terjadi, tapi tentu kita bisa menebak. Tapi kita betul-betul tidak akan pernah menyangka seindah apa momen yang terjadi di dalam kamar hotel itu. Kali ini layar serius gelap, kita hanya mendengar suara obrolan sayup serta desahan yang samar.

 

Scene VI

Kita melihat mereka berbicara di ponsel, keduanya berada di kamar masing-masing, stoned dengan selinting ganja masih di pegang oleh kedua-duanya. Mereka saling membacakan puisi di laptop masing-masing di hadapan mereka. Kali ini kita bisa mendengar mereka.

Split Screen, Illana di kanan, Ervtra di kiri

Ervtra membaca puisi

Kita melihat Illana mendengarkan serius sambil sesekali menarik nafas. Kemudian dia menyatakan kekagumannya pada puisi itu dengan ekspresi muka yang kuat.

Kemudian Illana membaca puisi

Kita melihat Ervtra mendengar serius sambil menghirup pelan selinting ganja.

 

Scene VII

Kita melihat pertengkaran...saat sebelum tidur setelah senggama hampir semalaman…

 

Scene VIII

Kita melihat pertengkaran...di sebuah kafe malam hari setelah pesta perjamuan seorang teman mereka…

 

Scene IX

Kita melihat pertengkaran...split screen, keduanya memegang ponsel, di kamar masing-masing, extreme close-up… ada setitik air mata dari sudut mata Ervtra, ada tangisan meraung dari layar sebelahnya. Maafin aku, sayang!!!

 

Scene X

Ervtra pergi dalam siluet hitam putih abu yang bergerak-gerak.

Illana menangis di pojok ruang tamu rumah kosong itu.

 

End of Chapter One


Blog EntryBayi Illana dan Dosa-DosaAug 23, '07 4:15 PM
for everyone

Sekali lagi kukatakan bahwa dosa telah tiada

Sekali lagi kukatakan bahwa dosa telah tiada

Sekali lagi kukatakan bahwa dosa telah tiada

 

Bayi Illana berteriak-teriak

Membombardir telinga dan air mata ibunya

                Ibunya tak lagi kering

                Selalu ada basah air mata disana

                Meski terhapus tisyu saat bayi Illana memergokinya

 

Illana terlonjak

Mendongakan dagu indahnya pada suara bayi yang mendenging-denging

Membuat sibuk keheningan birunya

Siapa itu?

Illana memandang bayinya tak percaya

Kau yang membisikan itu?

Bayi Illana tersenyum manja

Menahan sebutir air mata ibunya

Terbendung nyaris pecah di sudut kiri matanya


Blog EntryUntitled 1.Aug 23, '07 2:15 PM
for everyone

Dua juta kata lebih telah terlahir, menelikung membentuk bayi-bayi purba, mengingatkan Illana pada bayi yang ditelannya kembali, dibesarkan dalam lambungnya, menjerit-jerit menggetarkan jantungnya.

 

Penyakit maag Illana kambuh, asam klorida hampir membunuh bayinya, Illana limbung, muntah-muntah, lalu pingsan.

 

Bayinya merayap-rayap diantara cairan muntahan berwarna kuning berbau asam, meraih Illana dengan dua tangan mungilnya;

                         Bangunlah Ibu! Sudah saatnya Ayah tahu.


Blog EntrySENJA ILLANA DAN DOADOAAug 23, '07 2:12 PM
for everyone


senja mengurai doa menjadi tanda
melumpuhkan seribu kata diatas dupa
yang meluncur begitu saja
diantara serpih-serpih murka
seperti surga yang diusung diatas mahkota

Illana terpuruk di sudut matanya
yang meneteskan gurat-gurat masa lalu
membentuk labirin
yang menyesatkan makhluk-makhluk berkepala semesta
menuju tiang-tiang
tempat para rahib dipancangkan

gerah...
gerah...
gerah...

kudatangi Illana dengan tergesa
menyambut lelehan dukanya
kukatakan padanya tentang senja

senja yang mengurai doa menjadi tanda
yang melumpuhkan seribu kata diatas dupa
yang meluncur begitu saja
diantara serpih-serpih murka
seperti surga yang diusung diatas mahkota

lalu Illana menengadah
menerjemahkan tanda menjadi kata
kata menjadi doa
lantas terbang diatas dupa
hingga dia padam dengan seribu malam


Dalam keadaan mabuk parah, William S. Burough mengulang-ulang rekaman pembukaan konser The Doors secara diam-diam tapi agresif. Lalu memasukan musik sesuka dia.

Hasilnya; “Is everybody in?” dihentak diulang-ulang oleh iringan lagu-lagu The Doors oleh suara William yang berat dan ketukan bayonet pada ulu hatinya.

               

Ribuan kilometer dari situ, bertahun-tahun kemudian, Illana yang sudah dibekali mantra oleh guru spiritualnya, mantra untuk mencapai ekstase tanpa harus dibantu oleh model pengobatan daun-daunan dari Aceh atau Thailand apalagi perang kimia buatan dari jenis Amphetamine ataupun Metamphetamine, sedang mendengarkan hasil dari proses psikedelisasi antara William S. Burough dengan The Doors itu di depan komputer di kamarnya pada piringan CD yang berputar pada sekian radian per detik. Illana terhentak saat sabda Jim melalui salah satu rasulnya, William, yang berulang-ulang itu berhasil diterjemahkannya.

Jantungnya berdetak kencang, tertusuk-tusuk pertanyaan itu, terbangun dari tidur panjangnya tanpa geliat yang biasanya mengiringi keindahan erangan pagi saat sebuah ciuman mendarat pada bibirnya, sekarang setidaknya dia menghalusinasikan itu…

Is everybody in?

“Ya, barusan aku disini.” Jawab Illana pada layar komputer yang menayangkan ribuan warna yang menggeliat-geliat diterpa gerakan frekwensi dari ketukan nada pada 10 titik, (dimulai dari 60 Hertz, 170 H, 310 H, 600 H, 1 kH, 3 kH, 6 kH, 12kH, 14 kH, sampai 16 kH) serta wilayah mabuk parahnya William S. Burough pada Visualisations Winamp-nya yang diset secara random dengan pergantian tema setiap 15 detik sekali.

“Sekarang kamu dimana?” Tanya bayangan matanya yang masih mengalirkan air mata semenjak pertemuan terakhirnya dengan Ervin.

“Aku… aku… ada di… ada di… dihentak kesakitan, dihentak kesakitan pada pertemuan terakhir dengannya dan dengan-Nya…” Jawab Illana dengan tergagap dan nyaris berbisik, tersudut.

“Aku tadi bertanya, kau ada dimana?” Tanya bayangan matanya lagi di layar komputer yang masih menggeliatkan warna-warna itu, kali ini pertanyaan itu lebih dikuatkan oleh teriakan-teriakan Jim dan wilayah liar William.

“Aku… aku pikir… aku layak menerima kesakitan itu… dan… dan… kesakitan ini…” Jawabnya, masih menghindar dan tergagap, dan air mata masih terus menderas… pada bayangan itu malah lebih tampak membanjir.

 

“Kamu tidak menjawab pertanyaanku, tapi sudahlah, mungkin itu gak penting. Kesakitan itu dan kesakitan ini, maksudmu?” Kali ini bayangannya menyerah tapi masih terasa sedikit cerewet dalam ingatan Illana.

Illana tiba-tiba menekan tombol power komputernya, dengan cepat dan serentak seluruh software serta hardware didalam CPU nya dipaksa untuk menghentikan seluruh aktifitasnya. Monitor menggeliat sebentar, kemudian mati, warna-warna mengikutinya, memudar dan mati. Jim berhenti berteriak dengan terpaksa, padahal moodnya lagi bagus untuk baca puisi. William S. Burough black out, lalu tepar dengan posisi tidur seperti saat Jim terjatuh pada lagu Unknown Soldier.

Bayangan matanya, yang masih berada dalam monitor, hanya lebih tersamar, terkaget dengan gerakan tiba-tiba Illana itu, lantas serius bungkam dengan membekap mulutnya.

Dengingan kipas komputer, yang berhenti paling akhir, menyisakan euforia iangan panjang yang meredam suara apapun dalam sesaat hingga dengan fade in pelan suara degup jantung Illana bisa terdengar lagi, tapi agak melambat, tidak sekencang tadi.

Pengaruh mantra lambat laun memudar. Memutar kembali rekaman-rekaman percakapan terakhirnya dengan Ervin di Café Ohlala siang itu

Air matanya tak jadi berhenti mengalir karena itu…

Isak, seribu isak sudah terbuang semenjak siang itu hingga kini…  


Blog EntryLabirin Hitam Di Bawah MatanyaAug 23, '07 2:04 PM
for everyone

 

Para penata gaya, seperti tukang cukur, fashion designer, pekerja salon, beauty consultant dan manikuris adalah sebagian dari sekian banyak orang yang paling memenuhi kategori sebagai manusia-manusia yang dimaksudkan Nietszche dalam ungkapannya tentang “memberikan gaya” pada karakter seseorang adalah sebuah seni agung dan langka. Meski kemudian Nietszche menulis lebih kepada wacana penokohan baik dalam seni peran maupun psikologi manusia.

Perkembangan mode yang begitu pesat jelas telah melahirkan banyak penata gaya dengan beribu terobosan baru, dari mulai make-up yang mendampingi mode pakaian hingga perombakan pada tubuh manusia itu sendiri seperti implantasi yang tidak ditujukan untuk penyembuhan dan kesehatan melainkan hanya untuk fashion belaka, bahkan juga merasuk kedalam wilayah fantasi futuristik, misal: wacana post-human, film The Matrix, dan model-model anime dari Jepang.

Menata gaya adalah sebuah seni yang agung dan langka, ya, seperti yang pernah saya ketahui ketika menatap mata seorang wanita begitu dalam, saya pikir juga itu sebuah seni agung dan langka. Disana ada keindahan, spekulasi, imajinasi dan dosa pertama.

Suatu ketika saya bertemu dengan seorang beauty consultant sebuah merk alat kecantikan dalam sebuah pertunjukan fashion. Saat itu saya diajak oleh seorang teman yang kuliah di Jurusan Tata Busana untuk menjadi model gratisan dalam pertunjukan fashion yang memperagakan karya-karya tugas akhirnya.

Sebuah perusahaan make-up yang cukup terkenal selalu tak mau ketinggalan menjadi sponsor untuk acara-acara seperti ini. Kompensasinya biasanya berupa alat-alat make up dan beberapa perias mereka untuk merias para model. Dan mereka mendapat keuntungan dari promosi berupa pamflet, leaflet dan spanduk yang mencantumkan logo perusahaan mereka di sudut kanan bawah dengan ukuran 4 x 4 cm.

Kali ini mereka mengirimkan 3 orang perias dengan jabatan Beauty Consultant (BC) 2 orang dan Coordinator Beauty Consultant (CoBC) seorang.

Di ruang rias, setelah mengantri dengan puluhan model gratisan lainnya yang tentu saja tidak secantik dan se-pede model-model professional, akhirnya saya mendapat giliran untuk didandani. Ada empat kursi rias didepan meja rias panjang dan sebuah cermin besar di ruang rias gedung pertunjukan tersebut. Satu kursi rias ditangani oleh seorang perias. Saya mendapat kursi yang ditangani CoBC.

Ada beberapa kebiasaan beberapa orang ketika sedang didandani yaitu mengobrol. Saya adalah salah satu dari beberapa orang yang memang sangat suka bicara, bahkan ada seorang teman yang menyangka saya mempunyai sindrom asperger, dan tentu saja mengobrol adalah bagian dari suka bicara itu.

Terus terang, CoBC itu, yang kemudian saya mengenalnya dengan nama Illana (bukan nama sebenarnya), sangat cantik, dan saya berpikir saat itu ia lebih cocok sebagai model ketimbang Penata Rias. Dan tentu saja kecantikannya mengundang saya untuk bertanya dengan serbuan basa-basi yang biasanya berhasil menarik perhatian wanita manapun.

Keindahan               : Keindahan itu menyeruak menubruk perutku hingga terasa desakan agak mual di ulu hati. Mata itu, ya mata itu, mata yang sering kali kupandangi setiap sore di ujung musim kemarau. Mata yang menggerakan kepalaku untu selalu mengikuti gerakannya kemanapun dia bergerak di kamar hotel itu malam itu.  

Spekulasi                 : (?)

Imajinasi                   : (?)

Dosa Pertama          : (?)

(isi sendiri alasanmu)

“Sudah punya anak berapa, Mbak?” tanya saya sambil memandang lekat wajahnya yang saat itu hanya berjarak beberapa senti karena dia, dengan sangat detil, sedang mengulaskan kuasnya di kelopak mata saya yang saya minta agar dibuat hitam berkesan gotik.

Dia tertawa dan memandang anak buahnya yang berada di sebelahnya sedang mendandani model-model lainnya. Setelah itu dia menjawab pertanyaan saya dengan mengalihkannya pada anak buahnya, seolah-olah saya tidak ada disana.

“Rien, aku barusan ditanya sudah punya anak berapa? Haha… emang aku kelihatan begitu tua ya?” katanya pada BC yang kemudian kuketahui bernama Vina (juga bukan nama sebenarnya).

“Ya ampun, masa sih, Bu? Aku aja dulu menyangka Ibu umurnya dibawah saya.” Jawab Vina yang wajahnya justru tampak seperti anak kecil.

Saya hanya memandangi mereka yang meneruskan obrolan diseputar wajah mereka. Tampaknya setelah itu saya tidak digubrisnya lagi.

Setelah selesai mendandani saya, wanita itu memanggil model selanjutnya. Lantas sambil lalu saya bertanya padanya dengan nekad. “Boleh saya tanya lagi? Mbak sudah punya anak berapa? Kok saya dicuekin terus?”

Sambil tetap tertawa seperti tadi dia menjawab, “Penting ya untuk saya jawab?”

“Penting sekali, sebab jawaban Mbak akan menentukan apakah saya akan minta nomor telepon Mbak atau tidak.” Jawab saya sambil mendekat lagi padanya. Model cewek yang akan dirias selanjutnya memandangku dengan pandangan males.

“Temui saya setelah pertunjukan disini, sekarang sebaiknya kamu show dulu, entar dimarahin koreografer.” Katanya dengan nada sok misterius. Terus melirik anak buahnya dengan seolah ada kedipan sebelah mata disana.

Saya menyadari, ada begitu banyak hal yang menarik ketika dia mendandani saya, atau kalau boleh kupinjam istilahnya, melukis di atas kanvas muka kamu. Saat ini saya sudah menjadi mantan suaminya, kejadian tadi berlangsung kira-kira dua setengah tahun yang lalu, dan itu adalah sebuah momen yang tidak mungkin saya lupakan. Hal-hal menarik itulah yang kemudian membawa saya terbuai kedalam semua hal yang berkaitan dengan dirinya, profesinya, kepalanya, bentuk tubuhnya, payudaranya, tertawanya dan tentu saja vaginanya yang saya masuki saat kencan pertama kami di sebuah hotel berbintang yang mendadak kami masuki sebab ada sesuatu yang mendesak yang kami enggan untuk mengatakannya satu sama lain, memang begitu kejadian aslinya, ini fakta. Tapi maaf bila saya menyamarkan namanya dan semua orang yang nanti saya akan ceritakan. Sebab ini bukanlah karya jurnalistik, saya tetap akan menyebutnya sebuah karya fiksi yang diangkat dari kejadian nyata, tapi sama sekali bukan adaptasi, detil-detil yang saya sebutkan memang benar-benar ada dan terjadi. Saya juga tidak akan mengatakan ini sebuah cerita pendek, sebab cerita ini akan lebih rumit daripada hanya sekedar cerita pendek yang memiliki pakem-pakem dan aturan-aturan yang ketat, hal ini berlaku terutama untuk cerpen-cerpen koran atau atau beberapa kelas sastra kertas, tentu saja gerakan sastra independent yang membuat media kertas tidak termasuk di dalamnya.

Saat itu, saat didandani saya menemukan sebuah perasaan yang sama sekali baru bagi saya, saya tahu bagaimana rasa cinta, tapi ini lain, mungkin lebih pada rasa kagum dan penasaran yang digabungkan menjadi bentuk obsesi yang sama sekali beda dengan obsesiku ingin tidur dengan Ag*** Mon*** (nama ini juga harus disamarkan karena saya takut tulisan ini suatu saat benar-benar dimuat di media umum dan dibacanya, tahu sendiri kan kecenderungan selebritis, sekalinya ada masalah, langsung main polisi dan pengacara, belum lagi pekerja infotaintment, saya tidak mau menyebut mereka wartawan, karena saya sebagai lulusan Sekolah Jurnalistik sangat tahu seperti apa itu wartawan, dan mereka sama sekali tidak memenuhi kategori sebagai wartawan).

Saya terus saja memandangnya lekat ketika dia bercakap-cakap dengan anak buahnya. Saya memandangi matanya yang tampak profesional memberikan polesan pada seluruh wajah saya, tangannya yang begitu terampil melukis wajah saya, gerak tubuhnya yang menurut saya waktu itu sangat libidinal, seolah ingin diajak tidur malam ini juga, wajahnya yang cantik keibuan, parfumnya yang mungkin adalah jatah dari kantornya. Harum tapi bisu, menurut saya, sebab dia tetap menganggap saya seolah tak ada, seolah benar-benar sebuah kanvas yang tak hidup.

Sesekali dia bersenandung. Dan entah kenapa saya benar-benar tidak bicara setelah pertanyaan tadi, tidak seperti biasanya, saya juga heran. Saya terus membisu sambil terus memandang lekat wajah dan pekerjaannya.

Proses melukis itu kira-kira menghabiskan waktu 10 menit, padahal cowok-cowok yang lain hanya memakan waktu 4-6 menit. Mungkin karena saya meminta agak berbeda, agak lebih dandan ketimbang yang lain.

Ketika pertunjukan fashion dimulai, jelas saya tidak menemukan wajahnya ditengah kerumunan penonton yang bersorak-sorai karena saya pikir dia masih di ruang rias bergosip dengan anak buahnya. Saya mengalunkan kaki yang sejak seminggu lalu dilatih keras oleh koreografer sebab sekali lagi saya bilang bahwa saya bukan model profesional. Bahkan saya sempat menolak baju yang akan dipamerkan untuk saya pakai sebab saya pikir itu tidak sesuai dengan jiwa saya. Jelas bahwa seorang model profesional tidak akan melakukan hal itu. Ada semacam aturan bahwa seorang model profesional tidak boleh menolak pakaian model apapun yang ditawarkan oleh perancang bajunya.

Sempat ada perdebatan sengit antara saya dengan sang perancang baju, teman saya itu, hingga akhirnya dia menyerah dan membebaskan saya memilih baju. Kebetulan saya waktu itu sedang menyukai wilayah musik yang gotik-androgin, saya mencari pakaian model rok terusan dengan dominasi warna hitam dan perak, anehnya saya menemukannya.

Teman saya, perancang baju itu, awalnya tertawa karena baju itu dirancang untuk wanita. “Masa sih loe mau pake baju itu? Dasar orang gila!” katanya.

Tapi saya cuek dan bilang pada dia bahwa ini sesuai dengan jiwa saya. Bahwa laki-laki juga diciptakan untuk menjadi indah seperti wanita.

Pokoknya setelah itu dia males untuk mendebat saya lagi. “Terserah loe deh...!” katanya sambil menggelengkan kepala dan berlalu untuk memberikan instruksi pada model-model yang lain.

Serangan berikutnya muncul dari mister koreografer Ernie (jelas bukan nama sebenarnya, dan bukan pula nama bancinya) yang jelas-jelas lebih menyukai model-model cowok yang macho ketimbang model kurus dan androgin seperti saya. Pandangan benci-bancinya terarah straight ke muka saya ketika saya memakai baju itu.

“Yey tu gila deh bo...itu kan baju banci nek, ntar yey jalannya mau gimana dengan model baju kayak gitu, dasar lekong bencong...” katanya.

Saya malah tertawa. Dan dia makin benci sambil mikir tujuh keliling untuk menemukan koreografi yang tepat untuk saya. Tapi yang pasti akhirnya Ernie menemukannya. Dan saya jelas menolaknya keras-keras.

“Gak, loe pikir gue banci, gaya androgin kayak gini itu lebih tepat kalo jalan gue justru cowok banget. Loe pernah liat Placebo gak kalo manggung. Dasar banci tampil!” kata saya.

Dia jelas kaget saya memarahinya seperti itu. Tapi dia tetap akhirnya melatih saya dengan koreografi yang saya tawarkan. Jadilah saat ini, saat pertunjukan ini dimulai. Saat semua penonton bertepuk tangan bengong melihat penampilan saya.

Setelah pertunjukan selesai, Illana sudah tidak ada di backstage, kata salah seorang BC-nya dia sudah pulang duluan, ada urusan keluarga. Tapi dia menitipkan no ponselnya.

Seminggu setelah itu saya menelponnya, entah kenapa saya begitu lambat hingga memerlukan waktu seminggu untuk menelpon dia, saya lupa.

Pertemuan saya berikutnya dengan Illana adalah setelah saya menelpon dia dan dia ternyata masih mengingat saya. Untunglah! Kami akhirnya berhubungan sex untuk pertama kalinya di pertemuan pertama itu. Di sebuah Hotel Bintang empat di Jalan Dago. Kamar no. 314. Tak akan pernah saya lupakan.

Kami berpisah setelah dua tahun kami menjalani bahtera perkawinan yang segala ritualnya saya buat sendiri, tidak memakai ritual agama manapun, tapi ritual saya sendiri di Hotel itu saat pertemuan pertama kami. Entahlah, tapi sepertinya dia percaya dengan ajaran saya. Tapi dua tahun kemudian dia meminta cerai, dengan alasan dia harus kembali ke realitas. Pekerjaannya menuntut dia untuk tetap berada dalam realitas. Menjadi penata gaya dalam sebuah perusahaan besar menuntut realitas lebih banyak ketimbang romantisme, begitu menurutnya. Tapi menurutku kami bercerai karena dia menggugurkan bayi pertama kami tanpa memberitahu saya, dan hal ini pun baru saya ketahui dua bulan setelah perceraian kami saat sebuah surat undangan dia serahkan pada saya langsung. Undangan pernikahan dia dengan seorang model cover sebuah majalah wanita dewasa.

Saat itu dia meminta saya bertemu di sebuah cafe di Jalan Dago. Dan dia menceritakan semuanya, semua tentang proses pengguguran itu. Saya marah. Dia langsung pergi pada saat kemarahan saya meledak. Dia tidak tahu bahwa setelah itu saya menangis. Saya menangis dan saya mulai mendandani diri saya sendiri, mengimitasi semua gayanya saat dia mendandani saya pertama kali. Benar-benar berdandan. Saya tidak tahu saat itu untuk apa saya berdandan, mengimitasi semua gayanya saat mendandani saya pertama kali, tapi hal itu cukup membuat saya tenang dan mengiris seluruh kenangan dengannya. Itu saja!

Sebab beberapa hari kemudian saya mulai mengencani seorang wanita 35 tahun, stylist sebuah salon di Jalan Dago. Bercinta. Orgasme. Pulang.

Besoknya saya mengencani seorang fashion designer sebuah perusahaan baju di Jalan Dago. Makan malam. Bercinta. Orgasme. Pulang.

Esoknya lagi saya berkencan dengan seorang jurnalis fashion sebuah majalah fashion indie di Jalan Dago. Belanja. Meliput sebuah acara fashion. Makan malam. Tidur di kost-annya. Bercinta sampai kami benar-benar kehabisan tenaga. Tidur nyenyak. Dia membangunkanku dengan sebuah ciuman. Menyatakan sebuah perasaan cinta dengan halus. Saya enyah saat itu juga. Pulang ke rumah. Tidur.

Dua hari kemudian saya berkenalan dengan seorang AE sebuah katalog fashion di dekat jalan Dago. Malamnya langsung 5C. Check In, Crat, Cret, Crot, Check Out.

Dan terus-menerus seperti itu. Entah kenapa tiba-tiba saya jadi sangat terobsesi untuk bercinta dengan para penata gaya, setiap malam, setiap saat, dan mendepak mereka secepat keluarnya sperma dari tabung keheningan saya. Tabung kebencian saya. Tabung kerinduan saya akan seorang anak. Seorang anak yang setiap gayanya selalu ditata oleh kedua orang tuanya. Anak yang digugurkan Illana.

Saya tentu saja datang ke pernikahan Illana. Sebuah gedung di Jalan Dago. Tampak sepi untuk sebuah pernikahan, kursi pelaminan kosong, ada beberapa tamu yang tampaknya juga bingung dan bertanya-tanya seperti saya. Seorang penjaga gedung itu mengatakan bahwa pernikahannya batal. Pengantin wanitanya kabur dengan mobil saat akad nikah akan dimulai.

Beberapa menit kemudian telepon selular saya menjerit dengan nada tangisan bayi.

Halo, Ervin?” suara Illana, menangis.

“Ya?”

“Kamu dimana?”

“Di nyaris pesta pernikahanmu.”

“Temui aku, segera, cafe ohlala, please!”

“Ok, aku segera kesana!”

Setengah berlari, menuju angkot, 15 menit, Illana dengan pakaian lengkap pernikahan adat Sunda, berlapis air mata, make up yang luntur membentuk aliran berwarna hitam di bawah matanya. Totally Sadly Runaway Bride!

Saya memeluknya. Illana menangis tersengguk-sengguk di bahu saya. Tenang...tenang...sayang...! nyaris berbisik di telinganya.

“Ervin, aku masih sangat mencintai kamu! What the fuck dengan segala macam realitas, aku bahagia di sisi kamu! Kamu lah realitas aku.”

Saya mengelu-elus punggungnya, aku tahu...aku tahu...sayang!

“Anak kita, tidak aku gugurkan, aku meminta cerai setelah aku tahu aku mengandung. Aku takut, Ervin, aku takut. Aku takut kalo kamu tidak menginginkan anak itu. Sungguh, aku tidak tahu harus bagaimana waktu itu. Aku sebenarnya tidak ingin membesarkannya sendirian. Tapi aku tidak tahu bagaimana aku harus memberitahumu. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Aku takut kamu tidak mencintai aku lagi. Aku benar-benar bingung. Bingung, Ervin! Aku masih sangat mencintai kamu! Sampai Dion datang dan iba lantas melamarku. Dan aku mau sebab aku tidak tahu bagaimana membesarkan anak sendirian.” Lajur hitam seperti labirin di bawah matanya mengarahkan harus kemana air matanya menetes saat itu. Hanya itu!

Dan setelah itu aku pergi meninggalkannya sendirian, benar-benar meninggalkannya.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help