Para penata gaya, seperti tukang cukur, fashion designer, pekerja salon, beauty consultant dan manikuris adalah sebagian dari sekian banyak orang yang paling memenuhi kategori sebagai manusia-manusia yang dimaksudkan Nietszche dalam ungkapannya tentang “memberikan gaya” pada karakter seseorang adalah sebuah seni agung dan langka. Meski kemudian Nietszche menulis lebih kepada wacana penokohan baik dalam seni peran maupun psikologi manusia.
Perkembangan mode yang begitu pesat jelas telah melahirkan banyak penata gaya dengan beribu terobosan baru, dari mulai make-up yang mendampingi mode pakaian hingga perombakan pada tubuh manusia itu sendiri seperti implantasi yang tidak ditujukan untuk penyembuhan dan kesehatan melainkan hanya untuk fashion belaka, bahkan juga merasuk kedalam wilayah fantasi futuristik, misal: wacana post-human, film The Matrix, dan model-model anime dari Jepang.
Menata gaya adalah sebuah seni yang agung dan langka, ya, seperti yang pernah saya ketahui ketika menatap mata seorang wanita begitu dalam, saya pikir juga itu sebuah seni agung dan langka. Disana ada keindahan, spekulasi, imajinasi dan dosa pertama.
Suatu ketika saya bertemu dengan seorang beauty consultant sebuah merk alat kecantikan dalam sebuah pertunjukan fashion. Saat itu saya diajak oleh seorang teman yang kuliah di Jurusan Tata Busana untuk menjadi model gratisan dalam pertunjukan fashion yang memperagakan karya-karya tugas akhirnya.
Sebuah perusahaan make-up yang cukup terkenal selalu tak mau ketinggalan menjadi sponsor untuk acara-acara seperti ini. Kompensasinya biasanya berupa alat-alat make up dan beberapa perias mereka untuk merias para model. Dan mereka mendapat keuntungan dari promosi berupa pamflet, leaflet dan spanduk yang mencantumkan logo perusahaan mereka di sudut kanan bawah dengan ukuran 4 x 4 cm.
Kali ini mereka mengirimkan 3 orang perias dengan jabatan Beauty Consultant (BC) 2 orang dan Coordinator Beauty Consultant (CoBC) seorang.
Di ruang rias, setelah mengantri dengan puluhan model gratisan lainnya yang tentu saja tidak secantik dan se-pede model-model professional, akhirnya saya mendapat giliran untuk didandani. Ada empat kursi rias didepan meja rias panjang dan sebuah cermin besar di ruang rias gedung pertunjukan tersebut. Satu kursi rias ditangani oleh seorang perias. Saya mendapat kursi yang ditangani CoBC.
Ada beberapa kebiasaan beberapa orang ketika sedang didandani yaitu mengobrol. Saya adalah salah satu dari beberapa orang yang memang sangat suka bicara, bahkan ada seorang teman yang menyangka saya mempunyai sindrom asperger, dan tentu saja mengobrol adalah bagian dari suka bicara itu.
Terus terang, CoBC itu, yang kemudian saya mengenalnya dengan nama Illana (bukan nama sebenarnya), sangat cantik, dan saya berpikir saat itu ia lebih cocok sebagai model ketimbang Penata Rias. Dan tentu saja kecantikannya mengundang saya untuk bertanya dengan serbuan basa-basi yang biasanya berhasil menarik perhatian wanita manapun.
Keindahan : Keindahan itu menyeruak menubruk perutku hingga terasa desakan agak mual di ulu hati. Mata itu, ya mata itu, mata yang sering kali kupandangi setiap sore di ujung musim kemarau. Mata yang menggerakan kepalaku untu selalu mengikuti gerakannya kemanapun dia bergerak di kamar hotel itu malam itu.
Spekulasi : (?)
Imajinasi : (?)
Dosa Pertama : (?)
(isi sendiri alasanmu)
“Sudah punya anak berapa, Mbak?” tanya saya sambil memandang lekat wajahnya yang saat itu hanya berjarak beberapa senti karena dia, dengan sangat detil, sedang mengulaskan kuasnya di kelopak mata saya yang saya minta agar dibuat hitam berkesan gotik.
Dia tertawa dan memandang anak buahnya yang berada di sebelahnya sedang mendandani model-model lainnya. Setelah itu dia menjawab pertanyaan saya dengan mengalihkannya pada anak buahnya, seolah-olah saya tidak ada disana.
“Rien, aku barusan ditanya sudah punya anak berapa? Haha… emang aku kelihatan begitu tua ya?” katanya pada BC yang kemudian kuketahui bernama Vina (juga bukan nama sebenarnya).
“Ya ampun, masa sih, Bu? Aku aja dulu menyangka Ibu umurnya dibawah saya.” Jawab Vina yang wajahnya justru tampak seperti anak kecil.
Saya hanya memandangi mereka yang meneruskan obrolan diseputar wajah mereka. Tampaknya setelah itu saya tidak digubrisnya lagi.
Setelah selesai mendandani saya, wanita itu memanggil model selanjutnya. Lantas sambil lalu saya bertanya padanya dengan nekad. “Boleh saya tanya lagi? Mbak sudah punya anak berapa? Kok saya dicuekin terus?”
Sambil tetap tertawa seperti tadi dia menjawab, “Penting ya untuk saya jawab?”
“Penting sekali, sebab jawaban Mbak akan menentukan apakah saya akan minta nomor telepon Mbak atau tidak.” Jawab saya sambil mendekat lagi padanya. Model cewek yang akan dirias selanjutnya memandangku dengan pandangan males.
“Temui saya setelah pertunjukan disini, sekarang sebaiknya kamu show dulu, entar dimarahin koreografer.” Katanya dengan nada sok misterius. Terus melirik anak buahnya dengan seolah ada kedipan sebelah mata disana.
Saya menyadari, ada begitu banyak hal yang menarik ketika dia mendandani saya, atau kalau boleh kupinjam istilahnya, melukis di atas kanvas muka kamu. Saat ini saya sudah menjadi mantan suaminya, kejadian tadi berlangsung kira-kira dua setengah tahun yang lalu, dan itu adalah sebuah momen yang tidak mungkin saya lupakan. Hal-hal menarik itulah yang kemudian membawa saya terbuai kedalam semua hal yang berkaitan dengan dirinya, profesinya, kepalanya, bentuk tubuhnya, payudaranya, tertawanya dan tentu saja vaginanya yang saya masuki saat kencan pertama kami di sebuah hotel berbintang yang mendadak kami masuki sebab ada sesuatu yang mendesak yang kami enggan untuk mengatakannya satu sama lain, memang begitu kejadian aslinya, ini fakta. Tapi maaf bila saya menyamarkan namanya dan semua orang yang nanti saya akan ceritakan. Sebab ini bukanlah karya jurnalistik, saya tetap akan menyebutnya sebuah karya fiksi yang diangkat dari kejadian nyata, tapi sama sekali bukan adaptasi, detil-detil yang saya sebutkan memang benar-benar ada dan terjadi. Saya juga tidak akan mengatakan ini sebuah cerita pendek, sebab cerita ini akan lebih rumit daripada hanya sekedar cerita pendek yang memiliki pakem-pakem dan aturan-aturan yang ketat, hal ini berlaku terutama untuk cerpen-cerpen koran atau atau beberapa kelas sastra kertas, tentu saja gerakan sastra independent yang membuat media kertas tidak termasuk di dalamnya.
Saat itu, saat didandani saya menemukan sebuah perasaan yang sama sekali baru bagi saya, saya tahu bagaimana rasa cinta, tapi ini lain, mungkin lebih pada rasa kagum dan penasaran yang digabungkan menjadi bentuk obsesi yang sama sekali beda dengan obsesiku ingin tidur dengan Ag*** Mon*** (nama ini juga harus disamarkan karena saya takut tulisan ini suatu saat benar-benar dimuat di media umum dan dibacanya, tahu sendiri kan kecenderungan selebritis, sekalinya ada masalah, langsung main polisi dan pengacara, belum lagi pekerja infotaintment, saya tidak mau menyebut mereka wartawan, karena saya sebagai lulusan Sekolah Jurnalistik sangat tahu seperti apa itu wartawan, dan mereka sama sekali tidak memenuhi kategori sebagai wartawan).
Saya terus saja memandangnya lekat ketika dia bercakap-cakap dengan anak buahnya. Saya memandangi matanya yang tampak profesional memberikan polesan pada seluruh wajah saya, tangannya yang begitu terampil melukis wajah saya, gerak tubuhnya yang menurut saya waktu itu sangat libidinal, seolah ingin diajak tidur malam ini juga, wajahnya yang cantik keibuan, parfumnya yang mungkin adalah jatah dari kantornya. Harum tapi bisu, menurut saya, sebab dia tetap menganggap saya seolah tak ada, seolah benar-benar sebuah kanvas yang tak hidup.
Sesekali dia bersenandung. Dan entah kenapa saya benar-benar tidak bicara setelah pertanyaan tadi, tidak seperti biasanya, saya juga heran. Saya terus membisu sambil terus memandang lekat wajah dan pekerjaannya.
Proses melukis itu kira-kira menghabiskan waktu 10 menit, padahal cowok-cowok yang lain hanya memakan waktu 4-6 menit. Mungkin karena saya meminta agak berbeda, agak lebih dandan ketimbang yang lain.
Ketika pertunjukan fashion dimulai, jelas saya tidak menemukan wajahnya ditengah kerumunan penonton yang bersorak-sorai karena saya pikir dia masih di ruang rias bergosip dengan anak buahnya. Saya mengalunkan kaki yang sejak seminggu lalu dilatih keras oleh koreografer sebab sekali lagi saya bilang bahwa saya bukan model profesional. Bahkan saya sempat menolak baju yang akan dipamerkan untuk saya pakai sebab saya pikir itu tidak sesuai dengan jiwa saya. Jelas bahwa seorang model profesional tidak akan melakukan hal itu. Ada semacam aturan bahwa seorang model profesional tidak boleh menolak pakaian model apapun yang ditawarkan oleh perancang bajunya.
Sempat ada perdebatan sengit antara saya dengan sang perancang baju, teman saya itu, hingga akhirnya dia menyerah dan membebaskan saya memilih baju. Kebetulan saya waktu itu sedang menyukai wilayah musik yang gotik-androgin, saya mencari pakaian model rok terusan dengan dominasi warna hitam dan perak, anehnya saya menemukannya.
Teman saya, perancang baju itu, awalnya tertawa karena baju itu dirancang untuk wanita. “Masa sih loe mau pake baju itu? Dasar orang gila!” katanya.
Tapi saya cuek dan bilang pada dia bahwa ini sesuai dengan jiwa saya. Bahwa laki-laki juga diciptakan untuk menjadi indah seperti wanita.
Pokoknya setelah itu dia males untuk mendebat saya lagi. “Terserah loe deh...!” katanya sambil menggelengkan kepala dan berlalu untuk memberikan instruksi pada model-model yang lain.
Serangan berikutnya muncul dari mister koreografer Ernie (jelas bukan nama sebenarnya, dan bukan pula nama bancinya) yang jelas-jelas lebih menyukai model-model cowok yang macho ketimbang model kurus dan androgin seperti saya. Pandangan benci-bancinya terarah straight ke muka saya ketika saya memakai baju itu.
“Yey tu gila deh bo...itu kan baju banci nek, ntar yey jalannya mau gimana dengan model baju kayak gitu, dasar lekong bencong...” katanya.
Saya malah tertawa. Dan dia makin benci sambil mikir tujuh keliling untuk menemukan koreografi yang tepat untuk saya. Tapi yang pasti akhirnya Ernie menemukannya. Dan saya jelas menolaknya keras-keras.
“Gak, loe pikir gue banci, gaya androgin kayak gini itu lebih tepat kalo jalan gue justru cowok banget. Loe pernah liat Placebo gak kalo manggung. Dasar banci tampil!” kata saya.
Dia jelas kaget saya memarahinya seperti itu. Tapi dia tetap akhirnya melatih saya dengan koreografi yang saya tawarkan. Jadilah saat ini, saat pertunjukan ini dimulai. Saat semua penonton bertepuk tangan bengong melihat penampilan saya.
Setelah pertunjukan selesai, Illana sudah tidak ada di backstage, kata salah seorang BC-nya dia sudah pulang duluan, ada urusan keluarga. Tapi dia menitipkan no ponselnya.
Seminggu setelah itu saya menelponnya, entah kenapa saya begitu lambat hingga memerlukan waktu seminggu untuk menelpon dia, saya lupa.
Pertemuan saya berikutnya dengan Illana adalah setelah saya menelpon dia dan dia ternyata masih mengingat saya. Untunglah! Kami akhirnya berhubungan sex untuk pertama kalinya di pertemuan pertama itu. Di sebuah Hotel Bintang empat di Jalan Dago. Kamar no. 314. Tak akan pernah saya lupakan.
Kami berpisah setelah dua tahun kami menjalani bahtera perkawinan yang segala ritualnya saya buat sendiri, tidak memakai ritual agama manapun, tapi ritual saya sendiri di Hotel itu saat pertemuan pertama kami. Entahlah, tapi sepertinya dia percaya dengan ajaran saya. Tapi dua tahun kemudian dia meminta cerai, dengan alasan dia harus kembali ke realitas. Pekerjaannya menuntut dia untuk tetap berada dalam realitas. Menjadi penata gaya dalam sebuah perusahaan besar menuntut realitas lebih banyak ketimbang romantisme, begitu menurutnya. Tapi menurutku kami bercerai karena dia menggugurkan bayi pertama kami tanpa memberitahu saya, dan hal ini pun baru saya ketahui dua bulan setelah perceraian kami saat sebuah surat undangan dia serahkan pada saya langsung. Undangan pernikahan dia dengan seorang model cover sebuah majalah wanita dewasa.
Saat itu dia meminta saya bertemu di sebuah cafe di Jalan Dago. Dan dia menceritakan semuanya, semua tentang proses pengguguran itu. Saya marah. Dia langsung pergi pada saat kemarahan saya meledak. Dia tidak tahu bahwa setelah itu saya menangis. Saya menangis dan saya mulai mendandani diri saya sendiri, mengimitasi semua gayanya saat dia mendandani saya pertama kali. Benar-benar berdandan. Saya tidak tahu saat itu untuk apa saya berdandan, mengimitasi semua gayanya saat mendandani saya pertama kali, tapi hal itu cukup membuat saya tenang dan mengiris seluruh kenangan dengannya. Itu saja!
Sebab beberapa hari kemudian saya mulai mengencani seorang wanita 35 tahun, stylist sebuah salon di Jalan Dago. Bercinta. Orgasme. Pulang.
Besoknya saya mengencani seorang fashion designer sebuah perusahaan baju di Jalan Dago. Makan malam. Bercinta. Orgasme. Pulang.
Esoknya lagi saya berkencan dengan seorang jurnalis fashion sebuah majalah fashion indie di Jalan Dago. Belanja. Meliput sebuah acara fashion. Makan malam. Tidur di kost-annya. Bercinta sampai kami benar-benar kehabisan tenaga. Tidur nyenyak. Dia membangunkanku dengan sebuah ciuman. Menyatakan sebuah perasaan cinta dengan halus. Saya enyah saat itu juga. Pulang ke rumah. Tidur.
Dua hari kemudian saya berkenalan dengan seorang AE sebuah katalog fashion di dekat jalan Dago. Malamnya langsung 5C. Check In, Crat, Cret, Crot, Check Out.
Dan terus-menerus seperti itu. Entah kenapa tiba-tiba saya jadi sangat terobsesi untuk bercinta dengan para penata gaya, setiap malam, setiap saat, dan mendepak mereka secepat keluarnya sperma dari tabung keheningan saya. Tabung kebencian saya. Tabung kerinduan saya akan seorang anak. Seorang anak yang setiap gayanya selalu ditata oleh kedua orang tuanya. Anak yang digugurkan Illana.
Saya tentu saja datang ke pernikahan Illana. Sebuah gedung di Jalan Dago. Tampak sepi untuk sebuah pernikahan, kursi pelaminan kosong, ada beberapa tamu yang tampaknya juga bingung dan bertanya-tanya seperti saya. Seorang penjaga gedung itu mengatakan bahwa pernikahannya batal. Pengantin wanitanya kabur dengan mobil saat akad nikah akan dimulai.
Beberapa menit kemudian telepon selular saya menjerit dengan nada tangisan bayi.
“Halo, Ervin?” suara Illana, menangis.
“Ya?”
“Kamu dimana?”
“Di nyaris pesta pernikahanmu.”
“Temui aku, segera, cafe ohlala, please!”
“Ok, aku segera kesana!”
Setengah berlari, menuju angkot, 15 menit, Illana dengan pakaian lengkap pernikahan adat Sunda, berlapis air mata, make up yang luntur membentuk aliran berwarna hitam di bawah matanya. Totally Sadly Runaway Bride!
Saya memeluknya. Illana menangis tersengguk-sengguk di bahu saya. Tenang...tenang...sayang...! nyaris berbisik di telinganya.
“Ervin, aku masih sangat mencintai kamu! What the fuck dengan segala macam realitas, aku bahagia di sisi kamu! Kamu lah realitas aku.”
Saya mengelu-elus punggungnya, aku tahu...aku tahu...sayang!
“Anak kita, tidak aku gugurkan, aku meminta cerai setelah aku tahu aku mengandung. Aku takut, Ervin, aku takut. Aku takut kalo kamu tidak menginginkan anak itu. Sungguh, aku tidak tahu harus bagaimana waktu itu. Aku sebenarnya tidak ingin membesarkannya sendirian. Tapi aku tidak tahu bagaimana aku harus memberitahumu. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Aku takut kamu tidak mencintai aku lagi. Aku benar-benar bingung. Bingung, Ervin! Aku masih sangat mencintai kamu! Sampai Dion datang dan iba lantas melamarku. Dan aku mau sebab aku tidak tahu bagaimana membesarkan anak sendirian.” Lajur hitam seperti labirin di bawah matanya mengarahkan harus kemana air matanya menetes saat itu. Hanya itu!
Dan setelah itu aku pergi meninggalkannya sendirian, benar-benar meninggalkannya.