Di sebuah panggung pertunjukan, minggu lalu, aku melihat ribuan sabda sinis dimubadzirkan begitu rupa, terbuang, berserakan bersama hantu-hantu diiringi ribuan distorsi dan wanita yang mengantarkan sekepal rayuan yang membuai.
Tapi dalam kenyataannya aku-lah yang mengantarkan sekepal rayuan padanya. Kuhentikan semua sabda sinis itu, fade out. Kubunuh hantu-hantu itu, fade to black. Tapi distorsinya kutambah menjadi h + 1, memperkuat frekuensinya, pekak. Lantas aku berdiri di atas panggung pertunjukan itu mengantarkan bahkan sejuta rayuan untuknya, hanya untuk dia, wanita itu. Wanita yang kukagumi sejuta kali lebih besar ketimbang Marie Antoinette. Ah…
Awalnya aku melihat dia tanpa busana, menyeringai, mengantarkan lelehan lendir panas yang keluar dari sudut langit-langit benaknya, lelehan lendir panas yang kemudian merasuki seluruh penciumanku. Semakin lama pakaiannya semakin utuh, memenuhi seluruh ruang galeri tempat kepribadiannya dipamerkan menjadi sebentuk pameran seni rupa kontemporer. Terus menumpuk, membesar seperti tiba-tiba akan meledak, dan merubuhkan gedung itu dengan tangisan ribuan bayi yang menyembur dari rahim di langit-langit benaknya.
Dalam setiap pembukaan pameran seni rupa di galeri-galeri yang sering kukunjungi, seringkali terjadi sebuah komunikasi imajiner antara aku dengan dia, wanita itu. Seperti saat ini, ada pesan personal yang ingin disampaikannya padaku, teramat intim bahkan. Meski suasana di gedung pertunjukan ini teramat sepi, tak ada satupun orang yang mendengar bisikan personal yang ingin disampaikannya padaku. Dia benar-benar berhati-hati agar hanya aku yang mendengarnya.
“Merayu adalah hipnotisme yang dilakukan dengan kesadaran penuh dan menciptakan sebuah kesadaran yang penuh pula. Dan merayumu seperti menghipnotis seorang kaya lantas aku mengambil semua kekayaannya, bedanya kau akan ikhlas menyerahkan bibirmu untuk kuciumi dengan teori bernama “Lolly Pop” yang baru saja kubuat sebelum menciumimu.”
“Kau sedang merayuku?” tanyaku dalam hati padanya.
“Tidak kau yang sedang merayuku, kau menghipnotisku hingga tubuhku seperti seolah mengantarkan sejatu rayuan padamu.” Jawabnya sambil mengibaskan beberapa pakaian yang menyembur dari tubuhnya.
“Maaf, aku tidak sadar.” Kataku, masih dalam hati.
“Kau tahu, ada sebuah teori, aku menyebutnya teori lolly pop. Bunyinya begini: Dua orang yang saling mencintai adalah seperti anak-anak kecil yang melihat anak-anak kecil lainnya memakan lolly pop, dan mereka ingin saling mencoba rasa lolly pop yang ada di tangan anak kecil lainnya. Sebab lolly pop orang lain akan tampak lebih nikmat ketimbang lolly pop nya sendiri.”
“Kau yang menciptakan teori itu?” tanyaku.
“Tidak, aku mendengarnya dari seorang teman.”
Setelah itu dia disibukan oleh alur pertunjukannya yang mengharuskan dia membuka lembar terakhir dari pakaiannya. Suasana tiba-tiba semakin hening dan penuh dengan nafas tertahan. Keheningan yang mecurigakan. Semua penonton berharap dia benar-benar membuka seluruh pakaiannya. Kecuali aku sebab aku sudah melihat ketelanjangannya dari tadi, semenjak dia meneriakan kata-kata yang kujadikan judul fiksi ini.
Lucu…sebab bibirnya tampak lebih indah dalam benakku ketimbang bibir yang selama ini pernah kujilati di tubuh wanita-wanita lain. Aku ingin menjilatinya, dengan bibirku tentu.
Aku selalu gak habis pikir ketika dia bilang dirinya masih perawan. Bukankah sudah ribuan kali dirinya kuperawani melalui komunikasi imajiner yang selama ini kujalin dengannya. Pengertian perawan dalam kepalaku mungkin terlalu absurd untuknya.
Suatu ketika ketika dalam sebuah pembukaan pameran lukisan, wanita itu datang agak terlambat, memakai gaun terusan yang sudah entah keseberapakalinya dipertunjukan dalam panggung-panggung fashion show di kepalanya, begitu anggun dengan polesan makeup sederhana tetapi mahal yang cukup untuk membuat dirinya disebut sebagai suatu kecantikan yang alami, seperti baru dipetik langsung dari pohonnya, segar, ranum dan bergairah.
Seperti dulu, kecerdasan tubuh adalah bagian penting dari wanita ini.
Hal yang pertama kulihat darinya adalah bekas luka sepanjang 10 cm di betisnya, sexy, begitu kataku saat pertama kali bertemu dengannya. Setelah itu kita berkenalan. Dia asalnya enggan menyodorkan tangannya, ragu, hingga akhirnya dengan terpaksa dia menyodorkan tangannya juga padaku setelah 15 menit aku menunggunya. Puas? Katanya setelah itu. Aku hanya terdiam, memandang mata judesnya lekat-lekat. Rese’ banget sih loe! Katanya lagi. Cukup! Aku enyah dari hadapannya dengan perasaan benci. Padahal sebenarnya aku tidak mungkin dan tidak akan pernah membencinya.
Sial! Hari ini dan hari-hari selanjutnya dia tidak akan pernah datang lagi ke galeri ini selama dia yakin bahwa aku akan datang. Aku memang selalu datang dengan harapan bisa bertemu lagi dengannya. Wanita dengan bekas luka memanjang 10 cm di betis kanannya. Saat itu aku tidak tahu dan tidak sempat menanyakan padanya darimana dia mendapatkan luka itu. Sebuah bekas luka yang suatu saat akan sangat mengubah drastis hidupku dan tentu saja dirinya. Ya, kita dipersatukan oleh bekas luka itu.
Beberapa bulan kemudian, kami berpisah dengan amat sederhana. Hanya sebuah SMS darinya yang mengatakan bahwa dia ingin mengakhiri hubungan denganku. Aku membalasnya dengan dua huruf “OK” sama sekali tanpa tanda baca. Dia tidak pernah membalasnya lagi.
Setiap bulan purnama aku memandangi wajahnya yang tercermin dalam terangnya cahaya bulan. Aku tidak pernah merasa kehilangan dirinya, sebab mungkin dia memang tidak pernah benar-benar hadir dalam hidupku. Itu saja!