Catatan Pendongeng Keliling

ervin's posts with tag: narasi post-libido

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag narasi post-libido
Blog EntryWanita C.Dec 22, '07 11:54 AM
for everyone

dia terkadang mengenalkan dirinya sebagai putri dari seorang kaya yang pernah hidup ribuan tahun lalu dan suka memandangi sebuah repro lukisan Salvador Dalli.

dia adalah penganut faham feminisme.

dia suka sekali dengan rasa dedak kopi yang akan menghambat kerongkongannya dari makanan-makanan lain yang akan masuk.

saat terbaiknya adalah seminggu sebelum masa menstruasi. saat itulah, sama seperti wanita lainnya, adalah saat-saat paling emosional. perbedaannya adalah saat emosional lah saat tubuhnya benar-benar berada pada titik paling sexy.

ok, saat itulah dia mulai bangga dalam dirinya ketika dia diperebutkan oleh beberapa lelaki, bukankah itu yang dimimpikan oleh banyak wanita?

salah satu lelaki yang berkelahi demi dirinya adalah aku. meskipun saat itu aku berkelahi bukan karena dia tapi karena kelelakianku yang berpikir bahwa harga diri lebih penting dari segalanya. masa aku harus kalah oleh lelaki yang lain itu!!!

Hingga akhirnya aku tidak pernah memenangkannya. Meski dia seringkali meng-SMSku dengan ucapan I miss u... aku tidak pernah membalasnya, awalnya karena aku gak punya pulsa, tapi lama-lama meski aku punya pulsa, aku tak pernah ingin membalas ucapan I miss u... itu, meski sebenarnya aku merasakan hal yang sama dengannya. Tapi seorang FEMINIS?!?! please deh...

 


Blog EntryWanita B.Dec 22, '07 11:49 AM
for everyone

aku, begitu selalu aku menyebutkan panggilanku pada orang kedua yang sudah dua tahun menemaniku dalam setiap jenuh ataupun padam, sebenarnya aku sudah muak dengan senyum panjangnya yang menggeliat seperti tawa Suzanna saat memerankan sundel bolong beberapa dekade yang lalu. senyum panjangnya itu seringkali mengantarkan aku pada sebuah mimpi buruk diatas kuburan tua dan dikelilingi puluhan hantu-hantu berkerudung berwajah suzanna. aku memang sangat takut dengan wajah suzanna atau sejenisnya dari sejak dulu saat jadi sundel bolong ataupun bukan. bahkan dengan photonya yang sedang memakai baju pengantin dengan seorang pemuda yang jauh lebih muda darinya bernama cliff sangra, aku tetap ketakutan. untunglah wajah orang kedua yang kusebutkan tadi tidak seperti suzanna. orang kedua ini seorang perempuan muda berumur satu tahun dibawahku, seorang sarjana dan sangat kucintai pada awalnya. dia juga salah satu perempuan yang menginterupsi masturbasi sepiku dikamar mandi yang sudah bertahun-tahun menjadi ritual pembebasan sperma ku menuju got busuk di bawah kamar mandiku. dia datang dengan membawa hidangan segumpal vagina yang masih mengepul dan pencuci mulut berupa ciuman panas yang dituangkan dalam sebuah gelas kristal besar warisan dari neneknya. neneknya konon adalah salah satu perempuan madura yang masih mengingat dengan jelas resep-resep ramuan rahasia turun-temurun dari leluhurnya. ramuan-ramuan inilah yang kemudian sangat terkenal di dunia bahkan seorang sutradara film biru dari perusahaan vivid membeli resep ini dari salah satu keluarganya seharga ribuan dolar. perempuan yang kusebut orang kedua ini sangat kuyakini sudah mewarisi setengah ilmu dari neneknya. sebab katanya setengahnya lagi dicuri oleh seorang perempuan jawa yang kemudian membuka sebuah aquarium gairah di pinggiran sebuah kota di pesisir utara.

tidak hanya menginterupsi, perempuan yang kusebut orang kedua ini kemudian malah menetap permanen di ujung penisku setiap kali aku meluangkan waktu untuk memikirkan teknik masturbasi yang baru. seperti misalnya ketika aku sedang mengembangkan teknik yang kusebut "mencabut jantung ditengah galau". teknik ini sangat memanfaatkan gesekan tangan dan gerakan pantat. tanganmu kau simpan diatas pinggiran kamar mandi dengan dilumuri sabun cussons cair berwarna hijau. kau tak usah menggerakan tanganmu. cukup mengepal dan merangkum penismu lalu kau turunkan sedikit kakimu dan lantas gerakan pantat mu kedepan dan kebelakang sambil menyanyikan lagu paling merangsang yang kau ingat. sebaiknya kau membayangkan seorang perempuan selebritis yang memiliki pantat dan payudara yang besar. saat itu dia tiba-tiba datang dan mengagumi kesendirianku dengan caranya, awalnya dia hanya membuka bajunya, tapi lama-lama aku aku melihatnya telanjang dan menggosok-gosok vaginanya dengan tempat sabun kecil berujung halus berwarna hijau. singkat kata kita orgasme pada waktu yang bersamaan. saat itulah aku mendengar tawa yang menakutkan meluncur dari bibirnya. ngeri! tapi saat itu juga aku menganggapnya seksi. sejak saat itulah dia menetap permanen di kepalaku.   

 


Blog EntryWanita A.Dec 22, '07 11:37 AM
for everyone

Di sebuah panggung pertunjukan, minggu lalu, aku melihat ribuan sabda sinis dimubadzirkan begitu rupa, terbuang, berserakan bersama hantu-hantu diiringi ribuan distorsi dan wanita yang mengantarkan sekepal rayuan yang membuai.

 

Tapi dalam kenyataannya aku-lah yang mengantarkan sekepal rayuan padanya. Kuhentikan semua sabda sinis itu, fade out. Kubunuh hantu-hantu itu, fade to black. Tapi distorsinya kutambah menjadi h + 1, memperkuat frekuensinya, pekak. Lantas aku berdiri di atas panggung pertunjukan itu mengantarkan bahkan sejuta rayuan untuknya, hanya untuk dia, wanita itu. Wanita yang kukagumi sejuta kali lebih besar ketimbang Marie Antoinette. Ah…

Awalnya aku melihat dia tanpa busana, menyeringai, mengantarkan lelehan lendir panas yang keluar dari sudut langit-langit benaknya, lelehan lendir panas yang kemudian merasuki seluruh penciumanku. Semakin lama pakaiannya semakin utuh, memenuhi seluruh ruang galeri tempat kepribadiannya dipamerkan menjadi sebentuk pameran seni rupa kontemporer. Terus menumpuk, membesar seperti tiba-tiba akan meledak, dan merubuhkan gedung itu dengan tangisan ribuan bayi yang menyembur dari rahim di langit-langit benaknya.

Dalam setiap pembukaan pameran seni rupa di galeri-galeri yang sering kukunjungi, seringkali terjadi sebuah komunikasi imajiner antara aku dengan dia, wanita itu. Seperti saat ini, ada pesan personal yang ingin disampaikannya padaku, teramat intim bahkan. Meski suasana di gedung pertunjukan ini teramat sepi, tak ada satupun orang yang mendengar bisikan personal yang ingin disampaikannya padaku. Dia benar-benar berhati-hati agar hanya aku yang mendengarnya.

          Merayu adalah hipnotisme yang dilakukan dengan kesadaran penuh dan menciptakan sebuah kesadaran yang penuh pula. Dan merayumu seperti menghipnotis seorang kaya lantas aku mengambil semua kekayaannya, bedanya kau akan ikhlas menyerahkan bibirmu untuk kuciumi dengan teori bernama “Lolly Pop” yang baru saja kubuat sebelum menciumimu.”

“Kau sedang merayuku?” tanyaku dalam hati padanya.

“Tidak kau yang sedang merayuku, kau menghipnotisku hingga tubuhku seperti seolah mengantarkan sejatu rayuan padamu.” Jawabnya sambil mengibaskan beberapa pakaian yang menyembur dari tubuhnya.

“Maaf, aku tidak sadar.” Kataku, masih dalam hati.

“Kau tahu, ada sebuah teori, aku menyebutnya teori lolly pop. Bunyinya begini: Dua orang yang saling mencintai adalah seperti anak-anak kecil yang melihat anak-anak kecil lainnya memakan lolly pop, dan mereka ingin saling mencoba rasa lolly pop yang ada di tangan anak kecil lainnya. Sebab lolly pop orang lain akan tampak lebih nikmat ketimbang lolly pop nya sendiri.”

“Kau yang menciptakan teori itu?” tanyaku.

“Tidak, aku mendengarnya dari seorang teman.”

Setelah itu dia disibukan oleh alur pertunjukannya yang mengharuskan dia membuka lembar terakhir dari pakaiannya. Suasana tiba-tiba semakin hening dan penuh dengan nafas tertahan. Keheningan yang mecurigakan. Semua penonton berharap dia benar-benar membuka seluruh pakaiannya. Kecuali aku sebab aku sudah melihat ketelanjangannya dari tadi, semenjak dia meneriakan kata-kata yang kujadikan judul fiksi ini.

Lucu…sebab bibirnya tampak lebih indah dalam benakku ketimbang bibir yang selama ini pernah kujilati di tubuh wanita-wanita lain. Aku ingin menjilatinya, dengan bibirku tentu.

Aku selalu gak habis pikir ketika dia bilang dirinya masih perawan. Bukankah sudah ribuan kali dirinya kuperawani melalui komunikasi imajiner yang selama ini kujalin dengannya. Pengertian perawan dalam kepalaku mungkin terlalu absurd untuknya.

Suatu ketika ketika dalam sebuah pembukaan pameran lukisan, wanita itu datang agak terlambat, memakai gaun terusan yang sudah entah keseberapakalinya dipertunjukan dalam panggung-panggung fashion show di kepalanya, begitu anggun dengan polesan makeup sederhana tetapi mahal yang cukup untuk membuat dirinya disebut sebagai suatu kecantikan yang alami, seperti baru dipetik langsung dari pohonnya, segar, ranum dan bergairah.

Seperti dulu, kecerdasan tubuh adalah bagian penting dari wanita ini.

Hal yang pertama kulihat darinya adalah bekas luka sepanjang 10 cm di betisnya, sexy, begitu kataku saat pertama kali bertemu dengannya. Setelah itu kita berkenalan. Dia asalnya enggan menyodorkan tangannya, ragu, hingga akhirnya dengan terpaksa dia menyodorkan tangannya juga padaku setelah 15 menit aku menunggunya. Puas? Katanya setelah itu. Aku hanya terdiam, memandang mata judesnya lekat-lekat. Rese’ banget sih loe! Katanya lagi. Cukup! Aku enyah dari hadapannya dengan perasaan benci. Padahal sebenarnya aku tidak mungkin dan tidak akan pernah membencinya.

Sial! Hari ini dan hari-hari selanjutnya dia tidak akan pernah datang lagi ke galeri ini selama dia yakin bahwa aku akan datang. Aku memang selalu datang dengan harapan bisa bertemu lagi dengannya. Wanita dengan bekas luka memanjang 10 cm di betis kanannya. Saat itu aku tidak tahu dan tidak sempat menanyakan padanya darimana dia mendapatkan luka itu. Sebuah bekas luka yang suatu saat akan sangat mengubah drastis hidupku dan tentu saja dirinya. Ya, kita dipersatukan oleh bekas luka itu.

Beberapa bulan kemudian, kami berpisah dengan amat sederhana. Hanya sebuah SMS darinya yang mengatakan bahwa dia ingin mengakhiri hubungan denganku. Aku membalasnya dengan dua huruf “OK” sama sekali tanpa tanda baca. Dia tidak pernah membalasnya lagi.

Setiap bulan purnama aku memandangi wajahnya yang tercermin dalam terangnya cahaya bulan. Aku tidak pernah merasa kehilangan dirinya, sebab mungkin dia memang tidak pernah benar-benar hadir dalam hidupku. Itu saja!


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help