Chapter X
Sebuah Mata Dari Alam Semesta
Kurasa baru kali ini mengatakan bahwa aku masih hidup. Berawal dari kokok ayam jantan yang terdengar aneh di sore hari. Suara mobil dan klakson meraung-raung ditimpa suara-suara burung yang mengaum. Aku sebenarnya tak mengindahkan itu semua. Pikiranku hanya tertuju pada sebuah nama: Kelam!
Kelam dari sebuah kemampatan berpikir, akankah kulanjutkan hidup ini? Ya, harus kulanjutkan sebab tiada hidup yang pernah kujalani selain derita... derita... derita...
Atau itu mungkin hanyalah sebuah pengalihan perhatian dari ketidak mampuanku menghadapi hidup yang sebenarnya..., aku tidak menderita!
Kelam ini kupelihara seperti jamur yang menyerang kulit coklat terbakar panas matahari. menutupi seluruh gelap hidupku. Ya..., aku tidak mengenal hidup seperti halnya aku tidak tahu sama sekali tentang mati, semuanya kelam!
Kelam dalam kenyataan sekarang adalah tidak adanya bintang atau bulan sebab masih sore. Tiada matahari sebab awan-awan gelap menyelubungi sore dan hanya lampu-lampu jalan yang meremang menjadi sedikit penerang. Kulihat jam tanganku, 16.30.
Kelam ini kuhadiahkan pada Tuhan sebagai persembahan tambahan dari persembahan-persembahanku sebelumnya. Aku mengalah pada Tuhan dalam hal ini. Tapi benar-benar kelam, kelam sekali!
Ibuku seorang gila yang katanya diperkosa 5 orang anak-anak berandal yang sedang mabuk. Katanya lagi, ibuku menikmatinya! Berarti ayahku 5 orang. Kedengarannya lucu memang tapi padahal memang sangat lucu! Aku dibesarkan di rumah sakit jiwa hingga berumur 5 tahun. Karena susu ibu adalah segalanya dan ibuku, meskipun gila, masih sanggup memelihara seorang anak seperti naluri singa betina yang ingin memelihara dan melindungi anaknya.
Kami dipisahkan dengan paksa, dengan air mata hingga menyebakan ibuku bertambah gila, mengamuk, mencederai 5 orang perawat dan lalu ibuku bunuh diri.
Saat itu aku menganggapnya sebagai sebuah film kartun yang nyata.
Aku tertawa!
Selebihnya aku hidup dalam sebuah panti asuhan yang sudah tak sanggup lagi mengurus kenakalanku.
Pada umur 6 tahun, sebuah keluarga kaya mengadopsiku dengan alasan aku anak lelaki yang sangat tampan dan lucu. Meski mereka mempunyai anak, tapi perempuan semua. Meski mereka masih sanggup membuat anak-anak baru, tapi mereka tetap mengadopsiku dengan alasan sama, aku anak lelaki tampan!
Ya..., tampan, bahkan sangat tampan untuk menjadi seorang gigolo.
Ayah angkatku pergi kerja tiap pagi sekali dan pulang seminggu kemudian, malam sekali. Saudara angkatku wanita semua dan yang lahir kemudianpun wanita juga.
Ibu angkatku memperkosaku setiap malam semenjak aku menginjak remaja. Hingga aku sadar bahwa alasan satu-satunya adalah kemaluanku cukup besar untuk ukuran orang sini. Saudara angkatku secara bergiliran mengikuti kelakuan ibunya. Hingga aku ketagihan dan kuperkosa adik angkatku yang sedang beranjak remaja.
Cukup!
Aku seorang biseksual. Ayah angkatku sudah mengajariku sejak dulu, dia seorang pengidap pedophilia.
Sekarang kelam menyeruak dalam benakku.
Tapi lengkap sudah, ayahku enam; lima pemabuk dan pemerkosa, satu pengidap penyakit aneh.
Ibuku dua; satu seorang gila, karena perceraian dan bunuh diri dengan alasan Singa Betina!
satu seorang maniak seks.
Saudaraku banyak; orang-orang gila, pemabuk, maniak seks dan anak dari ibuku yang pertama sebelum gila; seorang wanita yang sekarang serumah denganku, bermain seks denganku dan dia juga seorang pelacur.
Aku sekarang sudah beranjak dewasa. Beberapa tahun yang lalu aku diusir ayah angkatku sebab ketahuan sedang bercinta dengan istrinya.
Aku bertemu kakak kandungku. Sebelumnya kami berpacaran dan bercinta setiap hari. Hingga beberapa hari yang lalu seseorang mengatakan bahwa kami mempunyai wajah yang mirip. Orang itu yang memberitahu kami bahwa kami kakak beradik. Orang itu adalah ayahnya. Bukan ayahku sebab ayahku lima sedang ayahnya satu, tapi ibu kami sama.
Keringanan kakiku melangkah seiring loncatnya keanggunan seekor keringat malam yang mengandung peradaban. Terkenang bagaikan kicau jalak-jalak yang terapung memecah liuk gelombang samudera.
Ha...ha...ha...
*
Para perawat bukan tanpa alasan memanggilnya Si Pembawa Sial, sebab memang anak itu selalu membawa sial sejak lahir. Namanya Niskala. Cukup dipanggil Nis, maka dia akan menangis, merengek atau mengamuk seperti ibunya yang dirawat di rumah sakit jiwa itu. Anak itu memang disahkan untuk dipelihara ibunya sebab dia masih membutuhkan ASI. Dan ibunya menunjukan bahwa dia tergolong cukup sadar untuk mengasuh anaknya, meski terkadang dia mengamuk, bukan pada anaknya tetapi pada orang yang mengganggu anaknya.
Suatu hari di dunia lain bertahun-tahun kemudian, selepas dari toilet kampus, buang air besar. Dia pergi ke mal yang tak jauh dari kampusnya untuk membeli popcorn. Dia menganggap popcorn adalah sebuah keajaiban, revolusi, meledak-ledak. Lebih ajaib lagi dia melihat seorang gadis cantik yang menatap ke arahnya.
Niskala menyodorkan tangannya.
“Namaku Niskala!” katanya
“If...!” sang gadis menimpali.
“If…, andai?”
“Yup!”
“Nama yang lucu! Misterius!”
“Terimakasih!”
“Aku suka revolusi, apalagi yang terjadi dalam hidupku pribadi.” kata Niskala sambil menawari If popcorn.
“Oh, ya? Tapi salah kalau hidupmu terus berevolusi. Harus selalu terus kembali ke awal.” If berkata sambil tersenyum dan menolak tawaran Niskala.
“Tidak harus! Sebab tidak ada hidup baru, masa lalu dan mendatang. Semuanya adalah bagian dari hidup yang tak bisa dipisah-pisahkan.”
“Itu benar, tapi...”
Mereka terus berbincang-bincang sambil jalan. Jalan raya semakin bising. Langit sore semakin redup. Mereka mencoba menyesuaikan energi metafisis mereka satu sama lain.
Hingga berada dalam sebuah ruangan. Tangan menggapai-gapai, desah membadai…
"Kau tahu, If! Aku sedang mencari seorang wanita untuk jadi manajer band yang baru kubentuk."
"Oh, ya? Harus seorang wanita?"
"Ya, harus seorang wanita. Gitarisku ngotot seperti itu. Dia juga berkata wanita itu harus benar-benar seorang manajer. Kau kuliah di management bukan?"
"Iya. Tapi, sebentar, gitarismu laki-laki?"
"Hahaha… jenis kelamin hanyalah masalah administratif buat kami. Tapi memang secara administratif dia laki-laki, sepertiku. Kau sudah buktikan bukan, kalau aku laki-laki."
"Hihihi… Siapa namanya, jangan-jangan sangat historis juga seperti namamu."
"Yup, sangat legendaris, namanya Karna."
"Wah… Pasti pendengarannya sangat bagus, lahir dari telinga kan! feelingnya pasti keren…"
"Memang! Aku mengenalnya di sebuah pertunjukan musik. Dan kita seolah-olah seperti sudah kenal ribuan tahun. Kita langsung akrab dan saling merasa cocok. Akhirnya kita bikin band ini. Aku jadi vokalis sekaligus megang laptop untuk program-program musik. Dia benar-benar anak Dewa Surya!"
"Anak Dewa Surya?"
"Yup, menjadi penerang saat matahari nggak ada, saat malam atau mendung. Pengganti saat ayahnya tertidur. Ronda. Ha... ha... ha...!"
"Jadi aliran kalian…"
"Skizoprenik, absurd, entah, musik kita sangat aneh. Dan mungkin terlalu aneh untuk didengar manusia. Itulah makanya kita berdua memberi nama SID, singkatan dari Samantha Impossible Dream."
"Kenapa Samantha?"
Niskala terdiam… memandangi wajah If, langsung ke matanya dengan gairah itu, gairah yang sudah lama menumpuk menghunjam di setiap milimeter kubik jantungnya.
Suatu ketika If bertanya kepada Niskala,
“Kalau kau disuruh memilih diantara 3 hal, mana yang akan kau pilih?
Cinta sebagai kata kerja, cinta sebagai kata benda, atau cinta sebagai kata sifat?”
Niskala merenung sebentar sambil memandangi mata If,
“Mmh…, kalau kata kerja?”
“Kalau kau memilih kata kerja,” kata If bersemangat, “maka kau memilih dicintai atau mencintai?”
“Mmh…, pilihan yang sulit!”
“Memang!” kata If puas.
“Kalau kata benda?”
“Kau akan menjadikan cinta itu objek atau subjek?” Kata If cepat, seolah sudah diformat sebelumnya.
“Objek atau subjek? Mmh…, aku tak tahu! Pilihan yang juga sulit!”
“Ha…ha…ha…, ternyata kau tidak seberani yang kupikir!”
“Jadi aku harus memilh kata sifat?”
“Ya,” kata If tegas, “itu yang seharusnya kau pilih! Sebab cinta adalah adalah sifat. Seperti aku mengatakan ‘kau sangat tinggi, kau cukup tampan’ yang dalam hal ini ‘kau sangat cinta’ atau ‘kau cukup cinta’.”
“Oh…, kalau begitu aku tidak memilih ketiga-tiganya.”
“Lho…, kenapa?” kata If kaget.
“Sebab aku tidak memandang cinta hanya sebagai kata-kata!” jawab Niskala dengan aksen tengilnya.
Guprak!
If langsung speechless. Niskala cabut sambil ngakak dengan mata jailnya yang dominan.
Kau bisa bayangkan dengan visualisasi komik Jepang. Dimana setelah Niskala mengatakan itu kita hanya melihat If tinggal kakinya saja, mencuat, terjungkal. Hi…hi…hi…
*
Saya mengenalnya ketika dia membeli popcorn di mal. Saya lewat di depannya, dia langsung menyodorkan tangannya, “Namaku Niskala!”
Begitulah!
Saya adalah keindahan yang terbunuh oleh takdir, begitulah saya membesarkan diri.
Saya adalah takdir yang indah, begitulah saya membesarkan hati.
Hingga persahabatan dengannya terputus dengan tiba-tiba. Dia menghilang, tak ada kabar lagi. Kami selalu berbicara berjam-jam. Berbicara segala macam hal, dan dia seolah tak pernah kehabisan bahan untuk dibicarakan. Selalu saja ada hal baru yang dia ungkap untuk dibahas. Selain seorang penyanyi dia juga seorang penulis dan dia cerdas, sangat cerdas untuk ukuran orang seusianya.
Saya menerima surat berikut ini 2 hari sebelum dia menghilang;
Bandung, 7 Mei 2000
Untuk sebuah harapan: If (yang secara fonetik hampir mirip dengan nama wanita pertama, Eve. Dan secara kasar oleh orang Indonesia diganti menjadi Eva. Berkaitan dengan hal itu maka aku akan mendefinisikan namamu dengan; Nama pertama untuk semua wanita. Wanita juga berarti harapan, If-ku!)
Nama lelaki pertama, Adam, adalah nama yang yang diberikan Tuhan yang diambil dari sifat mustahil (lawan dari sifat) –Nya yang pertama (Wujud (Ada)). Maka Adam (tak ada) adalah ketiadaan (Nihil). Nama pertama untuk semua lelaki adalah Adam yang berarti nihil (Nothing). Jika kau If (Harapan) maka (karena aku lelaki) aku adalah Nothing (Ketiadaan). Yang berarti keduanya (If ataupun Nothing) sama-sama tidak pernah ada (Nihil). Kita berdua, harapan dan ketiadaan, adalah tak-ada. Kita berdua hanyalah refleksi. Refleksi Tuhan atau (…mungkinkah kita berdua hanyalah) imajinasi Tuhan?
Namaku hampir mirip dengan nama semua lelaki itu. Niskala artinya Ghaib (tak terlihat (invisible)). Ke-takterlihat-an menurutku nyaris tak ada (Adam). Maka aku sebenarnya nyaris Adam (almost Adam). Dan kaupun berarti (karena namamu secara fonetik mirip dengan nama wanita pertama) nyaris Eva (almost Eve).
Hanya dalam titik ini namaku diambil dari salah satu nama Tuhan, Al-Ghaib. Yang dalam bahasa Sanskrit adalah Niskala (tak kasat mata (invisible)). Dan namamu dalam titik ini kuartikan sebagai nama wanita pertama untuk semua wanita, dan bukannya andai (harapan).
Jadi titik hubungan kita sekarang adalah titik persinggungan antara ke-takkasatmata-an (Al-Ghaib) dengan nama pertama (prima) dari semua wanita.
Ke-Ghaib-an (Tuhan Yang Maha Ghaib) adalah penyebab segala sesuatu (causa prima) yang menciptakan manusia pertama (prima) baik wanita maupun lelaki.
Titik persinggungan yang kumaksud ini berarti ada dalam kata prima, kata yang juga bisa kuartikan menjadi kemurnian (purity).
Titik kemurnian (purity) inilah yang menjelaskan posisi kita berdua dalam struktur semesta. Dan pada akhirnya kemurnian (purity) yang sudah menjadi sifat hubungan kita ini yang menyebabkan semesta tak lagi mempunyai struktur yang stabil (tak masuk akal) atau, kalau boleh, kuistilahkan dengan kata struktur absurd. Struktur yang absurd ini secara kasar akan kunamai Post-Struktural.
Dalam bahasa yang tidak merumitkan diri, hubungan kita bisa menyebakan kekacauan (chaos) yang tidak masuk akal (absurd) dalam tubuh semesta, menghancurkan kemapanan struktur semesta yang sudah dibangun sejak trilyunan tahun yang lalu saat bahkan belum ada prasejarah.
Maka kau dan aku adalah dogma untuk semesta.
Kau adalah aku. Semesta adalah kau. Aku adalah semesta. Dogma untuk semesta adalah dogmaku (my dogma) juga. Dogmaku tidak diartikan menjadi dogma-ku (my-dogma) tapi karena aku simbol subjek maka menjadi dogma aku (dogma I). Karena dalam hal ini “aku” adalah subjek maka akan kuterjemahkan menjadi “I” bukan “me”.
Karena aku dan kau adalah refleksi (cermin) Tuhan ketika bersatu (unite) dan cermin adalah simbol keterbalikan maka aku akan bermain palindrom (membalik-balikan kata) untuk kata “dogma i” menjadi “i am god”.
Ya, kita berdua adalah Tuhan, seperti ketika kita diciptakan (sebelum dibelah). Kita merasakan semua rasa Ketuhanan (feel orgasms). Untuk merasakan kembali semua rasa ketuhanan itu (return to feel orgasms) di dalam diri kita maka kita harus bersatu kembali (return to unite) seperti ketika sebelum dibelah.
Tapi “UNTIE to UNITE” If-ku!
NISKALA RUHLELANA
***
Saya menerima surat berikut ini sehari setelah dia menghilang;
Bandung, 10 Mei 2000
Untuk sahabatku di surga: EVA (Nama Pertama Untuk Semua Wanita)
==Aku menggunakan nama Eva sebab telah kujelaskan di suratku sebelumnya. Dan aku yakin kau pasti cukup paham.==
...
Kemarin kulangkahkan kaki kemantapanku pada sebuah kelokan jalan di seberang keanggunan sebuah waktu. Waktu yang sangat arogan dan mantap berdetak. Hingga kian bising di telingaku. Aku berjalan cepat dan dia terus mengejarku. Tapi diam dan indah, sangat indah!
Sudahlah!
Itu hanya sebuah awal yang dimulai kemarin. Hingga sekarang sebuah keinginan jahat menyelubumgi benak dan rasaku. ‘Kan kubunuh waktu! Tapi apakah itu perlu? Sebab meski waktu mati, berhenti berdetak, akankah aku abadi? Dan padahal keabadian bukanlah tujuanku. Keabadian bukanlah kebebasan yang sebenarnya. Tidak ada kebebasan mutlak, sebenarnya. Hanya rasa dan mencoba-coba untuk menemukan kebebasan yang akan sedikit membebaskan. Betulkah?
Aku tak peduli, akan kubunuh waktu!
Hingga pertanyaan berakhir pada siapa, kenapa...
Bagaimana! Itulah akhir. Itukah akhir? Tidak!
Tuhan telah menciptakanku dalam keabadian, tanpa akhir. Tidak ada akhir, sungguh tidak ada akhir. Kematian hanyalah sebuah proses dan bagian dari dunia nyata. Dan kegelapan dan malam adalah pasangan yang menjadi sahabat sejatinya. Semua berawal dari malam dan kegelapan, Nyx dan Erebos. Diteruskan oleh mati yang tak dapat dipisahkan dari keduanya.
Dunia khayal inilah yang kupertanyakan yang tak dapat kupisahkan dari dunia nyata. Khayal dan nyata adalah dua bagian terpisah yang ada dalam satu wadah.
Ada dan tidak ada bukanlah persoalan. Sebab ada akan menyebabkan tidak ada dan tidak ada akan menjadi ada. Begitulah adanya!
Begitupun dengan konsep awal atau akhir. Konsep awal atau akhir adalah ada dan tidak ada.
Kumulai proses pembunuhan waktu dengan tidak mengikutsertakan ruang, sebab ruang akan kubunuh pada keadaan yang lain. Dunia yang keluar!
Tapi waktu tidak juga terbunuh, detaknya malah semakin mengeras dan malah hampir membunuhku dalam kebisingan.
Sahabat cantikku!
Maukah kau melinangkan air matamu untukku? Sebab tangisan dalam tubuhku telah lama tebunuh.
Aku ingin menangis!
Ya..., akan kudendangkan tangisan dalam bentuk lagu. Sebab meski tangisan telah lama terbunuh, aku masih bisa bernyanyi. Hanya itulah satu-satunya pembelaan yang bisa kubuat untuk hukuman yang akan dijatuhkan Tuhan karena percobaan membunuh waktu. Dan akupun dituntut dengan tuduhan menganiaya waktu. Itu benar dan kuakui. Hukumannya adalah dipenjara waktu selama waktu masih hidup dan dikerangkeng oleh ruang sehingga aku takkan pernah bisa lagi membunuh mereka berdua. Aku hanya bisa memendam dendam dan tangis.
Sahabatku tercinta,
itulah kenapa aku terlahir...!
dari sahabatmu yang telah lama mati
Niskala Ruhlelana
Saya membakar surat-surat itu seiring upacara kematiannya dalam benak saya. Saya tak tahu.
Itu saja!
***
Salah satu berita di beberapa surat kabar dan televisi hari itu adalah:
Niskala, salah satu personil band SID (Samantha Impossible Dream) yang sedang menjadi sorotan masyarakat karena konser mereka tadi malam yang menghebohkan dan menimbulkan banyak korban jiwa itu, ditemukan nyaris tewas oleh luka bakar dari api yang masih menyala di tubuhnya, di kamar sebuah rumah terpencil di daerah Dago Utara oleh Unit Reaksi Cepat Polwiltabes Bandung setelah mendapat laporan tentang kemungkinan Niskala bunuh diri dari seorang wanita yang mengaku jurnalis sebuah majalah musik yang mewawancarai Niskala sesaat setelah konser SID itu berlangsung…
***
Karna tersenyum ketika paramedis menggotong tubuhnya dan dari saku bajunya yang selamat dari jilatan api dia mengeluarkan sebuah puisi;
Penatian Sesaat
waktu-waktu yang ada dan terus menerus meneriakan detak perjalanan jarum penunjuk detik yang berotasi
sesaat begitu menjemukan seperti penantian kekasih di pojok restoran yang sangat temaram
sesaat terasa seperti menunggu kematian beriringan dengan detak jantung yang kian lama kian cepat mengungguli teriakan detak-detak detik
sesaat kian memekakan gendang-gendang tuli yang tak bergetar
sesaat kian sesaat kian terasa penantian, sunyi tak terlihat indera buta
sesaat kian terasa sesat pemikiran-pemikiran itu
akan hadirnya kelelahan
akan hadirnya kepenatan
akan hadirnya bencana kematian saraf-saraf kesadaran
kian lama, kian sesaat, kian sesat, kian sesak, kian menggorok lubang nafas kematianku, kian aku merasakan kehidupan matiku, kian sunyi, kian terdengar detak-detak kematian jarum detik, kematian detak jantungku pun
kurogoh kekesalanku pada bayangan penantian sesaat
aku kesal kian kesal dan tak kunjung datang
lalu aku pulang pada keabadian jiwaku
dalam detak-detak yang kini semuanya terhenti oleh hembusan akhirku
aku pulang
pulang...
Niskala 2K
Sebuah tulisan dengan darah yang sudah mulai mengering menempel di dinding kamar Niskala;
Apakah aku salah berdoa untuk mati hanya karena rindu bercumbu dengan Tuhan?