Catatan Pendongeng Keliling

ervin's posts with tag: naskah

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag naskah
ReviewReviewReviewReviewDari BandungMagazine.comFeb 15, '08 4:06 AM
for everyone
Category:Other

Chairil adalah Tokoh Kita dalam Merahnya Merah-nya Iwan Simatupang


Back to Index September 2007
______________________________


Cerpen Ervin Ruhlelana - Dari File Komputer seorang teman bernama Rizha Herlambang dalam folder SAMPAH berjudul Chairil bertanggal 19 Juli 1999

Sekitar pertengahan 1999 saya dan Bessy, sahabat saya, membaca sebuah artikel dalam sebuah situs koran lokal bernama Pikiran Masyarakat tertanggal 5 Mei 1999 berjudul Iwan Simatupang Menghasilkan Karya Lebih Banyak Dari Yang Dikira Orang ketika kami mengetik Iwan Simatupang pada kolom Google Search.

Terus terang awalnya saya membaca Iwan Simatupang karena pacar saya waktu itu. Dia Iwan Simatupang freak. Hampir semua novel Iwan dilahapnya, belum lagi essay-essay-nya. Pokoknya apapun yang berkaitan dengan Iwan dia habiskan hingga kadang-kadang dia membacanya hingga lima kali. Mulai saat itu saya menjadi penasaran sekaligus ingin membuatnya senang sebab selama ini dia ingin sekali mendiskusikan karya-karya Iwan dengan saya. OK, akhirnya saya pilih Merahnya Merah, sebab karya itu yang sering saya dengar waktu SD di pelajaran Bahasa Indonesia, selain Atheis-nya Achdiat K. dan Layar Terkembang-nya Sutan Takdir.

Begitu senangnya dia waktu itu, apalagi saat saya sedang membacanya bila pagi tiba, saat dia masih terbaring lembut di ranjang, saya menghirup udara pagi dan kopi serta suara berita radio pagi dari KL CBS. Begitu cepatnya dia bangun pagi itu, dan selalu menjadi spoiler setia dengan membocorkan setiap adegan satu bab lebih awal karena saya membaca buku itu lama sekali hingga hampir dua minggu sampe dia kesel dan begitulah.

Ya, akhirnya diskusi terjadi setiap pagi setelah saya benar-benar menamatkan satu-satunya buku Iwan yang pernah saya baca bahkan hingga sekarang, maksud saya bukunya.

Dari hasil diskusi itulah pacar saya menulis artikel di Koran itu. Dari paragraf awal artikel itu pacar saya menulis: Saya dan Icha, seorang teman lama, pada suatu pagi membicarakan Merahnya Merah, novel karya Iwan Simatupang…

Saya masih ingat momen diskusi pagi itu yang membuat pacar saya terhenyak kaget ketika saya menjelaskan mengapa saya begitu lama membaca buku setipis itu.

Saat saya membaca buku itu, kira-kira pada halaman 27 saya mulai menemukan sesuatu yang mengingatkan saya pada sebuah karya Novel karangan seorang penulis yang namanya tidak begitu dikenal. Sayapun waktu itu hanya memfotokopi karya itu. Novel itu berjudul Se-Merah Merah. Waktu membacanya saya menemukan seperti ada sesuatu yang hilang dari novel Se-Merah Merah. Seperti ada sebuah benang yang putus yang membuat cerita tampak menggantung. Di halaman 27 hingga seterusnya itulah saya pikir penyambung benang tadi. Sebuah kebetulan yang aneh, sebab penulis novel Se-Merah Merah yang bernama Rizha Herlambang itu lahir pada tahun 1985.

Dan ketika akhirnya saya dan pacar saya melacak Penulis bernama Herman Laksmana ini ke penerbit buku Se-Merah Merah di Bandung, kami tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Penerbit pun tidak tahu- menahu tentang keberadaan Rizha Herlambang itu. Mereka hanya menerima karya-karyanya lewat e-mail.

Ah, tai itupun sudah cukup, kami pikir. Kami meminta alamat e-mail nya. Dan kami mengirim pesan padanya dengan mengenalkan diri kami lebih dulu lewat e-mail. Hingga seminggu kami tak mendapatkan balasannya. Akhirnya kami menemui penerbit itu lagi dan menanyakan apakah ada karya-karya lain dari Rizha Herlambang. Dengan terbahak salah satu staff penerbit itu menjawab, banyak. Kalian bisa dapetin di kios-kios majalah di pinggir jalan. Dia menulis novel serial silat. Masa sih kalian tidak kenal pendekar mata satu dari puncak cakrabhuwana? Nah dia pengarangnya.

Ya, kami sering mendengar tentang kehebatan novel silat itu, tapi mungkin karena nama si pendekar sangat terkenal hingga nama penulisnya tak sering disebut hingga akhirnya dilupakan dan lambat-laun penerbit mengecilkan font nama pengarang di bagian cover, hingga lama-lama sampe sekarang, penerbit benar-benar menghilangkan nama pengarang di cover bukunya, dan hanya menyebutkan nama pengarang pada halaman 3 dengan Times New Roman 12.

Hampir setiap tukang becak, supir angkot, pedagang kios dan tukang parkir memuja pendekar mata satu dari puncak cakrabhuwana, tapi saya yakin mereka tidak mengingat Rizha Herlambang.

Dengan semangat kami memborong semua episode serial silat itu, ada kira-kira 23 jilid dengan setiap 5 episode dibundel jadi satu hingga jilid ke 15, jadi 3 bundel plus 8 jilid. Setiap jilidnya kira-kira antara 200-270 halaman.

Kami membacanya tiap hari, tak ada yang menarik ternyata, sama saja dengan serial-serial silat lainnya. Maksud saya bukan tidak menarik dalam arti itu tapi maksudnya tak ada yang berbeda, tak ada yang istimewa. Saya sangat suka ceritanya hingga penasaran ingin segera membaca jilid ke 24-nya bulan depan saat terbit, tapi bukan berarti saya akan bilang serial ini istimewa, tidak, serial ini memang sedikit agak tidak biasa, tapi terlalu umum.

e-mail dari kami tak pernah dibalas juga. Kami hanya baru menemukan 2 fakta dan itupun masih aneh. Pertama, ada keterkaitan aneh antara novel merahnya merah dan se-merah merah. Kedua, pengarang semerah-merah adalah juga pengarang salah satu novel serial silat yang paling dikenal di Indonesia.

Buntu, beku!

Hingga kami berdua tak lagi berpacaran. Saat itu saya langsung berhenti menelusuri hal ini. Dan saya pikir pacar sayapun tidak. Ternyata saya salah, di melanjutkan risetnya hingga dua tahun dan pengenalan hasil risetnya dia tulis dalam sebuah artikel yang saya dan bessy baca. Di bagian akhir artikel dia bilang bahwa buku tentang proses dan hasil risetnya akan segera diterbitkan. Serta buku Iwan Simatupang yang selama ini hilang atau tidak pernah disangka orang bahwa itu adalah karya Iwan Simatupang akan diterbitkan ulang dengan nama Iwan Simatupang menggantikan nama Rizha Herlambang pada nama pengarang, mengganti judul dari Semerah Merah menjadi Merahnya Merah buku satu serta tetap mempertahankan nama tokohnya, Chairil.

Dan akan menerbitkan ulang Merahnya Merah yang selama ini kita kenal dengan mengganti judul menjadi Merahnya Merah buku dua serta mengganti semua nama Tokoh Kita menjadi Chairil, disesuaikan dengan buku pertamanya yang selama ini hilang dan kabur.

Setelah kami putus, pacar saya melanjutkan risetnya, dan secara cepat dia mendapatkan fakta-fakta baru yang mengejutkan hingga akhirnya dia mengambil kesimpulan yang tercantum dalam artikel ini.

Bessy hanya memanggut-manggutkan kepalanya saat membaca artikel ini lalu dia tersenyum pada saya, mantan pacarmu ini melupakan satu hal, katanya, nama lengkapmu.



Blog EntryChapter VIApr 4, '06 3:44 PM
for everyone

Chapter VI

Menanti Eva Di Tengah Kering

 

1

Paris, 9 Agustus 2000

musim semi disini...

aku lari kesini dengan hampa

tanpa daya dan kehancuran

aku tak lagi bisa membuka kelopak mataku

keningku bersimbah keangkuhan

tanpa cinta      

tanpa air mata

aku mengering di musim semi ini

haruskah aku kembali...?

 

Bonn, 12 Agustus 2000

juga musim semi...

ternyata aku masih mengering

dalam bus travel ber-AC

yang kurasa sangat menyesakan setiap hirupan nafasku

 

Athena, 20 Agustus 2000

di kota kuno ini

aku dapatkan pencerahan

kucoba membunuh diriku

tapi tak berhasil...

aku dipulangkan!

 

Jakarta, 25 Agustus 2000

sedang musim kemarau...

aku menangis

betapa rindunya aku

dengan musim kemarau

meski aku jadi semakin mengering

 

Bandung, 27 Agustus 2000

hari pertamaku

kuhabiskan dengan

meminum dua gelas kopi tubruk

dan sebungkus rokok kretek

dengan memandangi lalu lalang peradaban

di hadapanku

bersama seorang anak kecil lusuh

yang berjuang dengan bahagia

membagi masa kecilnya dengan sepiring duka yang tertawa

seperti aku...?

 

Cianjur, 29 Agustus 2000

disini, di kota asalku

di pangkuan ibuku

aku menghembuskan nafas terakhirku (kurasa...)

dalam kekeringan yang amat panjang

"mama, mana surgaku?

  mana telapak kakimu?

  aku rindu engkau...

  aku rindu surga...

  aku rindu eva...

  aku rindu tuhan!

  'kan kubasuh kakimu, mama

  dengan cinta dan air mata kerinduan

  biarkan aku memelukmu, mama!

  biarkan aku bersujud di pangkuanmu"

 

2

Kusangka aku telah mati

bersama segala perih hati

tetapi selimut putih itu mulai membuka lagi

tak lagi menutupi sekujur tubuhku

ah...

betapa sejuk disini!

surgakah ini?

doa ibuku kah ini?

 

3

Semuanya berawal dari keraguanku untuk menyatakan cinta pada Tuhan. Akhirnya Tuhan pun memberikan sebuah nama dan menyuruhku mencarinya hingga kudapatkan.

"Untuk keutuhanmu," kata Tuhan, "bila kau menemukannya, cintamu padaku akan sangat utuh, dan penuh..."

Aku terharu, sambil menyandarkan kepalaku diatas trotoar di malam Jumat itu. Aku tak bisa tidur, keluar kamarku dan merenung di pinggir jalan Merdeka, sambil tiduran menatap purnama yang malu-malu diselubungi awan hitam, akan hujankah? Aku tak peduli!

Yang kupikirkan hanya sebuah nama,

"Eva..., Eva..., Eva..., dimana, siapa, harus kemanakah aku?" Sebuah harapankah ini?

Hingga aku tertidur disana dengan sebuah mimpi,

...

Aku terbangun pagi harinya, dan dengan setengah mengantuk dan setengah berlari ke kamarku sambil berseru,

"Aku tahu... aku tahu... aku tahu..."

 

4

Setelah dibelah, Adam dan Eve (Eva) sangat merasakan ada sesuatu yang hilang dari masing-masing dalam diri mereka, entah apa?

Tak terjawab sampai ketika tiba-tiba Iblis datang dengan soundtrack lagu Love Foolosophy dari Jamiroquai. Dengan tampilan seperti dalam stiker Jamiroquai; merah, tengil, lucu, senyum jahil, funky, infotainer, bertanduk, ekor panah, trisula yang tampak lebih sebagai aksesoris ketimbang senjata.

Soundtrack itulah yang langsung menyadarkan Adam dan Eva tentang hal yang hilang itu. Hal yang ternyata bodoh menurut mereka sehubungan dengan daya pikir mereka yang teramat besar saat itu.

Tapi mau nggak mau, dengan tanpa tendensi apapun, mereka sangat membutuhkan hal paling bodoh itu untuk membuat mereka merasa menjadi satu kembali, return to unite.

Saat itu juga mereka meng-SMS Tuhan untuk membuat janji temu. Tapi sepertinya Tuhan sangat sibuk saat itu hingga reply-nya baru mereka terima tengah malam:

Sorry, gw lg sibuk berat! gak bisa ketemu deket2 ini..ada apa?

Reply: tentang cinta, god! :-)  send, message sent

1 message received, report, delivered, erase report, ok!

1 message received, read!

Oh, itu…keywordnya buah khuldi yang gw larang kalian makan itu, guyz! makanya belajar SEMIOTIKA! kalian hrs milih, HEAVEN or LOVE ? ;-p

Sender: you-know J !

Options, erase, ok!

   

5

Boneka seks itu tiba-tiba hidup.

Eva (If) menjerit memandangi cermin bergambar Samantha. Kering, pucat dan balon.

Adam masih menikmati keluarnya tinja dari duburnya, asap rokok merah muda membentuk huruf “SURGA” mengepul dari mulutnya, bersenandung: “u can try the best u can… if u try the best u can… the best u can is good enough…” dengan beberapa fantasi menikmati suasana dunia bersama If dengan cinta dengan tubuh sempurna, manusia!

Iblis beralih profesi dari infotainer menjadi rapper.

Selesai sudah satu masalah, aku terbaring! 

 

6

Kutemukan secarik kertas dipangkuanku, secarik kertas yang penuh dengan coretan pena, yang ribuan kali sudah kubaca. Dan selalu baru setiap kali aku membacanya, meski lusuh, meski hampir menjadi seonggok debu tak berarti. Tapi bagiku meski begitu, akan tetap berarti dan akan terus terngiang di benakku.

Secarik kertas berisi puisi tanpa judul yang diberikan seorang wanita jutaan abad yang lalu, ketika surga masih kupijak, masih kurasakan keindahnnnya!

            aku dan engkau adalah satu

            dan dicerminkan dari cinta Tuhan

            kita adalah satu jiwa yang terbelah

            dan takkan menyatu kembali

            sebab Tuhan telah cukup membuat kita

            merasa menjadi diri-Nya...

Setengah dari puisi itu telah dirobeknya dan diambil olehnya. Hingga sekarang belum kutemukan, dia ataupun robekan yang setengahnya lagi. Hingga sekarang...

 

7

Waktu: A

Niskala memulai prosesi kematiannya, kamera mulai merekam...

Dia duduk diatas kain kafan yang sebelumnya sudah dia bentangkan,

Sebuah pisau cutter mengarah ke nadi, proyektor berputar, memutar ingatan masa kecilnya...

Method: Bleeding

Recommendation: **********

Effort required: not very much set up time, but cutting enough holes to ensure death will take some time. you should probably practice a bit first.

Messiness: pretty darn messy. picture an ice-cream pail of blood turned over where you are sitting.

Pain factor: pretty high. slow cuts are surprisingly painful. a sharp blade will reduce this somewhat. soon your heart will be pounding like crazy and you will get really cold before passing out.

Drama: extremely dramatic, even if you survive. wrist scars look cool on anybody.

Certainty of death: not real great. if you cut perpendicular to your wrist veins, you will probably survive. if you cut along the length of your wrist veins they will probably not be able to close up again. even faster and more certain are the inner elbow and the femoral artery.

Wimp option: it should be several minutes until you pass out. you could recover fully during any of this time by firmly bandaging or tourniqueting your cuts.

Other points: Anti-coagulants would go a long way if you know what to take. (Apparently aspirin is a good one.) Try to avoid mangling your finger tendons and carpal tunnels too badly. Hara kiri (slitting your intestines open with a short sword so that you make a Z-shaped cut, also called "seppuku") is considered one of the most painful ways to kill yourself. Cutting open your carotid arteries greatly speeds your death, but I would guess will probably ensure a stroke if you survive. Flowing warm water prevents blood vessels from resealing.

 

Ingatan masa kecil tentang bapak yang mengidap pedophilia.

Menempatkannya di sudut, visi-visi dua dimensi, membatasinya supaya tidak keluar dari garis putih yang dibuat bapaknya setelah memperkosanya supaya tidak bilang pada siapapun..., Gila!

 

8

Waktu: A

Prosesi akan segera dimulai dikamar itu. Ingatan masa lalunya mulai memudar, proyektor menampilkan gambar kosong. Niskala mengambil satu toples obat tidur dan meminumnya sekaligus diatas kain kafan yang sudah dia bentangkan…

 

Method: Drug Overdose

Recommendation: ******

Effort required: small. try not to buy more than one bottle of sleeping pills from a single store.

Messiness: pretty messy. you will probably barf up whatever you ate.

Pain factor: unpredictable. anywhere from none to quite high.

Drama: not too bad. you will probably peacefully fade off to sleep, but may just end up puking your guts out. points for tradition.

Certainty of death: a bit risky. people are always coming home at the wrong time. if you don't slump over with a bottle of pills or drool blood, you will probably be assumed to be asleep. mixing drugs with alcohol will improve efficiency. tying a plastic bag over your head will guarantee death, though.

Wimp option: a bit dicey after you start chugging them down. drinking milk may help a bit until you can induce vomiting. the name of the game is limiting the amount taken into the blood stream. some drugs like Tylenol will destroy your liver fairly quickly, causing an agonizing death in days to weeks.

Other points: Sleeping pills are the classic method, of course. Tranquilizers and prescription pain medication work great, but are hard to come by. When shopping, pay attention to the amount of medication per pill vs. the size of the pill. Smaller pills with more medicine means a greater chance of death. Also, look for warning labels that suggest that the product is a downer and should not be taken with alcohol. ...and now a note about heroin.

 

Ingatan masa lalu menyeruak, proyektor menampilkan gambar

 

SAMANTHA : Namaku Samantha. Aku single. Tapi ada tanda "Dilarang masuk!" pada dadaku. Karena itu, aku bukan perawan lagi. Aku selalu melarang setiap lelaki menjamah dadaku. Tapi selalu membiarkan mereka masuk kedalam rahimku karena dengan hal itu aku selalu merasa dilahirkan kembali. Dan setiap kali aku lahir kembali, aku berharap lahir dalam keluarga yang berbeda. Tapi harapanku tak pernah terjawab karena aku orgasme. Selalu kenikmatan orgasme jawabannya.

 

NISKALA      : (TAWANYA BERGELAK) Ha ha ha ha ha… Namaku Lelaki.

 

Dalam benak Niskala : cantik, sepi atau single? Sebenarnya wajahnya biasa saja, sederhana dan terbantu oleh penampilan yang cerdas. Rambut yang selalu terurai, mata yang selalu terang di siang hari dan cerah di malam hari. Wajah khas dengan karakter kuat yang mungkin mempunyai garis ras yang asli tanpa terlalu banyak campuran.

 

SAMANTHA : Namaku Samantha, aku selalu bertanya "Apakah embun itu yang menggelayut di daun?" kau tahu jawabannya? Kalau tahu masukan jawaban itu kedalam amplop, kirimkan ke rumahku paling lambat bulan Mei 2001 cap pos. jangan telat ya…!

 

NISKALA      : (TERTAWA NGAKAK) Aku juga pernah bertanya tentang hal itu.

 

SAMANTHA : Namaku Samantha,

 aku dan engkau adalah satu

                                    dan dicerminkan dari cinta Tuhan

                                    kita adalah satu jiwa yang terbelah

                                    dan takkan menyatu kembali

                                    sebab Tuhan telah cukup membuat kita

                                    merasa menjadi diri-Nya...

 

Dalam benak Niskala : Itu kan isi surat yang diberikan Eva padaku saat itu…

 

NISKALA      : Namaku Suicide, akulah kepalsuan Niskala. Aku benda sedang Niskala, Pria. Jadi bunuh diri adalah kata terakhir yang bagus sebab tak pernah bisa kurasakan bagaimana menjadi wanita.

 

SAMANTHA             : Namaku Samantha, aku masih gadis!

                       

NISKALA      : "Aku tidak percaya!" (bicara dalam hati).

 

SAMANTHA : Namaku Samantha. Aku adalah keindahan yang terbunuh oleh takdir, begitulah aku membesarkan diri.

 

NISKALA      :Namaku Niskala. Aku adalah takdir yang indah, begitulah aku membesarkan hati.

 

Mereka terus saling memperkenalkan diri, namaku Niskala, namaku Samantha hingga gambar dan suara membaur hilang dengan cahaya putih menyilaukan, dalam khayalannya, dalam sebuah ruang yang cahayanya dapat diatur mengecil, menerang atau mengerjap-ngerjap, bisa menyilaukan seribu manusia yang belompat-lompat, menari, menghentak, mengikuti beat musik yang dimainkannya di sebuah panggung berukuran luas dan megah seperti kerajaan langit.

Itulah awalnya Niskala bermain bahasa jiwa dengan Samantha.

 

NISKALA      : Selama ini orang berpacaran dengan ikatan emosi, kau tahu?

 

SAMANTHA : Maksudnya?

 

NISKALA      : Ya, saling mencintai, menyayangi atau apalah… Bukankah itu emosi dan  bukannya pikiran?"

 

SAMANTHA :Ya, benar. Lantas…?"

 

NISKALA      :Lantas kenapa kita tidak mencoba melakukan suatu hubungan yang menjaga keseimbangan antara emosi dan pikiran. Hubungan intuisi."

 

SAMANTHA :Intuisi? Jadi itukah intuisi menurutmu?

 

NISKALA      :Ya, ketika emosi dan pikiran seimbang. Saat seperti itu manusia kehilangan kendali dan pegangannya. Maka Tuhan memberikan intuisi padanya sebagai pengganti yang hilang itu.

 

Itulah awalnya Niskala mengajak Samantha menjalin sebuah hubungan.

 

Samantha pergi dengan diiringi musik yang mengalunkan kibaran baju bidadarinya dan seperti melayang. Melaju dengan kecepatan sederhana seperti laju seorang anak SD di atas in line skate yang dia rengekan pada ibunya di ulang tahunnya tahun itu Padahal Samantha benar-benar  memakai in line skate.

Niskala melihat ada noda merah di baju bidadari Samantha yang melambai-lambai (Kenapa baju bidadari harus selalu putih dan melambai-lambai?) terkena angin. Noda merah yang menghentak mata, menyentak Niskala. Noda merah yang suatu saat pasti mengejutkan Samantha ketika sampai di rumah dan menemukannya ketika akan mencuci baju bidadari putihnya dalam mesin cuci. (Samantha terlalu malas untuk membawanya ke dry cleaning di laundry langganannya sebab pertemuannya dengan Niskala membuat dia menjadi malas untuk melakukan hal-hal remeh seperti itu.) Noda merah peradaban yang di berikan Tuhan setiap sebulan sekali untuk membedakan dengan noda putih lelaki yang ketahuan saat kau bangun tidur dan langsung merasa, “ah, sialan aku harus mandi besar shubuh-shubuh begini, (di Bandung air di pagi hari sangat dingin)” Noda merah yang harus segera Niskala sikapi dengan mengejar Samantha dan menutupinya dari belakang dengan sesuatu dengan gerakan memeluk agar terkesan sangat romantis seperti ketika Rabiah mencongkel matanya untuk diberikan kepada seorang lelaki yang sangat mengagumi keindahan matanya. 

Niskala membuka sweater merahnya[1] sambil mengejar Samantha. Lalu menutup noda menstruasi itu dengan mengikatkan sweaternya ke pinggang Samantha sambil berbisik di telinga Samantha:

"Sorry, kamu tembus!"

           

Niskala memikirkannya hingga pulang ke rumah, hingga malam, ketika makan, ketika mandi, hingga tak bisa tidur. Memikirkan berapa juta kerlingan yang tadi diantarkan Samantha. Memikirkan seberapa buruk wajahnya saat dia mengerlingkan kerlingan matanya seperti kerlingan yang diantarkan Samantha. Memikirkan berapa ras yang menghegemoni keindahan corak wajah Samantha. Memikirkan makanan yang dimakan Samantha saat pagi, siang, sore, dan biru.

            Cantik?

            Sepi?

            Single?

            Entahlah! Hanya kedalaman jiwanya yang dapat kurasa.

            Entahlah! Nyatanya aku tertidur nyenyak sekali.

 

9

NISKALA DIDEPAN CERMIN[2] SAMBIL BERDANDAN:

Keringanan kakiku melangkah seiring loncatnya keanggunan seekor keringat malam yang mengandung peradaban. Terkenang bagaikan kicau jalak-jalak yang terapung memecah liuk gelombang samudera.

Ha...ha...ha...

 

 

manuskrip senja di sore ini: lelah!

keliaran itu yang dua hari sudah kuhisap menyebabkan timbulnya dua jerawat yang sangat mengganggu aktifitas birahiku. jerawatnya sangat kentara, dua cewek yang tadi melintas di depanku sempat melirik, tetapi lantas pergi lagi setelah melihat keangkuhan dua jerawat bernanahku ini. sialan memang! tapi itu bagus sebab cukup mampu menghilangkan beberapa menit stempel playboy yang tercetak dijidatku semenjak sekolah dulu.

awalnya aku tidak tahu bahwa yang dua hari kuhisap itu berbentuk keliaran. tapi sudahlah...

 

Dia mengoleskan eye liner di matanya, eye shadow di kelopak matanya, lipstick di bibirnya dan blush-on di pipinya. Samantha terefleksi di cerminan wajahnya dengan eye liner yang sama, eye shadow yang sama, lipstick yang sama. Setelah itu dia menjepit bulu mata nya dengan dengan penjepit. Mengoleskan mascara. Melukis alisnya dengan pensil alis. Samantha terefleksi di cerminan wajahnya dengan bulu mata yang sama, mascara  yang sama, pensil alis yang sama. Memakai softlens warna biru di mata kanan, warna hijau di mata kiri. Mem-blow rambutnya dengan hairdryer. Samantha terefleksi di cerminan wajahnya dengan soft lens yang sama, hairdo yang sama, hairdryer yang sama. Memakai baju dan celana kulitnya. Standar Rockstar! Samantha terefleksi di cerminan wajahnya tapi tidak dengan baju bidadari yang sama.[3]

 

Penonton menyambutnya di panggung kebesaran tempat dia akan berteriak bersabda dengan nyanyian-nyanyian diiringi musik musim. Samantha berada di sampingnya, menyanyikan lagu yang sama di microphone yang sama. Dengan gerak yang sama, tarian kematian yang sama. Samantha telah menjadi bayangannya yang selama ini selalu lebih gelap dari cahaya yang terpantul dari tubuhnya.

Ekstase!

 

10

Suatu hari di dunia lain bertahun-tahun kemudian (konsep waktu disini dipersepsikan menjadi sangat absurd), selepas dari toilet kampus, buang air besar. Dia pergi ke mal yang tak jauh dari kampusnya untuk membeli popcorn. Dia menganggap popcorn adalah sebuah keajaiban, revolusi, meledak-ledak. Lebih ajaib lagi dia melihat seorang gadis cantik yang menatap ke arahnya. Suara popcorn masih meledak-ledak ditimpa suara-suara kendaraan. Ingatan-ingatan tentang orang-orang revolusioner menyeruak di ingatannya.

Niskala menyodorkan tangannya. Niskala menyodorkan namanya. Niskala memang rese’.

Niskala menyodorkan tangannya. Niskala menyodorkan nomor sepatunya. Niskala memang bodoh.

Niskala menyodorkan tangannya. Niskala menyodorkan telunjuknya. Niskala memang lucu.

Niskala menyodorkan tangannya…

NISKALA      : Namaku Niskala! (GAUNG… Namaku Lelaki!)

 

SAMANTHA : Samantha...! (sang gadis menimpali)

 

NISKALA      : Aku suka revolusi, apalagi yang terjadi dalam hidupku pribadi (sambil menawari Samantha popcorn.)

 

SAMANTHA : Oh, ya? Aku tahu itu popcorn. Tapi salah kalau hidupmu terus berevolusi. Harus selalu terus kembali ke awal.

(Samantha berkata sambil tersenyum dan menolak tawaran Niskala.)

 

NISKALA      : Tidak harus! Sebab tidak ada hidup baru, masa lalu dan mendatang. Semuanya adalah bagian dari hidup yang tak bisa dipisah-pisahkan."

 

SAMANTHA : Itu benar, tapi..."

 

Mereka terus berbincang-bincang sambil jalan. Memasuki sebuah kamar, bercinta dengan santun. Tangan-tangan saling menggapai…ngayayay…!

Terlalu sebentuk impian…

 

11

Waktu: A

Prosesi dimulai…

Niskala menyiapkan air dalam sebuah ember, menenggelamkan kepalanya. Ingatan masa lalu terbit. Dia membiarkan nafasnya habis di dalam air itu. Proyektor berputar…

Method: Drowning

Recommendation: ****

Effort required: some. presumably you will require a weight heavy enough to sink you, or some other preparation, if you don't naturally sink.

Messiness: variable but probably pretty bad. if it takes more than a couple of days to find your body, things will get ugly.

Pain factor: what, are you crazy? unless you can achieve a high degree of Zen detachment this will really suck.

Drama: if you can manage to relax and drift off to sleep as your lungs fill with water, it could be quite beautiful and peaceful under water.

Certainty of death: quite high. if you sink yourself via weights you won't survive. it's also really hard to find drowning victims if you are attempting to save them.

Wimp option: not too bad if you bring a knife to cut the rope tied to your leg. just make sure you have enough strength to swim back.

Other points: If you aren't found quickly, this will provide an incredibly disgusting surprise for some poor sap. Imagine leeches, crayfish, etc. In addition, you could skip the whole water part, and just tie a plastic bag around your head. Drama is reduced a bit as the bag will fog up a lot and look kind of silly. Remember to brush your teeth if you decide on this method. Actually the plastic bag is a recommended (by Kevorkian) addition to most non-violent suicide methods.

 

Disebuah kafe, Niskala dan teman-temannya…

Menyusul, disini ada obrolan dan presentasi filsafat Niskala, tentang Tuhan, tentang kenabian, malaikat, jokes, wanita berwajah mirip, rasialisme, kecoa, memanusiakan Samantha dan lain-lain...

lantas Niskala menceritakan tentang seorang temannya bernama Baskoro pada teman-temannya:

 

Dia selalu begitu; memicingkan mata, menggertak dengan kata-kata sinis seperti, “Aku tak suka cantikmu yang mengerikan itu!”, tersenyum, berkedip lalu pergi.

Dia, lelaki yang selalu memperkenalkan diri dengan nama Gateaux-lotjo itu, selalu begitu; mengejan, mengerang, menyembunyikan sebagian wajahnya, berteriak santun: “Aku berharap semua tidak baik-baik saja!”, lalu turun dari “tugu sialan!” itu. Dia sendiri yang selalu menjuluki singgasananya dengan “tugu sialan!”, selalu memakai tanda seru. Ada lambang hegemoni dan birokrasi di tugu itu, dia sangat tidak menyukai kedua hal itu. Akan tetapi hanya tugu itulah yang paling tinggi yang bisa ia naiki untuk lantas berteriak dan dilihat semua orang dari berbagai arah.

Dia tidak pernah menyanyi, suaranya buruk, telinganya juga buruk untuk mendengar suara musik. Dan untunglah dia sangat menyadarinya. Sewaktu SD dia selalu pura-pura ke toilet ketika guru menyuruhnya ke depan untuk menyanyikan lagu wajib. Saat OSPEK, dia memilih berantem dengan senior lalu dihukum hal yang paling berat sekalipun dengan senior ketimbang harus menyanyi saat diplonco, untunglah tak ada yang mengerjainya menyanyi. Lagu apapun yang dinyanyikannya akan menjadi lurus dengan satu nada.

Dia tidak tinggi, tidak putih, tidak juga tampan. Biasa saja! Kondisi fisiknya sedikit dibawah rata-rata, kalau kau seorang wanita maka kau tidak akan spontan naksir dia. Apalagi untuk berpacaran, biasanya kau akan  berdoa bersungguh-sungguh kepada Tuhan setiap sehabis shalat tentang pilihanmu pada lelaki itu. Satu-satunya hal yang menurutmu bisa dimanfaatkan darinya adalah bahwa kau jadi rajin sekali shalat. Sungguh, aku tidak menemukan titik terang untuk memujinya secara fisik, ya Tuhan, wajahnya bukan tidak tampan tapi buruk!. Sehingga meski dia sangat manis dan melankolis, kau akan malu berjalan-jalan dengannya. Saat yang paling bisa menyelamatkan mukamu dan kecil resikonya adalah jika kau berpacaran dengannya di tempat terpencil di kaki gunung yang belum ada listrik, sepi, hingga tidak ada pilihan lelaki lain selain dia, lantas setelah itu kau bisa menyusun diri dalam aloerotisme.

Hal ini juga berlaku buat para gadis yang berprinsip ketampanan bukanlah nomor satu, yang penting kepribadiannya. Kau tetap akan berpikir lagi. Toh yang tampan dan baik juga masih banyak!

Dia sangat membenci angin. Angin adalah bentuk manifestasi kekurang ajaran semesta. Meraba-raba tubuh kita tanpa permisi, diizinkan ataupun tidak, tak bersyarat, bebas absolut, dengan tanpa gairah sekalipun. Angin akan datang tiba-tiba, meski tidak terlalu kencang, tapi tetap akan menyusup ke dalam kulitmu, membuatmu merinding, membuatmu kedinginan, kadang membuatmu mendapatkan kenyamanan bersyarat.

“Namaku Gateaux-lotjo!” Suatu kali dalam sebuah kelembapan cuaca yang sangat dipengaruhi oleh bekas luka para hujan yang tercurah sederhana dari gelembung awan-awan lebat.

Tentu, dia mengatakannya dalam kesungguhan yang dibuat-buat sambil menengadah ke langit dan menepis beberapa angin. Menengadah ke arah para hujan tadi yang cukup membuatnya kuyup.

“Aku bukan lelaki, sebab aku yakin penisku bisa hidup sendiri tanpa harus diperintah oleh otakku dan diberi nutrisi oleh pacu jantungku. Dia bahkan bisa  berdetak lebih kencang dari jantungku pada saat-saat yang seharusnya tenang. Penis punya organ tubuh sendiri yang diperintah oleh otaknya sendiri...[4]

 

Ceritanya terpotong oleh angin ribut dan hujan yang sangat lebat, dan teman-temannya lebih tertarik pada hujan dan angin ketimbang pada ceritanya. Akhirnya dia jadi bete sendiri dan misuh-misuh. Lantas dia pergi ke toilet untuk onani sebagai kompensasi ceritanya yang terpotong pada saat nyaris orgasme...   

 

 

 

 

 

12

Waktu: A

Prosesi dimulai. Niskala mengguyurkan satu galon bensin ke tubuhnya, proyektor membuka kembali masa lalunya. Dia menyalakan api…

Method: Immolation

Recommendation: **********

Effort required: a bit of effort will be required to manage to get enough flammable material on you.

Messiness: somewhat. this is pretty much the only method that cleans up the body, but it also leaves a huge scorch mark.

Pain factor: if you have to ask, don't bother.

Drama: if you can remain absolutely calm, and nobody puts you out, and you included enough flammable materials to scorch your body, nothing could possibly be more dramatic. keep in mind that your last few seconds on earth will be gasoline soaked if you choose this accelerant.

Certainty of death: a mere splashing of gasoline will probably just badly burn you without even threatening your life. sitting on a large pile of branches with plenty of air flow and lots of flammable liquid is probably a good idea.

Wimp option: breathing will scorch your lungs. this will ensure at least a slow death. otherwise, you will probably be able to survive if you hurry.

Other points: Besides deciding whether or not to breathe, the other thing to think about is whether or not to keep your eyes open. They will quickly dry out and distort before ceasing to function. If you have your eyes closed, your eyelids will quickly burn off anyway. Your hair will go first, though. (Come to think about it, you might consider investing in a video camera.)[5]

 

…membakar sebatang rokok di sebuah panggung kebesaran. Riuh, musik yang bising, dia menyanyi untuk yang ke-terakhir kalinya.

Dalam benaknya, dia sedang sendiri, bercinta dengan dirinya sendiri, membayangkan wajah Tuhan terangsang lantas membaca puisi, musik terhenti…

 

Apakah aku salah berdoa untuk mati, hanya karena rindu bercumbu dengan Tuhan?

 

Demikian terus berulang-ulang…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Niskala me