Catatan Pendongeng Keliling

ervin's posts with tag: novel

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag novel
Blog EntryChapter XVIApr 5, '06 12:29 AM
for everyone

Chapter XVI

Tentang Transformasi Terakhir Dan Prosesi Imajiner

 

If menelusuri jalan itu, membayangkan dirinya lebur bersama Samantha, transform, empath, fade out. Melewati jalan yang penuh warna-warna cerah, pop, kontras, nyaris tak ada hitam dan putih. Lantas berbelok melewati jalan yang hanya ada hitam dan putih. Masuk ke sebuah perempatan, semuanya abu-abu.

Lalu tiba-tiba di sebuah jalan lain dia berjalan terbang, semua disana melayang-layang, tidak ada yang melekat. Seperti tiba-tiba benar-benar tidak ada hukum Newton. Padahal benar-benar tidak ada.

Masuk ke satu jalan lain, semuanya terbalik, bahkan dia pun begitu. Persepsinya jadi tebalik. Cermin adalah sisi yang sebenarnya. Kanan adalah kiri atau kiri benar-benar kiri. Atau tidak ada kiri? Yang jelas tengah adalah sisi yang paling santun meski terkadang tabu.

Setelah itu dia masuk kedalam ingatannya di dunia paralel yang lain saat bersama Niskala. Dunia dimana warna dan bentuk adalah persepsi, bukan sensasi. Sensasi seperti yang pernah diketahui If adalah segala sesuatu yang ditangkap oleh indera.

Pohon-pohon yang berdaun warna-warni dengan bentuknya yang bukan sekonyong-konyong lagi terus berubah-ubah, kotak, segitiga, lingkaran, lonjong dan berbagai bentuk lainnya dan terus bebagi membentuk semua benda yang ada di sekitar situ. Jalan yang tiba-tiba belok tetapi lurus lagi dan lalu memutar-mutar, seperti gasing. Tetapi hal itu hanya dalam persepsi If. Lain lagi dengan persepsi orang-orang yang sedang berjalan hilir mudik disekitarnya. Ada beberapa memakai pakaian renang, bekaca mata hitam, seperti seolah sedang berada di pantai. Beberapa lagi memakai mantel seperti seolah tempat itu adalah daerah pegunungan yang tinggi.

Hanya bentuk rumah yang persepsi semua orang di dunia itu nyaris sama. Rumah berukuran mungil seperti rumah kurcaci, dengan atap bulat berwarna-warni dan pintu semua menghadap ke barat, berbentuk hiperbola.

If tiba-tiba menggigil dan beberapa entah detik kemudian mengipas-ngipasi tubuhnya seolah kepanasan dan lalu menguap seperti segar sekali.

Semakin cerdas orang di dunia itu maka semakin sering persepsinya berubah-ubah terhadap bentuk dan warna begitupun suhu udara. Perubahan persepsi bahkan bisa terjadi setiap detik untuk orang-orang yang IQ-nya lebih dari 170. Seperti misalnya bentuk rokok yang berubah sampai lebih dari tiga kali selama dihisap. Ada orang-orang bodoh, yang persepsinya terhadap suatu bentuk barang, baru akan berubah setelah satu bulan, misalnya bentuk gelas yang sebulan lalu berbentuk segitiga, baru hari ini berubah kotak.

Manusia di dunia ini mempunyai kadar hormon serotonin yang tinggi sekali dalam otaknya. Dan hormon tersebut selalu aktif tanpa harus dirangsang olah zat-zat seperti halusinogen maupun amphetamine. Hormon tersebut diaktifkan oleh semacam alat pemacu kecil di belakang otak untuk mengalirkan serotonin terus-menerus ke otak. Seperti fungsi jantung sebagai alat pemacu darah agar selalu mengalir ke seluruh tubuh. Sehingga imajinasi di dunia itu adalah kenyataan itu sendiri seperti kenyataan itu sendiri. Dan kenyataan adalah imajinasi itu sendiri seperti imajinasi itu sendiri.

Sangat sulit menggambarkan dunia seperti ini, sama sulitnya seperti mereka di dunia itu untuk menggambarkan dunia yang kita pijak sekarang.

Tapi, sudahlah karena bukan itu intinya, tetapi tentang If yang bertransformasi menjadi Samantha bertemu dengan Niskala di sebuah, katakanlah namanya, café.

Niskala meminum air berbuih berwarna merah dalam persepsinya tetapi kuning dalam persepsi If. Buihnya berubah tiba-tiba menjadi asap hijau lalu berubah kelabu padat.

Niskala mempersilahkan If duduk di sebuah kursi segitiga yang sekonyong-konyong berubah menjadi bulat. If saat itu berwarna ungu dengan rambut keriting yang sesaat berubah menjadi lurus lalu berponi dan keriting lagi setengah-setengah. Niskala saat itu berwarna putih lalu hitam lalu putih lagi dan berakhir di biru. If mengejar menjadi biru pula.

Warna-warna, yang dalam dunia kita disebut aura, itu terus berubah seiring berubahnya bentuk-bentuk benda disekitar mereka. Perubahan itu menjadi sebentuk dialog alternatif selain dialog mereka melalui mulut, mata dan, Ya Tuhan, tulisan.

Ada empat tema yang berbeda mereka bicarakan pada saat yang sama.

Warna-warna tubuh                : CINTA.

Mulut                          : TRANSFORMASI.

Tulisan                         : GAYA-GAYA BERCIUMAN.

Mata                            : SPIRITUALITAS.

Karena waktu juga adalah persepsi di dunia itu maka tak bisa disebutkan berapa lama mereka berdialog. Bisa satu tahun, 3 abad ataupun hanya 8 detik. Entahlah!

Ketika akan berpisah If mencium bibir niskala dan seolah mereka berdua berkata, "Ini saatnya kita akan benar-benar berpisah, dan entah kapan lagi kita akan bertemu dengan komposisi seperti ini. Harmonis ataukah kontras, kita tak akan pernah memperdulikannya lagi."

If dalam wujud Samantha yang sempurna meninggalkan Karna dan Niskala dalam satu wujud yang sempurna.

Setelah itu If meloncat kembali ke dalam perjalanan spiritualnya menembus dunia-dunia paralel yang lain.

Niskala keluar dari café itu menuju lubang berbentuk segi enam, apa segitiga, ah… sekarang jadi lingkaran. Ada suara musik keluar dari lubang itu. Mungkin itu pintu sebuah klub live musik berbentuk lubang, ah… bukan, tonjolan, astaga sekarang sebentuk cermin. Sudah ah… pusing!

Kita ikuti If (Eva) saja sekarang, yang sudah kembali kedalam wujudnya yang semula, wanita pertama.

Dia sudah sampai di terminal terakhir. Sebuah kompleks kuburan imajinasi. Kuburan panjang yang memancarkan cahaya-cahaya seperti ketika gelombang foton terurai oleh interferensi menjadi sebentuk 7 warna pelangi.

Di kompleks kuburan imajinasi itu, Eva menemukan semua kuburan yang ia cari.

Kuburan Joey. Kuburan Niskala. Kuburan Karna. Kuburan Trully. Kau mungkin masih ingat bentuk kuburan untuk tamagotchi di mall-mall di Jepang. Seperti itulah kira-kira bentuknya.

Lantas dia mengucapkan semacam mantra sambil menaburkan serbuk berwarna merah muda di atas keempat kuburan kaca itu.

Tugasnya sudah selesai; Prosesi penebusan dosa.

Sebuah cahaya berwarna sangat merah muncul entah dari mana, menyelubungi Eva. Mengangkatnya kembali ke surga, menemui Adam yang sudah sangat rindu padanya. Mereka berpelukan melepas kangen lalu saling meludahi. Itu mungkin cara mereka mengungkapkan sesuatu yang tak terbahasakan.

"Gue capek, Kenty! Menitis-nitis itu bukan pekerjaan mudah."

"Ya, sudahlah. Itu kan resiko groupie."

"Gue kangen loe. Apa kabar surga?"

"Gue juga, meski tiap hari gue bisa liat loe di TV. Surga baik-baik aja. Sungainya masih berasa madu dan berwarna susu. Masih sejuk dan membosankan seperti dulu."

"Loe curang sih! Buah khuldi itu kan mestinya kita berdua yang makan. Giliran loe yang makan, loe malah ke toilet. Gimana sih!"

"Sorry, gue kebelet berat. Saat itu, pas gue keluar dari toilet, loe udah gak ada. Gue dapet kabar dari Si Iblis, katanya loe diloncatin ke dunia, nebus dosa, jadi groupie. Dan kata Si Iblis juga, gue disuruh nunggu ama Big Boss disini ampe loe selesai tugas."

"Ya, sudahlah! Gue juga waktu itu gak tau kok kalo buah khuldi itu rasanya dunia banget. Tapi ngomong-ngomong… pohonnya masih ada?"

"Wah, sekarang banyak. Sudah dibudidayakan jadi perkebunan khuldi di setiap sektor. Katanya sih, biasa kata si tukang gosip, Iblis, biar bidadari ada kerjaan, jangan ngelacur terus. Tapi hasil panennya tetep gak boleh dikonsumsi disini. Di-ekspor ke luar. Gak tau kemana. Mungkin ke dunia atau ke neraka. Denger-denger presiden neraka, Si Lucifer, suka banget ama buah ini. Dan di sana buah ini jadi makanan pokok wajib. Makanan nasional. Dia kan nasionalis abis, padahal itu kan buah impor. Dasar Si Lucifer! Tapi banyak kebijakan baru yang dia bikin setelah lengsernya Si Diktator Pluto[1]. Sekarang setelah dua periode kepemimpinannya, dia berhasil, setelah sekian lama mengusahakan, menandatangani perjanjian dengan perdana menteri Kahyangan, Narada, untuk menghentikan perang dingin. Lalu bersekutu untuk menyerang Olympus, musuh bebuyutan ke dua negeri itu.

Tapi, katanya lagi, Si Zeus, raja Olympus, kalem-kalem aja. Dia malah makin gila kawin. Istrinya terus diperbanyak. Kemaren dia dateng kemari, ngajak kawin salah satu bidadari tercantik di sektor 12. Dia kan belum tau bidadari itu apa. Ha..ha..ha… Tapi gue gak ketemu dia, gue lagi di toilet. Mencret. Kebanyakan ngegosip ama Si Iblis. Hehehe…!"

"Dasar, cowok! Lagian Si Iblis masih aja loe percaya. Dia kan bokis abis orangnya. Banyak ceritanya cuman tipu dan ditambah-tambahin, fiktif! Wartawan tabloid!"

"Ha… ha… ha…, daripada gue ngelamun tiap hari. Onani terus, bosen. Bintang bokepnya belum ada yang baru, Asia Carera udah mati. Masa mesti ngecengin bidadari, yang bener aja!"

"Kecengin aja kalo loe suka, hi…hi…hi…!"

"Sialan loe. Gue belum se-"sakit" itu, meski gak ada loe."

Mereka lantas berpelukan lama sekali dengan diiringi musik-musik penyambutan tradisional surga. Tuhan[2] kali ini tersenyum haru menyaksikan dua ciptaannya yang paling sukses itu sambil menepuk-nepuk pundak iblis yang tersenyum jahil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Dalam film Hercules versi kartun, yang memusuhi dan selalu menyerang Hercules adalah Pluto atau Hades (pamannya dari ayah) dan bukannya Hera atau Juno (istri tertua ayahnya, Zeus atau Jupiter).

[2] Masih Tuhan yang sama seperti pada catatan kaki 1


Blog EntryChapter XV, The EndApr 5, '06 12:26 AM
for everyone

Chapter XV

Kelereng Diantara Duka dan Hampa

 

Segelas juice jeruk mengingatkanku betapa piciknya aku berpikir bahwa dia (tubuhnya, warna-warna matanya, menghentikan mobil saat lampu merah menyala-nya, setiap mutiara yang menancap di sudut-sudut dagingnya, desiran darahnya, hentakan tubuhnya saat hujan menerpa, erangan paraunya, 3 mm2 tanda lahir berwarna biru kemerahan di ujung selangkangnnya, bau vaginanya yang meluntur merayapi malam-malam yang entah keberapa kali itu) hanyalah seorang pelacur musim yang tak perlu kubayar sebab dia mencintaiku.

Ternyata semakin kupicingkan mata, kukerutkan dahi, kubuang semua sperma matang, akulah yang layak disebut pelacur. Dia adalah bitch dan aku adalah bastard. Begitu katanya setiap kali. Bitch adalah dia, Bastard adalah aku. Aku menyetujuinya.

Apa yang kau pikir bila seekor bitch dan seekor bastard berdialog? Pembicaraan tentang hedonisme yang terus menerus? Kau salah! Yang kami bicarakan adalah filsafat, melulu filsafat. Bukan sejarah filsafat. Bukan filsafat yang sudah diagungkan di buku-buku. Tapi filsafat versi sekor bitch dan seekor bastard. Filsafat yang sepertinya lebih kasar dari dialog fantasi Derrida dengan Baudrillard.

Bitch   : “Kita adalah dua tokoh antagonis yang dibenci penonton.”

Bastard: “Ya, Miky and Malory Knox.”

Bitch   : “Bukan, mereka tidak dibenci penonton. Kita adalah tokoh antagonis standar. Agus Melast dan Ibu Subangun. 80’s antagonist, isn’t it? Hahaha…”

Bastard: “Aku adalah Apollo, dan kau Daphne.”

Bitch   : “Tidak, tidak… Kalau di mitologi Yunani, aku adalah Aphrodite dan kau adalah Ares, tepat pada saat mereka ditonton dan ditertawai para Dewa.”

Termina, Si Bitch itu, sudah menikah waktu mengenalku. Dia datangi aku saat sedang mengurusi proses cerai dengan suaminya, membawa entah berapa kilojoule birahinya, menyetubuhiku dengan basah di setiap senti tubuhku. Lantas dia beri aku makan, seonggok bangkai, seribu vibrasi, sebuah kenyamanan bersyarat, serta semua keperluan gilaku.

Aku menyukainya, Termina benar-benar layak untuk disukai dari berbagai arah, Barat, Selatan, Utara, Timur, Barat Daya, Timur Jauh, Atas, Bawah, Diagonal, ataupun dari Sudut Warna-warna. Aku lelaki normal senormal penis dunguku, dan miskin semiskin penis dunguku. Lalu dia benar-benar cerai dengan suaminya saat aku berpikir bahwa aku hanyalah ikan cupang dan suaminya benar-benar daging dan tulang. Suaminya adalah daging dan tulang sehat yang selalu disajikan dalam restoran dan cafe di hotel-hotel jadi steak dan sop kaki. Setelah itu suaminya mulai beranjak gila dan selalu mencoba untuk bunuh diri. Aku mendengarnya dari Niskala. Aku selalu hanya mendengar saja.

Aku adalah telinga. Satu-satunya yang kubisa selain mendengarkan Niskala bicara adalah memainkan setiap helai senar gitar dengan merek apapun, dengan sempurna! Gitar yang sama yang kupakai untuk mengamen di perempatan bahkan gitar yang sama yang kupakai di konser-konser tunggal kami.

Aku adalah telinga. Niskala melulu mulut. Begitulah hingga kami melebur bersama dalam nada-nada harmoni, kontras, fals bahkan absurd-schizophrenic. Selalu begitu, sehingga rahim kami membesar dan lantas meledak memunculkan satu nama: Samantha Impossible Dream, berupa track-track lagu yang mengejan-ejan, menangis keras, meracau-racau dan mencecakar kain-kain bercorak dalam berbagai hiasan not balok dan komputer yang isinya melulu program musik.

Aku adalah pengganti mentari saat malam buat Niskala. Niskala adalah ke-takkasatmata-an. Menjadi terlihat saat sinar menyelubunginya. Kita berdua menjadi keseluruhan semesta saat melebur bersama suara-suara. Menjadi Tuhan untuk kami sendiri. Memuja diri kami sendiri. Meniupkan ruh atas setiap lagu yang kami buat.

Ada beberapa additional untuk alat musik yang lain. Yane untuk grand piano dan keyboard. Erva untuk violin. Dan Ervi, kembarannya Erva untuk backing vocal dan rythm guitar. Selalu dengan format itu untuk setiap kali konser. If adalah manager yang hebat. Aku mencintainya. Dia adalah groupie Niskala. Tidur dengan Niskala dan berpacaran denganku. If adalah manager kami. If adalah pacarku. If adalah groupie Niskala. Album pertama kami meledak dengan ribuan copy dan  memenangkan berbagai awards disini ataupun diluar. Ah…, masa lalu…

 

*

 

Saat itu. Aku merasa hina. Mendungnya langit seolah dan bukan saja seolah mengiringi kehinaanku, mencoba menyembunyikanku dari berbagai kecaman mata setiap orang. Kecaman mata itu adalah mimpi buruk yang bertumpuk. Seperti ketika dua kilogram marijuana dihunjamkan asapnya langsung kesetiap aliran darah di otak. Kecaman-kecaman imajiner yang sebenarnya tidak datang dari siapapun tapi datang dari proyeksi mataku sendiri. Kecaman-kecaman hina atas setiap langkah kakiku setiap menelusuri apapun, setiap menit, setiap detik. Dihunjam ketakutan dan kehinaan seperti itu membuatku selalu ingin melemparkan satu balok batu yang besar pada setiap mata-mata itu yang selalu seolah dan bukan saja seolah mengiringi langkah-langkah kakiku pada setiap menelusuri apapun. Tapi aku harus melangkah untuk menelusuri apapun dan bersiap berbekal batu apabila kecaman imajiner itu mengiringi langkahku lagi. Aku harus melangkah, setiap menit, setiap detik.

Dering mobilephone yang ketiga, dengan nada lagu pertama kami, baru kuangkat, sebab vibratornya sangat mengganggu selangkanganku.

“Halo…, ini aku yang tengah mati!”

Kututup. Ini masih mimpi buruk yang bertumpuk.

Aku pulang kerumah. Tertidur dengan suara Thom Yorke menggeliat-geliat dalam Amnesiac,

Morning bell… morning bell… light another candle and release me…

Dering jam weker yang ketiga baru kumatikan.

“Selamat pagi wahai bisik hari, ini aku yang tengah mati.”

Masih mimpi buruk yang bertumpuk? Termina yang menumpuk-numpuk, menumbuk-numbuk engahan nafasku, keringatku. Mimpi buruk tentang bajingan yang bersarang ditubuhku. Merasuki setiap sel, setiap menit, setiap detik.

Hingga malam, masih dengan background mendung, kudentangkan gitar dengan nada-nada yang kusengaja fals seperti mimpi buruk bertumpuk-ku. Suara jengkerik dan burung suitincuing memberi melodi dari ritme gitarku. Dan suara detik jam dikamarku membimbingku seperti ketukan metronom terganggu degup jantung yang suaranya lebih bingar daripada geraman adrenalinku. Diiringi klakson mobil tetangga dan teriakan anak-anak kampung yang baru pulang mengaji di rumah Pak Jarkoni. Kunyanyikan lagu-lagu cinta seolah dan bukan saja seolah tiada lagi yang bisa diperjuangkan dalam hidup selain cinta.

Dering bel rumahku yang ketiga, baru kubuka.

“Ini aku yang tengah mati!”

“Karna? Kau kenapa?”

“Ini aku yang tengah mati dalam tiga babak ini aku yang tengah mati.”

“Karna…!”

“Pulanglah Termina, aku tak sanggup lagi.”

“Tapi kita belum selesai membicarakannya.”

“Ya…, tapi aku sudah menyadarinya. Aku tidak akan pernah mencintaimu.”

“Aku tak butuh cintamu. Aku adalah gairah dan kau adalah tikus.”

“Kau adalah ayam betina dan aku adalah anteros. Kebencian? Entahlah.”

“Kamu bajingan, Karna!”

“Ya, aku adalah Bastard. Dan kau Bitch, pulanglah. End of conversation!”

Kututup pintu tanpa memberi sedikitpun kesempatan untuk Termina melewati batas terakhir dari mimpi buruk bertumpuk-ku;

teriakan-teriakan gila yang mengancam tujuh ribu kecemasan merasuk ke dalam tubuhnya sekaligus

mencipta durja yang berkepanjangan

dia sudah membuang jauh-jauh semua kemuakannya padaku

aku lantas mengulur waktu

menyimpan dendam kesetaraan

aku tak peduli dengan sejuta durjanya

sebab sebenarnya teriakan-teriakan gila itu masih terus bersemayam dengan tenang dalam tubuhnya

sekali lagi kukatakan bahwa dendam itu masih juga teredam dalam tubuhku

malah kebusukannya semakin membesar, menyengat ujung-ujung syaraf penciumanku dan nyaris membuatnya buta

hingga pada suatu ketika kami berdua menabrakkan keduanya,

dendam membusuk dan teriakan gila itu, dalam sebuah irisan simetris yang kami berdua ciptakan dalam sebuah persenggamaan sakral diatas ranjang mimpi pertama kami

penyatuan itu berhasil melahirkan benih-benih seribu satu kebijaksanaan yang kucoba terangkan padamu sebagai penggembala para domba

yang akan meneruskan keskizoprenikan para pendahulumu yang sudah tersesat dalam labirin yang mereka buat sendiri

maka selamat malam...!

Tak lama bel berdering lagi.

“Sudahlah Termina, aku sudah muak!”

“Karna! Ini Niskala.”

“Nis…”

“Ya…”

“Masuklah, aku pikir siapa.”

“Kamu kusut sekali, kenapa?”

“Entahlah!”

 

*

 

Tiba-tiba datang Niskala. Dia bercerita padaku tentang hubungan cintanya yang kandas gara-gara hal kecil yang sebenarnya masih bisa diselesaikan. Cinta lagi! Apa tidak ada kisah lain yang lain selain kisah cinta? Selalu cinta… selalu tentang cinta. Aku muak, sambil menghembuskan asap rokok ke mukanya. Maaf, saat ini aku sedang tak bisa menjadi telinga buatmu, malam ini aku tidak sedang ronda menggantikan ayahku. Malam ini aku sedang tidak bisa menerangimu. Maaf!

“Sebentar, Kawan! Bukan hubungan cinta dengan wanita, tapi dengan Tuhan. Gue lagi berantem berat ama Dia.”

Aku tak peduli. Lalu aku tinggalkan dia. Aku keluar kamar kost-ku. Kulangkahkan kakiku mengikuti ibu jari yang entah berapa lama tak kupotong kukunya. Semerbak harum getah-getah pohon flamboyant mengiringi langkah dan lamunanku. Dingin malam tak terasa. Tiba di pinggir jalanan sepi, aku berjongkok dan mataku menerawang ke arah langit yang malam ini enggan menampakan bintang-bintangnya. Sepertinya enggan untuk memberiku keindahan. Disitulah aku sepanjang malam itu hingga tertidur. Mimpi buruk terus bertumpuk-tumpuk. Terbangun tapi tidak terbangun, aku masih terus bermimpi.  Bermimpi dan bermimpi lagi. Aku masih bertanya, tidur nyenyak; dengan mimpi atau tanpa mimpi?

Pagi hari, lebih tepatnya menjelang tengah hari aku dibangunkan oleh suara klakson bis kota yang mengangkut para mahasiswa dan pedagang-pedagang pasar yang baru pulang. Aku menggeliat dan menoleh ke sekelilingku. Begitu riuh. Aku berdiri dengan sisa kantuk yang masih menyerang sarafku. Sambil sempoyongan berjalan menuju kamar kost-ku yang tak jauh dari sana.

Sesampai disana kutemui Niskala masih tertidur. Dan seorang gadis sedang membaca majalah.

“Hai!” sapaku.

Dia terkejut dan menoleh ke arahku.

“Karna, dari mana saja?” kata If.

“Sejak kapan disini?”

Dia tak menjawab. Dia hanya memelukku sambil mencium pipiku dan menarikku kedalam kamar. Lalu dia menuangkan segelas air putih dari botol dan memberikannya padaku.

“Minum dulu! Berantakan sekali kamu. Dari mana sih? Tertimpa gunung batu ya? Aku kangen.” katanya.

Aku hanya terdiam saat setelah menenggak habis air di gelas itu. Aku terus terdiam sambil tertunduk. Dia pun terdiam sambil memperhatikanku. Sepetinya tidak menunggu jawabanku. Dia mengerti bahwa ini bukan saatnya aku memberikan jawaban. Dia sepertinya tahu bahwa aku sedang menghadapi sesuatu yang berat. Sesuatu yang berat? Mimpi buruk bertumpuk? Kecaman hingar bingar dari setiap mata? Kusiapkan sebalok batu besar dan siap kulemparkan pada mimpi buruk bertumpuk-ku.

Selanjutnya, aku berteriak-teriak. Dia keheranan dan mencoba menenangkanku. Aku terus berteriak dan mengamuk hingga Niskala terbangun dan langsung membantu If menenangkanku. Hingga aku menangis dalam pelukan If.

“Aku ingin mati saja, aku ingin mati!” ratapku.

If menepuk-nepuk punggungku dan membelai-belai rambutku dengan lembut.

“Sudahlah, Sayang! Tenangkan dulu, baru setelah itu ceritakan apa yang terjadi! Mungkin aku bisa membantu.”

Aku terisak-isak dan lalu tak sadarkan diri. Tak hentinya dilempari sebalok batu besar oleh mimpi buruk bertumpuk-ku... Terlalu banyak suara-suara ghaib di belakang kepalaku...

 

*

 

Dua puluh tahun kemudian…

Aku terbangun dari tidur panjangku. Tidur panjang? Amnesia? Gila? Skizoprenia? Entahlah…

Seorang gadis remaja memakai seragam SMU masuk ke dalam kamar.

“Papa, aku berangkat dulu ya.” Dia mencium tanganku, pipiku. Lantas pergi lagi.

Astaga! Apakah ini masih mimpi bertumpuk dalam bagian yang tidak buruk?

 

*

 

…ya.

Akhirnya aku mengerti setelah diceritakan If yang kini sudah menjadi istriku selama 18 tahun. Melahirkan dua anakku. Astaga…! Ini bukan lagi mimpi buruk bertumpuk tapi kenyataan baik yang bertumpuk-tumpuk.

Ya, akhirnya aku mengerti setelah bangun dari skizopreniaku selama 20 tahun. Skizoprenia atau entah apa namanya ketika kau tidak siap menerima sebuah kehilangan setengah bagian jiwamu. Aku lebih suka menyebutnya kehilangan “mulut”.

 

*

 

Di suatu malam seminggu kemudian, ada If, dan kedua anakku yang baru kukenal. Kami sedang berkumpul di ruang tengah sambil menonton TV. Tiba-tiba listrik dirumahku mati.

Segalanya sudah berakhir, aku meninggal dengan tenang diiringi isak tangis, jeritan histeris hingga bunuh dirinya istriku. Dunia seperti kelereng diantara duka dan hampa. Tergoncang dan runtuh.

Segalanya sudah berakhir.

Truly! Termina! If! Samantha? Aku, Niskala?

 

 


Blog EntryLampiran-lampiran Chapter IIApr 4, '06 9:49 AM
for everyone

Lampiran I.

 

Tabel 1. Soal

(Isilah Titik-titik Dibawah Ini Dengan Kekuatan Intuisimu!)

Menitik
Menoktah
Membanjir

2

daging asap

jembut

adam

86

9

cuka

semut

titik

aku

Mati

213

mama

lelana

noktah

kancah

 

 

Tabel 2. Apa yang akan kau lakukan ketika ibumu meninggal?

(Pilih A atau B!)

A
B

1234567890

!@#$%^&*()

neorippleraygunblocknotajaibkunciposmohaiteenellebazzarelisabethardensiapakahaku

episode_IV@yahoo.co.uk

kusudahi

ataukuakhiri?

ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ

LiberteEgaliteFraternite

235711…08562125281ataukeliru

crackeggsdeadbirdsofpreyflyinghigh

matrixmatrikulasi

doadandosadandosis

howmuchicansaywhatfuckoffinevercareneitherdoi

 

 

 

 

 

 

Lampiran II.

Grafik. (Masih seperti dulu hanya sekedar mengingatkan kembali.)

 

 

1000 b.c.    2000 a.d.    5000 a.d.   8000 a.d.    12000 a.d.

I____________I____________I___________I____________I

interfase    now-you     now-me     my-brain   seringai Tuhan untuk S-isms

 

Lampiran III.

 

Hitungan-hitungan.

 

setiap 60 kali 60 kali 24 kali 365¼= 31557600

itu hanya jumlah detik dalam hidupku selama satu tahun…

 

1 kata = lahir dari hirupan nafas

seberapa detikku = sebuah kata

beberapa juta kata ~1 kali bumi berevolusi

beberapa kata = segelintir puisi

beberapa juta puisi = selama hidupku

 

limatahundelapanbulanenamharitigajamenammenitduapuluhempathinggaduapuluhsembilandetikumurku

lipatanselembarkertasukuranfoliolegalmembujursimetristerciptaselembar(ataudualembar)persegipanjangselisihantarapanjangdanlebarnyasangatbesarlaluakumengcrossingkedualembartadihinggaterbentuklambangtambahlaludibakar

beberapaributetesembunyangkitalihatsetiappagi-banguntidur-mandi-gosokgigi-kopirokok-nuansapagidikalikandengandetakjantungpagiitu=sederetangkayangmengatakanberapakalimembuatkesia-siaansetiappagi

episode_IV@yahoo.co.uk lalu aku akan membakarnya dan lalu membuang abu-abunya bersama bunga kemboja di sungai belakang rumahku, terimakasih

2,55 m tambang karamantel menjerat leher diameter antara 30-33,2 cm

(2,55 m – ( 22/7 x 30) = 91.7357142857142857142857142857143)

(2.55 m – (22/7 x 33,2) = 101.792857142857142857142857142857)

Panjang sisa tambang = 91.7357142857142857142857142857143 hingga 101.792857142857142857142857142857

 

God = Love + Death + Insanity2

 

aku diam kembali menggosokan tarian jiwa itu di sekujur binar hatiku “mama… mama…”

diam, hening

sekelebat cahaya sedesir angin mengantarkan jawaban ibuku

a-ku rin-du

A-K-U R-I-N-D-U

akhirnya aku berteriak

“Ibu…!”

halilintar menggelegar

kilat bersambaran

sebentuk kabut menari

meliukan sosok hologram ibuku

menyentuh rambutku

tanganku

membelai kosong

hangat sekali

tiba-tiba…

tak ada apa-apa

semesta kembali terdiam

yang kudengar hanyalah bahasa jiwa yang amat hening

dialog intim antara seorang anak dengan ibunya

selesai sudah babak pertama

babak kedua dimulai dengan diam

lalu mengaum

dan diam kembali

tak selesai

tak selesai

harus kuteriakan kembali halilintar

dan kelam-malam-astaga-simpanlah ini di hatimu

jambangan bunga pecah

pigura kaca potret seorang tua pecah

intuisiku menyeruak dengan sebuah senyuman singkat mimpi keabadian

I miss my MOM

I miss my GOD

I miss quietly

Thank’s…

 

Lampiran IV.

I.                   Apa yang akan kau lakukan bila ibumu meninggal?

1.      bunuh ayahmu

2.      cari orang tua angkat

3.      intip ketika mereka bercinta

4.      onani

5.      bunuh keduanya seusai orgasme

6.      cari sebuah dadu

Tentukan hidupmu dengan dadu!

II.                Apa yang akan kau lakukan bila ibumu meninggal?

a.       cari sebuah dadu[1]

b.      tulis poin-poin berikut:

1.      menangis sekeras-kerasnya

2.      perkosa seorang gadis

3.      pecahkan piring

4.      bunuh diri

5.      ngupil

6.      jalan-jalan ke pantai

c.       kocok dadumu, lemparkan dan lakukan kegiatan sesuai dengan nomor yang keluar

d.      jadilah anak yang baik bila no. 4 tidak keluar

e.       usahakan keluar dari penjara bila yang keluar no. 2 (pemerkosa sangat diperlakukan seperti binatang di penjara, baik oleh petugas ataupun oleh sesama tahanan)

f.       lakukan hal secara berurut seperti pada no. I

III.             Apa yang akan kau lakukan bila ibumu meninggal?

Ya, Tuhan!

Ya, Tuhan!

Ya, Tuhan!

IV.             Apa yang akan kau lakukan bila ibumu meninggal?

-          cari sebuah dadu

-          jadilah pelawak

V.                Apa yang akan kau lakukan bila ibumu meninggal?

===seperti dalam Tabel 2. Lampiran I.===

 

 

Yogyakarta, 14 Februari 2001

Happy Valentine’s Day



[1] Saya belajar permainan dadu ini dari Boel, sahabat saya dengan referensi dari novel “The Diceman”