SchizophreniaEpisodeIV ke-4
Dogma, Domba dan Dongeng
coba tak kukatakan
coba tak kujawab
dan berteriak
sahut
menyahut
merintih
perih
mengembik
terkikik
hi...hi...hi...!
dalam sekali
kacamatamu menembus telinga ruang
dan kucoba raih egosentrismu itu-itu-itu
lalu kulit durimu terkelupas
satu-satu
dan aku melangkah
dua-dua
berjingkrak
loncat-loncat-loncat
seiring lagu rolling stone
dan ditimpa the cure
dengan friday i’m in love
seperti air
seperti dongeng
menjadi dogma menjadi siang menjadi domba
mengembik mengerjap
lelah
tulis lagi satu
terkesinambung
dengan mata-mata-mata
tua-tua
melintasi ruang otak
dan mengakali
jati-sejati diri
aku rindu
aku rindu seringai lembutmu
aku kangen
sekangen mata tua sang kakek
pada tubuh bugil perawan istri muda khayalannya
paris jadi batu
bangkok jadi tanah
seattle jadi bangkai
bandung jadi indah, plaza
ya..ya..!
di plaza itu aku mengembik aku merintih aku jadi dogma keseharian jadi domba jadi dongeng tak berkesudahan
dan dongeng dan dongeng dan
sahut dan
menyahut
jadi domba berubah dogma berupa dongeng
parodi waktu hingga
plesetan ruang
aku tembus aku terhempas aku jorok aku terangsang dan kugantung aku onani aku teringat ayu utami jadi angan jadi asa jadi rasa jadi diri jadi ego jadi lelaki berubah kelamin jadi domba betina jadi betis-betis mulus dan bra-bra menonjol jadi menantang
ah...!
libidoku memuncak
jadi sexist
jadi dokter penyakitan
seperti dongeng jadi domba jadi dogma
dan kain-kain wol, polyester, atau katun sekalipun takkan sanggup menembus kehampaan yang dongeng yang dogma yang aku yang aku-aku yang aku-aku-aku yang domba yang dongeng tak terselesaikan
kugantung lagi
di lipatan jemari matahari
yang menyengat alis mataku
kuraih plato jadi jenius
kuraih gump jadi idiot
kuraih dalli jadi gila
jadi gila jadi hantu jadi dogma jadi dongeng jadi domba jadi domba-domba jadi domba-domba-domba logika omong kosong filsafat para filsuf sok filosofis
coba tak kukatakan
tapi terus terucap
meluncur
seperti terjun
dan kau tersenyum jadi seringai
lembut
aku muak jadi harapan jadi tragedi jadi jiwa-jiwa kotor pemusnah raga
pemusnah indera-indera malam jingga
ah...!
aku orgasme
jadi domba terus dogma hingga dongeng
tak berkelanjutan
seperti putus
sepertinya domba
padahal dogma
sepertinya dogma
padahal dongeng
sepertinya dongeng
padahal domba
sepertinya domba
padahal dongeng
sepertinya dongeng
padahal dogma
sepertinya dogma
padahal domba
terus
menerus
siklikal tak tentu tapi siklikal tapi tak tentu tapi siklikal tapi tak tentu tapi siklikal tapi tak tentu...
NISKALA Ruhlelana
Bandung, 8 Mei ‘99
jam 3 kurang 7 menit
dini hari tadi