Chapter XIV (masih) Dalam Mesin Labirin
Langit sepertinya masih hijau. Belum menunjukan kebijaksanaan apapun, bahkanpun seandainya beberapa bintang yang membentuk sebuah rasi mulai jelas terlihat.
Dua lelaki itu masih duduk menunggui malam, masih di taman itu. Taman yang berbau dupa, tidak begitu menyengat, tapi cukup membuat bulu kuduk berdiri satu-persatu apabila dihirup dengan semua kegagalan fantasi yang menyeruak menggambarkan wajah seram sundel bolong saat kau berumur 4-12 tahun.
Dua lelaki itu sedang menghitung berapa banyak keindahan yang terlewatkan sore itu bila mereka membicarakan beberapa tema sekaligus dalam hitungan kesepuluh.
Misalnya ketika seorang gadis bersepatu kaca melewati tepat di depan hidung mereka sementara bau dupa terus menghantui fantasi mereka. Ada keindahan yang terlewatkan tentu.
Atau ketika ada gadis lain melirik mereka dan mencoba duduk di kursi besi yang lain yang tak jauh dari kursi besi yang mereka duduki sekarang sementara suara mobil yang entah berapa puluh mengaum di kejauhan di jalan sebelah taman itu. Sementara mereka terus membicarakan teme-tema yang sejak tadi melingkupi obrolan mereka. Ada keindahan yang terlewatkan tentu.
Atau ketika ada seorang anak kecil melemparkan batu pertamanya ke kolam yang tak jauh dari tempat duduk mereka dan ibunya tersenyum memperlihatkan sebuah kebanggaan yang tak dapat dilukiskan Basuki Abdullah sekalipun. Senyum yang menarik, seharusnya menarik kedua lelaki itu. Ada keindahan yang terlewatkan tentu.
Ada memang banyak keindahan yang terlewatkan. Puluhan paragraf. Tapi tidak, ada keindahan lain yang mereka rasakan saat langit berubah dari hijau ke kelabu padat. Yang hanya dirasakan mereka berdua. Tidak dirasakan orang-orang yang sedang menikmati sore di taman itu. Hanya mereka berdua.
Dua lelaki itu sebenarnya tidak pernah merindui malam, tidak seperti para kalong yang menggantung di sudut-sudut kolong jembatan dan dahan-dahan pohon. Tidak pernah merindui malam sama seperti tidak pernah merindui siang.
Lelaki pertama berwajah lembut, kekanakan, kewanitaan. Seperti akan membiarkan orang menampar pipi kirinya apabila sebelumnya orang itu menampar pipi kanannya. Tidak akan membunuh seekor nyamukpun meski dia hidup di musim kemarau dalam sebuah tempat penuh genangan air dan puluhan baju bergantungan di capstock dan lemari yang terbuka. Sepertinya dia rentan akan berbagai penyakit yang dekat dengannya. Berwajah arab campuran cina. Wajah yang jarang sekali ditemukan, wajah yang dipertemukan oleh dua kebudayaan yang amat berbeda, amat bertolak belakang. Dan sepertinya leluhurnya pernah bermasalah terhadap keluarga besarnya. Kakeknya diusir dari rumah karena menikahi seorang cina. Neneknya diusir dari rumah karena menikahi seorang arab. Ayahnya lahir dan menikahi seorang sunda-belanda saat beranjak dewasa. Cukup tampan kalau begitu.
Lumayan tinggi dan tegap, tidak terlalu kurus meski sepertinya olahraga bukan kebiasaannya dari semenjak lahir hingga sekarang. Kulitnya berwarna macam-macam, sepertinya seluruh warna siang, sore, malam dan pagi menempel sekaligus dan sabar di tubuhnya.
Lelaki kedua berbadan kurus tapi tidak kering, cukup basah dalam beberapa hal, misalnya apabila dia menawarkan seorang gadis untuk bersetubuh dengannya dan menjilati seluruh tubuh gadis itu seperti induk kucing menjilati anaknya setubuh-tubuh. Cukup basah saat merokok, sebab ujung rokok yang terselip di bibirnya memang tidak pernah kering, sepertinya dia tidak pernah berhenti menjilati rokoknya yang berasa sedikit manis itu seperti tidak akan pernah bisa menikmati rokok putih yang ujung filternya tidak berasa atau bahkan sedikit pahit.
Wajahnya tirus, memendam tangis, sedikit merah apabila mendengar beberapa hal yang emosional, marah, sedih, tertawa, malu, gatal bahkan birahi. Wajahnya cukup menarik kalau begitu. Berwarna dua, merah dan putih oriental standar.
Tangannya selalu mengepal seperti mempunyai wajah yang kuat dan berbadan gempal. Tangannya selalu mengepal seperti menandakan bahwa dia selalu siaga apabila ada orang yang tiba-tiba datang membawa segudang adrenalin dan menimpakan beberapa balok paving block ke muka, kepala dan tubuhnya.
Tetapi lelaki itu berperilaku santai, hanya tangannya selalu mengepal, entah kenapa.
Seekor kucing bercorak putih kuning tiba-tiba mengeong dengan nyaring dengan mata menyorot langsung dan tajam ke mata lelaki pertama. Seolah akan memperingatkan tentang sesuatu padanya. Dan bukan saja seolah. Agak lama mereka terpaku terkesima hingga kucing itu pergi sambil menggerutu dengan eongan- eongan kecil hingga tak terlihat tertutup salah satu pohon di taman itu dan beberapa belukar tapi eongan nya masih terdengar.
"Astaga! Aku benar-benar harus menjadi Sulaiman. Aku yakin sekali kucing itu ingin memberi tahu aku tentang apa yang sedang kupikirkan sekarang." Lelaki pertama berujar sambil memandang penuh rasa ingin tahu ke arah kucing itu menghilang.
"Apakah yang kau pikirkan sekarang sama dengan yang kupikirkan sekarang?" lelaki kedua menanggapi sambil menatap tajam ke arah mata lelaki pertama.
"Ya, aku pikir sama! Episode IV bukan?"
"Episode IV! Si Brengsek itu benar-benar menggangguku dengan menghilangkan Chapter XIV."
"Kau yakin dia menghilangkannya? Bukankah lebih mungkin dia memang tidak pernah membuatnya? Dia hanya ingin membuat sensasi atau membuat kita penasaran misalnya."
"Aku yakin tidak sesederhana itu. Pasti ada sesuatu. Soalnya aku pikir dia tidak membuat hal baru dalam novel itu. Pasti ada alasan tertentu kenapa dia tidak mencantumkan Chapter XIV. Alasan yang cukup kuat."
"Mungkin! Dia bisa saja mereka-reka alasan andai saja dia sekarang masih hidup. Ya, dia benar-benar menyengaja melakukan hal itu."
"Aku juga melihat ada benang merah yang hilang antara Chapter XIII dengan chapter XV. Kau melihatnya?"
"Itulah, aku tidak melihat itu. Aku bisa mengatakan karya itu cukup utuh tanpa Chapter XIV. Dan atau dengan atau tanpa Chapter XIV pun karya itu tidak cukup utuh. Aku membacanya dengan subjektifitasku tentu!"
"Aku merasa akan utuh dengan Chapter XIV. Lebih tidak cukup utuh tepatnya, tanpa Chapter XIV."
"Dia memang sengaja tidak mengutuhkannya. Sepertinya hilangnya Chapter XIV sebagai sebuah simbol ketidakutuhan novel itu."
"Kita harus melihat karya itu dari karakter si penulisnya. Apakah dia orang introvert atau obsesius atau apapun. Mungkin dengan hal itu kita akan mengetahui rahasia dibalik hilangnya Chapter XIV."
"Energi kita masih dibutuhkan untuk hal yang lebih keren, kawan, ketimbang harus meneliti pribadi seseorang yang sudah mati. Sebaiknya malah, kenapa kita tidak menulis saja Chapter XIV versi kita. Bukankah akan lebih asyik?"
"Wah, ide yang cukup lucu! Tapi sebaiknya bukan kita, tapi kita masing masing. Kau bikin versimu dengan semua subyetifitasmu. Akupun begitu. Tak usah terlalu serius, tapi mengalir saja. Nanti kalau sudah jadi kita compare dan lalu kita diskusikan."
"Asyik juga ya kalau begitu! Kebetulan aku juga lagi tidak punya ide untuk bikin karya. Kenapa tidak bermain-main seperti itu. Ok deh, kapan kita mulai."
"Terserahlah, aku bisa saja memulainya sekarang. Kau bisa kapan saja."
"Baiklah! Aku juga sepertinya akan mulai berkontemplasi dari sekarang. Tidak serius."
"Ya, tidak usah serius."
CUT TO.
1. INT. SEBUAH KAMAR - MALAM.
Camera Close Up.
Wajah lelaki pertama yang sedang berkontemplasi.
Camera Move.
Bagian-bagian kamar. Tumpukan buku. Sebuah novel tergeletak di atas meja di depan lelaki pertama, terbuka. Sebuah halaman kosong antara chapter 13 dan chapter 15.
Camera Pan.
Background poster-poster iklan acara-acara kesenian dan sebuah poster Radiohead Besar.
Kontemplasi lelaki pertama dengan bersila di depan meja. Sebuah kontemplasi yang mengobrak-abrik beberapa ingatannya tentang seberapa jauh Si Brengsek penulis novel itu akan merunut beberapa bagian yang hilang dalam novelnya. Atau memang beberapa bagian yang sengaja tidak ia buat.
Penulis itu ia pikir telah sangat tidak bertanggung jawab terhadap karya yang sudah dia lemparkan ke publik.
Dia melemparkannya begitu saja lantas setelah itu Penulis Brengsek itu meninggal dunia. Karya yang dia buat bukanlah kode-kode yang sudah dia mengerti. Tapi kode-kode pribadinya, meski dia sudah membuat pembelaan yang dia ungkap di Epilog Temporer Episode IV yang seolah-olah ditulis oleh Eva fiksinya.
Benang merah… benang merah… ataupun benang yang berwarna-warni, hijau kuning, biru putih, kelabu, ungu, nila atau apapun.
BLUR TO.
Scene 1.2
EXT. LAPANGAN LUAS PUTIH - SIANG/MALAM
Kita melihat seorang lelaki (penulis novel Episode IV) sedang berjalan. Melempar-lemparkan kertas. Menyobek-nyobek. Membakar. Hingga membakar dirinya sendiri.
DISOLVE TO.
Scene 1.3
ANIMASI.
Benang merah yang bergerak-gerak hingga kusut dan berubah-ubah warna. Berakhir dengan warna putih terang.
CUT TO.
2. INT. SEBUAH KAMAR - MALAM
Lelaki kedua sepertinya sudah akan memulai menulis…
Menulis entah tentang sesuatu yang mulai mengalir deras dalam benaknya. Menulis tentang orang-orang yang lain. Orang-orang yang peradabannya lebih tinggi. Orang-orang yang lebih tinggi tingkat manusianya. Orang-orang yang tidak bernama. Orang-orang yang hanya disimbolkan dengan inisial. Orang-orang yang benar-benar baru. Orang-orang yang mengejutkan. Orang-orang dengan kebiasaan-kebiasaan absurd. Aku tak perlu benang merah. Untuk apa benang merah. Mengapa harus ada benang merah. Ini tidak serius. Ini hanyalah permainan. Permainan kata-kata. Permainan fantasi. Permainan fiksi. Permainan absurd!
Camera Extreme Close Up.
Wajah lelaki kedua. Urat-uratnya kelihatan.
Camera Move To.
Sebuah bolpen yang dipegang oleh tangan lelaki kedua terdiam diatas sebuah kertas.
DISOLVE TO.
Scene 2.1.
EXT. KEBUN BELAKANG RUMAH - SORE.
Lelaki kedua sedang memainkan sebuah lagu ciptaannya. Wajahnya terlihat puas dan senang.
CUT TO.
Scene 2.2.
INT. SEBUAH CAFÉ - SORE.
Kita melihat orang-orang sedang riuh berbicara tentang segala macam hal. Dengan suara musik yang mengalun merdu.
Camera Move To. (Long Shot to Medium Close Up)
Sekelompok pemuda sedang serius berbicara. 6 laki-laki. 1 wanita. Dan ada seseorang yang sepertinya tidak terlibat dengan obrolan mereka sedang menulis sesuatu sambil memandang sekelompok pemuda itu. Jelas dia sedang menyimak di sebelah meja sekelompok pemuda itu.
DISOLVE TO.
3. EXT. SEBUAH TAMAN - SORE.
Lelaki pertama dan lelaki kedua sedang mengobrol di sebuah kursi berwarna mencolok menarik perhatian.
LELAKI PERTAMA
(menyalakan rokoknya sambil tergesa.)
"Bagaimana, kau sudah selesai dengannya?"
LELAKI KEDUA
(mengepalkan tangannya.)
"Gila! Aku menemukan orang-orang lain. Orang-orang yang tak pernah diceritakan oleh si brengsek itu."
LELAKI PERTAMA
"Maksudmu?"
LELAKI KEDUA
"Kau bacalah sendiri!"
Lelaki kedua menyerahkan beberapa lembar kertas dan menyerahkannya ke lelaki pertama.
Eongan kecil dari seekor kucing mengalun di udara yang semakin mendingin, me-malam. Suara hawar-hawar mobil melintas-lintas seperti kapal terbang yang melintas di atas awan dan hanya terlihat lampunya saja yang berkelap-kelip. Sebuah pasangan manusia saling menggelayut mempresentasikan kerinduan purba di depan kedua lelaki itu.
Lelaki pertama membaca lembar demi lembar Chapter XIV versi temannya itu. Serius, sesekali merenggut, sesekali tertawa. Lelaki kedua menunggu dengan urat nadi yang menggeletar dan tapi masih tetap kelihatan santai seperti pembawaannya yang biasa, seperti ketika dia menghadapi dua orang gadis cantik yang centil melintas dihadapannya dan terjatuh dengan telak akibat kecentilannya itu. Tetap dengan tangan mengepal, dengan ekspresi muka santai yang biasa.
Selesai sudah! Suara air mengguyur dari sebuah ember yang tumpah oleh anak jalanan kecil yang disuruh ibunya untuk minum mereka sehari-hari seperti menggemuruh. Lelaki pertama memandang mata lelaki kedua. Sebuah pandangan misterius. Sebuah pandangan yang akan membuat kau melonjak ingin segera menerkamnya, mencabik-cabiknya agar kau segera tahu maksud dari pandangan itu. Lelaki kedua menunggu dengan denyut nadi yang semakin menderas, tak sabar, dengan beribu kemungkinan terjemahan dari pandangan mata temannya, dikepalanya.
Tiba-tiba lelaki pertama tertawa tergelak.
LELAKI PERTAMA
(Sambil menunjuk-nunjuk lelaki kedua)
"Kau memang gila! Hahaha…".
LELAKI KEDUA
(Sebentar terhenyak, lantas ikut tertawa.)
"Hihihi… entahlah. Itu mengalir begitu saja."
(agak mendekat ke lelaki pertama, lantas meneruskan,)
"Aku menemukan pola, pola berpikir si brengsek itu suatu malam. Saat aku sedang menolak mentah-mentah konsep benang merah yang kau ungkapkan sebelumnya. Kupikir, dia tak mungkin membuat runutan yang jelas tentang apa yang dia tulis. Jadi akhirnya aku tak berpikir lagi. Dia sangat terpengaruh kundera. ya, tapi dia bukan kundera. Dia membaca kundera dengan kasar, termasuk membaca essai kundera tentang novel trilogi the sleepwalkers-nya hermann broch dalam l'art du romance. Dia belum membaca broch. Dia tahu broch dari kundera. Lantas membuat berbagai poliponi absurd, memainkan komposisi, seperti para pemusik kontemporer. Kita berdua pernah membahas musik Radiohead dan Bjork kan? Nah, kurang lebih seperti mereka dalam versi sastra.
Termasuk, kupikir, yang akan dia tulis di Chapter XIV. Chapter XIV haruslah yang paling absurd, dengan gaya menulis yang paling berbeda dari pola menulisnya sebelumnya. Akupun belum membaca broch. Aku juga tahu broch dari kundera. Hanya berupa review subjektif dari kundera. Tapi hal itu cukup memberi jawaban atas pertanyaanku tentang Chapter XIV. Maka aku berempati menjadi dia. Membayangkan apa yang akan ditulisnya untuk Chapter XIV apabila dia menginginkan Chapter itu ada. Yang aku lakukan berikutnya hanyalah menulis menggunakan kekuatan intuisiku dan beberapa analisaku atas pola berpikirnya. Kesimpulanku adalah, dia tak mungkin membuat sebuah runutan atas beberapa Chapter yang sudah dia tulis. Seperti yang kukatakan tadi, dia akan membuat Chapter XIV adalah chapter yang paling absurd dari yang pernah dia tulis sebelumnya. Seperti bila tiba-tiba Radiohead memainkan musik keroncong dengan komposisi musik digital dan permainan efek mereka yang khas. Kemungkinan lain dari tak di tulisnya Chapter XIV olehnya adalah ketidak selesaiannya membaca buku-buku referensi, mungkin karena dia cukup dengan pengalamannya yang sepertinya mengalahkan buku-buku, akhirnya dia ragu. Aku sangat yakin bahwa dia sudah berusaha keras mencari The Sleepwalkers, tapi tak ditemukannya hingga deadline menguasai tulisannya. Bahkan hingga dia meninggal dunia. Dia hanya perlu pembanding, kukira. Seperti aku sekarang. Tapi kupikir cukup untuk takut pada hal itu sekarang. Aku hanya perlu memberanikan diri untuk menyelesaikan Chapter XIV dengan mengandalkan kekuatan intuisiku dan beberapa meditasi saat mengalami stuck. Sekarang aku hanya bisa pasrah, bersiap untuk kau serang."
LELAKI PERTAMA
"Gila! Kau membuat seolah Si Brengsek itu tak berdaya andai dia masih hidup."
LELAKI KEDUA
"Sebentar, kawan! Tapi, kupikir, karya seperti yang kutulis ini sudah tidak baru lagi. Konsep seperti itu sudah pernah dibuat oleh banyak penulis."
LELAKI PERTAMA
"Aku tahu, aku tidak bilang ini baru. Tapi kau tidak usah pesimis. Memangnya apa sih yang masih baru? Radiohead dan Bjork pun tak baru. Seperti kau bilang, mereka hanya bereksperimen dengan komposisi. Semua hal sudah pernah terjadi. Kita hanyalah kutipan-kutipan. Menurutku gaya penulisanmu sangat OK!"
FADE OUT.
FADE IN.
Scene 4.1.
EXT. TAMAN YANG SAMA - BERGERAK PERLAHAN MENUJU MALAM
LELAKI KEDUA
"Tulisanmu sendiri bagaimana?"
LELAKI PERTAMA
Mendengar pertanyaan lelaki kedua tadi, lelaki pertama langsung merenggut. Air mukanya berubah. Dia mendesah sebentar sambil menyenderkan tubuhnya ke kursi. Lantas berkata,
"Mh… Aku sebenarnya mulai frustasi…"
Lelaki kedua melirikan mukanya dengan nada "kenapa?"
LELAKI PETAMA (OS)
"Aku terjebak dalam labirin yang kubuat sendiri."
LELAKI KEDUA
"Labirin?"
LELAKI PERTAMA
"Ya, labirin. Aku mulai bermain dadu dalam labirinku sendiri. Dan aku tahu, hal itu nggak bagus buat kulit. Hihihi…"
Lelaki pertama tersenyum miris untuk leluconnya sendiri. Lantas meneruskan.
"Aku butuh bantuanmu. Aku butuh kau untuk merangkai labirin yang menyesatkanku ini. Aku butuh bantuan kau untuk melempar dadu. Kebetulan kau sudah selesai dengan hal ini, aku harap kau masih punya energi yang bisa ditransformasikan padaku. Minimal sisa-sisanya, pls!"
CUT TO.
5. INT. SEBUAH KAMAR - MALAM.
Kedua lelaki itu membayangkan tokoh-tokoh dalam novel itu hidup (Secara real. Secara virtual. Atau apa sajalah). Sebab pengarangnya sudah mati, terkubur di sebuah pekuburan multi religius di sebuah kota kecil.
Kedua lelaki itu terhenyak!
Camera move to.
Sebuah kertas dipegang sebuah tangan dengan tulisan yang ditulis oleh mereka.
DISOLVE TO.
Scene 4.1.
EXT/INT. SEBUAH POTONGAN2 KLIP.
Sebuah rangkaian kejadian dan klip-klip yang menyimbolkan tentang pertentangan paradigma. Kotradiktif. Dilema. Diisi juga dengan beberapa Video Art.
LELAKI PERTAMA (OS)
Pertama; terjadi polemik tak diduga antara tokoh-tokoh dalam novel itu. Baik tokoh-tokoh yang masih hidup ataupun tokoh yang digambarkan sudah mati. Polemik luar biasa hebat
Chaos!
LELAKI KEDUA (OS)
Kedua; ada protes terlontar dari salah seorang tokoh yang merasa hanya jadi figuran di novel itu. Si Pengarang pernah berkata bahwa dia tidak suka dengan pengklasifikasian tokoh. Nyatanya dia hanya jadi peran pembantu bahkan figuran.
Paradoks!
LELAKI PERTAMA DAN KEDUA BERGANTIAN (OS)
Ketiga; ada protes juga dari tokoh lain yang merasa tidak mempunyai ending dalam kisahnya. Dia menginginkan ending apapun untuk dirinya.
Dia merasa sangat menggantung, seperti menggantung antara langit dan bumi. Seperti ketika Venus dihukum Apollo.
Schrodinger!
Pada titik ini mereka mulai terjebak dalam labirin berikutnya. Tersesat. Padahal labirin sebelumnya pun belum berhasil mereka pecahkan. Rumit!
FADE TO BLACK.
FADE IN.
6. EXT. TAMAN YANG SAMA(BLACK/WHITE) - SORE.
Flashback.
Kau ingat tentang seorang lelaki buta serba putih yang mendatangi mereka saat bermeditasi di taman itu, yang mengaku Sulaiman atau Ijrail atau apalah namanya.
Sebenarnya itu hanyalah rekaanku (penggambaran fiksi yang berlebihan atau imajinasi liar) saja. Sebenarnya yang datang ialah Baskoro. Tapi Baskoro datang ke taman itu beberapa hari kemudian setelah kedua lelaki itu menyelesaikan Chapter XIV.
Scene 6.1.
EXT. TAMAN YANG SAMA - SORE.
Kedua lelaki itu terkaget dengan kedatangan Baskoro yang mendadak.
Lantas keduanya berdiri dan menyalami Baskoro dengan hangat.
LELAKI PERTAMA
"Apa kabar, Bas?"
LELAKI KEDUA
"Gimana Jogja?"
BASKORO
"Baik, Jogja OK!
"Oh, ya ada kabar baru buat kalian. Mengenai Chapter XIV yang hilang itu. Seminggu yang lalu aku datang ke rumah dia, pengarang Episode IV itu. Aku meminta pada keluarganya untuk membuka-buka arsipnya. Aku menjelaskan pada mereka bahwa betapa pentingnya bila Chapter XIV ditemukan. Minimal draft atau catatan-catatan kecilnya."
LELAKI PERTAMA
"Lantas?"
BASKORO
"Mereka mengijinkan. Mereka juga tidak tahu menahu tentang hal itu. Katanya dia sangat tertutup untuk novelnya. Bahkan pada mereka, keluarganya, sekalipun.
"Lalu aku mencoba memulainya dengan memeriksa file-file dalam komputernya. Aku tak menemukan apa-apa. Sepertinya dia sudah menghapus semua file-nya sebelum kecelakaan itu terjadi.
"Lalu aku mulai memeriksa arsip-arsip di lacinya. Aku menemukan beberapa cerpen dan puisi yang masih tulisan tangan. Hingga akhirnya aku terkaget ketika menemukan sebuah tulisan yang masih banyak coretan dalam selembar kertas. Ya, Tuhan! Aku sangat yakin betul kalau tulisan itu asalnya direncanakan untuk menjadi Chapter XIV. Aku menemukan sesuatu yang selama ini masih kabur di novel itu."
Kedua lelaki itu terhenyak dan sedikit tak bisa bernafas.
CUT TO.
Scene 6.3.
INT. KAMAR LELAKI PERTAMA - MALAM.
Kedua lelaki itu bersama Baskoro di sebuah kamar sedang mempelajari tulisan diatas selembar kertas A4 itu. Serius!
INSERT.
Sebuah tulisan berbunyi:
“Sepertinya aku akan memulainya dari Termina. Pada saatnya nanti aku akan memaksakan Termina untuk menjadi kakak kandungnya si misterius Truly. Agar semakin berbelit. Karna, misalnya pernah berpacaran dengan Truly. Ketika datang ke rumah Truly, disanalah Karna bertemu dengan Termina. Saat itu Termina sedang bermasalah dengan Cerio.
Berawal dari sebuah obrolan ringan berlanjut menjadi sebuah pengkhianatan yang amat rapi. Hingga akhirnya Truly tahu. Lantas setelah itu Truly mati entah bagaimana. Keluarganya merahasiakannya dan langsung menguburkannya. Hal ini menyebabkan terciptanya sebuah labirin misterius dan akan menjadi sebuah novel misteri yang terpisah berjudul: “Misteri Dadu Yang Hilang Dalam Labirinnya Sendiri.”
Semacam dipaksakan menjadi sebentuk segitiga setan.
Kejadian itu bisa mungkin menjadi penyebab utama pertengkaran hebat antara Karna dengan Termina seperti pada Chapter XV.
Harus dipaksakan seperti ini untuk menggambarkan kompleksitas permasalahan dalam hidup seorang rockstar.”
LELAKI PERTAMA
“Sialan, dugaanku benar. Kontemplasiku tak sia-sia. Si Brengsek itu pasti membutuhkan benang merah. Tepat seperti yang kita tulis, Kawan!
(Melirik ke arah lelaki kedua)
Dan benar juga seperti kataku bahwa tulisanmu membuat Si Brengsek itu tak berdaya. Hahaha…
BASKORO
“Memangnya kalian menulis apa?”
LELAKI KEDUA
"Kau tahu Bas, sebenarnya kami berdua sudah membuat Chapter XIV versi kami berdua bahkan hingga tersesat-sesat dalam labirin yang kami buat sendiri. Sebab kami memang merasa sangat terganggu dengan hilangnya Chapter ini."
LELAKI PERTAMA
(menambahkan, sambil menunjuk lelaki kedua)
“Dan sebelumnya dia menulis sendiri Chapter XIV versinya. Dan sangat Kundera bahkan mungkin Borges. Cool!”
LELAKI KEDUA
“Tapi dugaanku meleset. Kupikir si Brengsek itu tidak akan memperdulikan benang merah. Kupikir dia seorang Borgesian. Ah, tapi mungkin dia membaca Borges dari sudut yang lain. Sepertinya dia lebih condong ke Kundera. Meski tidak se-literer mereka, dia cukup sanggup mengimbangi keduanya.
Tapi kupikir pantas saja Borges bisa sehebat itu sebab dari kecil dia sudah diwarisi sebuah perpustakaan besar oleh kakeknya. Menyebalkan! Membuatiku iri. Eh, sorry jadi ngelantur!
Ya… ya… Si Brengsek itu mampu bikin karya se-absurd itu hanya dengan referensi dan literatur seadanya. Itu yang membuatku salut padanya.”
BASKORO
(tertegun. Lama. Hingga seperti tiba-tiba ada lampu menyala di kepalanya.)
Insert: Lampu kota yang menyala secara serentak.
"Ah, aku punya rencana hebat, kalau begitu. Bagaimana kalau Chapter XIV versi kalian ini digabung dengan temuanku kita terbitkan terbatas untuk orang-orang yang mempunyai ketertarikan sama seperti kita. Kita beri judul yang sama seperti yang dia rencanakan, kalau memang isinya mirip."
FADE TO BLACK.
THE END.
CREDIT SEQUENCE:
Cast.
Bla..bla as bla..bla..
Bla..bla.. as bla..bla..
Bla..bla.. as bla..bla..
(seperti dalam film-film misteri seolah akan ada sekuelnya :-P)
***