Catatan Pendongeng Keliling

ervin's posts with tag: serpih

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag serpih
Blog EntrySepotong kayu dan seharum kesturiFeb 13, '08 12:46 AM
for everyone

 

Untuk Para Abah Yang Dengan Tulus Memberikan Semua Itu Padaku

            Seorang tua berputih

            Berjalan tingkap di atas sesal

            Seok-seok

            Dengan tongkat di tangan kanan

            Tak terjungkal selama puluhan tahun

            Dia sebenarnya tahu apa yang ingin diceritakannya

            Tapi selalu bisu

            Padaku lebih dulu

            Padamu apalagi

 

            Seorang tua berputih

            Mengoleskan dahaga pada lehernya

            Santar kesturi di sana

            Bersama memori dan wajah-wajah,

Slide show dalam kepalanya

 

Tongkat kayu itu titipan

Bau kesturi itu jaminan       

Dan dia hanya bisa terseok-seok menanggung semua itu

 


Blog EntryPre-Step for W/32-PerihFeb 13, '08 12:42 AM
for everyone

-         Huruf --- Angka

-         Usung --- Lempar

-         Turut --- Berontak

-         Lambung --- Lurus

-         Kata --- Gejala

-         Doa --- Serapah

 

Ribuan digit dalam angka-angka 0 dan 1 yang terkombinasi secara ajaib menjadi program-program pembentuk semesta. Seperti symbol pertama untuk jantan dan betina, 0 untuk ovum dan 1 untuk sperma, lalu tercipta 0 dan 1 dalam deret-deret yang tak terkira panjangnya dalam baris-baris yang baru, menyatu utuh menjadi program dalam rupa Zygote, awal manusia baru, aku.

Aku saat ibuku melihat garis merah pada test-packnya dan memastikan bahwa aku tetap aman meski ibuku tahu ayahku sedang mengkombinsikan 0 dan 1 yang lain bersama wanita sumber air mata darah ibuku.

Mengingat hal ini seperti menghunjamkan kembali pendarahan ibuku pada ingatan terperih dalam hidupku, jauh tersimpan dalam folder yang disembunyikan dengan aman meski tak seaman yang kukira.

Berkali-kali aku melempar ingatan-ingatan perih ini, tapi ini semuanya read-only files. Aku tak bisa menghapusnya, selalu ada alat untuk melacak jejak-jejaknya, meski asing, tapi selalu perih. Aku benci search engine. Tanpanya hidupku bisa jauh lebih ringan tanpa beban ingatan-ingatan yang kunamai perih itu, sebuah program file yang tersimpan dalam system 32 yang sudah merangsek seperti virus dan mengacaukan program-program lain yang ada di dalamnya. W/32-Perih, seorang temanku menamai Worm ini. Tidak merusak tapi mengganggu. Up Date-an terbaru dari semua jenis anti virus, yang canggih sekalipun, tidak mampu membunuh program Worm yang ini. Malah ada beberapa anti virus yang jadi kacau dalam mendeteksi hingga menghapus file-file penting dan program-program penting. Hingga sering kali kepalaku nge-hang dan harus di restart. Dan seringkali pula program bootnya bener-bener rusak hingga aku tak bisa masuk kedalam hidupku sendiri dan harus di install ulang. Sakit sekali. Menguliti-menghapus-mengganti baru hampir semua program agar bisa diaplikasikan kembali. Capek, butuh waktu lama dan lebih banyak merasa kehilangan. Setelah itu, W/32-Perih tak pernah benar-benar terbunuh, masih melekat dan menjalar dan menyebar dalam folder-folder yang tak terdeteksi keberadaannya. Ku-nonaktifkan program search-engine-nya. Dan setelah ini hidupku harus benar-benar disusun dalam mekanisme meraba-raba, meski akan jauh lebih capek ketimbang pake search engine tapi jauh lebih aman, kemungkinan resiko mendapat serangan W/32-Perih akan jauh lebih sedikit dan tentu saja lebih aman untuk lambungku sebab penyakit maagku kambuh bila W/32-Perih beraksi.


Blog EntryChapter XIIIApr 5, '06 12:22 AM
for everyone

Chapter XIII

Sentuhan Yang Kurang Halus Beberapa Kisah Setelah 2 Hari Bercumbu Dengan Waktu

 

I.

Terus terang, bukannya aku ingin ikut campur dalam masalah ini. Sebuah mobil sedan lewat dengan merek entah apa melintas. Tetapi mungkin hanya karena perasaanku lagi sensitif, gue lagi dapet! Seekor burung pipit hinggap di atas pohon jambu di halaman depan. Asalnya memang lebih baik kisah Cerio ini kuakhiri saja tetapi karena ada sebuah keidentikan Cerio dengan Samantha maka akan kuteruskan saja. Suara lancang seorang gadis menyeruak diantara bising manusia di café itu, meneriakan sesuatu yang sebenarnya layak sebagai sebuah gumaman. Ah, lelaki itu malah menertawakannya. Sialan! Kupikir dia akan memeluknya agar meredam teriakan gadis itu.

Cerio bukan nabi. Tapi berhak menjadi nabi kalau dia mau. Samantha pun begitu. Aku pun begitu.

Ketika Cerio sendiri saat itu, Samantha pun sedang sendiri merindui Joey dengan ingatan yang itu-itu juga. Kupikir ini sebuah koinsiden melankolis apabila diandaikan Cerio itu adalah Joey dan Samantha adalah Termina. Klop?

Dari awal aku selalu mengatakan bahwa entah kenapa aku tidak pernah merasa iba pada Cerio. Awalnya kupikir ini sebuah dendam tanpa alasan tetapi ternyata bukan itu. Sekali lagi aku menceritakannya hanya karena aku lagi sensitif. Sensitif adalah salah satu gejala PMS, kata seorang temanku. Namaku Niskala!

 

II.

Kegagalan Samantha dalam setiap kali bunuh dirinya menyebabkan Cerio urung untuk melakukan hal yang sama.

“Itu menyakitkan, Nis!” katanya suatu ketika sambil tertawa.

“Aku pikir,” kataku, “mungkin akan lebih baik jika kau mencari bunuh diri yang paling efektif. Syukur-syukur kalau kau menemukan yang sangat indah. Internet adalah jawaban yang bagus. Kau tinggal ketik SUICIDE di search engine. Selesai!”

 

1. Apa yang akan kau lakukan bila istrimu berselingkuh dengan lelaki lain?

-Bunuh dia!

2. Apa yang akan kau lakukan bila istrimu minggat?

-Bunuh dia!

3. Apa yang akan kau lakukan bila istrimu meminta cerai?

-Bunuh dia!

Apa yang akan kau lakukan bila ke-3 hal itu dilakukan oleh istrimu?

-Bunuh diri!

 

Hatiku sudah membebatu

Terbebat batu-batu

Rerintihannya terdengar

Hingga reruntuhan rintihan-rintihan para dewa

Mataku sudah berlelinang

Terbelit linangan-linangan

Gemericikannya terdengar

Hingga menutupi gemuruh rerincikan rincikan mata air para dewi

 

Ah, apa dosa hingga terselubung karatku sendiri...?!?

 

Maria kembali terwujud naif dalam ingatannya, cukup untuk membuat Cerio urung bunuh diri. Ingatan-ingatan tentang bunuh diri tidak lagi mengganggunya, mungkin dia berharap begitu. Sebuah harapan memang akan terlalu biadab bila terus-menerus menyeruak dan menghantui. Ketika Cerio berharap untuk mati sama seperti ia berharap untuk menghilangkan ingatan tentang bunuh diri maka entah berapa kilo-Joule energi telah dia buang. Dan itu biadab menurut ukuranku. Aku berani mengeluarkan jutaan rupiah untuk mendapatkan beberapa Joule energi. Lama-lama Cerio malah akan terbunuh oleh harapannya. Biadab!

 

III.

Matahari sore menyinari buku catatanku dengan ketajaman yang amat sederhana. Kesilauan mataku tidak begitu berarti untuk menghambat kegiatan menulisku ini. Saat ini Cerio menghentikan langkahnya sementara mobil-mobil di jalan raya itu terus melaju dengan kecepatan tinggi. Asap mengepul dari knalpot salah satu truk tua yang melintas tepat di depan Cerio. Asap hitam menyelubungi mukanya. Cerio terbatuk sambil mengibas-ngibaskan tangannya dengan cepat.

Sebenarnya keseharian Cerio hanya sesederhana hal itu namun ada begitu banyak hal yang mungkin patut diceritakan kembali. Seperti misalnya ketika Cerio menggumamkan lagi sabda-sabda di hadapan domba-domba imajinatifnya:

 

 

Terik

Kembali terik itu mencoba memujamu

“Aku hanyalah seonggok terik seperti ongokan-onggokan terik yang lain itu!”

begitu katanya setiap kali kau membuka lembar altar pemujaan

seperti kering

seperti kerontang

seperti rombeng

mewujud menjadi sujud

tak berkeakhiran

melelana

mencipta ruh-ruh apocalyptic

menelurkan dua butir sabda

:sabda keheningan

:sabda kehangatan

 

aku butuh kamus

aku butuh kamus

aku butuh keleluasaan jingga meradang

dan membeli tempat itu dengan seharga segelas kopi

 

senggama kau-aku ribuan kali

diatas pemujaan terik

melagu membusana

meneriaki cahaya

dengan kata-kata lajang

“Jalang!”

 

aku telah meninggalkan terik itu

jauh mengaduh dibelakang kemurkaanku

tidak seperti kau

berlari

            berlari

                        berlari

seperti cipta, rima, ritma, sajak dan enya

 

energi hidup, bukan energi mati, energi lubang-lubang terang, bukan lampu-lampu padam

 

ingatlah, kita tak pernah ingin dipuja layak dewa

sebab dewa tak lagi menitis menjelma semudah rupa

tak seperti kita masih menginjak lantai sorga

hinakan dua keleluasaan sabda

mengembik tercoreng

            mengembik tercoreng

 

asap:api:debu:gelap:terali:kuasa:kasta:setia:cerca:tebar-menebar

menjadi dewa

menjadi tak berupa

 

kuasaku lebur

maka kubunuh saja

lalu kucipta gerak-gerak tentang itu

melebamkan sebagian wajahku

            :sebagian kuning

            :sebagian lebam kehitaman

 

kucoba enyahkan terik itu dari altarmu

sebab tak bisa kutahan

saat ini aku yang akan menghuni altarmu

memujamu

mewujud lebur menjadi sujud tanpa jelma

 

Sabda Cerio itu, kupikir, mungkin telah membuat bingung para domba dalam imajinasinya. Hingga, kupikir lagi, dan begitupun yang dimanipulasi Cerio dalam benaknya, bahwa akhirnya para domba mengerti sebenarnya sabda itu ditujukan untuk Maria.

 

IV.

Loncatan fragmen yang kubuat pada Samantha kumaksudkan untuk merunut kisah-kisah pertemuannya dengan Cerio. Ketika Samantha menggosokan kemaluannya di atas pusara Joey, masih dengan wujud boneka dildo-nya, aku sangat trenyuh. Betapa Samantha sangat kehilangan sekali Joey-nya, yang selama hidup memperkosa Samantha dengan fantasi-fantasi aloerotis dan tak sedikit pun Samantha mampu memprotesnya. Sebuah kepasrahan luar biasa, melebihi kepasrahan Rabiah kepada Tuhan.

Andaikan aku dipuja seperti Joey, ya Tuhan!

Kuakui, dengan sangat jujur, aku memang sangat terobsesi dengan Samantha, betapa cantik dan indahnya dia dalam benakku. Tapi kupikir aku hanya bisa menjadi katalis dalam kasus ini. Sepertinya Cerio lebih membutuhkan Samantha daripadaku.

Tuhan, sebenarnya aku sakit dalam penjelajahan ini. Betapa kucintai Samantha lebih dari apapun meski Samantha hanyalah jelmaan dari boneka seks.

Ah, aku jadi curhat. Sebentar, aku ke kamar mandi dulu, meneteskan air mata di kamar mandi kurasa lebih sakral, dekat sekali dengan air…

“Terlalu sepi disini, aku curiga kau sedang menyusun rencana seperti aku yang tersungkur dalam dada tak tenang. Aku mengoyak ketulusan dengan pedang di siang di antara hampa. Kau tersenyum sinis. Sekali lagi kukatakan bahwa cinta untukmu telah terbunuh!”

 

V.

Aku, seperti biasa, pagi ini mengosongkan tarian jiwa dalam otakku. Segelas kopi datang begitu saja. Cerio sedang melamunkan kejadian kemarin sore yang sempat membuatnya sedikit terkatung-katung. Termina dengan wajah buruknya melemparkan asbak ke arah Cerio. Editor film itu, atas persetujuan sutradara, melambatkan adegan itu. Asbak jadi terlihat mengapung lalu berhenti dengan tiba-tiba di udara. Ternyata Cerio menekan tombol pause dan membiarkannya selama kira-kira tiga menit. Lantas setelah itu dia mengurai dan merentangkan kejadian tiga menit itu menjadi sangat panjang.

Aku memperhatikannya tanpa berkedip, dan menunggu kejadian selanjutnya. Waktu yang tiba-tiba berhenti itu tak sedikitpun disadari Termina ataupun orang-orang yang sedang menonton film pendek itu. Padahal hal itu sangat berpengaruh buat objek yang ditonton maupun subjek yang menonton. Sutradara dan editor hanya tertawa dengan tanpa beban dan terus menekan-nekan tombol, mempermainkannya seperti seorang anak kecil memainkan permen lolly di mulutnya. STOP!

Film terpotong. Ingatan cerio mulai terurai.

 

VI.

Dia yang berjalan di bawah terik itu, seorang wanita berkacamata hitam memakai rok terusan entah rancangan yang keseberapa ratus kali dipamerkan di panggung-panggung fashion show, menutup beberapa lembar keanggunan yang asalnya terbuka satu-persatu tertiup angin sedikit kencang seperti akan menjadi badai tiba-tiba bila kau meremehkannya. Keanggunan yang dia tutup mungkin adalah sebuah kecerdasan tubuh yang selalu termunculkan begitu saja tanpa pernah terpikirkan atau mungkin terpikirkan, hanya saja otaknya yang tidak seberapa besar terlalu seksi untuk memikirkan hal diluar keseksian tubuh dan kehalusan kulitnya.

Cerio seperti hendak saja menyapanya tetapi seperti sebuah kebetulan sebuah mobil lewat menutupi siang, sebentar mengejan-ejankan asap knalpot dan suara mesin bututnya dan pergi lagi di saat, ya Tuhan, gadis itu hilang dari objek penglihatannya. Sebentar Cerio terdiam dan harus memutuskan. Sebentar yang ternyata menjadi ribuan detik sehingga lalu-lalang akan tak lebih menilainya dari sekedar terpaku mematung dengan mata nanar seperti akan menyambut malam disitu.

Cerio meraba-raba, menerka-nerka, membuka tingkap ingatan tentang mata gadis itu, masih dibawah terik, yang tertutup kehitaman kacamatanya dan selalu bertanya pada entah siapa yang bersemayam durja di dalam tubuhnya tentang seindah apakah mata gadis itu. Keringat menyembur-nyembur dari bawah kulit melalui pori yang mungkin setengahnya sudah mampat tertutup debu dan keanggunan gadis kacamata hitam itu.

Ada ribuan lebih kata untuk mengungkapkan keindahan mata dan akan lebih lagi bila terhalang kaca mata hitam sebab ada semacam ribuan fantasi untuk mengada-adakan keindahan mata yang belum pernah terlihat ketimbang yang yang sudah terlihat. Seperti menonton film dengan membaca novel. Melihat mata di balik kacamata hitam adalah membaca novel. Kalau dia membuka kacamata hitamnya maka seperti sutradara entah siapa telah membuatkan film dari novel itu untuk Cerio.

Keanggunan yang ditawarkan tadi dan kemudian gadis itu menutupnya tanpa dia sadari malah membuat Cerio semakin bergairah untuk menawarkan harga lebih tinggi dari sekedar hanya menatapnya. Sebuah harga yang paling tinggi, mungkin, berupa sapaan hangat bahkan panas sebab terik yang akan diantarkan Cerio padanya bisa secepat Cerio mengatakan ulang tahun ibunya yang bertepatan dengan hari kemerdekaan.

Padahal Cerio tak pernah tahu benar keanggunannya bisa berisi penyakit kelamin, nanah, bergatal-gatal, busuk, atau sekedar cahaya yang bergumpal terperangkap teori-teori relatif  hingga tidak bisa bergerak sebebas ketika Tuhan menciptakannya dengan gairah kebebasan absolut.

Adakah Cerio pernah berkata tentang rasa saat itu? Jawabannya belum! Yang dia rasakan seperti melengkapi penawaran harga tadi pada gadis itu adalah dia sudah pernah merasakan hal ini sebelumnya dan sebelum-sebelumnya, sesekali, seketika-ketika sama seperti saat satu bulan kebelakang, di tempat yang sama dengan keadaan terik yang sama.

Dihadapan Cerio ada seseorang sedang berjalan tergesa, masih sama-sama gadis, mungkin berkacamata hanya tidak hitam, berkulit seputih siang, memantulkan terik dari wajahnya dan mengantarkan pantulan terik itu ke tubuh Cerio menjadi sebanyak dua kali lipat, membuat keringat menjadi semakin mengalir lebih dari sekedar menyembur.

Mungkinkah terik itu menambahkan beberapa keanggunan lain selain keanggunan yang sudah jutaan tahun dimiliki gadis itu? Seharusnya jawabannya adalah: “tidak!” Sebab terik adalah keanggunan yang dimiliki matahari dan tidak begitu saja bisa ditransfer ke dalam tubuh seorang gadis. Butuh proses yang njelimet yang tak dapat dimengerti meski harus belajar 4 tahun di fakultas MIPA jurusan Fisika. Tapi nyatanya jawabannya adalah ya. Entahlah, mungkin gadis itu sudah memahami dan lantas melewati proses transformasi itu, menyerapnya kuat-kuat lantas keanggunannya bertambah dua kali lipat. Seperti gadis pertama tadi, gadis ini pun tiba-tiba hilang, hanya sudah sampai di situ. Seperti hujan api yang menerpa kepala-kepala yang berapi-api. Cerio menganggap hal itu hanyalah dubur pikiran.

Lamunannya tiba-tiba berhenti, kembali ke saat ini lagi. Gadis itu menghilang tenyata hanya sebentar, hanya terhalang satu pohon besar. Muncul kembali dengan dahsyat dan lambat, seolah-olah mengundang Cerio untuk membuka kacamata hitamnya. Tapi tak ada cukup energi bagi Cerio untuk melakukan hal itu.

Sudahlah!

 

VII.

Dalam sebuah klub live music, Termina mencondongkan wajahnya ke arah muka pemuda tampan itu. Si pemuda membalas ciuman Termina dengan lembut sambil menatap muka Termina dengan mata penuh lambang rupiah.

Musik R‘nB terus terlantun dari sebuah grup musik cukup terkenal membawakan lagu orang lain tapi tak pernah sekalipun membawakan lagunya sendiri, kasihan…! Vokalisnya sangat menjijikan…, kasihan! Gayanya…, kasihan! Ah, tak ada yang tidak kasihan dari grup itu, meski semua orang mengelu-elukan mereka, tetap kasihan…!

Manusia-manusia itu terus terus menggoyangkan seluruh tubuhnya dengan gerakan hampir sama yang disoroti oleh lampu-lampu POP yang berganti-ganti warna dan lampu blitz yang mengerjap-kerjap. Layar TV menayangkan sebuah perjalanan mesin di dalam labirin berwarna-warni yang terus-menerus bergerak menghanyutkan orang yang memandangnya, tersesat-sesat. Tikus-tikus merengek, ayam-ayam memanjakan dirinya dengan uang dan alkohol yang menggeliat-geliatkan setiap otot lurik di tubuh mereka.

Pikiran Termina nyalang, menerbangkan sebuah ingatan akan saat-saat Cerio mencumbui waktu. Si pemuda tampan tidak tertarik sedikitpun pada nyalangnya pikiran Termina. Matanya hanya memandangi layar labirin di depannya. Si pemuda seketika itu juga berubah menjadi tikus seperti pemuda-pemuda lain di klub itu. Termina berubah menjadi ayam betina tua yang tanpa pengharapan. Kutegaskan bahwa semua orang di tempat itu benar-benar telah berubah menjadi binatang yang diinginkannya.

Aku membayangkan, apa yang terjadi, bila tiba-tiba Zarathustra versi Nietzsche datang, meraih microphone si vokalis dan menyanyikan sabda-sabdanya kepada mereka dengan irama R’nB.

Seekor harimau jawa mengaum dengan kerasnya, beberapa ikan cupang saling melebarkan siripnya, anjing-anjing horny menyalak-nyalak. Bola 8 masuk ke dalam lubang. Seekor babi hutan jantan meloncat-loncat kegirangan sambil memasukan tangannya ke dalam salah satu rok seekor kelinci jalang. Dua ekor kambing betina muda dituntun keluar klub sambil tertawa-tawa mabuk dan muntah-muntah sambil menyebut-nyebut kata paling kasar yang pernah mereka ingat. Dua ekor kelinci sedang berciuman di sebuah pojok, beberapa dari species mereka sedang melakukan oral seks sembunyi-sembunyi. Bau muntah, alkohol, keringat, asap rokok, AC, tai, anjing, bajingan, rencana jahat, kebudayaan, darah menstruasi, jingga meradang, suara musik, binatang, comberan, uang, babi,… 

Ya Tuhan!

 

VIII.

Apa harus kuteruskan? Tapi tadi hanyalah, yang kubahasakan dengan, keheningan yang mencekam. Samantha masih terdiam di sudut, kering, pucat dan balon. Cerio termenung memandangi khayalanku dan berkata, “Sudahlah! Wanita itu sudah secepatnya harus kau enyahkan sebab dia tidak akan berubah menjadi tua. Sementara kau, sebentar lagi kulitmu akan keriput, matamu rabun, gigimu tanggal satu-persatu, kemampuan bercintamu tidak akan dapat mengimbangi gairah seksmu. Sadarlah, Nis!”

Satu daun jatuh perlahan ke tanah. Aku menyentuhnya, membelainya, kurasakan kematian yang tenang sekali.

 

IX.

Dadu terlempar, angka 6 keluar. Jarum jam menunjukan angka 6 tepat. Televisi menayangkan sebuah film di channel 6. Funky I.D. : 666!

Seorang berpakaian hitam, bertanduk, menyeringai, menyabetkan sabitnya ke leherku. STOP!

Sang Maut tidak bertanduk, satu. Mukanya tidak merah, dua. Itu Lucifer yang sedang menyamar menjadi Sang Maut, Sayang! Lihat ekornya, berbentuk panah, kan? Lihat, itu bukan sabit melainkan trisula!

 

X.

Begini, yang pertama-tama ingin kulakukan adalah berdoa lantas setelah itu berkhayal dan mengatakan bahwa yang benar itu tetap ada. Tapi itu terlalu sistematis dan mengada-ada. Ketika aku berkata bahwa yang terjadi itu adalah selalu wajar maka yang benar itu menjadi kabur bersama yang salah. Dalam titik ini kutemukan titik abu-abu yang terbaik, bukankah pernah ada?

Kupelihara titik ini sebab aku dan Baskoro pernah melewati perjalanan spiritual yang begitu dahsyat.

Malam itu stasiun kereta penuh sesak. Baskoro telah menungguku dalam kereta ekonomi jurusan Surabaya. Tak perlu kuceritakan bagaimana sesaknya kereta itu itu sebab kau mungkin telah maklum dalam akhir pekan seperti ini. Persis seperti iklan Teh Sariwangi di televisi swasta edisi akhir 2001. Aku sempat kesal karena ditinggalkan ketika aku mencoba menelepon pacarku. Menghabiskan waktu sekitar setengah jam, memang, aku duduk di salah satu KBU di wartel dekat stasiun kereta. Tidak hanya Baskoro yang kesal tapi beberapa peng-antri sempat mengetuk-ngetuk pintu KBU agar aku cepat-cepat. Aku tak peduli sebab pembicaraan kami sangat serius, taruhannya nyawa! Ini tentang cinta, Mas! Dan kalau aku gagal, aku bisa bunuh diri. Ternyata aku gagal meski argumenku sangat kuat kenapa aku harus pergi ke Yogyakarta. Pacarku tak urung memutuskan hubungan kami yang dua hari lagi tepat dua tahun. Setelah telepon ditutupnya, aku berubah pikiran; perjalanaku ke Yogya adalah perjalanan bunuh diri.

Dalam kereta aku marah-marah dan mengumpat sebisaku; tentang pacarku yang brengsek, Baskoro meninggalkanku di wartel, ongkos yang pas-pasan dan tiket yang belum dibeli. Baskoro mendengarkanku dengan tenang meski seperempat gerbong itu semua memandang kami. Dia memang bijak sejak kami dulu berkenalan. Tuhannya bernama POP dan dengan tak segan dia menambahkan embel-embel S.W.T. dibelakang nama Tuhannya.

Kira-kira dua bulan yang lalu kami berkenalan, saat itu hari ulang tahunku yang menyebalkan yang kuingat, paling menyedihkan dibanding dengan ulang tahunku sebelum-sebelumnya. Tak ada satu teman pun yang ingat dan yang ingat pun sengaja pura-pura lupa. Hingga menjelang tengah malam seorang temanku mengenalkan Baskoro kepadaku.

“Gatoloco!” katanya kepadaku, “ditulis GATEAUX-LOTJO. Gateaux artinya kue tart dalam bahasa Perancis dan lotjo artinya senggama dalam bahasa Jawa. Jadi artinya kira-kira secara etimologis adalah persenggamaan dengan kue tart.” American Pie, Man! “Nama asliku Baskoro artinya matahari dalam bahasa jawa. Kalau aku Syam maka kau adalah Rumi.”

“Niskala!” kataku singkat. Aku selalu menekankan namaku ketika berkenalan sehingga aku sering lupa nama orang yang berkenalan denganku, itu hanya kebiasaan buruk. Tapi dengan hal itu pula aku jadi mempunyai banyak teman. Ataukah karena mempunyai banyak teman sehingga aku hanya mengingat-ingat wajah tanpa nama? Entahlah!

“Niskala artinya gaib atau tak kasat mata dalam bahasa sunda kuna. Para leluhurku memanggil Tuhan dengan sebutan Seda Niskala, yang artinya Yang Maha Gaib. Niskala juga adalah nama depan  seorang raja Sunda, Niskala Wastukancana atau Prabu Siliwangi I.”

“Seperti nama jalan ini, ya?” Saat itu aku dan Baskoro sedang berada di jembatan Jl. Wastukencana.

Aku dan Baskoro mempunyai hobby yang sama-sama buruk, kami suka menulis puisi. Puisi absurd yang sering kutulis. Puisi skizoprenik yang sering Baskoro tulis, mungkin demi mempertahankan julukan yang diciptakannya sendiri, Gateaux-lotjo. Dari sanalah awal penyatuan kami sebagai teman karib karena pada malam perkenalan itu Baskoro yang orang Yogya langsung menginap dan ngobrol panjang ditempat kostku di Bandung, aku orang Cianjur, tetangga dekat Bandung. Sebenarnya Baskoro orang Rembang tetapi kuliah di Yogya dan selalu mengatakan pada setiap kenalannya di Bandung bahwa dia orang Yogya. Agar tidak terlalu sulit untuk identifikasi, katanya.

Perkenalanku dengan Baskoro malam itu adalah hadiah ulang tahun terbaik yang pernah kudapatkan selain gitar bolong yang diberikan ibuku waktu umur 17 dan topi baseball dari pacarku waktu umur 18. Sekarang umurku 20. Baskoro cukup banyak membuka mataku tentang beberapa hal yang sebelumnya aku takut bahkan untuk membayangkannya pun. Tak perlu kuceritakan sekarang kecerahan apa yang yang kudapat setelah berkenalan dengan Baskoro. Yang pasti puisiku yang asalnya absurd berubah menjadi skizoprenik-absurd sekarang. Cukup jelas, bukan?

Malam itu di kereta setelah aku cukup untuk muntah mengomel, Baskoro memberiku minum. Aku tidak jadi muntah. Kereta mulai melaju. Ini kedua kalinya aku naik kereta api, karena kebiasaan di daerah Jawa Barat bagian tengah dan barat orang-orang lebih banyak menggunakan bus antar kota ketimbang kereta api. Disamping struktur jalan yang fluktuatif juga jalur rel yang hanya sedikit yang mencapai pusat-pusat kota. Jalur yang kumaksud adalah jalur Bandung-Cianjur-Sukabumi. Hanya tiga kota itulah yang sering kukunjungi dan kutempati.

Sukabumi: tentang kota dan statistika.

Cianjur: tentang sejarah dan spiritualitas.

Bandung: tentang mode, musik dan kehidupan anak muda.

Akhirnya sampailah kami di Yogya. Yogya I’m coming!

 

IX.

Saat Tuhan menciptakan manusia di hari ke 6, berarti kurang-lebih hari ke 6000-an dalam hitungan manusia, mungkin tidak terpikir untuk membelahnya menjadi dua kelamin. Dalam sebuah sebuah manuskrip kuno aku menemukan proses terjadinya manusia, begini kutipannya:

 

Kami memerintahkan kepada para malaikat untuk mengambil tujuh macam unsur bumi sebagai bahan untuk menciptakan manusia pertama. Unsur berwarna merah, biru, hijau, merah jambu keunguan (kapuranta), dadu, hitam dan putih.

Ketujuh warna itu mewakili berbagai unsur yaitu unsur angin, unsur api, unsur tanah, unsur air, unsur bunga, unsur asap dan cahaya sebagai ruh.

Untuk membuat satu manusia utuh:

Masukan 3 gram angin ke dalam wajan

Satu sendok makan tanah

Satu sendok teh api

2 gram asap

dan 50 ml air

aduk hingga rata dengan mixer selama 10 tahun

Kemudian buatlah cetakan dari logam berupa refleksi Kami dengan panjang 60 hasta. 

Setelah itu tuangkan adonan ke dalam cetakan dengan 8 lembar mahkota bunga dan satu bungkus cahaya merek ABC.

Kemudian masukan adonan  kedalam oven selama 40 tahun.

Setelah 40 tahun (yang harus bertepatan pada hari Jumat) tubuh itu selesai dibentuk dan berwajah sangat indah. Selamat menikmati!

Jadilah siang dan jadilah malam, itulah hari ke-6.

 

Kami terkagum sebentar melihat hasil karya tersebut lantas beristirahat panjang sambil minum coffee cream dan menghisap cerutu café creme dari Holland, beli di Dago 34!

Jadilah siang dan jadilah malam. Itulah hari ke-7.

 

Dalam manuskrip itu, tidak terdapat keterangan bahwa manusia pertama berkelamin, itulah yang kusebut kemurnian manusia, manusia sejati, uniseksual. Apakah kau yakin bahwa manusia pertama saat itu adalah lelaki? Apakah tidak terpikir bahwa kompleksitas Adam mencakup penis dan vagina yang melebur? Selain memiliki testis, Adam juga memiliki ovarium?

Hermaphrodite, satu jiwa tak terbelah, itulah manusia sebelum menjadi Adam dan Eva. Itulah Joey sebelum Samantha bertransformasi. Itulah Cerio sebelum Termina meminta cerai. Itulah aku dengan pecahan kepribadianku. Itulah dangdut, dengan goyang dan musik yang riang menabrak lirik-lirik sedih berurai air mata. (to feel orgasm)

 

 

XII.

Bercumbu (lagi) dengan waktu: Redam!

E                              Am             Dm                   G    

Dering bel di mimpiku ini mengungkap keabadianku

E                                           Am               Dm                    G                      E

Suara-suara malam yang terhenyak menyekap rintihan desahmu di gairahku

 

E                   Am             Dm                   G

Jeritan suaramu itu menyentak tidur panjangku

E                             Am                     Dm                           G             E

Redam… redam… recah… recah… semua ingatan yang kau taburkan

 

Reff:

Am              Dm              G                              C

Tunggu aku pagi dalam drama hidup yang kurentangkan

Am              Dm                 G                       C           E

Cumbu aku pagi dalam rintik kematian rindu kekalku…

 

Bridge (insert poetry):

Cerita mimpi kelamku t’lah rela mati dalam benakku

Derita indah kekalku takkan berhenti dalam ingatanku

 

(nyanyikan sesukamu, anggaplah sebuah soundtrack!)

 

XIII.

Cerio mematikan tape-nya, mengeluarkan kaset itu dan lalu membakarnya.

“Aku harus mencarinya, sekarang juga!” katanya sedikit bergumam.

Saat itu Samantha sedang menyisir rambutnya ketika aku datang membawa keagungan Tuhan untuknya. Keagungan yang tak terkirakan. Seperti ketika Tuhan menenggelamkan Atlantis.

Saat itu Tuhan berfirman: “Gue udah bosen ama kesombongan lu pade. Gue udah peringatin dari dulu. Gile aje, malah makin gile kalian. Ya udah, gue tenggelamin aje kalian, biar pada jera. Hehehe…!”

Begitupun yang ingin kukatakan pada Samantha. Sampai satu titik, aku jadi berpikir kembali…

“Aku adalah mata. Mata yang selama ini membentuk semesta, menguasai setiap gerak Samantha. Ini seperti kekuasaan yang tak dapat kuhitung kebenarannya.”

XIV.

Suasana kota Yogya tidak membuatku nyaman, cuaca yang panas, mentari yang terik membuat kulitku perih, aku benci menjadi hitam. Sebenarnya aku kuat dengan panas hari, tapi aku benci hitam.

Suara sepeda motor yang demikian banyaknya bersaing dengan orang-orang berwarna kulit asing.

Sore harinya ketika aku dibonceng Baskoro disambut oleh angin yang sangat hebat, dua pohon tumbang kami lewati dan satu billboard besar sebuah produk makanan kecil patah.

Sampailah kami di tujuan. Sebuah rumah kontrakan yang penuh dengan orang-orang. Asing! Pembicaraan asing, bahasa asing.

“Segitiga adalah satu bidang datar yang paling sederhana, uniknya adalah setiap sudutnya tidak pernah saling berhadapan.”

“Untuk membuat bangun datar diperlukan minimal 3 titik dan lalu ditarik garis lurus dari satu sama lainnya.”

“Otak manusia. Sebetulnya, berada dalam setiap sudut di segitiga. Tidak saling berhadapan. Menyendiri, hampa!”

“Mempersepsikan sesuatu harus dimulai dari setiap sudut dalam segitiga.”

“Banyak kejadian mistis di seputar segitiga, segitiga bermuda, segitiga pengaman, celana dalam…”

Aku tiba-tiba teringat Samantha. Apa yang sedang dia lecutkan sekarang? Masihkah vaginannya?

Samantha, dulu pernah merasa bahwa segitiga adalah filosofi hidupnya, peta hidupnya. Dan bukannya lingkaran yang menjadi filosofi hidup orang banyak.

Segitiga adalah segi yang paling sederhana, melambangkan kesederhanaan. Pada kenyataannya, hidup Samantha sangat tidak sederhana.

Manusia-manusia asing itu menyambutku dengan sambutan asing.

“Alangkah tampannya kau!”

“Narsiskah kau?”

“Selamat datang di kegelapan santun yang kami hanya miliki!”

“Sebuah awal perkenalan yang bagus, bukan?”

Bukan! Sebuah kebingungan yang sukses kalian tawarkan padaku!

 

XV.

Cemas aku, ah Tuhan, cemas aku! Tiada berpuluh jiwa Adam yang rusak tak mendapatkan Eva-nya di setiap kali selangkangannya bergenangan. Cepatlah terbangkan! Cepatlah terbangkan! Sebelum kau kehilangan seratus juta keajaiban Musa atau perjaka!

Sebelumnya kan kutanya padamu hai lelaki yang perih hati, ada apa dalam tubuhmu yang bergelimang nanah itu? Bukankah kau tidak pernah mandi setiap kali kau tahu bahwa kekasihmu sedang merindukanmu? Kenapa kau lanjutkan gairah-gairah kemenjandaanmu itu?

Lagi-lagi, tak kau jawab pertanyaanku, lagi-lagi! Sebab kau selalu sibuk menanam pepaya dalam kepalamu atau memelihara ikan arwana dalam selangkanganmu! Sampai suatu ketika kau mencemaskan impotensi keseluruhanmu dalam setiap kali kayu bakarmu tak menyala. Sudahlah lebih baik kau limpahkan darahmu pada keabadianmu!

Hitung setiap detakan jantungmu sampai saat-saat asmamu kambuh! Tersedak, tersedak. Hening, padam, menyentak, menyeruak. Ada sampan yang melintas. Coba beberapa kali  sampai muntah. Muntahlah!

Bau api, bau mati, bau hujan, kering!

Catat dalam selangkanganologi level tertinggi. Ini kode pribadimu, password: NO MORE LIFE GETS OUT ALIVE. Bila kau menemukan tiga butir peluru, harus kau baca kisahmu dari awal lagi, agar kau mengerti!

Cantik, cantik, tak pernah sebelumnya aku memanggil cantik untuk lelaki kecil putih sepertimu. Jumlah buku yang kau baca tidak sebanding dengan memori yang ada dalam belahan pantatmu!

Mencuri serpihan hujan, mencerca terkaman letusan Merapi, lantas bangun di siang hari.

Buka jaket kulit hitam barumu itu, berdoalah! Mintakan sejumlah besar uang yang kau perlukan untuk menjandakan spermamu yang mujarab!

Kata-kata tak pernah menjadi fakta hanya fiksi, hanya mati. Kematian bukan fakta seperti realita bukan tanya. Rok-rok bersahutan hanyut berteriak di sebelah keanggunan coro-mu. Kontol! Sudah berapa kali kukatakan jika kau menemukan celana dalam nenekmu, berdoalah yang tenang agar baunya tak menyingkirkan ide jorokmu. Kontol! Sebelah botolmu telah merasuk kedalam lambung, tidakkah kau merasa mabuk dengan cairan itu?

Dia berdiri dan berputar, gila. Ada tahi lalat di belahan memeknya. Bukan, sayang! itu tindikan piercing. Dia menindik kedua labia minors-nya lantas menggemboknya dengan gembok kecil untuk telepon. Sehingga setiap lelaki yang akan meng-ewe-nya harus mencari kunci terlebih dahulu. Atau. Password? NO MORE LIFE GETS OUT ALIVE.

Hihihi itu janda yang menjadi kuda mencuri keabadian Isa. Dan mengapung tersalib dua mata Tuhan. Pantat! 

Sebal, sekali lagi aku mencumbui cerca yang terkandung dalam makna suaramu. Cukup! Sudah cukup kau belai segala gairahku.

Dering bel dimimpiku ini mengungkap keabadianku. Suara-suara malam yang terhenyak, menyekap rintihan desahmu digairahku. Jeritan suaramu itu menyentak tidur panjangku. Redam... recah... semua ingatan yang kau taburkan...

Tunggu aku kasih dalam drama hidup yang ku rentangkan

Cumbu aku kasih dalam rintik kematian rindu kekalku

Cerita mimpi kelamku telah rela mati dalam benakku

Derita indah kekalku takkan berhenti dalam ingatanku

Ini menjadi keranda mimpi yang terus menerus menyentak menyeruak menghabiskan satu atau berpuluh galon air mineral bersama Tuhan.

 

Bitch               :“Namaku Ariadne, aku dewi labirin. Bercintalah denganku, maka kau akan tersesat dalam labirinmu sendiri!”

Bastard           :“Namaku Dyonisus, aku dewa pesta dan kesenangan. Bercintalah denganku, maka jiwa dan nyawamu akan beterbangan menuju entah yang kau sendiri takkan mampu mendefinisikannya!”

                        (TOAST!)

 

XVI.

manuskrip manuskrip kecerahan: recah

hedonisme terkutuk itu mengulurkan waktu untuk maria berselingkuh dengan lelaki lain selain tuhan

dan ada saat ketika popmail-popmail menjarah sebagian keinginan untuk menghidupkan kembali superman yang terlumpuh itu

biarlah kundera terus meracaukan saman yang mencipta supernova

biarlah

sebab darah telah membeku menjadi kedamaian yang mengutuk penyair terkutuk

aku mungkin telah dikutuk.

sejarah mengulurkan tangan pada tangan-tangan yang lebih dibawah telah dimulai ketika bumi mengabdi pada kegelapan untuk mencucikan seluruh bajunya

i need some separation here

begitu sucinya

dan maria pun terus berselingkuh bersama lelaki-lelaki tanpa definisi

hurtmehurtmehurtmepls!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

ada sebongkah tahi lalat pada belahan dagumu, kurasa

tapi kalau kau tetap mengambil jalan yang sebelah sana biarlah kukatakan padamu bahwa labirin dalam tubuhmu dan kekekalan dalam pikirmu telah memusnahkan sebagian rasa yang belum terkoyak itu

jentikanjarimujentikanjarimu

dan bertepuk tanganlah!!!!

 

XVII.

Malam semakin larut, ini adalah hari ulang tahunku yang ke-25. Aku memasuki kamarku, beribu-ribu ingatan muncul begitu saja dalam benakku. Terutama visi-visiku tentang tubuh.

Otak                : Don’t think with it, if not in cognition case…

Mata kanan     : I’m just The Eyes of The Universe

Mata kiri          : The eyes couldn’t see

Hidung            : For sucking some smokes

Mulut              : I like talking, kissing, licking some problems, orgasms

Telinga            : Accessories…

Tangan Kanan : Fucking, touch every moment

Tangan Kiri     : Keep the universe, keep the ass of every guy who wants to kill you

Tulang Rusuk  : Complete

Susu                : Life interesting, piercing

Perut                : Not for food but love, Girls interrupted

Pusar               : Mom’s memories      

Penis                : I’m the king of Masturbations, no one more gets up alive without elephant

Kantung penis : A bag of golds, riches, snacks, proteins, minerals, vitamins, cockroachs, snakes, papers, tints, hopes, marias, thanks for your attentions, would You marry me, bitch, gods!!!

Lutut               :