Catatan Pendongeng Keliling

ervin's posts with tag: story

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag story
Blog EntryChapter XIApr 5, '06 12:18 AM
for everyone

Chapter XI

Sentuhan Halus Sekisah Dua Hari Bercumbu Dengan Waktu*

 

Tidak akan pernah ada keperluan yang mendesakku seperti ketika dia mengatakan padaku bahwa tidak ada lagi cinta yang pernah terungkapkan kecuali hari ini…

Ketika kupandangi sesosok makhluk[1] yang tak terdefinisikan oleh otakku, ada sesuatu yang terlintas dalam pikirannya, kurasa. Entah apa, padahal aku sangat terbiasa dengan hal itu. Betinaku sepertinya mulai banyak tingkah, katanya. Aku tahu. Aku juga sudah terbiasa dengan hal itu. Seperti sebongkah es menyelubungi sekujur hatiku, aku tak punya lagi rasa iba padanya, padahal apa salahnya dia padaku, akupun tak pernah tahu. Tapi hari ini aku merasa harus tidak iba padanya.

Sehari itu tak pernah ada hal lain lagi kecuali aku harus mengenyahkan pikiran iba pada waktu. Kuhabiskannyalah, seperti ketika Cupido menghabiskan seluruh anak panahnya untuk Apollo. Aku menghamburkan dengan sia-sia seluruh sisanya tanpa ada lagi yang bermanfaat darinya. Biar dia tahu rasa, padahal apa salahnya dia padaku, akupun tak pernah tahu.

Cerio menghisap batang rokok terakhirnya lalu membuang puntungnya ke sebelah ranjang tidurnya. Tidak pernah terpikir olehnya untuk segera membangunkan seluruh tubuhnya pada saat seperti ini. Padahal hari sudah semakin siang. Tapi dia tidak pernah percaya kepada waktu. Baginya waktu tidak pernah ada sebab waktu hanyalah kesepakatan-kesepakatan yang dibuat akibat bumi berotasi dan berevolusi yang menyebabkan adanya siang dan malam. Baginya tidak pernah ada masa lalu-masa kini-masadepan. Masa lalu hanyalah memori-memori. Masa kini hanyalah proses benak. Masa depan hanyalah instal data yang belum ter-copy. Cerio hanyalah menyalakan kembali sebatang rokoknya yang dia temukan di bawah bantal tidurnya. Dan lalu dia tertidur kembali. Bermimpi dan selalu bermimpi. Mimpi buatnya hanyalah kegilaan sel-sel otaknya ketika dia tertidur. Mimpi-mimpi tak berarti pun adalah kegilaan yang terproses secara absurd dibenaknya, perubahan subyek dan setting yang begitu cepat membuat dia selalu melupakan mimpi-mimpi itu. Itulah labirin impiannya.

Aku rasa dia tak akan pernah lagi berpikir semaksimal itu bila sebatang rokok telah habis dihisapnya. Seperti pertemuannya dengan Maria, sebuah sosok yang terwujud begitu naif dalam fantasinya, tidak menjadi dialog cerdas sebab sebatang rokok melahap habis tubuhnya yang seperti telah disuntikan racun-racun percobaan dokter-dokter NAZI. Pagi itu sabda Cerio menggelegar tidak hanya pada Maria, yang berselingkuh dengan Tuhan, tetapi pada seluruh domba-domba pop yang mengembik pagi itu. Seluruh domba dan maria menghentikan embikkannya. “’Apa yang terlihat padaku wahai hewan-hewanku’” kata Cerio, “’Tidakkah aku telah berubah? Tidakkah berkah mendatangiku seperti badai?

‘Bodoh kebahagiaanku ini, dan hal-hal bodoh pula yang diutarakannya: ia masih terlalu muda, maka bersabarlah kepadanya!

‘Kebahagiaan telah melukai aku: semua penderita akan menjadi tabib bagiku!

‘Kepada para sahabatku, sekali lagi, aku boleh turun, juga kepada musuh-musuhku! Zarathustra dapat berkata-kata, memberi lagi dan menunjukan cintanya kepada mereka yang dikasihinya!

‘Cintaku tak sabar hendak meluap lagi aliran-aliran ke segala arah: yang mengalir menuju ke atas dan ke bawah. Jiwaku akan bergegas keluar dari gunung-gunung yang sunyi dan badai-badai penderitaan untuk menuju ke lembah-lembah.’ Demikian sabda Zarathustra.[2]” Cerio mengakhiri sabdanya.

 

Seketika langit menjadi mendung dan seluruh dunia menjadi buta, memberikan penglihatannya kepada Cerio. Pandangan Cerio kini menjadi lebih tajam. Menguasakan sensasi(mata)nya pada semesta dan pula kekekalannya. Seperti ketika Goethe bercinta dengan Bettina. “Selamat pagi wahai bisik hari!” berkata Cerio, “Kemarilah domba-domba poppy dan sesuci apapun engkau Maria, bersujudlah dihadapan jasad busuk Warhol! Menarilah seperti Rumi menelanjangi Rabiah di danau sufi itu. Bukalah baju kalian, telanjanglah seperti Buddha dan kelilingi kotamu untuk kau usik segala kerinduannya pada pohon-pohon yang tersisa bayangan. Rasakan hantu-hantuku yang bergentayangan dalam setiap geraian bulu-bulu kalian: kasihani aku yang bodoh ini!

Usapkan warna-warna murni itu di atas kanvas kesunyian kalian. Berdirilah setelah sujudmu selesai lalu ucapkan kalimat-kalimat ini: ‘O, Warhol yang agung… O, Warhol yang agung… bunuhlah kami dalam jasad muda ini, agar mayat kami tampan… agar mayat kami tampan…!’

Lalu bersihkan tubuh kalian dengan darah pengorbanan kalian yang dikhianati Ismail saat pedang Ibrahim akan menebas lehernya!” demikian sabda Cerio.

Para pembaca yang terhormat, kutuliskan sabda Cerio ini karena kekhawatiranku akan persepsi kekekalan yang telah disepakati antara Socrates dan Plato pada sebuah taman bernama Academia. Plato berkata, “Socrates selalu berkata benar!” Socrates berkata, “Plato salah!”

Sebab suatu hari Eva sedang berjalan-jalan di lantai sorga, tersandung pada sebuah kelalaian-atau lebih tepat kebijaksanaan wanita-yang menghalangi sebagian penglihatannya. Adam seketika itu juga mengutuk belahan jiwanya itu. Hingga mereka dipisahkan Tuhan pada ribuan mil jaraknya. Aku tak akan pernah takjub pada apapun pencapaian yang ditelusuri manusia sebab kehinaan telah mencoreng muka Adam saat itu juga. Seperti penggalan suratku pada Dee; “Mari menjadi Adam, sebab kau dan aku adalah Adam. Tidak perlu Eva untuk menjadi Adam. Sebab Adam adalah tak ada! Maka bercintalah denganku, hanya itu satu-satunya cara untuk menjadi Adam; Fade Out and Disappear Completely.”

Begitulah hingga akhirnya Cerio menghabiskan segelas kopinya pagi itu. Berangkat kerja. Tak lupa tas kerjanya yang berisi data-data statistik ribuan kepala manusia di negeri ini, yang akan segera hancur dalam pukulan bom kapitalisme; jongos dan vitalisme.

Jadilah siang dan jadilah malam, itulah hari pertama.

 

Hari kedua bercumbu dengan waktu: Retak.

Perceraian itu terjadi begitu saja ketika Cerio bangun dari tidurnya. Istrinya, Termina, yang berwajah seperti muntahan tahi anjing dalam video klip Offspring, datang membawa surat-surat cerai dari pengadilan untuk segera ditandatangani oleh Cerio. Seperti kukatakan tadi, entah kenapa aku tidak sedikitpun merasa iba padanya. Cerio, yang berwajah seperti Yusuf ketika dipenjara berahi itu, melemparkan pena istrinya dan mencoba untuk lari kembali ke dalam mimpi-mimpinya. Dengan buas Termina menyerang Cerio yang masih limbung dalam kantuknya. Ah…! Bualan ini terlalu seperti drama murahan, kurasa. Aku harus merubah sikap Cerio saat itu hingga terkesan lebih rasional dan cerdas. Tetapi Cerio selalu hanyut dalam autismenya, yang terkadang mampu melumpuhkan otak kirinya begitu lama. “Lantas bagaimana akhirnya?” Nyima, rahib muda baru itu, bertanya padaku. Ah, persetan dengan akhir. Orang-orang selalu  tergila-gila pada sebuah akhir. Hingga suatu kali aku pernah membuat cerita tentang akhir dari sebuah akhir, itu dulu, ketika pencapaianku belum sampai seperempat waktu. Tahukah kau, klimaks dari sebuah cerita adalah ketika si pengarang sudah tidak bisa berpikir lagi dan tidak tahu lagi bagaimana menyelesaikan ceritanya. Seperti aku sekarang, hingga aku mengutip sebuah dialog dalam film The Cup. Padahal yang kutahu sendiri bahwa masih banyak yang bisa kuceritakan dalam kisah Cerio ini, tapi ada beberapa alasan lain aku tidak menyelesaikannya. Seperti telah kukatakan tadi bahwa aku harus tidak merasa iba padanya. Dan yang kedua adalah bahwa tidak pernah ada lagi suatu kisah baru yang bisa diceritakan siapapun, semua hal sudah terjadi, semuanya adalah kutipan. Aku bersumpah, para penyair, atau siapapun, akan setuju dengan hal ini. Kisah Cerio ini bukanlah hal yang baru jadi selesaikanlah s

endiri dengan fantasimu, dengan apapun yang pernah terjadi di bumi. Selamat siang dan aku akan menangis setelah ini.

Jadilah siang dan jadilah malam, itulah hari kedua.

 

*Seperti yang telah dituturkan Niskala pada saya sehari sebelum kematiannya.

***

Sebagai catatan tambahan:

Surat ini saya terima beberapa hari setelah saya menuliskan cerita Niskala di atas,

 

Tak bertempat, Entah tanggal berapa

Jam 3 dinihari

 

Siapapun engkau,

Kau hanya melakukan pembelaanmu atas segala keterlambatanmu akan penulisan ide. Tapi itu kuhargai sebagai sebuah karya. Seperti kesakitanmu ketika mendengar album KID A, Radiohead, padahal kutahu bahwa kau sudah ingin membuat lagu seperti itu jauh sebelum kau mengenal Radiohead. Atau ketika kau membaca Saman dan Supernova, L’Immortalite dan Thus Spoke Zarathustra, kau sudah berpikiran akan karya seperti itu jauh sebelum kau membacanya. Atau pula ketika kau melihat film Being John Malkovich, melihat pertunjukan Modusoperandi dan Performance Factory. Dan masih banyak lagi.

Aku hanya ingin memberitahumu tentang sesuatu yang mungkin tak kau sadari bahwa kau tahu.

Dari seseorang yang tak perlu kau tahu

 

Note: Mengapa kata “mu” seakan merobek kata “nya”. Tak ada restriksi cuma ada reduksi. Pilih kedua dari satunya. Atau kau akan mati seketika.

 

***

Begini, saat itu Cerio sedang menghabiskan cerutunya. Menghisap cerutu adalah kebiasaannya apabila ada kejadian-kejadian penting dalam hidupnya. Kejadian penting saat ini adalah penandatanganan surat cerai dengan istrinya.

Awalnya kejadian itu sempat membuat Cerio depresi. Melambungkannya akan bayangan-bayangan bunuh diri yang tak akan pernah berani ia lakukan. Aku menemaninya saat itu. Dia bercerita tentang keinginannya untuk kembali normal menjalani kehidupannya. Sambil menangis dia mencoba mengeluarkan ingatan-ingatannya akan keindahan yang dijalaninya dengan Termina.

Termina adalah gadis pujaannya; adalah ingatan yang paling kuat menyelundup di benaknya. Entah dia menyesal atau tidak dengan yang sudah dilakukannya pada Termina. Setelah tiba-tiba raut mukanya berubah, seperti menandakan bahwa semua telah selesai atau kembali ke awal. Ataukah ingatannya sudah habis?

Diambilnya sebatang cerutu seperti yang telah saya ceritakan tadi. Begitulah!

 

***

Ada sebuah puisi tanpa judul dan tanpa author yang saya temukan entah dimana dan saya sangat ingin mencantumkannya di bagian akhir chapter ini.

segala yang terurai

menjadi lahir untukku

menjadi mati untukmu

tatkala aku jadi seribu aku

seribu sperma yang merindukan sejuta lelehan lendir panas iblis betina

 

aku adalah sperma yang menjadi janin

dan menggonggong menjadi anjing dalam rahimmu

rahim para dewi yang bersimpuh di lantai kahyangan

yang menjilati setiap keringat birahi para sesuci

 

aku adalah sperma terasing

yang akan menjilati setiap dinding-dinding rahim

mencari sel telur telanjang

untuk kuperkosa gairah kemenjandaannya, bergiliran

 

aku adalah sperma terbuang

menjadi kecoak dalam got-got di setiap sudut matamu

yang akan menyakiti setiap mili keangkuhan detak jantungmu

yang akan membuat vaginamu mengeluarkan lendir busuk peradaban

 

aku adalah sperma masokis

yang mencari rahim untuk kurasuki ruh kemarahanku

agar mati

agar mati

agar jeruji segera menghantam kebebasan bercintamu

 

aku adalah batara kala

sperma dewa yang terbuang

yang menjadi raksasa

yang akan segera membinasakan kesuburan rerumputan berharum

diantara selangkangan para bidadari

 

matilah!

matilah!

aku tidak peduli!

 

Bandung, 7 Maret 2001 



[1] Penjelasan mengenai makhluk ini merunut pada sebuah fiksi pendek Jorge Luis Borges, seorang penulis Argentina, dalam cerpen sastra fantasinya berjudul Borges y yo (Borges and I) dalam The Aleph and Other Stories.

[2] Diambil dari buku terjemahan “Thus Spoke Zarathustra” berjudul “Sabda Zarathustra” terbitan Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help